Home Hikmah Tetap Tersenyum Walau Situasi Genting

Tetap Tersenyum Walau Situasi Genting

640
0
SHARE
Ust. Abdul Somad, Lc., MA.

Oleh : Abdul Somad

Bismillaahirrahmaanirrahiim.

Nabi Muhammad Saw. tetap tersenyum meski sedang dalam keadaan genting. Sebagaimana kita tahu bahwa ada satu kota bernama Thaif yang kurang lebih jaraknya 91 km dari kota Mekkah Al Mukaramah. Thaif merupakan kawasan yang sejuk, terdiri dari perbukitan yang hijau, di sana sumber tetumbuhan yang hijau dan buah-buahan.

Ketika pembebasan kota Thaif, nabi Muhammad Saw. bersama para sahabat ketika itu cukup banyak yang terluka dari kalangan para sahabat. Lalu, para sahabat bertanya kepada baginda nabi Saw. akankah kita tetap bertahan dalam situasi seperti ini? Maka, nabi Muhammad Saw. mengiyakan bahwa kaum muslimin akan bertahan. Para sahabat pun bertanya apakah kita akan membebaskan kota Thaif? Maka, nabi Saw. pun mengiyakannya, bahwa nabi Saw. dan para sahabat akan membebaskan kota Thaif dari kemusyrikan. Membebaskan penduduk Thaif dari menyembah berhala Lata, Uzza, Manat, dan Hubal kepada menyembah Allah Swt. Membawa mereka kepada dua kalimat syahadat.

Dalam ikhtiar membebaskan kota Thaif, nabi Saw. bersama para sahabat berjihad dan banyak di antara pasukan kaum muslimi yang terluka. Dalam keadaan yang genting seperti ini nabi Muhammad Saw. berkata, “Besok kita akan kembali. InsyaaAllah!” Dengan ucapan ini nabi Muhammad Saw. bermaksud membangkitkan semangat para sahabat. Dalam keadaan yang genting seperti ini nabi Muhammad Saw. tidak menampakan rasa letihnya, nabi Saw. tidak terlihat loyo, lemah, cemas apalagi tanda-tanda putus asa. Di tengah para sahabat yang sedang terluka nabi Saw. mengatakan, “Esok kita akan kembali, insyaaAllah!”

Mendengar ucapan baginda nabi Saw. ini para sahabat pun kembali tersenyum. Kenapa? Karena mereka melihat nabi Muhammad Saw. tetap semangat dan tetap tersenyum meski sedang berada di tengah medan jihad yang berat.

Dalam salah satu hadits, nabi Muhammad Saw. bersabda, “Senyummu di hadapan saudaramu (sesama muslim) adalah (bernilai) sedekah bagimu.” (HR. At Tirmidzi, Ibn Hibban)

Nabi Muhammad Saw. tidak hanya menyampaikan pesan kebaikan ini, namun beliau juga mengamalkannya. Menurut penelitian modern, untuk mengerutkan wajah, memperlihatkan wajah yang muram, sebenarnya memerlukan banyak energi dibandingkan dengan memperlihatkan wajah yang sumringah dan cerah. Oleh karenanya, dalam hadits lain nabi Muhammad Saw. bersabda, “Janganlah meremehkan kebaikan sedikit pun walau hanya berbicara kepada saudaramu dengan wajah yang tersenyum kepadanya. Amalan tersebut adalah bagian dari kebajikan.” (HR. Abu Daud dan At Tirmidzi)

Dalam hadits ini disebutkan bahwa ada satu amal kebaikan kecil yang tidak boleh dianggap remeh karena nilainya yang besar. Apakah amalan kecil tersebut? Yaitu tersenyum saat berbicara dengan orang lain. Tersenyum adalah hal yang ringan untuk dilakukan dibanding memasang wajah yang muram, namun meski ringan ia termasuk amal yang menyehatkan dan mendatangkan pahala dari Allah Swt.

Keep smile! Tetaplah tersenyum. Karena menggerutu, marah-marah, mengutuk, apalagi sampai melontarkan sumpah serapah atau dengan ngambek itu semua tidak menyelesaikan masalah. Tidak membuat keadaan menjadi lebih baik. Bahkan sebaliknya justru bisa membuat keadaan yang awalnya sudah genting menjadi semakin dramatis dan sesak.

Saat berada di perempatan jalan raya, kita bertemu dengan lampu lalu lintas dan sedang berwana merah, kemudian kita marah-marah, ngedumel, menggerutu, apakah dengan begitu lampu tersebut langsung berubah menjadi hijau? Tentu tidak. Gerutuan dan kemarahan kita dalam kondisi yang demikian hanya akan merugikan diri kita sendiri, karena aura yang kita miliki, suasana hati yang kita miliki akan menjadi suram. Kata-kata negatif yang kita ucapkan bisa mewarnai suasana hari kita saat itu dan membawa keadaan hati yang tidak karuan. Sedangkan keadaan hati akan sangat berpengaruh kepada diri kita secara keseluruhan.

Demikian juga ketika kita sedang bersengketa dengan orang lain, maka tetaplah tersenyum. Karena senyum akan membangkitkan rasa perdamaian, senyum bisa menjadi penawar rasa permusuhan.

Oleh karenanya, sesulit apapun keadaan yang sedang kita hadapi, seberat apapun kenyataan hidup yang kita temui, tetaplah hadapi dengan senyuman. Yakini bahwa setiap kejadian, setiap kenyataan yang kita temui adalah bagian dari kekuasaan Allah Swt. Hal yang tidak enak yang kita jumpai merupakan ujian dari Allah Swt.

Banyak orang yang mampu tersenyum dalam keadaan yang menyenangkan hatinya. Banyak orang mampu tersenyum saat ia dalam keadaan serba berkecukupan. Banyak orang mampu tersenyum dalam keadaan sedang menduduki pangkat dan jabatan. Tapi, jika ada hamba Allah Swt. yang tetap mampu tersenyum dalam keadaan genting dan sulit, disitulah ada kelebihan ganjaran dari Allah Swt., yaitu ketika ia mampu bersabar, tetap optimis dan yakin kepada Allah Swt. Yang Maha Penolong.

Seperti ketika banyak orang pada malam hari yang tertidur pulas, namun ada sedikit orang yang mampu bangun di sepertiga malam terakhir untuk menunaikan tahajud, maka disitulah Allah Swt. memberikan kelebihan keutamaan kepada sedikit orang tersebut. Demikian halnya ketika banyak orang yang mengekspresikan kemarahannya dengan caci maki dan sumpah serapah, maka ada sedikit orang yang sama memiliki rasa kesal di hatinya, ada potensi amarah di hatinya, namun mereka tetap menenangkan diri dan tersenyum merespon permasalahan yang sedang terjadi. Maka, yang sedikit inilah yang diberikan kelebihan ganjaran oleh Allah Swt. disebabkan mereka menahan amarah dan mengendalikan dirinya.

Allah Swt. berfirman di dalam Al Quran, “Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan Dia banyak menyebut Allah.” (QS. Al Ahzab [33]:21)

Senyum baginda Nabi Muhammad Saw. tidak hanya membangkitkan semangat di dalam dirinya sendiri, melainkan juga menularkan semangat itu kepada para sahabat yang ada di sekelilingnya. Bisa kita bayangkan betapa sulitnya berada di atas medan jihad, menghadapi panah, pedang, tombak dan bayang-bayang kekalahan yang mungkin saja dialami. Hati manusia mana yang tidak berdebar berada di tengah kecamuk seperti itu. Melihat kawan sendiri yang terkapar, terluka, darah yang mengalir, bahkan menyaksikan sahabat sendiri meregang nyawa. Ini bukanlah hal yang mudah untuk dihadapi. Hati manusia akan mudah tumbang menyaksikan semua itu. Maka, baginda Nabi Saw. selaku seorang pemimpin tetap tegar dengan senyum yang tetap terkembang di wajahnya. Sehingga para sahabat pun mantap jiwanya, kokoh mentalnya dan optimis dapat meraih kemenangan meski dalam situasi yang genting.

Saudaraku, marilah kita amalkan salah satu sunnah nabi ini. Kita melatih diri untuk tetap tersenyum dalam setiap keadaan. Mungkin hati kita pedih, boleh jadi batin kita berat menghadapi kenyataan. Akan tetapi, tetaplah bersabar, tetaplah tersenyum sehingga Allah ridha kepada kita, dan orang-orang di sekitar kita pun menjadi tenang. Wallaahua’lambishawab.[]

*Disarikan dari https://www.youtube.com/watch?v=6xONZ0e0cKI .

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

eight + 15 =

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.