Home Hikmah Shalat Menyehatkan Jiwa

Shalat Menyehatkan Jiwa

465
0
SHARE
Dr. Abas Mansur Tamam

Oleh : Abas Mansur Tamam

Bismillaahirrahmaanirrahiim.

Setiap orang rentan menghadapi berbagai tekanan hidup serta emosi dan benturan kejiwaan yang jika dibiarkan akan membuat penyakit jiwa. Penyakit kejiwaan ini bisa melahirkan tiga hal, yaitu: (1) persepsi yang salah tentang diri sendiri dan orang lain, (2) perilaku yang salah, dan (3) kesedihan dan keputusasaan.

Nah, shalat dan proses yang menyertainya dapat mengobati penyakit-penyakit itu sehingga melahirkan kesehatan jiwa.

Hal itu terjadi karena ketika seseorang melaksanakan shalat dia berdiri menghadap Allah dengan penghayatan tunduk dan khusyu di hadapan Allah Swt. yang menciptakan manusia dan alam semesta. Manusia dengan segala kelemahan dirinya berdiri menghadap Allah yang Maha Besar, Maha Kuasa, yang memegang kendali atas seluruh makhluk dari yang paling besar fisiknya hingga yang paling kecil. Di tangan-Nya ada persoalan hidup dan mati. Dialah yang mendistribusikan rezeki di antara manusia dan ditangan-Nya pula semua takdir yang akan terjadi dalam perjalanan hidup manusia ditetapkan.

Manusia yang berdiri di hadapan Allah dalam shalatnya dengan penghayatan seperti tadi, akan membuatnya mendapatkan energi yang melahirkan kebeningan rohani, ketenangan hati, dan perasaan aman.

Dalam shalat yang dilaksanakan sebagaimana mestinya, seseorang akan menghadap Allah dengan semua indera dan anggota badannya. Dia akan meninggalkan semua persoalan dunia dengan segala kesulitannya dan tidak memikirkan sesuatu kecuali tentang keagungan Allah Swt. Juga tidak membaca sesuatu kecuali ayat-ayat Al Quran dan doa-doa shalat yang dipanjatkan.

Meninggalkan kehidupan dunia dengan segala persoalan hidup dan kesedihannya, tidak memikirkan persoalan-persoalan itu selama melaksanakan shalat, berdiri dengan kekhusyuan sempurna, akan membuat seorang manusia mengalami relaksasi psikis, ketenangan jiwa, dan keheningan pikiran.

Kondisi yang dihasilkan oleh shalat ini akan sangat berpengaruh terhadap penyembuhan jiwa dengan meringankan beratnya beban kejiwaan yang disebabkan oleh tekanan hidup sehari-hari dan kekhawatiran yang sedang dialami oleh manusia. Itu sebabnya, Hudaifah menerangkan bahwa, “Jika Rasulullah Saw. menghadapi masalah, beliau berdiri untuk melaksanakan shalat.”

Perhatikan bagaimana Rasulullah Saw. menjelaskan bahwa wudhu tidak hanya menyucikan diri dari hadas, tetapi juga membersihkan diri dari dosa yang merupakan kotoran batin, dan meringankan kesulitan hidup. Air wudhu yang mengalir dari wajah akan melunturkan raut kesedihan dari wajah kita.

Rasulullah Saw. bersabda, “Tidaklah seseorang mendekati wudhunya kemudian berkumur-kumur, menghirup air ke dalam hidung dan mengeluarkannya, kecuali berguguranlah dosa-dosa wajah dan mulutnya berikut raut kesedihan yang ada di wajah.” (HR. Muslim)

Ketika hidup tidak pernah lepas dari berbagai persoalan, shalat merupakan anugerah dari Allah karena dalam sehari semalam kita mendapatkan relaksasi dari berbagai persoalan hidup sebanyak lima kali secara terus menerus. Oleh karena itu, seharusnya shalat merupakan hiburan dan kesenangan. Hiburan, karena shalat akan membuatnya terhibur ketika seseorang sedang menghadapi masalah.

Itu sebabnya, jika sudah masuk waktu shalat Rasulullah Saw. bergegas pergi ke mesjid dan menyuruh Bilal untuk mengumandangkan adzan, “Qum ya Bilal, fa arihna bi al shalat”, Bangunlah wahai Bilal, bahagiakan kami dengan shalat! (HR. Abu Daud, Ahmad)

Shalat menjadi kesenangan karena begitulah Rasulullah Saw. Sabda Rasul Saw. yang populer dalam persoalan ini adalah, “Ju’ilat qurratu ‘aini fi al shalat”, Allah telah menjadikan kesenanganku ada di dalam shalat. (HR. Nasai, Ahmad). Kata qurratu ain dalam Al Quran digunakan untuk menggambarkan sesuatu yang paling menyenangkan atau paling dicintai. Misalnya, isteri dan anak-anak disebut sebagai qurratu ain (QS. Al Furqan [25]: 74) karena mereka menyenangkan dan membahagiakan.

Kedua riwayat ini menunjukkan bahwa shalat memiliki peran penting dalam menciptakan ketenangan jiwa sehingga bisa membebaskannya dari kesedihan dan kecemasan. Itu sebabnya, Allah Swt. memerintahkan kita untuk meminta pertolongan dengan sabar dan shalat. Firman Allah, “Mintalah pertolongan Allah dengan sabar dan shalat. Sesungguhnya shalat itu sangat berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyu.” (QS. Al Baqarah [2]: 45)

Lebih dari itu, seseorang yang berdiri di hadapan Allah dalam shalatnya dalam waktu yang relatif lama akan membuatnya mendapatkan energi rohani yang sangat besar sehingga akan terjadi perubahan besar bukan hanya terhadap aspek kebatinan, tetapi juga terhadap aspek jasadnya. Tidak bisa dipungkiri, stres dengan segala persoalan yang terkait dengannya akan melemahkan fisik dan membuat seseorang menjadi sakit.

Oleh karena itu, penyakit yang menimpa seseorang banyak berhubungan dengan aspek kejiwaan sehingga shalat yang mengobati penyakit kejiwaan pada gilirannya akan mengobati penyakit badan juga. Tidak heran jika banyak dokter melihat terjadi proses kesembuhan yang sangat cepat ketika pasiennya sedang melaksanakan ibadah haji atau ibadah-ibadah lainnya.

Diceritakan bahwa suatu hari Abu Hurairah merasakan sakit di perutnya, ketika Rasulullah Saw. melihatnya beliau bertanya, “Apakah perutmu sakit?” Abu Hurairah menjawab, “Betul wahai Rasulullah.” Beliau bersabda, “Berdirilah untuk shalat, karena dalam shalat terdapat obat.” (HR. Ibn Majah).[]

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

13 − twelve =

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.