Home Hikmah Agar Shalat Khusyu

Agar Shalat Khusyu

769
0
SHARE
Ust. Abdul Somad, Lc., MA.

Oleh : Abdul Somad

Bismillaahirrahmaanirrahiim.

Suatu ketika para sahabat Nabi Saw. menunaikan shalat berjamaah dengan diimami oleh Abu Bakar ash Shiddiq ra. Saat mereka shalat, tiba-tiba Nabi Saw. datang ke masjid, dan salah seorang sahabat yang menjadi makmum memberi isyarat kepada Abu Bakar dengan cara menepuk-nepukkan tangannya. Sampai di sini kita tahu bahwa sahabat ketika shalat sadar pada keadaan di sekitarnya.

Dalam salah satu hadits disebutkan bahwa Rasulullah Saw. bersabda, “Bunuhlah dua ekor yang hitam ketika shalat, yaitu ular dan kalajengking.” (HR. Ahmad)

Dalam hadits ini Rasulullah Saw. memerintahkan kepada para sahabat bahwa jika mereka mendapati ular dan kalajengking di tempat shalat ketika mereka sedang shalat, maka bunuhlah binatang itu karena bisa membahayakan manusia. Terlebih jika binatang itu akan menyerang, menggigit atau menyengat kita, maka bunuhlah binatang itu.

Artinya apa? Artinya dalam keadaan sedang shalat kita tetap perlu sadar, menyadari apa yang ada di sekitar kita. Oleh karenanya, kalau ada orang yang mengatakan bahwa saat dirinya sedang shalat dia tidak sadar ada apa di depan atau di sampingnya, maka sesungguhnya shalat yang dicontohkan oleh Rasulullah Saw. tidaklah demikian.

Selanjutnya, Rasulullah Saw. mengajarkan jika kita sedang menunaikan shalat, kemudian ada orang lain berjalan melintasi tempat shalat kita, berjalan di depan kita, maka kita harus memberikan isyarat dengan tangan kita agar ia tidak melintas di depan kita. Ini menjadi bukti bahwa orang yang sedang shalat harus sadar pada apa yang terjadi di sekitarnya.

Dari tiga sunnah yang diajarkan oleh Rasulullah Saw. kita bisa mengambil kesimpulan bahwa shalat itu harus dalam kondisi sadar. Shalat yang khusyu adalah shalat yang dilakukan dalam keadaan sadar.

Setidaknya ada empat langkah yang bisa membantu kita memiliki shalat yang khusyu.

Pertama, sejak mendengar kumandang adzan, jangan kita berbicara selain dari menyimak dan menjawab adzan. Ketika adzan selesai berkumandang, tutup dengan doa, Allaahumma rabba haadzihid da’watit taammati wash shalaatil qaaimati aati muhammadanil wasiilata wal fadhiilata wasy syarafa wad darajatal ‘aaliyatar rafii’ata wab’atshu maqaamam mahmuudanil ladzii wa’adtahu, innaka laa tukhliful mii’aad. (“Ya Allah, Tuhan yang mempunyai seruan yang sempurna, dan shAlat yang tetap didirikan, karuniailah nabi Muhammad tempat yang luhur, kelebihan, kemuliaan, dan derajat yang tinggi. tempatkanlah dia pada kedudukan yang terpuji seperti yang telah Engkau janjikan. Sesungguhnya Engkau tiada menyalahi janji.”)

Kedua, ketika berwudhu tidak mengobrol. Rasulullah Saw. bersabda, “Apabila seorang hamba muslim atau mukmin berwudhu, lalu membasuh wajahnya maka keluarlah dari wajahnya segala dosa-dosa karena penglihatan matanya bersama dengan air atau bersama tetes air yang terakhir. 

Apabila membasuh kedua tangannya maka keluarlah dari kedua tangannya segala dosa-dosa karena perbuatan kedua tangannya bersama dengan air atau bersama tetes air yang terakhir.

Apabila membasuh kedua kakinya maka keluarlah dari kedua kakinya segala dosa-dosa yang ditempuh oleh kedua kakinya bersama dengan air atau bersama tetes air yang terakhir sehingga ia keluar dalam keadaan bersih dari dosa-dosa”. (HR. Ahmad, Muslim, Tirmidzi)

Kemudian, selesai wudhu kita tutup dengan doa, “Allaahummaj’alnii minat tawwaabiina waj’alnii minal mutathahhiriina, waj’alnii min ‘ibadikash shaalihiin.” (Ya Allah, jadikanlah aku dari golongan orang-orang yang bertaubat dan jadikanlah aku dari golongan orang-orang yang suci dan jadikanlah aku dari golongan hamba-hamba Mu yang shalih.”)

Ketiga, saat berjalan dari tempat wudhu ke tempat shalat tidak boleh tasybik atau membunyikan jari-jemari. Daripada tasybik yang tiada mendatangkan pahala, lebih baik isi dengan tasbih, memuji Allah Swt., “Subhaanallah.. Subhaanallah..”

Keempat, pahami bacaan di dalam shalat. Dengan memahami apa yang kita baca atau yang imam baca maka pikiran kita bisa mengikuti makna dari bacaan tersebut. Sedangkan kalau kita tidak paham maka pikiran kita akan sangat mudah memikirkan hal-hal lain di luar urusan shalat. Oleh karenanya, belajarlah, ikutilah majlis ilmu, pengajian, wawasan kita tidak hanya perlu ditambah wawasan keduniaannya saja namun juga wajib ditambah wawasan keagamaannya. Shalat adalah tiang agama, maka keberadaannya sangat penting bagi hidup kita. Bagaimana mungkin kita tidak mau memahami sesuatu yang paling penting untuk keselamatan hidup kita?

Ketika shalat, arahkan pandangan kita ke tempat sujud, bukan ke tempat lain. Dan, bantulah orang lain agar shalatnya bisa khusyu dengan cara memakai pakaian yang polos. Hindarkan memakai pakaian yang di bagian punggungnya banyak tulisan atau gambar karena itu akan menganggu kekhusyuan orang lain.

Bangun keterhubungan antara hati dengan lisan. Sesungguhnya kata-kata itu awalnya dari hati, hati membisikkan, lisan mengutarakan. Jangan biarkan lisan bergerak-gerak membacakan apa yang dihapal dari bacaan shalat, namun tanpa didasari dengan pembacaan dari hati. Ketika kita membaca, “Bismillaahirrahmaanirrahiim..” maka pastikan bacaan itu juga hadir di hati kita.

Demikianlah beberapa langkah agar kita bisa menunaikan shalat secara khusyu. Kedudukan khusyu dalam shalat itu bagai kedudukan ruh bagi jasad. Khusyu dalam shalat juga menjadi ciri dari orang-orang yang beriman kepada Allah Swt. dan Rasulullah Saw. sebagaimana firman Allah Swt. dalam Al Quran, “Sesungguhnya beruntunglah orang-orang yang beriman, (yaitu) orang-orang yang khusyu’ dalam shalatnya.” (QS. Al Mu’minuun [23] : 1-2)[]

*Disarikan dari rekaman ceramah Ust. Abdul Somad, Lc., MA. di chanel Youtube yang dipublikasikan oleh Taman Surga.Net pada 10 November 2018.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

seventeen − 2 =

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.