SHARE
www.nu.or.id

Oleh: Irsan Asy’ari

Siang kemarin, Jum’at (19/09/2018), saya ikut shalat Jum’at di Masjid Hidayatullah. Satu-satunya masjid yang jaraknya paling dekat dengan kantor tempat saya bekerja. Seperti biasa, saya selalu ambil posisi dekat dengan lemari buku. Tujuannya agar bisa nyempetin dulu baca surah al-Kahfi, sambil menunggu Khatib naik mimbar.

“Assalamu’alaikum warahmatullahi wa barakatuh…” Ucap khatib. Menandai dimulainya khutbah Jum’at siang itu. Sayapun segera melipat al-Qur’an dan langsung merapikannya di lemari.

Pertama-tama, sang khatib dengan suara lantangnya menerangkan tentang esensi ayat al-Qur’an yang pertama kali diturunkan. Iqra, biimirabbikalldazi khalaq, awal dari surah al-‘Alaq. Lalu beliau menerangkan betapa pentingnya membaca.

Bukan hanya membaca buku, terangnya. Tetapi juga membaca keadaan, alam, dan apapun itu, yang memperluas pandangan kita terhadap hakikat dan tujuan hidup manusia sebagai makhluk ciptaan Tuhan.

Sayangnya, di awal-awal khutbah, entah apa yang ada di kepala saya. Perhatian saya kurang konsentrasi menyimak apa saja isi khutbah selanjutnya. Sampai akhirnya konsentrasi sayapun pulih kembali. Saat beliau membahas tentang fenomena kematian.

Pertama-tama beliau mengulas tentang kabar yang pernah viral di media. Yaitu terkait sebuah helikopter nahas, yang jatuh di Morowali, Sulawesi Utara. Menurut berita, helikopter itu berisi 8 orang penumpang, temasuk diantaranya pilot dan copilot. Konon, mereka adalah para tenaga asing yang sedang bekerja di sebuah perusahaan asing.

Secara logika, kecil kemungkinannya penumpang heli nahas itu akan selamat. Tetapi subhanallah, penumpang selamat dan hanya sebagian saja yang mengalami luka-luka. Walaupun ternyata ada 1 korban meninggal dunia, tetapi itupun bukan dari penumpang. Melainkan korban yang kebetulan sedang berada di dekat lokasi kejadian, lalu tiba-tiba tertimpa hilokpter nahas tersebut.

Demikianlah kematian, kata khatib. Terkadang dia tidak dapat terbaca dan diduga-duga dengan logika.

Korban tersebut, tentunya tidak pernah mengira-ngira. Apalagi bercita-cita meninggal tertimpa helikopter. Tapi itulah kematian. Kedatangannya tak bisa ditawar-tawar.

Khatib lalu menceritakan pengalamannya—yang membuat konsentrasi saya bertambah fokus mendengarkan khutbah dengan teliti. Kata demi kata saya perhatikan secara seksama—saat ia bertugas sebagai relawan musibah Gempa dan Tsunami di Palu, Sulawesi Tengah, yang terjadi pada 28 Sepetember 2018, lalu.

Sebagaimana yang disampaikannya, ia bertugas selama lebih-kurang 10 hari di kota Palu. Membantu menangani para korban gempa dan tsunami. Dari menyalurkan bantuan, hingga menjaga pos yang didirikan oleh yayasan yang menugaskannya.

Beliau melihat langsung, bagaimana dampak dari gempa yang berkekuatan 7,4 skala richter yang menghantam kota Palu, Donggala, dan sekitarnya. Lalu disusul kemudian dengan tsunami dan fenomena langka likuifaksi (bergesernya tanah akibat hilangnya kekuatan dan kekakuan akibat getaran gempa dll.)

Sungguh mengerikan! Ketika membayangkan apa yang beliau kisahkan siang itu. Sampai-sampai ada beberapa jamaah yang larut dalam kekhusyuan, membayangkan kebesaran Allah dalam hatinya. Sehingga ia pun tak mampu lagi membendung air matanya.

Beliau mengatakan, mungkin banyak dari kita akan mengatakan “jauh-jauhlah dari pinggir laut! Supaya tidak terseret ombak dan tsunami!”

Tapi, melihat kenyataan yang terjadi di Palu. Rupanya maut tetap mengejar mereka, walaupun mereka berada di tanah yang lapang. Mereka justru terkena likuifaksi. Ada juga yang tersedot lumpur bersama ratusan rumah dan ribuan orang lainnya. Padahal jaraknya cukup jauh, sekitar 2 KM dari bibir pantai.

Lalu ada lagi yang berkata, lari saja dan berlindunglah ke dataran tinggi! Lagi-lagi, maut tetap mengejar mereka. Rupanya dataran tinggi ada yang terbelah dan ‘memakan’ apa saja yang ada di atasnya.

Demikianlah kematian. Kemanapun kita berlari, maut akan tetap menghampiri!

Allah Swt, berfirman: Katakanlah, “Sesungguhnya kematian yang kamu lari dari padanya, ia pasti menemui ‎kamu, kemudian kamu akan dikembalikan kepada (Allah), yang mengetahui yang ‎gaib dan yang nyata, lalu Dia beritakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan.” ‎(QS. 62: 08)

Saat 3 hari sebelum kepulangannya ke Jakarta, beliau sempat dimintai ceramah di masjid dekat lokasi gempa. Namun baru saja menaiki mimbar, gempa kembali mengguncang. Lalu jamaah pun berlarian. Sehingga yang tersisa, hanya beliau sendiri dan salah seorang dari panitia. Barulah setelah kondusif, jamaah kembali masuk ke dalam masjid.

Pengalaman yang lain. Saat beliau menunggu pos bantuan untuk menyalurkan suplay makanan dan berbagai keperlun korban bencana. Beliau mengatakan, baik yang miskin maupun mereka yang kaya raya, semua sama. Mereka mengantri untuk mendapatkan suplai makanan. Bagaimana tidak, karena ATM rusak, bahan bakar, serta sembako pun menjadi sesuatu yang sangat langka saat itu.

Maka pada saat itulah, seolah-olah harta yang dimiliki, tabungan, dan apapun yang dikumpulkan seakan tidak ada artinya lagi.

Mungkin inilah gambaran dari Kiamat Kecil. Sebagaimana Allah gambarkan Hari Kiamat dalam al-Qur’an: “‎(yaitu) pada hari (ketika) harta dan anak-anak tidak berguna, kecuali orang-orang yang menghadap Allah dengan hati yang bersih,‎” (QS. 26: 88-89).

Meraih Husnul Khatimah

Dari isi khutbah ini, penulis ingin menggaris bawahi sekaligus menyampaikan beberapa pesan tambahan. Antara lain:

Pertama, pepatah Arab mengatakan (مصائب قوم عند قوم فوائد) “Musibah yang menimpa suatu kaum, adalah pelajaran bagi kaum yang lainnya.”

Semoga apa yang terjadi menimpa saudara-saudara kita di Palu, Donggala, dan sekitarnya menjadi pelajaran berharga bagi kita semua. Terutama pelajaran untuk mempertebal keimanan dan ketakwaan kita kepada Allah Swt.

Jangan biarkan peristiwa ini hanya menghiasi layar TV dan laman sosmed, tanpa ada pelajaran yang menyentuh sanubari kita.

Selain itu, semoga penderitaan yang dialami saudara-saudara kita, menjadi sarana untuk melatih empati dan kedermawanan kita. Untuk itu, marilah kita sama-sama bantu. Karena uluran tangan kita adalah kebahagian bagi mereka.

Kedua, ajal jika sudah waktunya, tidak bisa kita hindari.

Tidaklah penting mengetahui kita mati di mana. Di atas kasur kah, di jalan, di pesawat-kah, ataukah di tengah lautan. Karena itu adalah rahasia Allah. Kematian akan tetap menjadi misteri, kecuali bagi orang yang Allah kehendaki.

Karena kemisteriannya itulah, kematian seolah menuntut kita untuk selalu stay tuned dalam bingkai husnul khatimah. Selalu waspada dan bersiap diri. Karena Malakul Maut bukan seperti oknum polisi apalagi politisi yang bisa diajak kompromi.

Ketiga, untuk meraih husnul khatimah, paling tidak ada tiga hal yang harus kita jaga. Yaitu; niat yang baik, tujuan yang baik, dan doa yang baik.

Pastikanlah niat kita melakukan sesuatu adalah baik, lillahita’ala. Pastikan pula bahwa tujuan kita untuk melakukan kebaikan, bukan untuk kemaksiatan. Dan ketiga, adalah doa/harapan agar Allah memberikan keselamatan dan perlindungan.

Sehingga, jika memang ajal mendatangi kita saat itu. Mudah-mudahan kematian akan menghantarkan kita kepada apa yang kita niatkan di awal; (Allah Swt). Dalam tujuan yang baik, dan dalam doa yang baik pula.

Semoga hidayah, rahmat, dan maghfirah Allah senantiasa menaungi kita semua. Allahumakhtimna bihusnil khatimah, waj’al aakhira kalamina: laa ilaaha illallah…Aamiin ya Rabbal alamiin.[]

 

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

three × two =

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.