Home Hikmah Seberapa Yakin Kita Pada Allah?

Seberapa Yakin Kita Pada Allah?

1225
0
SHARE
Ust. Hanan Attaki, Lc.

Oleh : Hanan Attaki

Bismillaahirrahmaanirrahiim.

Allah Swt. akan menolong kita kalau kita tawakal kepada-Nya. Semakin besar tawakal kita kepada Allah, semakin besar pertolongan Allah akan datang menghampiri kita. Jika ada satu titik keraguan di hati kita akan kekuasaan Allah, maka itu akan menjauhkan kita dari pertolongan Allah Swt.

Kenyataannya kira seringkali kurang yakin kepada Allah. Cirinya, kita hanya berdoa kepada Allah manakala kita berada dalam situasi yang sulit, atau ketika hati kita sedang sakit, kecewa, sedih. Namun, jika keadaan kita sedang senang, hati sedang gembira karena suatu kesuksesan, biasanya yang kita ingat hanyalah orang-orang yang kita cintai dan kehebatan diri kita sendiri. Paling, baru beberapa waktu kemudian kita baru ingat kepada Allah dan mengucap Alhamdulillah.

Padahal, jika kita benar-benar yakin kepada Allah Swt., kita akan tetap berdoa, memuji Allah dan memohon ampun kepada-Nya dalam setiap keadaan. Ketika susah dan ketika mudah. Ketika sedih dan ketika senang. Karena semua itu terjadi atas diri kita tiada lain adalah karena kekuasaan Allah Swt.

Saudaraku, suatu ketika di Mesir terjadi paceklik berkepanjangan, sampai sungai Nil hampir kering dan tidak bisa mengairi ladang dan kebun warga Mesir. Saat itu Islam sudah masuk di Mesir. Kekeringan ini hampir saja membuat banyak warga Mesir putus asa dan berpikir untuk kembali kepada perbuatan syirik karena mereka berpikir bahwa setelah memeluk Islam pun ternyata tidak bisa menyelamatkan mereka dari musibah paceklik. Amr bin Ash ra. yang ketika itu sebagai gubernur Mesir mengirim surat kepada Umar bin Khaththab ra. di Madinah untuk mengadukan keadaan ini dan supaya Umar mengirimkan bantuan ke Mesir.

Ternyata, yang dikirimkan oleh Umar adalah surat balasan yang isinya sebuah kalimat doa, “Bismillaahirrahmaanirrahiim. Ya Allah turunkanlah hujan untuk rakyat Mesir yang mencukupi untuk mereka”.

Surat itupun tiba di ibu kota Mesir, saat itu masih di Alexandria. Amr bin Ash membukanya dan membaca doa yang tertulis di dalam surat itu. Dan, seketika itu juga hujan turun di Mesir hingga membuat sungat Nil penuh kembali. Allaahu akbar!

Hal-hal seperti ini rasanya mustahil terjadi, doa seketika itu juga dikabulkan oleh Allah Swt. Bagaimana ini bisa terjadi, bukankah Umar dan Amr bukan seorang nabi dan rasul? Tiada lain adalah karena keyakinan mereka yang 100 % kepada Allah Swt.

Lalu, bagaimana hubungannya keyakinan ini dengan ikhtiar, jika bisa dengan begitu mudah doa dikabulkan berarti kita sudah tidak perlu ikhtiar lagi? Saudaraku, ikhtiar itu tidak ada hubungan dengan keyakinan, ikhtiar itu hubungannya dengan kewajiban. Allah yang menyuruh kita berikhtiar, adapun urusan hasil itu serahkan kepada Allah.

Jika kita sudah menjadikan ikhtiar sebagai keyakinan maka ini bisa mengurangi kadar keyakinan kita kepada Allah. Sebagai contoh, kita sedang sakit, kemudian kita ikhtiar berobat ke dokter dan kita meyakini dokter inilah yang bisa menyembuhkan kita. Nah, rasa yakin seperti ini bisa mengurangi kualitas keyakinan kepada Allah, tanpa disadari memunculkan rasa ragu pada kekuasaan Allah. Padahal, seharusnya keyakinan kita tetap bahwa yang menyembuhkan hanyalah Allah Swt., adapun ikhtiar kita berobat ke dokter adalah bagian dari kewajiban kita sebagai hamba untuk berusaha.

Saudaraku, dalam hadits qudsi Allah Swt. berfirman, “Aku sesuai persangkaan hamba-Ku. Aku bersamanya ketika ia mengingat-Ku. Jika ia mengingat-Ku saat bersendirian, Aku akan mengingatnya dalam diri-Ku. Jika ia mengingat-Ku di suatu kumpulan, Aku akan mengingatnya di kumpulan yang lebih baik daripada pada itu (kumpulan malaikat).” (Muttafaqun ‘alaih)   

Yakinlah kepada Allah Swt. Benar bahwa di dunia ini ada hukum sebab-akibat, namun jika kita hanya meyakini dan berpegangan pada hukum sebab-akibat ini maka yang terjadi pada kita pun tidak jauh-jauh dari sebab-akibat ini. Semua serba rasional. Namun, jika kita berpegang pada kekuasaan Allah Swt., maka sungguh tiada yang mustahil bagi Allah, tidak ada yang tidak mungkin bagi Allah. Itulah mengapa kita menemukan banyak kejadian luar biasa, ajaib, miracle, tidak masuk akal menurut kita, terhadap orang-orang shalih di masa dulu baik di masa Rasulullah Saw. maupun generasi setelahnya, itu tiada lain adalah karena faktor keyakinan 100% kepada Allah Swt. Dan, apa yang terjadi pada orang-orang shalih di masa lalu itu mungkin juga terjadi pada kita di masa sekarang, asalkan kita pun memiliki keyakinan yang kokoh kepada Allah Swt.

Jadikanlah dzikir, doa-doa dan istighfar sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari hari-hari kita dan dari setiap aktifitas kita. Hadirkan selalu Allah di hati kita. Semoga Allah senantiasa menolong kita dengan cara-Nya yang luar biasa dan dari jalan yang tiada pernah kita duga. Aamiin yaa Rabbal’aalamiin.[]

 

*Disarikan dari rekaman ceramah Ust. Hanan Attaki, Lc. pada chanel Youtube yang dipublikasikan oleh Lentera Islam News pada 05 Februari 2019

  

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

10 − nine =

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.