Home Hikmah Iman dan Keraguan

Iman dan Keraguan

522
0
SHARE
Prof. Dr. Quraish Shihab

Oleh : Quraish Shihab

Bismillaahirrahmaanirrahiim.

Saudaraku, “iman” biasa diterjemahkan dengan “percaya”. Tapi, apakah percaya itu? Secara bahasa, percaya berarti pembenaran hati terhadap apa yang didengar oleh telinga, begitu keterangan para ulama. Kita garis bawahi ‘pembenaran hati’.

Memang, apa yang diimani bisa jadi tidak diketahui. Bahkan, sebagian pakar berkata bahwa iman menyangkut sesuatu yang tidak terjangkau oleh nalar, karena kalau sudah terjangkau oleh nalar maka itu tidak lagi dinamai iman.

Kembali, iman adalah pembenaran hati. Sebagian ulama menyatakan bahwa seseorang disebut beriman kalau ia telah mengamalkan apa yang teraj diperintahkan oleh agama. Namun, sebagian ulama yang lain berpandangan bahwa tidak mesti demikian, iman berdiri sendiri dan kesempurnaannya adalah apabila seseorang mengamalkan tuntunan-tuntunan agama.

Iman, khususnya pada tahap-tahap awal, selalu disertai oleh tanda tanya. Sebagian pakar mengibaratkan bahwa orang yang beriman itu bagaikan berada di tengah lautan, lalu dia melihat nun jauh di sana pulau yang sedang dia tuju. Tetapi, dalam perjalanannya itu dia menghadapi ombak dan gelombang yang cukup besar. Sehingga ia bertanya-tanya apakah ia akan sampai di pulau harapan? Inilah gambaran iman.

Gambaran lainnya adalah seperti orang yang merajut cinta dengan seseorang, selalu ada tanda tanya di dalam hatinya tentang hubungan mereka itu sebelum akhirnya mereka sampai kepada ikatan perkawinan. Pertanyaan-pertanyaan semacam ini adalah gambaran iman.

Saudaraku, betapa pun, iman pada tahap-tahap awalnya selalu diganggui oleh semacam keraguan. Namun, janganlah khawatir dengan keraguan-keraguan itu. Dahulu para sahabat Nabi Muhammad Saw. ada yang berkata kepada baginda Nabi, “Wahai Nabi, kami merasakan di dalam hati kami pertanyaan-pertanyaan yang kami tidak sanggup untuk mengutarakannya kepadamu. Kami khawatir untuk mengutarakannya kepadamu.”

Mendengar ucapan itu, maka Nabi Saw. bertanya, “Apakah engkau telah mendapatkan itu? Apakah engkau telah mendapatkan pertanyaan-pertanyaan yang menggelisahkan hatimu?” Para sahabat membenarkannya. Kemudian, Nabi Saw. bersabda, “Itulah intisari keimanan”.  Yaitu, berbagai pertanyaan yang muncul di tahap-tahap awal keimanan.

Kalau kita membaca ayat-ayat Al Quran, kita akan menemukan bahwa Nabi Ibrahim as. pun sebelum mencapai puncak keimanan, beliau pernah bertanya-tanya, “Ya Allah, tunjukanlah kepadaku bagaimana Engkau menghidupkan yang mati.” Maka, Allah Swt. bertanya kepadanya, “Apakah engkau belum percaya?” Lantas, nabi Ibrahim as. berkata, “Aku telah yakin, tapi supaya hati semakin kuat (dengan imanku).” (QS. Al Baqarah [2] : 260)

Dalam salah satu hadits yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah ra., Rasulullah Saw. bersabda, “Kita lebih wajar ragu dibandingkan dengan nabi Ibrahim.” Akan tetapi, sesungguhnya nabi Ibrahim tidaklah dalam keadaan meragukan kebenaran Allah, melainkan hanya ingin memperkuat hatinya.  

Saudaraku, Allah Swt. memberikan kepada kita kebebasan kepada nurani kita untuk bertanya-tanya. Oleh karena itu, janganlah khawatir jika di hati kita muncul pertnyaan-pertanyaan yang berhubungan dengan keyakinan. Maka tidak heran jika ada ilmuwan yang mengatakan bahwa orang awam pada tahap-tahap awal keimanan mereka seringkali keimanannya lebih kuat daripada para ulama atau cendekiawan. Mengapa bisa demikian? Karena orang awam memulainya dengan bertanya-tanya kemudian mereka mendapatkan jawaban yang melunasi dahaga keraguannya dari jalan ilmu. Maka, ketika mereka mendapatkan jawaban yang memuaskan keraguannya, mereka akan genggam keyakinan itu sekuat mungkin.

Saurdaraku, jika kita termasuk orang yang sedang dikelilingi berbagai pertanyaan di dalam hati kita terkait dengan keimanan, maka janganlah khawatir. Sambutlah segala pertanyaan itu dengan semangat belajar, mencari ilmu, bertanya kepada para ulama sampai kita mendapatkan jawaban atas pertanyaan-pertanyaan itu. Jika kita sudah menemukan jawaban-jawaban itu maka kita akan sampai pada tahap selanjutnya yaitu yakin, keyakinan.

Para ulama yang memiliki kedalaman ilmu, dahulunya adalah orang-orang yang banyak memiliki pertanyaan di dalam hatinya. Namun, mereka orang yang merespon segala pertanyaan itu dengan semangat belajar. Sehingga setiap jawaban yang mereka peroleh itu menjadi ilmu. Semakin lama ilmunya semakin bertambah dan semakin dalam, maka ketika itulah mereka mencapai derajat keimanan yang sesungguhnya. Wallaahua’lam bishshawab.[]

 

*Disarikan dari ceramah Prof. Dr. Quraish Shihab pada 18 Mei 2018 di program Mutiara Hati SCTV.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

three + 18 =

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.