Home Hikmah Al-Quran, Sastra dan Keterpesonaan Para Penyair

Al-Quran, Sastra dan Keterpesonaan Para Penyair

558
0
SHARE

Oleh: Aguk Irawan MN (Pengelola Rumah Baca Baitul Kilmah)

Empat belas abad lebih al-Qur’an diturunkan di tengah masyarakat Jahiliyah. Zaman itu, sastra adalah tolak ukur dari segalanya; pengetahuan, juga kehormatan, dan sastrawan atau penyair, menempati tempat yang istimewa di tengah kaum Arab-Jahiliyah. Penyair-penyair ulung dikukuhkan posisinya di atas apapun; ia sang otoritas, orang- orang yang kebetulan menghampirinya di pasar atau di jalan menyambutnya dengan cara memuji-mujinya sambil memberinya sekantong uang, bahkan yang kebetulan tidak punya uang, sampai dengan cara bersujud. Cerita ini datang dari Muhammad bin Sulam al-Jumahi, dalam bukunya Thabaqat Fuhul asy-Syuara.

Memang, ketika dunia masih meraba-raba dalam keremangan peradaban, Arab-Hijaz sudah berbabad-abad lamanya berjibaku dengan sastra, dan sudah mengenal ilmu tata bahasa (linguistik). Tetapi anehnya, peradaban tinggi kesusastraan tak sebanding lurus dengan peradaban kemanusiaannya. Imam Fakhruddin ar-Razy dalam Mafatih al-Ghaib, menggambarkan sesuatu yang sangat menyeramkan; mereka membunuh jabang bayi perempuan dengan cara sadis. Di antaranya, ada yang memasukkan ke dalam lobang tanah ketika bayi mungil itu masih amis-darah dan menangis, ada pula yang melemparkannya dari puncak bukit, seperti mereka membuang sampah.

Dalam kondisi itulah Muhammad lahir dan hadir dengan mukjizat al- Qur’an; gema kesusastraan dan makna yang dikandungnya langsung bisa mengambil peran penting dan mengguncang penduduk Hijaz, hingga pada akhirnya membuat penyair-penyair itu tak berdaya. Salah satu penyair besar yang terpesona itu adalah Labid bin Rabiah. Penyair yang menjadi langganan puisi-puisinya ditempel di dinding ka’bah dan dibacakan di bukit Wuhaj, lalu semua hadirin tergetar, merunduk dan bersujud. Usai ia membacakan puisi di Wuhaj, siang itu juga, ia datang menemui Nabi, lantaran penasaran, orang-orang mulai mengangap ada pesaing berat dirinya, ia bernama Muhammad.

Singkat cerita, kaki Rabiah belum juga masuk ke ruang tamu rumah Nabi, tetapi telinganya sudah terlebih dulu menangkap lantunan indah dari bait-bait kata yang menakjubkan dari ayat al-Qur’an. Keringatpun mulai bercucuran. Dadanya terguncang, dan saat ia menghadap Nabi seketika itu, ia langsung bersyahadat. “Saya seorang penyair, saya tahu kata-kata ini pasti bukan dari manusia biasa?” Katanya sambil terkagum. Menurutnya lagi, al-Quran mempunyai uslub (struktur kalimat), fasahah-kalam (logika bahasa), bihar (diksi) dan majaz-naql (metafora) yang unik, tidak seperti puisi manapun yang orang Arab pernah tulis atau dengar sebelumnya.

Kisah lain datang dari penyair Tufail bin Amr. Menariknya Tufail tidak saja sebagai penyair besar, tetapi juga sebagai kepala suku Douse, posisi ini kian mengukuhkannya menjadi orang penting dan dihormati. Usai ditempelkannya puisinya di dinding Ka’bah, untuk menghormatinya, suku Quraisy memberinya kesempatan untuk membacakan puisi-pusinya di pasar Ukaz, sebelum ia tampil di muka umum, ia terlebih dulu mendapatkan bisikan; “bahwa Muhammad si penyihir dan penyair. Maka jangan pernah ia dekati.” Tetapi takdir berkata lain, sang Penyair ini justru bertemu dengan Nabi di pinggir Ka’bah ketika sedang membaca surat al-Alaq. Saat pertama kali mendengarnya itu, ia merasa jantungnya seperti terlepas, ayat-ayat itu terlampau memukaunya, sehingga iapun memeluk cahaya Islam.

Selain kisah dua penyair besar itu, masih ada banyak kisah dari para sahabat yang memeluk cahaya islam, karena terpesona dengan keindahan al-Quran, diantaranya adalah Umar Bin Khatab, Hasan Bin Tsabit, Ibu Rawahah dan lain sebagainya. Bahkan dalam catatan kitab Sirah-nya Ibnu Isya, ia menyebutkan, yang terpesona dengan keindahan al-Quran itu tidak saja penyair yang menjadi muallaf, tapi juga penyair-penyair besar yang masih mempertahankan agama ibunya.

Dikisahkan pada suatu hari Abu Sufyan, Abu Annas dan Abu Jahal, sering diam-diam menyelinap keluar dari rumah Khabab bin Art dan mendengarkan lantunan al-Quran yang dibaca sampai fajar dalam persembunyiannya. Saat ia kepergok di tempat yang sama, merekapun berjanji tidak akan mengulanginya, sebab ini memalukan, tetapi nyatanya, mereka masih sering mengulangi dan saling memergoki. Apa yang mereka lakukan itu, pernah juga dilakukan oleh penyair-penyair besar Jahiliyah lainnya, seperti Abu Mihjan ats-Tsaqafi, Abu ath-Thamhan al-Qaini, Dhabi bin al-Harist al-Barjami, Suhaim Abdul Bani al-Hashas, an-Najasy al-Haritsi, dan Syabil bin-Waraqa.

Pertanyaannya, mengapa hal ganjil itu bisa terjadi? Syauqi Dlaif dalam pengantar bukunya Tarikh al-Adab al-Arabi menjelaskan: Pertama, karena al-Quran itu menyerupai bahr (samudra), yang mana, bunyi deburan ombaknya selalu menentramkan jiwa, sekalipun suaranya tidak bisa dimengerti. Kedua, al-Qur’an itu seumpama yakut (berlian), orang yang memandangnya dari sudut tertentu akan berbeda dari sudut lain, tetapi semuanya memiliki kesan yang sama; indah berpendar cahaya. Ketiga, al-Qur’an itu seperti maidaturrahman (hidangan yang lezat), rasa dan aromanya pasti disukai oleh siapapun, maka orang tidak cukup hanya mencicipinya, tapi perlu menyantapnya agar orang mendapatkan gizi batin. Al-Quran yang mempesona itu diturunkan ke bumi pada Bulan Ramadhan, maka dibulan inilah kita seharusnya bisa lebih menikmati “hidangan” yang nikmat itu.

Lebih dari itu, menurut Syekh Abdul Qadir al-Jilani, ketika menafsirkan Wal-Qur’anil hakim (demi al-Qur’an yang bijaksana, Q.S. Yasin, 2). Dipilihnya kata hakim, dengan bentuk isim fail (bijaksana) mempunyai metafor dan rahasia-rahasia; karena bijaksana adalah sifat mahluk hidup yang punya jiwa. Dengan demikian, apakah al-Quran punya jiwa? Jawabannya iya, lihatlah asy-Syuara 52; “Kami Turunkan al-Quran dengan jiwa dari sisi Kami.” Karena itu, jangan heran kalau susunan dan gaya bahasa al-Quran sangat sempurna, juga makna dan kandungannya selalu menakjubkan? Jika al-Quran menurut Imam Syafii dalam Majmu al-Ulum ada satu juta dua puluh tujuh ribu huruf, maka tiap huruf itu berjiwa. Oleh karena itu saat orang sedang membaca al-Quran, saat itu pula ada jamuan kerinduan, antara jiwa (mutma’inah) orang dengan jiwa-jiwa suci al-Quran, dan pantaslah jika orang dibuat terpesona. Wallahu’alam bishawab.(*)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

six + seventeen =

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.