Home Hikmah Seribu Jalan Menuju Tanah Suci

Seribu Jalan Menuju Tanah Suci

318
0
SHARE
Prof. Dr. Quraish Shihab

Oleh : Quraish Shihab

Bismillahirrahmanirrahim. 

Ada orang yang sudah menabung sekian lama demi bisa menunaikan umrah, namun tidak jadi karena rupanya ia menjadi korban dari penipuan bisnis travel umrah. Ada juga pedagang kecil yang sudah menyisihkan sedikit demi sedikit dari keuntungannya demi bisa ibadah haji tahun ini, tapi batal karena pandemi.

Saudaraku, berbagai cara dilakukan oleh banyak orang untuk melunasi kerinduannya kepada tanah suci, baik dengan cara berumrah maupun berhaji, atau keduanya.

Ketika dahulu Nabi Ibrahim as. membangun Ka’bah, saat itu Mekkah belum banyak dikunjungi orang. Ia hanya lembah tandus yang menjadi sekedar tempat singgah sebentar saja bagi orang yang melakukan perjalanan. Bahkan saat itu belum ada air, sampai kemudian nanti ditemukan sumber air Zamzam dalam peristiwa Siti Hajar dan bayinya, nabi Ismail as.

Salah satu doa nabi Ibrahim adalah, “..Jadikanlah hati sebagian manusia cenderung kepada mereka dan berilah rezeki mereka dari buah-buahan, mudah-mudahan mereka bersyukur.” (QS. Ibrahim [52] : 37)

Dan, doa ini makbul, dikabulkan oleh Allah Ta’ala.

Doa nabi Ibrahim yang lain adalah, “Ya Tuhanku jadikanlah negeri Mekkah ini negeri yang aman dan berilah rezeki berupa buah-buahan kepada penduduknya yaitu di antara mereka yang beriman kepada Allah dan Hari Kemudian.” (QS. Al Baqarah [2] : 126)

Doa inipun dikabulkan oleh Allah Ta’ala. Sampai sekarang, di Mekkah maupun Madinah, meskipun dikelilingi padang pasir, tapi aneka buah-buahan dapat ditemukan di sana. Meski pohonnya tidak tumbuh di sana, tapi buah-buahan tersedia melimpah.

Jadi, kerinduan orang-orang untuk berziarah ke Mekkah dan Madinah salah satunya adalah berkat doa nabi Ibrahim.

Kedua, bahwa di sana ada ‘rumah’ Allah. Baitullah. Orang yang mencintai seseorang misalkan, maka ia akan cenderung untuk datang berkunjung kepada orang yang dicintainya. Bahkan berkali-kali. Bahkan jauhpun tidak apa.

Maka, sangatlah rugi jika ada orang yang mengunjungi rumah kekasihnya, bahkan menempuh jarak yang jauh. Tapi, sesampainya di sana ia hanya mendapati bangunan rumahnya saja, sementara tidak bertemu dengan kekasihnya.

Inilah gambaran tentang betapa ruginya seseorang yang berangkat umrah atau haji ke tanah suci, ke Baitullah. Tetapi di sana ia hanya bertemu dengan bangunan rumah Allah-nya saja. Sedangkan, dengan Allah, dia tidak ‘bertemu’.

Maka, ada ungkapan, “Jika anda tidak dapat berkunjung ke rumah kekasih. Maka, undanglah kekasih untuk berkunjung ke rumah anda.”

Ini menjadi gambaran betapa seseorang sangat merindukan kekasihnya sehingga ingin bertemu. Demikianlah kerinduan seseorang kepada Allah. Meskipun kedekatan dengan Allah bisa dilakukan di mana saja, termasuk di rumahnya sendiri dengan menunaikan amalan ibadah. Namun, Baitullah bagaikan sebuah meeting poin yang sangat spesial. Sehingga orang sangat rindu ‘bertemu’ dengan Allah di sana. Di rumah-Nya. Di Baitullah.

Saudaraku, pada hakikatnya setiap muslim itu sudah terpanggil atau dipanggil oleh Allah untuk berkunjung ke rumah-Nya. Karena Allah Ta’ala berfirman, “..Dan (di antara) kewajiban manusia terhadap Allah adalah melaksanakan ibadah haji ke Baitullah, yaitu bagi orang-orang yang mampu mengadakan perjalanan ke sana. Barangsiapa mengingkari (kewajiban) haji, maka ketahuilah bahwa Allah Mahakaya (tidak memerlukan sesuatu) dari seluruh alam.” (QS. Ali Imran [3] : 97)

Setiap orang yang mampu, mengupayakan diri untuk mampu, sudah terpanggil untuk berziarah ke Baitullah. Cukup satu kali seumur hidup.

Bahwa ada orang yang berhaji berkali-kali ke Baitullah, sebagai wujud kerinduan kepada Allah, maka itu diperbolehkan. Hanya saja dalam hal hubungan kemanusiaan, di mana begitu banyak orang di dunia ini yang sama-sama merindukan Baitullah, maka kemudian pemerintah Arab Saudi maupun pemerintah di berbagai negara menetapkan kuota dan membatasi orang secara giliran.

Pemerintah Arab Saudi sendiri membatasi warganya untuk berhaji satu kali saja dalam lima tahun untuk memberikan kesempatan kepada orang lain yang belum berhaji.

Jika ada orang yang menghalalkan berbagai cara agar bisa berhaji untuk kesekian kalinya sehingga mengakibatkan jatah orang lain terambil, maka ia sudah melakukan kezhaliman. Kecuali bagi orang-orang yang memang karena panggilan tugas membuat ia perlu berhaji lebih dari satu kali maka itu tidak menjadi masalah.

Dalam hal batalnya berangkat haji atau umrah padahal persiapan sudah dilakukan, dan batalnya haji ini boleh jadi karena faktor eksternal seperti pandemi, penipuan atau sebab lainnya, dan boleh jadi karena faktor internal misalnya tiba-tiba ada kebutuhan dana yang cukup besar dan mendadak seperti orangtua masuk rumah sakit yang mengakibatkan dana umrah atau haji harus terpakai, maka pada prinsipnya mendahulukan yang butuh itu lebih baik daripada mendahulukan yang tidak butuh.

Umrah dan haji bukanlah satu-satunya kewajiban. Umrah dan haji menjadi wajib jika memang kita sudah memiliki kemampuan lebih baik secara finansial maupun lainnya.

Sedangkan jika orangtua membutuhkan bantuan kita, keadaannya sedang kritis, dan dana kita pas-pasan. Maka, menunda umrah atau haji demi membantu orangtua maka itu jauh lebih utama. Apalagi jika umrah dan hajinya itu untuk kedua atau kesekiankalinya.

Saudaraku, jangan pula berangkat umrah atau haji dengan cara berhutang. Karena itu artina kita belum terkategori mampu secara finansial. Apa jaminannya jika sepulang kita dari tanah suci kemudian kita masih ada umur untuk melunasinya? Jangan sampai kita malah membebani keluarga.

Berupaya untuk mampu umrah dan haji, itu harus. Maka menabunglah. Jangan memaksakan diri dengan cara berhutang. Karena jika kita sungguh-sungguh ikhlas berniat umrah dan haji, kemudian berupaya menabung, namun tidak kesampaian karena faktor kesehatan atau usia yang tidak sampai. Maka, Allah akan memberi kita pahala yang nilainya setara dengan amalan umrah atau haji tersebut.

Allah Ta’ala berfirman, “..Barangsiapa keluar dari rumahnya dengan maksud berhijrah kepada Allah dan Rasul-Nya, kemudian kematian menimpanya (sebelum sampai ke tempat yang dituju), maka sungguh telah tetap pahalanya di sisi Allah. Dan adalah Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. An Nisa [4] : 100)

Saudaraku, sungguh Allah Maha Tahu dengan kerinduan yang terpendam di hati kita kepada Baitullah. Dan, Allah Maha Tahu atas upaya yang kita lakukan untuk merealisasikan kerinduan kita itu.

Dalam proses kita mempersiapkan diri, iringilah upaya kita tersebut dengan amalan-amalan yang ganjarannya setara dengan ibadha umrah dan haji. Apa saja?

Pertama, shalat berjamaah di awal waktu di masjid dan shalat Dhuha. Hal ini sebagaimana sabda Rasulullah Saw., “Siapa yang keluar dari rumahnya dalam keadaan suci untuk menunaikan shalat fardhu akan diberikan pahala ibadah haji. Sementara orang yang keluar rumah untuk mengerjakan shalat dhuha dan tidak ada tujuan lain selain itu, maka akan diberikan pahala umrah,” (HR Abu Daud).

Kedua, berdzikir selepas shalat Subuh berjamaah di awal waktu hingga waktu terbit matahari. Karena Rasulullah Saw. bersabda, “Siapa yang mengerjakan shalat subuh berjemaah, kemudian dia tetap duduk sambil dzikir sampai terbit matahari dan setelah itu mengerjakan shalat dua rakaat, maka akan diberikan pahala haji dan umrah.” (HR. Tirmidzi)

Ketiga, pergi ke masjid untuk menimba ilmu atau mengajarkan ilmu. Rasulullah Saw. bersabda, “Siapa yang berangkat ke masjid hanya untuk belajar kebaikan atau mengajarkannya, diberikan pahala seperti pahala ibadah haji yang sempurna hajinya.” (HR Thabrani)

Saudaraku, bisa menunaikan umrah dan haji adalah dambaan setiap orang, meski kenyataannya tidak setiap orang dapat meraih apa yang didambakannya itu. Namun, janganlah berkecil hati. Berdo’a dan berupayalah terus, karena sesungguhnya do’a dan upaya kita itu akan tercatat sebagai amal shalih di hadapan Allah Ta’ala.

Adanya amalan yang nilai ganjarannya setara umrah dan haji bukan berarti membuat kita merasa tidak perlu berupaya agar mampu berangkat umrah dan haji. Sebaliknya, harus semakin membuat kita semangat untuk dapat menggapainya.

Boleh jadi, Allah takdirkan kita berangkat umrah dan haji justru bukan dengan tabungan kita, bukan dengan uang kita, tapi Allah mudahkan jalan lain bagi kita untuk sampai di Baitullah. Hal seperti ini sudah banyak dialami oleh orang-orang di dunia ini. Tidak ada yang mustahil bagi Allah.

Kuncinya adalah tetap berdo’a, berikhtiar, sabar, berbaik sangka kepada Allah. Niscaya Allah mudahkan bagi kita jalan untuk dapat bersujud kepada Allah di rumah-Nya yang penuh keberkahan. Aamiin yaa Allah yaa Rabbal’aalamiin.

 

*) Disarikan dari https://www.youtube.com/watch?v=V3UY1gfiPoA

 

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

4 × one =

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.