Home Hikmah Mimpi-Mimpi Sederhana

Mimpi-Mimpi Sederhana

332
0
SHARE
Dr. Saiful Bahri, M.A

Oleh : Saiful Bahri

Barangsiapa yang di pagi hari ia aman dan nyaman jiwanya, sehat badannya, ia memiliki sarapan (makanan) di harinya, maka seolah-olah ia telah diberikan dunia beserta seluruh isinya.

(HR. Bukhari dalam al-Adab al-Mufradnya, dan At-Tirmidzi dalam Sunan-nya, sahabat Ubaidillah bin Mihshan meriwayatkan hadits dari Nabi Muhammad Saw.)

Bahagia itu sederhana. Semuanya orang berpeluang untuk berbahagia. Meskipun, kesederhanaan ini pada akhirnya menjadi lebih rumit karena prespektif orang tentang kebahagiaan kemudian menjadi lebih rumit dan sulit. Terutama ketika standar materialistik dan gaya hidup hedonis yang dianut oleh tidak sedikit masyarakat modern.

Menilik dari hadits di atas, ternyata titik utama dan kunci mencapai kebahagian di setiap pagi adalah sikap hidup manusia. Kesyukuran adalah modal utama meraihnya.

Dalam kehidupan harian, tak jarang kita menyaksikan seorang lelaki yang berpakaian lusuh, lumpur-lumpur kering menempel di badannya. Nampak, ia baru saja melakukan pekerjaan penggalian. Ia tidur dengan terlelap di atas rerumputan, sengatan sinar matahari tak mengusiknya sama sekali.

Pemandangan serupa bisa ditemukan di pematang sawah, saat beberapa orang membuka rantang berisi makanan sederhana yang dikirimkan oleh keluarga. Berteduh menikmati makan siang, dengan lahapnya.

Nelayan yang mempertaruhkan nyawanya di tengah ganasnya lautan, nampak berseri-seri ketika jerih payahnya berbuah manis. Ikan hasil tangkapannya terjual habis, ia bisa membawa oleh-oleh sederhana untuk keluarganya.

Ada banyak kisah yang akan kita jumpai memberikan gambaran sederhana tentang makna kebahagiaan. Al Quds Channel memiliki program rutin tahunan mengisahkan kisah-kisah inspiratif tentang makna kebahagiaan yang sangat sederhana.

Program acara di Al Quds Channel bernama Ahlâm Basîthah (Mimpi-mimpi Sederhana) adalah sebuah program acara yang menampilkan dan sekaligus membuktikan bahwa untuk membahagiakan seseorang itu tidak sulit. Sangat mudah.

Dalam acara tersebut dijelaskan bahwa bantuan kemanusiaan dari berbagai lembaga kemanusiaan disalurkan kepada keluarga korban perang di Gaza.

Ada seorang lelaki tua penjual sayur-sayuran yang karena perang ia kehilangan kendaraan yang biasa ia gunakan untuk menjual sayur. Suatu ketika seorang lelaki, host acara Ahlâm Basîthah menawarkan jasa pengangkutan sayur kepadanya, ia diminta menyetir sebuah kendaraan sederhana seperti bajai untuk di antar ke sebuah kios. Kemudian ia ditanya, minta upah berapa. Keluar sebuah nominal yang sangat kecil. Itu sudah cukup membuatnya bahagia. Lelaki tersebut memberikan kejutan kepadanya. Ia memberi upah lebih kemudian ia menghadiahkan bajai tersebut kepadanya, ditambah sebuah kios kecil yang sudah disewa selama satu tahun.

Ada beberapa butir air mata bening keluar dari pojok-pojok mata lelaki tua tersebut. Pipinya yang keriput dibasahi air mata bahagia. Ia bersujud syukur, memuji Allah yang memberinya segala hal yang diimpikannya. Bukankah sederhana meraih kebahagiaan itu? Sesederhana membahagiakan orang yang memiliki persepsi kebahagiaan sederhana.

Ada seorang perempuan tua yang rumahnya hancur karena serangan Israel beberapa waktu lalu. Ia dan suaminya serta beberapa anaknya menghuni sebuah rumah yang tak pernah utuh tersebut. Sang ibu tak pernah berharap atau bermimpi rumahnya kembali utuh. Karena ada banyak keluarga yang mengalami nasib serupa. Yang ia impikan adalah hadirnya sebuah mesin cuci yang meringankan tumpukan cuciannya yang banyak. Tim dari Al Quds channel memberikan mesin cuci. Raut bahagia terpancar dari wajah perempuan paruh baya tersebut. Rumah mereka pun dibedah dan diperbaiki. Mereka bisa berbahagia dengan sebuah aksi sederhana.

Cerita lain mengisahkan tentang seorang pemuda yang menjadi tumpuan keluarganya sepeninggal ayahnya. Pemuda ini hanya menjual beberapa teko teh panas yang dijualnya di sepanjang pantai di Gaza. Kebahagiaannya adalah ketika ia kembali dengan beberapa uang yang bisa diberikan kepada ibunya. Host acara Ahlâm Basîthah datang dengan sebuah kendaraan kecil dengan kompor gas kecil dan perlengkapan masak sederhana. Pemuda tersebut selain menjual minuman hangat bisa menjual burger daging dan makanan-makanan ringan. Senyumnya melebar. Iya tak sampai bermimpi seperti itu. Tapi Allah memberinya lebih banyak dari yang dibayangkannya.

Ternyata kebahagiaan itu sederhana. Membahagiakan orang juga bukan sesuatu yang sulit. Bahkan tersenyum adalah salah satu sedekah termudah.

Tebarkan optimisme kemenangan dan kemerdekaan kepada bangsa Palestina yang terampas kebebasannya. Kembalikan senyum-senyum keceriaan. Allah akan membahagiakan orang yang senantiasa berusaha membahagiakan orang lain. Allâhu al-Musta’ân.

 

*Sumber : https://saifulelsaba.wordpress.com

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

seven + nineteen =

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.