Home Hikmah Lupakan Jasa dan Kebaikan Diri

Lupakan Jasa dan Kebaikan Diri

317
0
SHARE

Oleh : Abdullah Gymnastiar

Segala puji hanya milik Allah Swt. Semoga Allah Yang Maha Menatap, menjadikan kita hamba-Nya yang terampil menjaga kebersihan niat dalam setiap amal kita. Shalawat dan salam semoga selalu terlimpah kepada Rasulullah Saw.

Saudaraku, semakin kita sering menganggap diri banyak jasa dan banyak kebaikan pada orang lain, apalagi menginginkan orang lain tahu akan jasa dan kebaikan diri kita itu, lalu berharap orang lain menghargai, memuji, dan membalasnya, maka berarti kita sedang membangun penjara untuk diri kita sendiri. Dan, kita pun berarti sedang mempersiapkan diri mengarungi samudera kekecewaan dan rasa sakit hati.

Semakin banyak kita berharap sesuatu dari selain Allah Swt., maka akan semakin banyak kita merasa kecewa. Karena, tiada sesuatu apapun yang dapat terjadi tanpa ijin Allah. Sesudah mati-matian berharap dihargai makhluk namun Allah tidak menggerakkan orang untuk menghargai, maka hati kita akan kecewa karena kita terlalu banyak berharap kepada makhluk. Belum lagi kerugian di akhirat karena amal yang dilakukan berarti tidak tulus dan tidak ikhlas, yaitu beramal bukan karena Allah Swt.

Selayaknya kita menyadari bahwa yang namanya jasa atau kebaikan kita terhadap orang lain sesungguhnya bukanlah kita yang berjasa, melainkan Allah-lah yang berkehendak. Kita hanya menjadi jalan kebaikan Allah. Menjadi jalannya saja sudah lebih dari cukup, karena jika Allah menghendaki kebaikan itu terwujud melalui orang lain maka kita tidak akan mendapat ganjarannya.

Jadi, ketika ada seseorang yang sakit, lalu sembuh karena usaha seorang dokter. Maka, sesungguhnya Allah yang menyembuhkan. Sang dokter hanya menjadi jalan. Seharusnya dokter sangat berterima kasih kepada sang pasien karena selain telah menjadi ladang pahala untuk mengamalkan ilmunya, juga telah menjadi jalan rezeki dari Allah baginya.

Namun, andaikata sang dokter jadi merasa hebat karena usahanya, dan menuntut penghormatan dan balas jasa yang berlebihan, maka selain memperlihatkan kebodohan dan kekurangan imannya, juga semakin tampak rendah kepribadiannya. Selain itu, di akhirat nanti niscaya dia akan termasuk orang yang merugi karena tidak mendapat pahala.

Percayalah saudaraku, bahwa kemuliaan dan kehormatan serta kewibawaan seseorang justru akan cemerlang seiring dengan ketulusannya menjalani tugas dengan baik, Insyaa Allah. Allah yang akan menghujamkan rasa cinta di hati manusia dan menuntun mereka untuk membalas dengan kebaikan pula.

Seorang guru perlu menahan diri dari ujub dan merasa berjasa kepada murid-muridnya. Karena memang kewajiban guru untuk mengajar dengan baik. Dan, itulah rezeki bagi seseorang yang ditakdirkan menjadi guru. Setiap kebaikan yang dilakukan muridnya adalah berkah dari tuntunan sang guru dan akan menjadi ganjaran tiada terputus di akhirat kelak. Kita boleh bercerita tentang suka duka dan keutamaan mengajar dengan niat bersyukur, bukan ujub dan takabur.

Saudaraku, andaikata ada mobil yang mogok lalu kita bantu mendorongnya hingga mesinnya hidup dan bisa berjalan dengan baik, namun sang supir tidak berterima kasih, jangankan membalas jasa, bahkan menengok ke arah kita pun tidak sama sekali. Jika kemudian kita merasa kecewa lalu menggerutu, menyumpahi dan memaki sang supir, maka lengkaplah kerugian kita lahir maupun batin. Amal kebaikan kita pun jadi tidak berpahala dalam pandangan Allah disebabkan tidak ikhlas.

Seharusnya yang kita yakini sebagai rezeki dan keberuntungan kita adalah takdir kita diizinkan oleh Allah sehingga bisa mendorong mobil itu. Bayangkan andaikata ada mobil yang mogok dan kita tidak mengetahuinya atau kita sedang sakit, lemah tidak berdaya, maka tentu kita tidak mendapat kesempatan beramal dengan mendorong mobil itu.

Contoh takdir mendorong mobil ini adalah investasi besar. Yaitu kalau dilaksanakan dengan penuh ketulusan niscaya Allah Yang Maha Melihat akan membalasnya dengan balasan yang mengesankan. Bukankah kita tidak tahu kapan kita akan mendapatkan kesulitan di perjalanan, maka takdir beramal sesungguhnya adalah investasi.

Oleh karena itu, mari kita bersungguh-sungguh untuk terus beramal kebajikan sebanyak mungkin dan sesegera mungkin. Setelah itu mari kita lupakan, seakan kita tidak pernah melakukannya. Cukuplah Allah Yang Maha Melihat saja yang mengetahuinya.

Allah Swt. pasti menyaksikan kita dengan sempurna dan Allah pasti akan membalasnya dengan balasan yang sangat tepat baik waktu, bentuk, ataupun momentumnya. Salah satu ciri orang yang ikhlas menurut Imam Ali ra. adalah senang menyembunyikan amalannya bagai menyembunyikan aib-aibnya.

Selamat berbahagia bagi siapapun yang sangat gemar beramal dan sangat cepat melupakan jasa dan kebaikan dirinya. Percayalah hidup ini akan jauh lebih nikmat, lebih ringan, dan lebih indah.[]

 

Sumber : www.smstauhiid.com

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

3 × five =

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.