Home Hikmah Ketahanan Pangan dalam Pandangan Islam

Ketahanan Pangan dalam Pandangan Islam

240
0
SHARE
TGB Muhammad Zainul Majdi

Oleh : TGB. Muhammad Zainul Majdi

Bismillaahirrahmaanirrahiim. 

Islam adalah agama yang sempurna. Kesempurnaannya meliputi segala urusan dari ibadah mahdhah hingga ghair mahdhah, mencakupi urusan ibadah yang privat dan sangat personal hingga urusan ibadah yang memiliki dimensi sosial.

Dan, salah satu aspek yang mendapatkan perhatian cukup besar dalam ajaran Islam adalah aspek ketahanan pangan. Karena, urusan ini memiliki keterkaitan erat dengan hajat hidup orang banyak dan berdampak pada kualitas kehidupan manusia.

Terdapat beberapa hal yang fundamental dalam Islam terkait ketahanan pangan ini.

Pertama, urusan pangan dalam Islam tidak hanya urusan biologis semata, melainkan urusan yang sangat spiritual.

Rasulullah Saw. pernah menyampaikan dalam satu hadits, “Sesungguhnya Allah itu Maha baik dan tidak menerima, kecuali sesuatu yang baik. Dan, sesungguhnya Allah telah memerintahkan kaum Mukminin dengan perintah yang Allah gunakan untuk memerintahkan para rasul. Maka Allah berfirman,”Wahai para rasul, makanlah segala sesuatu yang baik dan beramal shalihlah (Al Mukminun : 41).” Dan Allah juga berfirman,”Wahai orang-orang yang beriman, makanlah segala sesuatu yang baik, yang telah kami berikan kepada kalian (Al Baqarah : 172).”

Kemudian Rasulullah menyebutkan tentang seseorang yang melakukan perjalanan panjang, kusut rambutnya, kemudian mengangkat tangannya dan mengatakan : “Wahai Rabb-ku, Wahai Rabb-ku”, sedangkan makanannya haram, minumannya haram, perutnya diisi dengan sesuatu yang haram, maka bagaimana Kami mengabulkan doanya?” (HR. Muslim)

Kandungan dalam hadits ini menunjukkan kepada kita bahwa urusan pangan bisa berdampak kepada diterima atau ditolaknya suatu amal ibadah oleh Allah Swt. Seperti gambaran seseorang yang melakukan perjalanan jauh dan melelahkan untuk bisa sampai di depan Ka’bah dan bersujud kepada Allah, sementara selama ini ia mengkonsumsi makanan yang haram, pakaiannya pun didapat dari jalan yang haram.

Maka, terhadap orang seperti ini Rasulullah menyampaikan pertanyaan retoris bahwa bagaimana mungkin ibadah dari orang yang seperti demikian ini akan diterima oleh Allah Swt.

Suatu ketika, salah satu sahabat yaitu Saad bin Abi Waqash datang kepada Rasulullah Saw. dan mengadu kepadanya. “Ya Rasulullah, rasanya sudah banyak aku berdoa kepada Allah tapi rasanya belum ada yang dikabulkan?” tanya Saad. Lantas Rasulullah Saw. menyampaikan, “Wahai Saad, perbaiki sumber makananmu. Pastikan dari sesuatu yang baik, diperoleh dengan jalan yang baik, dikonsumsi dengan baik. NIscaya doamu akan dikabulkan.”

Jadi, pangan itu sangat spiritual, menentukan diterima atau tidaknya amal kita, menentukan dikabul atau tidaknya doa kita. Bahkan, hingga menentukan bagaimana keadaan kita kelak di akhirat.

Rasulullah Saw. pernah bersabda kepada Ka’ab bin Ujrah, “Sesungguhnya tidak akan masuk surga daging yang tumbuh dari makanan haram.” (HR. Ibnu Hibban)

Dalam riwayat lain redaksinya sedikit berbeda namun memiliki substansi yang sama, Rasulullah Saw. bersabda, “Wahai Ka’ab bin Ujrah, tidaklah daging manusia tumbuh dari makanan haram kecuali neraka lebih utama atasnya.” (HR. Tirmidzi)

Setiap secuil daging yang tumbuh di dalam tubuh seseorang maka akan dibersihkan terlebih dahulu dengan panasnya api neraka. Na’udzubillaahi mindzalik, semoga kita dilindungi oleh Allah Swt.

Di bulan Ramadhan yang istimewa ini, kita disyariatkan untuk menunaikan ibadah puasa. Salah satu hikmah agung dari pelaksanaan puasa kita adalah semakin terpeliharanya urusan pangan yang masuk ke dalam tubuh kita. Jika di bulan-bulan yang lain kita lebih bebas untuk makan dan minum ketika berada di luar rumah sehingga seringkali kita luput untuk disiplin memperhatikan ada kandungan apa sebenarnya dalam makanan dan minuman yang kita konsumsi. Jangan-jangan ada zat haram atau syubhat yang luput dari perhatian kita.

Sedangkan di bulan Ramadan, kita lebin terpelihara dari semua itu karena kita hanya makan pada saat sahur dan berbuka, dan itu biasanya kita lakukan di rumah yang mana kualitas makanan dan minuman menjadi lebih terjaga kehalalannya.

Selain itu, puasa yang kita lakukan selama bulan Ramadhan juga akan mengikis habis daging-daging di dalam tubuh kita yang tumbuh dari harta haram dan syubhat. Sehingga yang tersisa di dalam diri kita adalah daging yang bersih dan akan selamat dari panasnya api neraka, insyaaAllah!

Fundamental yang Keduabahwa Allah Swt. telah menjamin rezeki seluruh makhluk-Nya (QS. Hud [11] : 6)

Kita tahu bahwa risalah Islam di dalam kehidupan kita itu menghadirkan nur atau cahaya. Kalau dalam bahasa Al Quran terdapat kalimat yang artinya, “Al Qur`an mengeluarkan manusia dari kegelapan menuju terang benderang” (QS. Ibrahim [14]:1)

Implementasi yang riil dari Nur adalah kota Madinah Al Munawwarah, kota atau negeri yang menjadi cahaya, penerang, mercusuar kebaikan, teladan bagi negeri-negeri yang lain. Inilah negeri yang dibangun oleh Rasulullah Saw.

Bahwa risalah Islam membawa Nur dalam kehidupan manusia, hal ini dirangkum dalam Al Quran surat Al Baqarah ayat 201,

وَمِنْهُم مَّن يَقُولُ رَبَّنَآ ءَاتِنَا فِى ٱلدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِى ٱلْءَاخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ ٱلنَّارِ

“Dan, di antara mereka ada orang yang berdoa: “Ya Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat dan peliharalah kami dari siksa neraka”.

Dalam kerangka mewujudkan Fiddunya hasanah, Allah Swt. memberikan panduan kepada kita, tentang bagaimana agar kehidupan ini bisa berjalan dengan baik. Hal-hal yang terpenting seperti pangan dalam kehidupan dapat terpenuhi dan tercukupi. 

Jika kita buka Al Quran, dan kita tafakuri bentangan kandungan Al Quran, maka kita bisa menemukan bahwa ternyata Al Quran memberikan perhatian luar biasa besar porsinya untuk aspek ketahanan pangan. Panduan Al Quran mengenai ketahanan pangan bagi manusia dimulai dari satu prinsip yang utama, yaitu bahwa seluruh makhluk yang ada di alam semesta ini sudah dijamin rezekinya oleh Allah Swt.

Pada dasarnya Allah telah siapkan jatah rezeki setiap individu. Bahkan hingga binatang yang paling kecil pun, Allah sudah jamin rezekinya.

Salah satu kebiasaan buruk orang Arab di masa lalu adalah tidak menyukai anak perempuan karena dianggap sebagai beban keluarga dan beban sosial. Mereka menganggap bahwa anak perempuan tidak bisa diandalkan untuk menjadi sumber rezeki keluarga, mereka tidak bisa berniaga ke negeri-negeri jauh, tidak bisa berperang. Maka Allah Swt. turunkan ayat ini kepada Rasulullah Saw.,

وَلَا تَقْتُلُوا أَوْلَادَكُمْ خَشْيَةَ إِمْلَاقٍ ۖ نَحْنُ نَرْزُقُهُمْ وَإِيَّاكُمْ ۚ إِنَّ قَتْلَهُمْ كَانَ خِطْئًا كَبِيرًا

“Dan janganlah kamu membunuh anak-anakmu karena takut kemiskinan. Kami-lah yang akan memberi rezeki kepada mereka dan juga kepadamu. Sesungguhnya membunuh mereka adalah suatu dosa yang besar.” (QS. Al Isra [17] : 31)

Saking tidak sukanya kaum Arab jahiliyah di waktu itu terhadap anak perempuan, sampai-sampai mereka tega membunuhnya. Maka, turunlah ayat ini. Dan, ayat ini sangat menarik, karena Allah berjanji mencukupi rezeki anak-anak perempuan khususnya, dan setiap orang pada umumnya, meskipun mereka belum lahir ke dunia.

Dan, jaminan rezeki dari Allah tidak hanya ditujukan untuk manusia dan hewan, melainkan bagi bumi itu sendiri.

Untuk bumi yang kita tinggali ini Allah Swt. sudah menciptakannya sedemikian rupa secara lengkap dan menjadi tempat yang paling representatif untuk ditinggali oleh segala makhluk yang berada di dalamnya. Banyak sekali ayat Al Quran yang menerangkan tentang hal ini, bagaimana Allah cukupi kebutuhan makhluk akan air dengan diaturnya curah hujan, pergantian malam dan siang, peredaran matahari dan bulan dan lain sebagainya.

Kita bersyukur tinggal di Indonesia yang Allah anugerahi dengan kekayaan alam sangat berlimpah. Sekitar 1,2 juta km persegi dan lautan sekitar 3,25 juta km persegi, dengan keanekaragaman hayati yang dikandungnya. Ini adalah potensi pangan kita yang luar biasa berlimpah. Pertaniannya, perkebunannya, perikanannya, peternakannya, semua luar biasa.

Kata kunci untuk semua potensi itu adalah memanfaatkan dengan penuh tanggung jawab. Kata kunci ini penting kita pegang setiap kita mengkaji ketahanan pangan dalam sudut pandang Islam.

Ketiga, pemanfaatan secara adil dan seimbang.

Di dalam Al Quran, Allah memperkenalkan satu kosa kata yang pada masa awal turunnya Al Quran, kosa kata ini belum akrab dikenal oleh orang Arab. Kosa kata ini ada tapi sangat jarang dipakai. Kosa kata itu adalah Al Mizan. Mari kita renungkan firman Allah berikut ini,        

 “Dan langit telah ditinggikan-Nya dan Dia ciptakan keseimbangan, agar kamu jangan merusak keseimbangan itu, dan tegakkanlah keseimbangan itu dengan adil dan janganlah kamu mengurangi keseimbangan itu. Dan, bumi telah dibentangkan-Nya untuk makhluk (-Nya)” (QS. Ar Rahman [55] : 7 – 10)

Luar biasa kandungan ayat-ayat ini. Kita dapat membaca bahwa Allah menghendaki keseimbangan yang terjaga. Al Mizan itu artinya bisa timbangan, keseimbangan, keadilan. Arti atau maknanya bermacam-macam yang dapat diterapkan sesuai dengan konteks ayatnya. Namun, ada satu benang merah dari semua arti tersebut yaitu sikap pertengahan, proporsionalitas, moderasi.

Signifikansi dari ayat-ayat tadi adalah bahwa ternyata Allah mengawali segala ciptaan-Nya dengan keseimbangan, Al Mizan. Seperti bunyi ayat-ayat tersebut tadi, berulang kali Allah menyebutkan Al Mizan, baru kemudian disusul dengan menyebutkan bumi sebagai tempat yang diperuntukkan bagi makhluk-makhluk-Nya.

Ketika kita berbicara ketahanan pangan, maka kita sedang berbicara tentang sustainabilitas atau keberlanjutan. Bahwa segala potensi yang ada di alam ini tidak boleh kita manfaatkan secara eksploitatif destruktif, melainkan harus dalam pola keseimbangan dan tidak berlebihan.

Ada sebuah ilustrasi ringan namun mencerminkan Islam sebagai ajaran yang sangat menghormati sumber daya yang ada, tidak menyukai pemborosan. Dulu ketika Rasulullah Saw. melihat ada seorang sahabat, yaitu Saad, sedang berwudhu.

Rasulullah Saw. berkata, “Hai Saad, jangan berlebihan memakai air saat berwudhu.” Lantas, Saad bertanya, “Ya Rasulullah, memang ada bentuk berlebihan dalam menggunakan air?”

Rasulullah Saw. Pun mengiyakan dan bersabda, “Walaupun engkau sedang berada di tepi sungai yang airnya berlimpah dan mengalir deras.”

Betapa indah ilustrasi ini, karena sungai yang airnya mengalir deras tidak ada di kota Mekkah di zaman itu. Namun, dalam sabdanya ini Rasulullah ingin menegaskan bahwa segala perilaku yang mengarah kepada sikap berlebihan, mubadzir, pemborosan, itu semua sangat bertentangan dengan tuntunan Islam.

Sehingga menggunakan air dalam keadaan air sedang banyak pun tetaplah harus sesuai dengan ukuran yang cukup untuk memenuhi kebutuhan.

Menyempurnakan bahasan Al Mizan dalam surat Ar Rahman tadi, Allah Swt. bersabda,

اَللّٰهُ الَّذِيْٓ اَنْزَلَ الْكِتٰبَ بِالْحَقِّ وَالْمِيْزَانَ

“Allah yang menurunkan Kitab (Al Quran) dengan (membawa) kebenaran dan neraca (keadilan)..” (QS. Asy Syura [42] : 17)

Allah memberikan penjelasan melalui ayat ini bahwa Al Quran itu isinya dua : Kebenaran dan Al Mizan (timbangan, keadilan, keseimbangan).

Keempat, kebijakan politik ekonomi untuk pangan. Kebijakan pemerintah yang adil dalam urusan pangan akan berpengaruh besar terhadap ketahanan pangan.

Rasulullah Saw. dalam kapasitasnya sebagai seorang pemimpin telah membangun ekonomi yang berkeadilan. Ketika Rasulullah berhijrah dari Mekkah ke Madinah, di Madinah itu sudah ada pasar umum. Namun, pasar di Madinah ini tidak sehat.

Pasar tersebut didominasi oleh sekelompok kecil yaitu Yahudi. Ada Kaab bin Asyraf dan lainnya dari kelompok kecil Yahudi yang mengendalikan denyut nadi pasar Madinah.

Rasulullah Saw. ketika itu sudah menjadi seorang pemimpin di Madinah. Namun meski begitu, Rasulullah tidak memaksakan diri dengan kekuasaannya untuk menghapus dominasi Yahudi di pasar tersebut dengan seketika. Rasulullah juga tidak membubarkan pasar tersebut secara paksa.

Yang Rasulullah lakukan adalah membuka pasar alternatif. Rasulullah mencari lahan baru untuk dibuka sebagai pasar dan di pasar yang baru inilah Rasulullah membangun visi misi ekonomi yang berkeadilan.

Melalui pasar ini Rasulullah ingin mengimplementasikan pesan-pesan Allah di dalam Al Quran untuk membangun ekonomi yang berkeadilan. Bagaimana caranya agar tidak terjadi monopoli sumber ekonomi, tidak terjadi pemusatan sumber daya hanya pada segelintir orang kaya saja yang bisa mempengaruhi secara kurang baik bagi kesejahteraan rakyat banyak.

Diriwayatkan bahwa ketika Rasulullah memulai membuka pasar alternatif ini, saat beliau mendirikan tenda, ada seorang Yahudi yang merobohkannya. Namun, Rasulullah tetap fokus pada visi misinya, tidak terpancing dengan tindakan provokatif dari Yahudi itu. Lantas Rasulullah berpindah ke tempat lain dengan tujuan yang sama : membangun pasar.

Di pasar yang baru inilah Rasulullah Saw. memperkenalkan cara baru dalam berekonomi. Beliau hapuskan monopoli seraya terus mensyiarkan bahwa monopoli itu dosa besar. Demikain juga dengan transaksi riba, ditiadakan oleh Rasulullah di pasar ini, beliau ganti dengan fair trade, perdagangan yang fair.

Setelah pasar itu berdiri, Rasulullah tidak lantas membiarkannya begitu saja, melainkan beliau secara berkala mendatangi pasar tersebut. Sesekali beliau melakukan inspeksi kepada para pedagang, sehingga dalam satu riwayat disebut bahwa beliau pernah memasukan tangannya ke dalam karung yang berisi gandung dan ternyata gandung di bagian dalam agak basah yang mana ini bisa menyebabkan bobotnya menjadi lebih berat saat ditimbang.

Tindakan-tindakan Rasulullah ini dimaksudkan untuk memberikan pendidikan kepada masyarakat mengenai jual beli yang halal dan baik, selamat dari kecurangan.

وَأَوْفُوا الْكَيْلَ إِذَا كِلْتُمْ وَزِنُوا بِالْقِسْطَاسِ الْمُسْتَقِيمِ ۚ ذَٰلِكَ خَيْرٌ وَأَحْسَنُ تَأْوِيلًا

“Dan sempurnakanlah takaran apabila kamu menakar, dan timbanglah dengan neraca yang benar. Itulah yang lebih utama bagimu dan lebih baik akibatnya.” (QS. Al Isrâ`[17]:35).

Rasulullah memberikan perhatian khusus di pasar tersebut kepada komoditas pangan. Bahkan dalam sebuat riwayat disebutkan bahwa beliau sampai mengangkat orang yang khusus bertugas memantau arus pangan yang masuk dan keluar di pasar itu. Salah satu sumber pangan di pasar Madinah itu adalah pangan yang berasal dari ladang Khaibar di mana terdapat perkebunan gandum dan kurma cukup luas di sana.

Rasulullah menugaskan sahabat Hudzaifah bin Al Yaman untuk mencatat angka produktifitas pangan di Khaibar setiap musimnya beserta seberapa besar volume yang masuk ke pasar Madinah dan yang keluar dari sana.

Hal ini menjadi indikasi bahwa Rasulullah sebagai seorang pemimpin memiliki kebijakan politik ekonomi terkait ketahanan pangan untuk memastikan kebutuhan masyarakat terpenuhi dengan baik dan menghindarkan kenaikan harga yang ekstrim yang menyebabkan masyarakat tidak dapat membelinya.

Di dalam Al Quran surat Yusuf kita juga dapat belajar bagaimana Nabi Yusuf as. memperkenalkan satu pola ketahanan pangan dengan membangun satu sistem cadangan pangan strategis. Nabi Yusuf dalam hal ini berposisi sebagai pemegang kebijakan dan menggunakan wewenangnya untuk memastikan ketahanan pangan masyarakatnya.

قَالَ تَزْرَعُوْنَ سَبْعَ سِنِيْنَ دَاَبًاۚ فَمَا حَصَدْتُّمْ فَذَرُوْهُ فِيْ سُنْۢبُلِهٖٓ اِلَّا قَلِيْلًا مِّمَّا تَأْكُلُوْنَ

“Dia (Yusuf) berkata, “Agar kamu bercocok tanam tujuh tahun (berturut-turut) sebagaimana biasa; kemudian apa yang kamu tuai hendaklah kamu biarkan di tangkainya kecuali sedikit untuk kamu makan.” (QS. Yusuf [12] : 47)

Sebagai penutup, ketahanan pangan bukanlah urusan individual, melainkan urusan dan tanggungjawab kolektif. Berbicara ketahanan pangan maka kita tidak sedang berbicara dalam skup kecil sebuah keluarga, akan tetapi ini adalah wacana kolektif. Maka, Rasulullah Saw. banyak sekali mewasiatkan tentang pentingnya sikap empati terhadap tetangga yang berada dalam keadaan kurang beruntung.

Seperti sabda Rasulullah Saw., “Tidaklah sempurna iman seseorang yang ia tidur dalam keadaan kenyang sedangkan disampingnya ada tetangga yang kelaparan sedangkan dia mengetahuinya.” (HR. Thabrani dan Al Bazzar)

Bahkan dalam ibadah yang sangat privat atau personal antara seorang hamba dengan Allah Swt., terdapat satu mekanisme atau cara mendapatkan ampunan dari Allah Ta’ala yaitu berupa menyantuni orang lain yang kekurangan pangan.

Satu contoh, jika ada pasangan suami istri yang melakukan ‘hubungan’ di siang hari bulan Ramadhan, maka untuk menebus kesalahannya syariat Islam mengharuskan mereka untuk memberi makan 60 orang miskin. Sementara bagi orang yang berhalangan puasa karena udzur syar’i yang berat seperti sakit yang tidak dapat diharapkan kesembuhannya, atau karena faktor usia yang sudah tua dan lemah, maka tebusannya adalah fidyah, yaitu memberi makan fakir miskin.

Maka, sekali lagi, ketahanan pangan adalah urusan kolektif. Bukan urusan individual atau domestik keluarga saja, melainkan memiliki dimensi sosial.

Dalam kondisi pandemi Covid 19 saat ini, banyak sekali orang yang terdampak secara ekonomi sehingga mengancam ketahanan pangan mereka. Maka, kita tidak bisa menyerahkan sepenuhnya kondisi kepada pemerintah karena pemerintah pun memiliki daya jangkau yang terbatas. Dan, tidak juga kita membiarkan masalah ini sebagai masalah masing-masing tanpa ada saling peduli dan empati satu sama lain.

Kondisi pandemi seperti sekarang inilah saatnya kita mengamalkan ajaran Rasulullah Saw. bahwa tidaklah sempurna iman kita jikalau tidak memiliki empati terhadap sesama yang membutuhkan bantuan.

Ketahanan pangan dalam Islam merupakan hal yang spiritual dan diupayakan dengan langkah-langkah sosial. Wallaahua’lam bishawab.[]

*) Disarikan dari https://www.youtube.com/watch?v=K_J4zwtXxHM&t=1572s

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

20 + fourteen =

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.