Home Hikmah Persatuan Dalam Keragaman Adalah Karunia Allah

Persatuan Dalam Keragaman Adalah Karunia Allah

831
0
SHARE
Dr. TGB Muhammad Zainul Majdi

Oleh : Muhammad Zainul Majdi

Bismillaahirrahmaanirrahiim.

Allah Swt. berfirman, “Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa – bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling taqwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.” (QS. Al Hujurat [49] : 13)

Saudaraku, kalau kita pejamkan mata, lalu kita bayangkan dunia yang terdiri dari beberapa benua ini dan terdiri dari ratusan negara. Dari utara hingga selatan, dari timur hingga ke barat. Dari semua bagian-bagian bumi Allah ini ternyata tidak ada yang paling cocok, tidak ada yang lebih cocok, tidak ada yang lebih pas dengan ungkapan Al Quran pada ayat di atas selain bumi Allah yang bernama Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Allah Swt. sebutkan pada ayat di atas, “..dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku..” Jelas sekali pada ayat ini Allah menyebutkan bahwa Allah menjadikan kita tercipta secara berbeda-beda asal suku bangsa dan bahasanya. Artinya, keragaman di antara kita ini merupakan skenario Allah, merupakan kehendak Allah.

Oleh karenanya, jika ada orang yang tidak bisa menerima keragaman, tidak bisa menerima perbedaan, tidak mau menjalin silaturahim dengan orang yang berbeda dengan dirinya, maka orang yang seperti ini hendaknya berhati-hati. Kenapa? Karena pada surat Al Hujurat ayat 13 di atas jelas disebutkan bahwa perbedaan itu adalah karya Allah Swt. Manusia dicipta dalam keadaan berbangsa-bangsa dan bersuku-suku.

Saudaraku, pada kenyataannya negeri yang kita cintai ini bisa dikatakan sebagai negeri yang paling cocok dengan isi dari ayat di atas dalam konteks kehidupan berbangsa dan bernegara di antara bangsa atau negara yang ada di dunia ini. Betapa Indonesia merupakan negara yang paling kaya raya dengan keberagaman suku, bangsa dan bahasa. Dan, ini merupakan karunia dari Allah Swt.

Pada umumnya negara-negara di dunia ini hanya terdiri dari satu atau dua ras manusia saja. Di negara-negara Arab misalnya, Saudi, Kuwait, Qatar, Oman, Bahrain, Uni Emirat Arab, dan beberapa negara Arab lainnya meskipun berbeda nama negara namun pada dasarnya memiliki akar bangsa yang satu yaitu bangsa Arab.

Sedangkan kita di Indonesia, kita ini satu negara namun memiliki akar suku bangsa yang sangat banyak. Ada akar bangsa Aceh yang jelas berbeda dengan akar bangsa Papua. Ada akar suku bangsa Dayak, ada akan suku bangsa Sunda. Ada Melayu, ada Jawa, Asmat, Batak, Betawi, dan lain sebagainya. Namun, semua akar suku bangsa ini menyatu dalam ikatan satu bangsa, bangsa Indonesia. Maasyaa Allah!

Alhamdulillah! Mari kita syukuri kenyataan ini karena salah satu dari miliaran nikmat yang Allah Swt. sebut secara khusus dalam Al Quran. Kita tahu bahwa nikmat yang Allah curahkan kepada kita ini jumlahnya tidak terhitung, sangat banyak. Namun meski begitu, kita tidak diperintahkan untuk mengingat seluruhnya. Ada nikmat-nikmat yang Allah perintahkan agar kita ingat secara umum saja, sebagaimana firman Allah Swt., “Dan ingatlah karunia Allah kepadamu..” (QS. Al Maidah [5] : 7)

Namun, ada juga karunia yang Allah Swt. sebutkan secara khusus supaya kita bersyukur atasnya. Penyebutan secara khusus ini tentu memiliki makna tersendiri berupa keistimewaan yang terkandung di dalamnya. Sebagai gambaran, kalau kita memiliki teman yang jumlahnya sangat banyak, tapi ada satu nama yang sering kita temui atau yang sering kita sebutkan pada pembicaraan kita, maka nama tersebut memiliki keistimewaan tersendiri dalam hidup kita.

Apa di antara karunia yang Allah sebut secara khusus di dalam Al Quran? Allah Swt. berfirman, “Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai-berai, dan ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika dahulu (masa Jahiliyah) bermusuh-musuhan, maka Allah mempersatukan hatimu, lalu karena nikmat Allah, menjadilah kamu orang yang bersaudara; dan kamu telah berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu daripadanya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu, agar kamu mendapat petunjuk.” (QS. Ali Imran [3]:103)

Oleh karenanya, persaudaraan dan persatuan di antara kita ini bukanlah perkara main-main, ini merupakan nikmat yang Allah karuniakan kepada kita sebagai satu bangsa. Bersatu dalam keragaman tentu bukanlah hal yang mudah, namun Allah karuniakan itu kepada kita sebagai sebuah nikmat yang sangat besar.

Keragaman ini merupakan nikmat dan jalan menuju kemajuan. Mari kita lihat lagi sejarah, ketika dahulu masyarakat Madinah, dulu kota ini bernama Yatsrib, dahulu tidak banyak orang yang tahu kota Yatsrib ini. Kota ini bukan termasuk kota yang terkenal, kota ini bukan termasuk kota besar, bukan termasuk tempat yang didambakan untuk didatangi. Bahkan Yatsrib ini dahulunya bukan kota, hanya desa kecil. Yatsrib ketika itu hanya ditinggali oleh satu kelompok kecil saja, kemampuan yang dimiliki pun sangat terbatas. Namun, ini terjadi sebelum Rasulullah Saw. dan kaum muslimin datang berhijrah ke tempat ini.

Setelah Rasulullah Saw. bersama para sahabat hijrah ke Madinah, setibanya di tempat ini maka seketika itu pula tumbuh benih-benih keragaman di desa kecil ini. Kaum muhajirin yang datang dari kota Mekkah merupakan kaum muslimin yang berasal dari beberapa suku. Akhirnya kaum Muhajirin yang datang, berkumpul dengan kaum Anshar yang merupakan penduduk Madinah, bahkan ada yang datang juga dari luar daratan Arab karena panggilan Islam, salah satunya adalah Suhaib Ar Rumi yang datang dari Romawi. Ada yang hijrah dari Persia dialah Salman Al Farisi. Ada yang datang dari negeri Habasyah, sekarang Ethiopia. Dan banyak lagi dari negeri lainnya, semua berkumpul bersama Rasulullah Saw.

Mereka semua memiliki perbedaan latar belakang suku bangsa, datang ke Madinah, menjalin kehidupan dalam keberagaman di Madinah. Maka, dalam waktu yang relatif singkat Madinah berubah dari semula desa kecil menjadi Al Madinatul Munawwarah, kota yang bercahaya.

Jadi saudaraku, keragaman adalah modal untuk pembangunan. Modal untuk mencapai kemajuan. Keragaman sebagai modal kemajuan mesti kita ikat dengan tali persatuan dan persaudaraan. Kita sebagai satu bangsa maka ikatannya itu bernama Negara Kesatuan Republik Indonesia. Mari kita jaga karunia Allah Swt. ini. Karena bagi kita kaum muslimin, negara kesatuan ini merupakan warisan para ulama pendahulu kita. Para ulama pendahulu kita tidak hanya berperan besar dalam proklamasi kemerdekaan negeri ini dari penjajahan, namun lebih jauh dari itu mereka berperan besar dalam membangun dasar-dasar kehidupan kita sebagai sebuah bangsa. Salah satunya tercermin pada perjuangan Pangeran Diponegoro bersama Kyai Maja pada tahun 1830, pertengahan abad 19, kedua sosok ini adalah ulama besar yang memimpin perjuangan, mendidik masyarakat untuk maju dan merdeka.

Mari rawat persatuan bangsa ini. Salah satu kunci untuk merawatnya adalah dengan As Samaahah atau lapang dada. Tentu kita akan berbeda dalam banyak hal dengan saudara kita, namun kita harus sadar bahwa persamaannya pun sangat banyak. Biasanya perbedaanlah yang memicu keretakan di antara kita, oleh karenanya perlu berlapang dada dalam menyikapi perbedaan ini.

Mungkin dengan saudara sesama muslim kita ada berbeda dalam hal, misalnya, praktik shalat, ada yang qunut Subuh ada yang tidak, masing-masing kita perlu berlapang dada dalam perbedaan seperti ini. Apalagi bukankah meski berbeda, sebenarnya kita sama yaitu sama shalat Subuh menyembah kepada Allah Swt. dan mengucap dua kalimat syahadat. Begitu juga dalam perbedaan-perbedaan lainnya. Mari berlapang dada, saling toleran dan fokus pada persamaannya.

Dalam kehidupan berbangsa dan bernegara pun demikian. Kita berbeda suku bangsa, berbeda bahasa, berbeda adat kebiasaan, berbeda keyakinan, namun mari berlapang dada karena kita sama sebagai anak bangsa yang wajib menjaga negeri ini. Karena negeri ini adalah warisan dari para pendahulu kita yang telah gigih dan ikhlas berjuang. Juga yang paling mendasar adalah karena keragaman dan persatuan yang kita miliki ini merupakan karunia dari Allah Swt. Mari kita rawat sebagai bentuk rasa syukur kita kepada-Nya. Wallaahua’lambishawab.[]

 

*Disarikan dari https://www.youtube.com/watch?v=0ouvSVxGUKw .

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

15 − 7 =

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.