Home Hikmah Keseimbangan Akal, Hati dan Tubuh Kita

Keseimbangan Akal, Hati dan Tubuh Kita

625
0
SHARE
Kang Rasyied

Oleh : Kang Rasyied

Bismillaahirrahmaanirrahiim.

Tubuh kita ini anugrah dari Allah Swt. Akal pikiran dan hati kita ini juga anugrah dari-Nya. Diri kita ini terbangun dengan tiga faktor yaitu hati, akal dan tubuh. Kalau mengutip satu kalimat bijak dari barat ada yang mengatakan, “Balance your mind, body and soul”.

Saudaraku, kalau ada di hadapan kita tiga macam makanan, yang pertama makanan berkelas yang dibuat oleh koki di hotel bintang lima, yang kedua makanan rumahan, dan yang ketiga makanan yang terdiri dari sisa-sisa makanan orang. Yang manakah yang akan kita pilih? Untuk kesehatan dan kenyamanan kita makan tentu kita akan memilih yang pertama atau yang kedua. Ini adalah makanan yang kita pilih untuk mencukupi asupan nutrisi dan energi tubuh kita.

Berikutnya, terkait dengan akal pikiran, makanannya adalah informasi dan ilmu pengetahuan. Apa makanan akal pikiran yang paling kuat, valid, benar 100% dan tidak mengandung hoax? Itulah Al Quran dan As Sunnah. Jika kita berharap memiliki akal pikiran yang sehat sebagaimana harapan kita atas tubuh yang sehat, maka tentu ‘makanan’ akal yang kita pilih adalah makanan terbaik, dan Al Quran dan As Sunnah menempati peringkat pertama dalam hal ini. Menyusul kemudian sirah para sahabat dan generasi salafusshalih setelahnya. Kemudian buku-buku ilmiah yang integritas para penulisnya sudah diakui.

Untuk kesehatan akal pikiran, kita akan menjauhkan diri dari majalah-majalah yang tidak jelas isinya. Kita akan menjauhkan diri dari berita-berita gosip karena sadar itu adalah racun bagi akal pikiran kita. Untuk kesehatan akal, kita akan menyuapi akal pikiran kita dengan informasi yang baik dan benar, data yang valid,

Selanjutnya, hati kita. Apa asupan terbaik untuk hati kita? Itulah dzikir dan doa. Hati ini adalah panglima bagi tubuh kita. Kalau dia bersih maka bersihlah diri kita, begitupun sebaliknya. Apa racun hati kita? Itulah maksiat dan dosa.

Jika tubuh, akal dan hati kita ini salah diberi asupan makanan, maka disitulah awal dari bencana atau musibah.

Allah Swt. berfirman, “Telah tampak kerusakan di darat dan di laut, (yang) disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar).” (QS. Ar Ruum [30]:41)

Kerusakan di daratan berupa banjir, longsor, gempa bumi, sampah yang menggunung dan menjadi sumber penyakit, tanah yang tidak lagi bisa ditumbuhi tanaman dan lain sebagainya. Kerusakan di lautan berupa tercemarnya laut dengan limbah manusia, kerusakan terumbu karang, hancurnya ekosistem, kemudian ada juga bencana tsunami yang meluluhlantahkan kehidupan manusia.

Pertanyaannya, bencana, kerusakan atau musibah ini siapa yang membuatnya? Pada ayat di atas Allah Swt. telah memberitakan bahwa kerusakan tersebut disebabkan ulah manusia. Bagaimana manusia bisa menimbulkan kerusakan yang demikian besar? Bermula dari asupan yang salah pada akal, hati dan tubuhnya, atau ketidakseimbangan di antara ketiganya.

Akal yang pintar namun tidak ditopang dengan hati yang bening dan lurus, maka kepintarannya akan menjadi jalan bagi kerusakan. Ia bisa menipu, memanipulasi, merancang kejahatan dan keburukan lainnya. Hati yang rusak akan membuatnya semakin merusak, tidak ada empati, tidak peduli, tidak peka terhadap mana yang baik dan yang tidak baik, yang indah dan yang tidak indah. Manusia yang demikian akan menjadi manusia yang rakus dan egois. Na’udzubillahimindzalik!

Manusia yang tidak sehat akalnya, hatinya, dan tubuhnya tentu tidak akan mampu menemukan jalan keluar dari bencana yang sudah kadung terjadi. Jika ia tidak menyalahkan orang lain, maka ia akan menjadi sosok yang tidak mau ambil pusing, tidak peduli atas bencana yang terjadi, kecuali jika bencana itu mengenai dirinya langsung, baik itu hartanya, asetnya atau keluarganya.

Nah saudaraku, tentu kita sangat tidak ingin menjadi orang yang demikian. Maka, kuncinya adalah keseimbangan antara akal yang cemerlang, hati yang jernih dan tubuh yang sehat. Inilah tiga modal penting diri kita untuk mampu membangun kehidupan ini yang aman, nyaman, selamat dan mampu menemukan jalan keluar manakala bencana sudah terjadi.

Orang yang beriman kepada Allah Swt. cenderung akan memiliki keseimbangan ini karena orang yang beriman senantiasa membina dirinya; akal, hati dan fisiknya untuk fokus menyembah kepada Allah Swt. dengan cara menuturi setiap tuntunan baik itu perintah maupun larangan-Nya. Sehingga akal, hati dan tubuhnya senantiasa terpelihara dengan hidayah Allah Swt.

Allah Swt. berfirman,  “Tidak ada sesuatu musibah pun yang menimpa (seseorang) kecuali dengan izin Allah; barangsiapa yang beriman kepada Allah, niscaya Dia akan memberi petunjuk ke (dalam) hatinya. Dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.” (QS. At Taghabun [64]:11)

Semoga Allah Swt. senantiasa memberi kita petunjuk dan menggolongkan kita kepada hamba-hamba-Nya yang selamat di dunia maupun akhirat. Aamiin yaa Rabbal’aalamiin.[]

*Disarikan dari https://www.youtube.com/watch?v=JtVpc2yq-dM

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

three × five =

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.