Home Hikmah Ukhuwah dan Kebangkitan

Ukhuwah dan Kebangkitan

548
0
SHARE
Ust. Abdul Somad, Lc., MA.

Oleh : Abdul Somad

Bismillaahirrahmaanirrahiim.

Allah Swt. berfirman di dalam Al Quran, “Orang-orang beriman itu sesungguhnya bersaudara. Sebab itu, damaikanlah (perbaikilah hubungan) antara kedua saudaramu itu dan takutlah terhadap Allah, supaya kamu mendapat rahmat.” (QS. Al Hujurat [49] : 10)

Saudaraku, Allah Swt. telah mempersaudarakan kita sesama orang yang beriman kepada-Nya. Tonggak persaudaraan kita dalam sejarah ditandai dengan peristiwa hijrahnya baginda Nabi Muhammad Saw. bersama kaum muslimin dari Mekkah ke Madinah, dimana kaum Muhajirin dan Anshar saling menolong dalam ikatan ukhuwah islamiyyah.

Semangat persaudaraan ini hendaknya kita pupuk terus sampai sekarang, betapa pun beratnya ujian yang mendera kaum muslimin di zaman ini, persaudaraan di antara kita hendaknya tetap kita jaga. Karena, ini merupakan perintah Allah Swt., ini merupakan ajaran baginda Rasulullah Saw.

Ada lima hal mendasar yang bisa menjadi bekal kita dalam mempererat tali persaudaraan.

Pertama, sadar diri kita ini datang dan berasal dari mana.

Tidak perlu kita persoalan siapa berasal dari suku apa, karena saat kita lahir ke dunia ini kita tidak pernah bisa memesan mau lahir dari suku apa, bangsa apa bahkan dari orangtua yang mana. Semua itu adalah kehendak Allah Swt. Namun, yang pasti kita semua sama-sama berasal dari alam ruh, kita sama-sama diciptakan Allah Swt. untuk beribadah kepada-Nya.

Ketika masih di alam ruh, semua manusia sama di hadapan Allah Swt. Tidak ada yang kaya, tidak ada yang miskin, tidak ada pejabat, tidak ada rakyat jelata, semuanya sama ketika Allah Swt. bertanya kepada mereka, “Bukankah Aku Tuhan-mu?”, mereka semua menjawab, “Balaa syahidnaa (Betul, kami bersaksi bahwa Engkau Tuhan kami)” (QS. Al A’raf [7] : 172).

Maka, inilah dasar yang kuat yang telah ditanamkan di dalam diri kita bahwa pada dasarnya kita ini tidak ada beda, kita ini sama-sama hamba Allah yang diciptakan untuk beribadah kepada Allah. Coba kita perhatikan jamaah haji tatkala berkumpul di Masjidil Haram untuk beribadah, ada yang berkulit putih, ada yang hitam, ada yang kemerah-merahan, ada yang putih agak kuning, ada yang kecoklatan. Apakah ada pembedaan dalam praktik ibadah dikarenakan perbedaan tersebut? Tidak ada. Semua sama di hadapan Allah Swt.

Inilah spirit yang diajarkan oleh baginda Rasulullah Saw. Ketika Rasulullah menguasai kota Mekkah, setelah Ka’bah dibersihkan dari berhala-berhala yang jumlahnya 360 berhala menurut Syaikh Syaifurrahman Al Mubarraki dalam Ar Rahiiq Al Makhtum, Rasulullah Saw. tidak meminta Ali bin Abi Thalib atau sahabat lain yang berasal dari suku Quraisy untuk naik ke Ka’bah dan mengumandangkan adzan. Rasulullah Saw. justru meminta Bilal bin Rabah untuk naik dan mengumandangkan adzan. Apa hikmahnya? Suku Quraish adalah suku terhormat, sedangkan Bilal berasal dari kalangan budak, akan tetapi Rasulullah Saw. menanamkan spirit persaudaraan dan persamaan di hadapan Allah Swt.

Saat Bilal naik ke atas Ka’bah dan mengumandangkan adzan, ada beberapa kafir Quraisy yang mencelanya karena warna kulitnya yang hitam. Bilal sebelumnya merupakan seorang budak, ia berasal dari suku Nubia yang letaknya di antara Mesir dan Sudan. Namun, apakah di hadapan Allah Swt. warna kulit menjadi masalah? Tidak. Casing tidak menjadi masalah, yang dinilai adalah signal-nya. Dan, signal yang ada di dalam diri Bilal senantiasa kuat mengatakan, “Ahad, Ahad, Ahad!” Tidak peduli ia dijemur di atas pasir Mekkah yang panas, dihimpit dengan batu besar di bawah terik matahari, Bilal tetap mengikrarkan keimanan kepada Allah Swt.

Inilah pentingnya mengenal identitas diri, bahwa kita sama-sama ciptaan Allah Swt., sama-sama diciptakan untuk beribadah kepada Allah dan suatu saat nanti pasti akan kembali kepada Allah Swt. Jika kita sadar akan hal ini, maka insyaa Allah kita bisa merajut dan mempererat tali persaudaraan.

Kedua, pantang berburuk sangka (su’uzhan).

Allah Swt. berfirman, “Hai orang-orang beriman, jauhilah kebanyakan prasangka, karena sesungguhnya sebagian tindakan prasangka adalah dosa dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain.” (QS. Al Hujurat [49] : 12)

Saudaraku, berburuk sangka tidak pernah menghasilkan apa-apa selain dosa. Jika persangkaan kita salah, maka dosanya dua kali. Tapi jika prasangka kita benar, maka dosanya satu kali. Berbusuk sangka, mau salah atau benar maka tetap berdosa. Sedangkan jika berbaik sangka, jika sangkaan kita salah maka pahalanya satu, sedangkan jika sangkaan kita benar maka pahalanya dua. Baik sangka, mau salah atau benar tetap berpahala.

Janganlah berburuk sangka. Jika ada berita yang kurang baik tentang saudara kita jangan lantas membicarakannya atau menyebarkannya pada orang lain, namun datanglah kepadanya dan lakukan klarifikasi. Jika benar berita tersebut maka bantulah ia untuk memperbaiki apa yang salah, bantulah dia menemukan jalan keluar. Sedangkan jika berita itu tidak benar, maka menjadi ketenangan bagi diri kita dan bantulah mengklarifikasi berita yang sudah terlanjur tersebar.

Ketiga, jangan memanggil dengan sebutan atau gelar yang jelek.

Saling mengejek adalah duri-duri bagi ikatan persaudaraan. Tidak sedikit permusuhan atau hubungan yang menjadi renggang disebabkan sebutan yang buruk pada seseorang. Padahal setiap orang memiliki nama, nama yang diberikan orangtuanya dengan niat dan harapan yang baik. Lantas, mengapa kita biarkan kebiasaan saling memanggil dengan sebutan yang buruk itu terus terjadi?

Ajarkanlah anak-anak kita untuk memanggil dengan sebutan yang baik, jauhkan saling mengejek atau memanggil dengan panggilan yang jelek.

Rasulullah Saw. jangankan sekedar diejek atau dipanggil dengan sebutan yang buruk, dirinya disakiti, dilempari batu hingga kakinya terluka, keningnya berdarah, giginya patah pun tetap mendoakan pelakunya, “Ya Allah, tunjukilah kaumku, karena mereka tidak mengetahui (bahwa yang aku bawa ini kebenaran)”.

Keempat, kita mengajak, bukan menghakimi.

Rasulullah Saw. bersabda, “Barangsiapa yang menunjuki kepada kebaikan maka dia akan mendapatkan pahala seperti pahala orang yang mengerjakannya.” (HR. Muslim)

Sebagai seorang muslim, kita ini mengemban misi dakwah, yaitu mengajak orang kepada kebenaran dan kebaikan. Mengajak orang untuk mentaati Allah dan menjauhi maksiat. Misi kita adalah mengajak dan bukan menghakimi. Bahwa ketika kita ajak ada orang yang mau mengikuti ajakan kita dan ada juga yang menolak, maka itulah kehidupan. Meski begitu, bukan hak kita untuk menghakimi seseorang berada di neraka atau di surga. Cukuplah ranah kita pada ikhtiar mengajak pada kebaikan dan kebenaran, adapun perkara surga dan neraka itu adalah ranah Allah Swt.

Dalam urusan dakwah, pandanglah orang lain dengan pandangan rahmat atau kasih sayang. Jangan pandang orang dengan pandangan permusuhan. Ajaklah manusia kepada kebaikan dengan dasar rasa sayang. Jangan ajak manusia kepada kebaikan dengan dasar rasa benci.

Lihatlah sikap-sikap penuh kasih sayang para kyai di pesantren tatkala ada santrinya yang nakal. Ada yang mengusulkan agar santri nakal itu dikeluarkan saja dari pesantren. Namun, sang kyai berkata, “Mereka masuk pesantren ini karena nakal. Kalau mereka sudah baik untuk apa masuk pesantren.” Ini adalah wujud pandangan rahmat sang kyai terhadap santri yang nakal. Jika kita menemukan seorang tukang maksiat, maka pandanglah ia dengan pandangan rahmat, ajaklah ia untuk bertaubat atas dasar rasa kasih sayang, bukan dasar kebencian. Inilah yang akan menjadi perekat persaudaraan.

Kelima, apapun perbedaan, jangan lupa untuk saling mendoakan.

Rasulullah Saw. bersabda, “Tidak ada seorang hamba muslim yang berkenan mendoakan saudaranya tanpa sepengetahuan orang yang didoakan kecuali malaikat mendoakan orang yang berdoa tersebut dengan kalimat, “Kamu juga mendapat sama persis sebagaimana doa yang kamu ucapkan itu.” (HR. Muslim)

Sebagai manusia, tentu di antara kita ini banyak sekali perbedaan. Dimulai dari perbedaan pada urusan-urusan kecil sampai perbedaan pada urusan yang besar. Akan tetapi, janganlah itu menjadi alasan kita untuk merenggangkan persaudaraan.

Imam Hasan Al Banna pernah mengatakan, “Kita saling tolong-menolong pada urusan yang kita sepakati, dan kita saling berlapang dada pada urusan yang kita perselisihkan.”

Perbedaan pasti ada, namun yakinlah bahwa kebangkitan umat ini tidak akan pernah bisa terjadi kecuali persaudaraan diantara kita terikat erat. Mari saling mendoakan di antara sesama kita agar Allah Swt. mengkaruniakan keselamatan dan kedamaian meski pasti ada perbedaan di antara kita. Saling mendoakan adalah wujud cinta, dan inilah perekat kuat bagi persaudaraan kita.

“Ya Rabb kami, beri ampunlah kami dan saudara-saudara kami yang telah beriman lebih dulu dari kami, dan janganlah Engkau membiarkan kedengkian dalam hati kami terhadap orang-orang yang beriman; Ya Rabb kami, Sesungguhnya Engkau Maha Penyantun lagi Maha Penyayang.” (QS. Al Hasyr [59]: 10)

Wallaahua’lambishawab.

 

*Disarikan dari https://www.youtube.com/watch?v=F9wOrkzQTGY&t=1413s .

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.