Home Hikmah 8 Keutamaan Bulan Ramadhan

8 Keutamaan Bulan Ramadhan

654
0
SHARE

Oleh : Agus Setiawan

Bismillaahirrahmaanirrahiim.

Sudah banyak sekali kajian yang membahas bulan Ramadhan dengan segala keutamaannya. Betapa banyak dan besar sekali keutamaan bulan mulia ini. Dalam kajian kali ini, setidaknya bisa kita rangkum ada 8 (delapan) keutamaan bulan Ramadhan.

Pertama, pada bulan Ramadhan Allah Swt. menurunkan permulaan Al Quran. Dengan keutamaan ini saja sudah cukup untuk menjadikan bulan Ramadhan menjadi sangat mulia. Allah Swt. berfirman dalam surat Al Qadar ayat pertama, “Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al Qur’an), pada malam kemuliaan.”  (QS. Al Qadar [97]:1)

Allah Swt. menurunkan Al Quran secara berangsur-angsur, hanya saja permulaannya diturunkan pada bulan Ramadhan.

Kedua, pada bulan Ramadhan pintu langit dibuka dan pintu neraka ditutup. Rasulullah Saw. bersabda, “ Jika malam pertama di bulan Ramadhan telah tiba, setan-setan dari bangsa jin yang sangat durhaka dibelenggu, pintu-pintu neraka ditutup dan tidak ada satu pun yang dibuka, pintu-pintu surga dibuka dan tidak ada satu pun yang ditutup. Seorang malaikat berseru: ‘Hai orang yang mencari kebaikan, mendekatlah! Hai orang yang ingin melakukan keburukan, tahanlah! Dan ada hamba-hamba yang Allah bebaskan dari Neraka”. (HR. Ahmad dan An Nasa’i)

Artinya, betapa Allah dekatkan kita kepada kebaikan dan keselamatan. Bulan ini auranya adalah aura kebaikan. Sangat kondusif bagi kita untuk melakukan amal-amal keshalihan yang mengantarkan kita ke surga Allah. Orang yang terbiasa marah, maka di bulan ini ia lebih mengendalikan dirinya karena sedang shaum Ramadhan. Demikian juga orang yang sudah terbiasa dengan kebaikan di bulan-bulan lain, maka di bulan ini semakin mudah baginya untuk berbuat baik. Pintu-pintu kemaksiatan semakin tertutup pada bulan ini. Setiap orang sebenarnya memiliki hati yang cenderung pada kebaikan, dan kecenderungan ini semakin hidup pada bulan Ramadhan.

Ketiga, diampuni dosa oleh Allah Swt. Rasulullah Saw. bersabda, “Barangsiapa yang berpuasa di bulan Ramadhan karena iman dan mengharap pahala dari Allah, maka dosanya di masa lalu akan diampuni.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Pada hadits ini, Rasulullah Saw. menggunakan kata “ghufira” yang artinya “diampuni”. Dalam bahasa Arab, memaafkan atau mengampuni itu bisa dengan dua kata. Yang pertama dengan ‘afaa, ya’fu, afwan. Jika kita mengucapkan kata “Syukran” sebagai ungkapan terima kasih, maka biasanya dijawab dengan kata “Afwan”. Mengapa demikian?

Ternyata ini memiliki makna yang sangat dalam, bahwa ketika ada orang yang berterima kasih dengan mengucapkan kata “Syukran”, namun orang Arab atau kita menjawabnya dengan “Afwan”, ini memiliki filosofi yang dalam. Maksudnya menyatakan maaf karena hanya itu yang bisa kami lakukan atau berikan. Jadi, ketika ada orang berterima kasih, maka justru kita merendah.

Kata yang kedua untuk memaafkan atau mengampuni adalah Ghufira, Ghafara, Yaghfiru sebagaimana digunakan pada hadits di atas. Sebagai ilustrasi, jika kita sedang menulis dan terdapat kesalahan, maka kita menghapus kesalahan penulisan itu menggunakan tip-ex. Tulisan yang salah memang menjadi tidak terlihat, tapi jika kertas kita balik maka tulisan yang salah itu masih bisa terbayang sehingga masih terbaca. Namun, jika terjadi kesalahan tulisan dan kita memulai lagi menulis dengan kertas yang baru, maka sungguh kesalahan tulisan yang pernah kita lakukan sama sekali tidak ada di kertas baru tersebut. Inilah makna dari Ghufira, catatan amal kita dibuat baru, putih bersih tanpa bekas atau noda kesalahan.  

Oleh karena itulah dalam hadits lain Rasulullah Saw. bersabda, “Sesungguhnya Allah mewajibkan puasa Ramadhan dan aku menyunnahkan bagi kalian shalat malamnya. Maka, barangsiapa melaksanakan ibadah puasa dan shalat malamnya karena iman dan karena ingin mendapatkan pahala, niscaya dia keluar dari dosadosanya sebagaimana saat dia dilahirkan oleh ibundanya” (HR. An Nasai)

Keempat, dilipatgandakannya pahala di bulan Ramadhan. Orang yang melaksanakan ibadah wajib, Allah lipatgandakan pahalanya. Orang yang melaksanakan ibadah sunnah, Allah ganjar dengan pahala ibadah wajib.

Kelima, adanya Lailatul Qadar di bulan Ramadhan. Umat-umat terdahulu itu usianya panjang-panjang. Nabi Nuh as. wafat pada usia 950 tahun. Allah Swt. berfirman,  “Dan sesungguhnya, Kami telah mengutus Nuh kepada kaumnya, maka ia tinggal di antara mereka (selama) seribu tahun kurang lima puluh tahun (atau 950 tahun). Maka mereka ditimpa banjir besar, dan mereka adalah orang-orang yang zhalim.” (QS. Al Ankabut [29]:14)

Para sahabat nabi Saw. menyadari bahwa usia umat terdahulu jauh lebih panjang dengan usia umat nabi Muhammad Saw. yang rata-rata hanya 60 tahun saja. Para sahabat lantas mencurahkan isi hatinya kepada baginda Nabi Saw. mengenai hal ini. Maka, kemudian Allah memuliakan umat nabi Muhammad Saw. dengan Lailatul Qadar, di mana Allah Swt. menjelaskan tentang malam ini dengan ayat-Nya, “Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan.” (QS. Al Qadar [97]:3)

Malam Lailatul Qadar ini lebih baik dari seribu bulan. Seribu bulan kalau kita bagi 12 maka hasilnya adalah sekitar 83 tahun. Maka, umat nabi Muhammad Saw. yang berhasil mendapatkan malam mulia ini, memaksimalkan ibadah pada malam mulia ini, maka ia mendapatkan kebaikan yang nilainya bisa jauh melampaui usianya di dunia, yaitu lebih baik dari seribu bulan. Dan, akan lebih berlipat lagi jikalau ia mampu mendapatkannya pada setiap Ramadhan yang ia lalui. Maasyaa Allah!

Keenam, pada bulan Ramadhan disyariatkan I’tikaf. Baginda nabi Muhammad Saw. sebelum mendapatkan wahyu dari Allah Swt., sebelum diangkat menjadi rasul, beliau melihat kondisi masyarakat yang ada, maka beliau Tahanuts, menjauhkan diri, menipi dari hiruk pikuk kehidupan masyarakat kala itu yang masih dipenuhi dengan kemusyrikan. Namun, ketika Nabi Saw. sudah mendapatkan wahyu dari Allah Swt., maka beliau tidak lagi mengasingkan dirinya. Sebaliknya, baginda Nabi Saw. menjalankan tugas dakwahnya.

Demikian juga dengan kita selaku umat nabi Muhammad Saw. Tidak boleh kita mengasingkan diri hanya karena melihat kehidupan manusia yang penuh dengan kemaksiatan. Karena sejatinya kita ini memiliki tugas dakwah, kita mengemban amanah untuk melakukan amar ma’ruf nahi munkar dan tawasau bilhaq watawasau bish shabr. Namun, Allah Swt. mensyariatkan kepada kita untuk menyempatkan diri dalam menepikan hati kita atau uzlah qalbiyyah. Kita menepikan hati kita sejenak untuk merenung, mengintrospeksi diri dan mendekatkan diri kepada Allah Swt., menjauhkan hati kita sejenak dari hiruk pikuk dunia, inilah yang disebut dengan I’tikaf.

Ketujuh, adanya ibadah shaum atau puasa. Shaum adalah satu dari tiga ibadah yang paling tua yang ada di dunia ini. Tiga ibadah yang tertua di dunia ini adalah shaum, qurban dan shalat. Oleh karena itulah, dalam surat Al Baqarah ayat 183 Allah Swt. bermaksud meringankan kita, karena biasanya manusia kalau diperintahkan hanya sendirian saja biasanya merasa berat. Pada ayat ini Allah menerangkan bahwa shaum juga sudah pernah disyariatkan pada kaum yang hidup sebelum kita, oleh karenanya jangan merasa berat dengan perintah shaum ini.

Kedelapan, Allah jadikan bulan Ramadhan ini sebagai bulan ibadah. Ibnu Abbas ra. menceritakan bahwa baginda Nabi Muhammad Saw. adalah orang yang paling dermawan di antara manusia, dan kedermawanannya ini semakin besar pada bulan Ramadhan. Suatu ketika, Nabi Muhammad Saw. selaku pemimpin tertinggi kaum muslimin, pernah memiliki tawanan yang mana tawanan ini sangat suka dengan kambing. Maka, Nabi Saw. mengajaknya ke suatu lembah yang penuh dengan kambing. Nabi bertanya, “Apa yang engkau lihat?” Tawanan itu menjawab, “Sekumpulan kambing, wahai Muhammad.” Baginda Nabi berkata kepadanya, “Bagaimana kalau semua kambing itu untuk dirimu?” Betapa kaget tawanan ini. Dan, rupanya ucapan baginda Nabi sungguh-sungguh dibuktikan, sekumpulan kambing yang banyaknya satu lembang itu diberikan pada tawanan itu. Maka, seketika itu juga sang tawanan menangis dan mengucapkan dua kalimat syahadat.

Setelah kejadian itu, orang ini kemudian pulang ke kaumnya dan berkata kepada mereka, “Demi Allah, aku baru saja berjumpa dengan orang yang dia kalau berinfak, dia tidak pernah takut untuk miskin!”

Saudaraku, inilah delapan keutamaan bulan Ramadhan. Semoga pada Ramadhan kali ini kita bisa bersungguh-sungguh memaksimalkan ibadah sehingga kita termasuk orang-orang yang meraih ampunan Allah Swt. dan kemenangan di dunia dan akhirat. Aamiin yaa Rabbal’aalamiin.[]

 

*Sumber : https://www.youtube.com/watch?v=XksgfXDunOs

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

3 × two =

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.