Home Hikmah Surat Al ‘Ashr dan Peradaban Unggul

Surat Al ‘Ashr dan Peradaban Unggul

266
0
SHARE
Ust. Fahmi Salim Lc, MA.

Oleh : Fahmi Salim

Bismillaahirrahmaanirrahiim.

Saudaraku, jika Allah Swt. takdirkan kita sempat ziarah ke negara-negara maju misalnya Jerman dan Austria, kemudian kita singgah di stasiun kereta di sana, maka kita bisa menyaksikan bagaimana perhitungan waktu terpampang dengan jelas. Jam berapa dan menit berapa kereta akan berangkat, jam berapa dan menit berapa kereta akan tiba di tempat tujuan, juga berapa jeda waktu keberangkatan satu kereta dengan kedatangan kereta berikutnya. Dari keadaan seperti ini maka kita bisa memperhitungkan dengan tepat penggunaan waktu yang kita miliki.

Nah, perhatian yang begitu besar terhadap waktu merupakan salah satu ciri dari kemajuan suatu peradaban. Demikian juga dengan Islam, betapa Islam sangat memperhatikan urusan waktu ini dengan perhatian yang sangat besar. Di dalam Al Quran terdapat satu surat yang secara khusus membahas tentang waktu.

Allah Swt. berfirman, “Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian. Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal shalih dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran.” (QS. Al Ashr [103] : 1-3)

Imam Asy Syafii ra. pernah mengatakan bahwa seandainya Al Quran itu tidak turun kecuali surat Al ‘Ashr ini saja, maka sesungguhnya itu sudah cukup untuk menjadi jawaban atas segala persoalan umat manusia. Karena surat ini mencakup segala hal secara komprehensif, dimulai dari konsep waktu, konsep manusia, konsep iman, konsep amal shalih, konsep mengajarkan kebenaran, sampai konsep kesabaran di atas kebenaran. Ini semua mencakup urusan dunia dan akhirat.

Umat Islam pernah mencapai kegemilangan peradabannya di masa lalu. Para ilmuwan muslim menjadi rujukan manusia dari seluruh negeri di dunia ini, mereka mempelajari banyak ilmu pengetahuan yang kemudian menjadi pendar cahaya peradaban di negerinya masing-masing. Kemajuan peradaban ini tidak terlepas dari perhatian yang sangat besar kaum muslimin ketika itu terhadap waktu.

Para ulama muslim terdahulu menggunakan waktu secara efektif dan efisien sehingga mereka mampu menghasilkan karya-karya luar biasa yang menjadi referensi ilmu pengetahuan manusia di berbagai negara bahkan sampai saat ini. Oleh karenanya, kedisiplinan waktu merupakan modal terbesar manusia untuk meningkatkan produktifitas dalam segala bidang.

Menurut keterangan dari Imam Alfarghani ra., bahwa Ibnu Jarir Ath Thabari ra. itu menulis setiap hari 14 halaman. Sehingga dalam 72 tahun Ibnu Jarir mampu menghasilkan karya 300.058 lembar halaman buku sebelum beliau wafat pada usia 82 tahun. Karyanya yang momumental yaitu tafsir Ath Thabari menjadi salah satu rujukan utama para ulama tafsir sampai saat ini di berbagai belahan bumi. Maasyaa Allah!

Dan, masih begitu banyak ulama muslim terdahulu yang mampu menghasilkan karya-karya luar biasa, tidak lekang oleh waktu, tidak habis dimakan zaman, meski mereka kini telah tiada namun karya-karyanya tetap menjadi lentera yang menerangi kehidupan umat manusia sampai hari ini bahkan insyaaAllah sampai hari kiamat tiba. Semua itu tidak lepas dari kedisiplinan mereka dalam mengelola waktu yang Allah Swt. karuniakan.

Semoga kita bisa meneladani para pendahulu kita itu dalam kedisiplinan memanfaatkan waktu. Sehingga kemajuan peradaban umat Islam bisa kita bangkitkan kembali. Aamiin yaa Rabbal’aalamiin.[]

 

*Disarikan dari rekaman ceramah Ust. Fahmi Salim Lc., MA. di Frankfurt Jerman, yang dipublikasikan oleh Nurul Iman pada chanel Youtube pada 24 Januari 2019.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.