Home Hikmah Hikmah dari Ujian dan Pengorbanan Nabi Ibrahim

Hikmah dari Ujian dan Pengorbanan Nabi Ibrahim

122
0
SHARE

Oleh: Yadi Saeful Hidayat

Jutaan umat Muslim berkumpul di Tanah Suci Makkah untuk menyempurnakan rangkaian ibadah haji. Tidak ada yang menggerakkan jutaan manusia ini kecuali keinginan mereka untuk menapaki jejak-jejak Rasulullah Saw. dalam meneladani Abul Anbiya Nabi Ibrahim ‘alaihissalam. Saat berhaji, tidak ada yang membedakan kedudukan setiap umat Muslim, kecuali ketakwaannya di hadapan Allah. Semua berdiri dan bergerak sama, memanjatkan talbiyah, menyambut seruan dan perintah Allah.

Labbaikallahumma labbaika, labbaika la syarika laka labbaika. Innal hamda wanni’mata laka wal mulka la syarika laka. Ya Allah, kami datang hadir ke tempat ini, ke lapang ini, untuk memenuhi seruan-Mu, untuk mensyiarkan agama-Mu, sebagaimana para jamaah haji yang saat ini meninggalkan kampung halaman mereka, meninggalkan keluarga mereka, demi untuk menyambut seruan-Mu. Maka, tak ada pujian, tak ada kenikmatan, tak ada kekuasaan, kecuali hanya milik Allah.

Selepas kita melaksanakan shalat Idul Adha, setiap umat Muslim di berbagai penjuru dunia juga akan melaksanakan ibadah kurban. Mengapa Allah memerintahkan kita untuk menyembelih hewan? Allah katakan dalam Surah Al-Kautsar:

إِنَّا أَعْطَيْنَاكَ الْكَوْثَرَ (1) فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَانْحَرْ (2) إِنَّ شَانِئَكَ هُوَ الْأَبْتَرُ (3) 

“Sesungguhnya Kami telah memberikan kepadamu nikmat yang banyak. Maka, dirikanlah shalat karena Tuhan-mu, dan berkurbanlah. Sesungguhnya orang-orang yang membencimu dialah yang terputus.” (QS. Al Kautsar [108] : 1-3)

Allah sudah berikan kenikmatan kepada kita; kenikmatan yang tiada habis-habisnya. Bahkan, Allah ulang dalam Surah Al-Rahman ayat yang sama kepada kita sebanyak 31 kali: fabi-ayyi aalaa’i rabbikumaa tukadzdzibaan. Adakah nikmat Allah yang pantas kita dustakan? Nikmat mendengar, nikmat melihat, nikmat melangkah, nikmat beribadah, nikmat bersilaturahim, nikmat berkumpul bersama keluarga, bersama anak-anak dan pasangan kita. 

Maka atas nikmat yang sudah Allah berikan, shalatlah dan berkurbanlah. Dirikanlah shalat, ajaklah keluarga kita, pasangan kita, anak-anak kita untuk hadir di lapangan ini. Berkurbanlah demi mendapatkan keridhaan Allah. Siapa yang berkurban dengan unta, dengan sapi, atau dengan kambing, demi Allah, bukan daging-daging itu yang akan sampai kepada Allah, bukan pula kulitnya, bukan pula kaki dan kepalanya, tetapi yang sampai kepada Allah adalah ketakwaan kita, kepasrahan kita, ketaatan kita untuk menjalankan perintah-Nya.

Atas peristiwa kurban, kita teringat sosok Nabi Ibrahim a.s., yang merupakan nabi istimewa. Allah jadikan dari keturunannya generasi para nabi. Nabi Ibrahim adalah nabi yang tangguh. Allah uji beliau dengan keluarga, dengan masyarakat, dengan istri, bahkan dengan anak. Bapaknya adalah seorang pembuat berhala, yang membuat Nabi Ibrahim heran dan bertanya-tanya. Hingga ketika ilmu dan hidayah telah datang kepada Ibrahim, ia pun berkata kepada sang ayah:

“Wahai bapakku, mengapa engkau menyembah sesuatu yang tidak dapat mendengar, tidak melihat, dan tidak dapat menolongmu sedikitpun? Wahai bapakku, sesungguhnya telah datang kepadaku sebahagian ilmu pengetahuan yang tidak datang kepadamu, maka ikutilah aku, niscaya aku akan menunjukkan kepadamu jalan yang lurus. Wahai bapakku, janganlah engkau menyembah syaitan, sesungguhnya syaitan itu durhaka kepada Tuhan Yang Maha Pemurah. Wahai bapakku, sesungguhnya aku khawatir bahwa engkau akan ditimpa adzab dari Tuhan Yang Maha Pemurah, maka engkau menjadi kawan bagi syaitan.” (QS. Maryam [19] : 42-45)

Bukan hanya tekanan dari sang ayah, nabi Ibrahim juga diuji oleh masyarakat dan pemerintahnya. Karena ia tak gentar menentang penguasa, melantangkan kebenaran, dan menyampaikan misi keimanan dan kebaikan, ditangkaplah Nabi Ibrahim oleh Raja Namrudz. Nabi Ibrahim dibawa menuju tungku api yang sedang menyala-nyala. Ibrahim hendak dipanggang dalam api yang sangat panas. Tapi, Allah menurunkan mukjizat-Nya, “Hai api, menjadi dinginlah dan menjadi keselamatanlah bagi Ibrahim.” (QS. Al Anbiya [21] : 69)

Siapa yang sanggup bertahan dengan ujian yang datang bertubi-tubi? Padahal, setiap mukmin pastilah akan diberikan ujian. Surga tidaklah diperuntukkan bagi orang-orang yang hidup enak-enak saja, hidup nyaman saja, hidup tanpa ujian. Bukanlah Allah nyatakan bahwa surga diperuntukkan bagi orang-orang yang sanggup bertahan dengan ujian yang datang silih berganti hingga mereka menyebut: mata anashrullah? Kapan pertolongan Allah itu datang, kapan pertolongan Allah itu tiba?

Maka, jika umat Islam saat ini diuji dengan tekanan, diuji dengan represi, bersyukurlah, bersabarlah. Sesungguhnya pertolongan Allah amat dekat. Saudara-saudara kita di Palestina jauh dari sorak gembira untuk merayakan hari Idul Adha ini. Saudara-saudara kita di Rohingya juga jauh dari ketenangan untuk menikmati momen Idul Adha ini. Berdoalah kepada Allah agar umat ini dikuatkan, disabarkan, dipersatukan dalam kalimat tauhid, La Ilaha Illallah.

Nabi Ibrahim telah memberikan keteladanan kepada kita semua bahwa saat kita berpegang teguh pada keimanan, ketika kita terus membela kebenaran, akan selalu datang ujian kepada kita. Bukan hanya diuji dengan keluarga, bukan pula diuji oleh masyarakat dan negara. Bahkan, ujian itu bisa datang dari istri dan anak-anak kita. Ketika Nabi Ibrahim telah menikah dengan Sarah, lalu menikah dengan Hajar, lama sekali Nabi Ibrahim tidak dikaruniai anak. Hingga Nabi Ibrahim terus memanjatkan doa: rabbi hab li minash shalihin. Wahai Tuhanku, ya Allah, karuniakan kepadaku keturunan yang shalih dan shalihah.

Allah pun karuniakan bayi laki-laki kepada Nabi Ibrahim dari seorang Hajar. Buah hati yang ditunggu-tunggu, akhirnya Allah berikan kepada Nabi Ibrahim dan Istri. Dan ketika bayi itu tumbuh menjadi seorang anak kecil yang lucu, ujian pun datang kepada Ibrahim. Allah perintahkan kepadanya untuk menghijrahkan istrinya, Hajar, dan anaknya Ismail. 

Dibawalah mereka berdua menyusuri lembah tandus, tanpa pernah diberitahu kemana mereka hendak dibawa. Setiap kali Bunda Hajar bertanya, “Wahai suamiku, kemanakah engkau akan membawa kami?” Nabi Ibrahim tak menjawab sepatah kata pun. Ia terus berjalan, meski Bunda Hajar terus bertanya, “Kemana engkau akan membawa kami?” Sampai akhirnya Bunda Hajar bertanya, “Apakah ini adalah perintah Allah?” “Benar,” jawab Nabi Ibrahim.

Adakah pengorbanan yang lebih besar daripada pengorbanan seorang Nabi Ibrahim? Ia harus rela meninggalkan istri dan anaknya di lembah tandus, hanya karena Allah perintahkan kepadanya. Tapi ia yakin, Allah tidak akan diam, Allah pasti akan menolong istri dan anaknya. Nabi Ibrahim tidak takut kehilangan sesuatu karena Allah, karena ia lebih takut kehilangan Allah karena sesuatu. Kita seringkali lebih takut kehilangan sesuatu meski harus kehilangan Allah. Kita lebih memilih dunia daripada memilih Allah. Kita lebih takut sengsara di dunia daripada nestapa di akhirat. Kita takut, tapi kita tidak kembali kepada Yang Maha Menutupi ketakutan, Allah yang Maha Melindungi.

Hari ini kekayaan, anak-anak, istri, suami, semua menjadi kebanggaan kita. Kita bangga hidup bergelimang harta dan kekayaan. Kita bangga dengan anak-anak dan pasangan yang kita cintai. Hari ini rasanya kita tidak ingin jauh dari anak-anak dan pasangan kita. Padahal, yauma la yanfa’u malun wa la banun, ada hari dimana saat itu tidak ada manfaatnya harta dan anak-anak, kecuali mereka yang datang kepada Allah dengan hati yang bersih, hati yang suci, hati yang mengorbankan kecintaan terhadap apa pun hanya demi kecintaan kepada Allah.

Seperti Nabi Ibrahim yang terus diuji oleh Allah untuk mengorbankan apa saja yang ia cintai. Ketika Ismail tumbuh menjadi remaja dan membanggakan sang ayah, Allah pun memerintahkan kepada Nabi Ibrahim untuk menyembelih Ismail. Bagai petir menggelegar, Nabi Ibrahim harus rela mengorbankan anak yang dicintainya, yang selama ini ia nanti kelahirannya. Tapi Nabi Ibrahim ridha, ia tahu bahwa ini adalah perintah Allah, dan selalu ada hikmah yang tersembunyi dalam setiap perintah Allah.

Peristiwa ini adalah ujian Allah kepada Nabi Ibrahim a.s., untuk menunjukkan kecintaan Ibrahim kepada Rabbnya. Allah menguji Ibrahim lewat anak yang benar-benar ia cintai, diperintahkan untuk disembelih. Akhirnya, Allah mengganti dengan domba yang besar sebagai tebusan. Ibrahim bukan menyembelih Isma’il, namun menyembelih seekor domba. Itulah balasan bagi orang yang berbuat ihsan. Itulah Ibrahim yang merupakan bagian dari orang beriman, yang senantiasa mendahulukan ridha Allah daripada syahwat.

Hal terbaik apa yang sudah kita korbankan untuk menggapai keridhaan Allah? Apa yang sudah kita berikan untuk menolong agama Allah ini? Nabi Ibrahim rela menyembelih anaknya, karena ia tahu itu adalah perintah Allah, dan hanya dengan cara itu Nabi Ibrahim bisa meraih kecintaan Allah. Begitulah sejatinya sifat seorang mukmin, tidaklah kecintaannya kepada sesuatu melebihi kecintaannya kepada Allah. Tidaklah ia melakukan sesuatu kecuali hanya untuk meraih ridha Allah.

Janganlah kecintaan kita kepada harta kekayaan, kepada keluarga, kepada anak-anak, kepada suami, kepada istri, melebihi cinta kita kepada Allah dan Rasul-Nya. Seorang mukmin akan selalu bertanya, adakah perbuatan yang dilakukannya membuat Allah dan Rasul-Nya senang? Apakah ucapan yang kita lontarkan membuat Allah dan Rasul-Nya ridha?

Seorang Nabi Muhammad begitu besar pembelaannya terhadap umat ini. Ketika beliau sedang meregang nyawa, merasakan sakitnya sakaratulmaut, beliau berdoa Allah, “Ya Allah, sakit niat sakaratul maut ini. Timpakan semua rasa sakitnya kepadaku, jangan sedikitpun engkau berikan kepada umatku.” 

Dalam Perang Badar, ketika tahu bahwa jumlah pasukan Muslim tak sebanding dengan banyaknya jumlah pasukan musuh, Rasulullah Saw. bermunajat lirih kepada Allah, memohon agar umatnya diberi kemenangan, “Duhai Allah, penuhilah janji-Mu kepadaku. Ya Allah, berikanlah apa yang telah Engkau janjikan kepada-Ku. Ya Allah, jika Engkau binasakan pasukan Islam ini, maka tidak ada yang akan beribadah kepada-Mu di muka bumi ini.” (HR. Muslim)

Nabi Muhammad Saw. tidak pernah diam untuk membela umatnya. Bahkan, di hari kiamat nanti, Rasulullah Saw. adalah orang yang akan memberikan syafaat kepada kita, mengangkat kita dari panasnya api neraka Jahannam. Nabi Muhammad Saw. akan meminta kepada Allah agar kita, umatnya, umat Islam, diselamatkan dari siksa pedih api neraka. Beliau bersujud di hadapan Allah, memohon kepada-Nya agar umatnya diangkat dari neraka dan dimasukkan ke surge bersama beliau. 

Inilah pembelaan seorang Nabi untuk umatnya. Lalu, apa pembelaan kita atas Allah dan Rasul-Nya? “Hai orang-orang mukmin, jika kamu menolong agama Allah, niscaya Dia akan menolong kalian dan mengokohkan kaki kalian.” (QS. Muhammad [47] : 7]

Berdirilah untuk membela agama Allah ini, niscaya Allah akan menolong kita. Berdirilah untuk membela saudara-saudara kita, yang mungkin hari ini tak bisa berbahagia seperti bahagianya kita. Berdoalah untuk rakyat Palestina, yang tidak pernah tahu, kapan mereka bisa hidup dengan tenang, jauh dari serbuan senapan. Berdoalah untuk saudara-saudara kita, umat Muslim di mana saja, yang mungkin hari ini tak bisa menikmati kesenangan seperti kita.

Semoga ibadah kurban ini mengajarkan kita untuk semakin bersyukur atas nikmat-nikmat yang Allah berikan. Inna a’thainaakal kautsar, sungguh Kami sudah berikan kepada kalian nikmat yang begitu besar. Mudah-mudahan ibadah kurban ini juga semakin mengasah jiwa sosial dan rasa kepedulian kita terhadap saudara-saudara sesama Muslim. Idul Adha adalah hari raya umat Islam, maka bersukacitalah. Bagikanlah daging-daging kurban kepada saudara-sudara kita, agar semuanya pada hari ini dan sampai hari Tasyriq nanti, merasakan kebahagiaan dan bersuka cita.

Mari kita sama-sama berdoa untuk kebaikan umat ini, semoga Allah senantiasa menurunkan rahmat dan pertolongan-Nya kepada kita semua. Aamiin yaa Rabbal’aalamiin.[]

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.