Home Hikmah Merajut Ukhuwah

Merajut Ukhuwah

344
0
SHARE

Oleh : Ust. Abdul Shomad, Lc., MA.

Saudaraku, sesungguhnya kita ini bersaudara. Kita yang berasal dari suku Jawa, Sunda, Melayu, Batak, Dayak, Asmat dan lain sebagainya, jika kita menyadari asal muasal kita darimana maka kita akan menyadari bahwa kita ini bersaudara, sama-sama anak cucu nabi Adam as. Maka, kunci penting untuk memperkuat persaudaraan kita adalah menyadari asal muasal kita.

Kemudian, kita perdalam lagi dengan pertanyaan darimanakah nabi Adam diciptakan? Jawabannya adalah Allah ciptakan nabi Adam dari saripati tanah. Maka, jika kita menyadari asal muasal kita ini, kita akan jauh dari sifat sombong; merasa lebih unggul dari orang lain, merasa lebih penting daripada orang lain, merasa lebih shalih daripada orang lain. Karena sifat tanah itu adalah rendah, di bawah, bahkan dipijak-pijak, maka jika kita sadar akan asal muasal ini, kita akan mampu bersikap tawadhu.

Saudaraku, kita tidak pernah akan bisa merajut ukhuwah jika kita masih saja mempertentangkan asal muasal kita. Padahal kita ini berasal dari tanah, berdiri di atas tanah, berjalan di atas tanah, makan segala sesuatu yang tumbuh dari tanah, dan tak lama lagi akan masuk lagi ke dalam tanah.

Terkhusus bagi kita selaku umat Islam, ukhuwah adalah perkara yang teramat penting. Allah Swt. berfirman di dalam Al Quran, Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai-berai, dan ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika dahulu (masa Jahiliyah) bermusuh-musuhan, maka Allah mempersatukan hatimu, lalu karena nikmat Allah, menjadilah kamu orang yang bersaudara; dan kamu telah berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu daripadanya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu, agar kamu mendapat petunjuk.(QS. Ali Imran [3] : 103)

Kita ini umat Islam bersaudara satu sama lain. Maka, berkasihsayanglah dengan sesama muslim, saling ingat-mengingatkan dalam kebaikan dengan cara yang baik. Jangan biarkan perbedaan kecil di antara menjadi alasan besar untuk bercerai-berai. Ingat, yang mempersaudarakan kita adalah Allah Azza wa Jalla, sebagaimana ayat di atas. Mari bersyukur atas nikmat ini dengan memperkuat tali persaudaraan di antara kita.

Dengan sesama muslim kita pasti banyak perbedaannya. Berbeda secara fisik tentu, berbeda keinginan pasti, berbeda pemikiran wajar. Namun, jangan sampai perbedaan itu jadi alasan kita untuk bertengkar. Kita sesama muslim sama asal-muasal ajarannya yaitu dari Allah Swt. melalui bimbingan sayyidinaa Muhammad Saw.

Yang shalat Subuhnya pakai qunut dengan yang tidak pakai qunut tak perlu bersengketa karena kita bersaudara dan sama-sama shalat Subuh. Jika kita ribut hanya karena perbedaan itu, maka yang bersorak adalah mereka yang tidak shalat Subuh. Yang mengawali shalat dengan “ushallii..” dengan yang tidak melafalkan “ushallii..” usahlah bertengkar, karena kita bersaudara dan sama-sama shalat menyembah Allah Ta’ala. Jika kita bertengkar maka yang bersorak gembira adalah syaitan.

Lantas bagaimana dengan saudara-saudara kita yang sebangsa setanahair, bagaimana ukhuwah kita dengan mereka? Saudaraku, Allah yang takdirkan kita lahir di negeri ini, bertetangga dengan berbagai macam orang yang berbeda suku bangsa, bahasa dan agama. Bagaimana merajut ukhuwah dengan mereka? Lihatlah lagi asal muasal kita. Kita sama-sama ciptaan Allah Swt., sama-sama keturunan nabi Adam as. dan sama-sama Allah takdirkan hidup di negeri bernama Indonesia ini.

Kita saling bersaudara sebagai sesama anak bangsa. Maka, bersama-samalah menjaga dan merawat negeri titipan Allah ini. Jangan hancurkan amanah ini dengan bersengketa, berpecah belah, saling hina dan saling merendahkan. Rawatlah amanah ini dengan saling rukun dan saling menghormati.

Betul bahwa ada perbedaan dengan sebagian orang dalam hal akidah, jadikanlah itu ranah kita masing-masing. Tak perlu memaksakan keyakinan karena Laa ikraaha fiddiin, tiada paksaan dalam beragama (QS. Al Baqarah [2] : 256). Boleh kita berdakwah, namun berdakwahlah dengan akhlakul karimah, dengan akhlak yang mulia sebagaimana dicontohkan baginda Nabi Muhammad Saw.

Boleh kita hidup bertetangga dengan orang berbeda agama, boleh satu pekerjaan di kantor yang sama, boleh bersekolah atau kuliah di kampus yang sama. Tapi dalam hal akidah, dalam hal ibadah, kita wajib menjaga batasan dengan prinsip saling menghargai. “Untukmu agamamu dan untukkulah agamaku.” (QS. Al Kafirun [109] : 6)

Jadi, saudaraku, mari kita rajut ukhuwah di antara kita, Ukhuwah Islamiyyah dengan sesama muslim, Ukhuwah Wathaniyyah dengan sesama anak bangsa. Mari, hadirkan diri kita di tengah negeri ini sebagai umat yang rahmatan lil’aalamiin, menjadi rahmat bagi semua orang dan sekalian alam. Wallaahua’lam bishawab.[]

 

*Disarikan dari ceramah Ust. Abdul Shomad Lc., MA., pada 25 Agustus 2018 di Lingga, Jambi.

 

 

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

3 × 1 =

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.