SHARE
KH. Abdullah Gymnastiar

Oleh : Abdullah Gymnastiar

Semoga Allah Swt. menjadikan kita orang-orang yang senantiasa semangat melatih diri untuk menjaga lisan kita agar hanya mengeluarkan ucapan yang Allah Swt. sukai. Shalawat dan salam semoga selalu tercurahkan kepada kekasih Allah, nabi Muhammad Saw.

Saudaraku, ada pepatah mengatakan, “Mulutmu harimaumu.” Ada juga yang mengatakan, “Lidah itu lebih tajam daripada pedang.”

Tidak ada sepatah katapun yang terucap dari lisan kita kecuali Allah Swt. mengetahuinya. Tidak ada sepatah katapun yang terlontar dari lisan kita kecuali pasti akan dipertanggungjawabkan di hadapan Allah Swt. Oleh sebab itu, sungguh beruntunglah orang yang selalu menjaga ucapannya.

Allah Swt. berfirman, “Tidak ada kebaikan pada kebanyakan bisikan mereka, kecuali bisikan-bisikan dari orang yang menyuruh (manusia) memberi sedekah, atau berbuat ma’ruf, atau mengadakan perdamaian di antara manusia. Dan, barangsiapa berbuat demikian karena mengharapkan keridhaan Allah, maka kelak Kami akan memberinya pahala yang besar.” (QS. An Nisaa [4] : 114).

Saudaraku, lisan kita ini bagaikan corong teko. Dia hanya mengeluarkan apa yang ada di dalamnya. Jika teko itu berisi air bersih, maka yang keluarpun bersih. Sebaliknya, kalau isi teko itu adalah air kotor, maka yang akan keluar pun air kotor. Demikianlah pula dengan lisan kita. Ucapan kita menunjukkan kualitas diri kita.

Jika tidak dijaga, lisan akan menjadi sumber malapetaka untuk kita. Karena ibarat anak panah, ucapan yang sudah melesat dari lisan kita, akan sulit untuk ditarik kembali. Sebaliknya, jika kita mampu menjaganya, maka lisan akan mendatangkan derajat kemuliaan untuk kita.

Pada derajat pertama, adalah orang yang mulia. Ia selalu menjaga setiap ucapannya, sehingga setiap kata-kata dalam pembicaraannya selalu berada dalam dzikir kepada Allah. Buahnya adalah ucapannya bermanfaat, penuh hikmah dan ilmu.

Derajat kedua, adalah orang-orang yang mudah mengomentari apa saja yang dilihat atau didengarnya, meski tidak ada manfaatnya sama sekali. Derajat ketiga, adalah orang-orang yang mudah sekali terlontar dari lisannya berupa umpatan, celaan, hinaan, dan keluhan. Lisannya kering sekali dari dzikir dan doa. Dan derajat keempat adalah derajat paling rendah, yaitu orang-orang yang selalu menceritakan kelebihannya dengan niat mencari-cari pujian orang lain.

Rasulullah Saw. bersabda, “Setiap ucapan Bani Adam itu membahayakan dirinya (tidak memberi manfaat), kecuali kata-kata berupa amar ma‘ruf dan nahi munkar serta berzikir kepada Allah ‘Azza wa Jalla.” (HR. Tirmidzi)

Oleh karena itu, barangsiapa yang ingin selamat dan memperoleh kemenangan beserta limpahan pahala, hendaklah ia menjaga lisannya. Seseorang akan terampil mengendalikan lisannya jika diiringi dengan ilmu dan kesungguhan melatih diri. Ilmu akan membuatnya lebih hati-hati dalam bicara. Karena kenyataannya, semakin banyak berbicara, semakin banyak energi yang terbuang dan semakin besar kemungkinan tergelincir pada dosa. Bahkan, tidak sedikit orang yang runtuh kehormatannya karena lisan yang tidak terjaga.

Tidak heran Rasulullah Saw. berpesan, “Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia mengatakan yang baik atau diam.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Lidah ini tak bertulang. Meski lentur namun memiliki efek yang luar biasa ketika digunakan. Sekali meluncur kata-kata kotor apalagi hingga menyakiti hati orang lain, maka akan sulit diperbaiki. Jikapun orang itu memaafkan, sebenarnya luka akan tetap membekas di hatinya.

Lisan yang digunakan dengan baik, akan mampu memanggil, menggugah dan menggerakan diri kita sendiri maupun orang lain untuk kebaikan. Sehingga begitu penting kita mengendalikan lisan.

Sikap tidak hati-hati dalam menggunakan lisan, maka bisa memicu timbulnya malapetaka. Dua orang yang tadinya berteman dengan penuh keakraban bisa berubah menjadi saling membenci hanya karena lisan. Seorang bapak dan anak yang saling menyayangi dan menghormati pun bisa berselisih karena lisan. Suami istri yang saling mencintai dan saling menyayangi bisa kehilangan keharmonisan karena lisan. Bahkan, hal-hal yang lebih buruk dari itu, seperti pertengkaran dan perang saudara, bisa meletus hanya kerena ucapan lisan yang tak dijaga.

Imam Asy Syafii ra. pernah mengatakan, Apabila seseorang ingin berbicara, hendaklah berpikir dulu. Bila jelas maslahatnya maka berbicaralah, dan jika dia ragu maka janganlah dia berbicara hingga nampak maslahatnya.”

Karena itu, sebagai seorang Muslim, hendaknya kita bersungguh-sungguh untuk senantiasa menjaga lisan berada dalam kebaikan. Berbicaralah yang penting, jangan yang penting berbicara. Tanamkanlah kesadaran bahwa setiap ucapan yang keluar dari mulut kita akan dicatat oleh Malaikat Raqib dan dan ‘Atid. Karena Allah Swt. berfirman, “Tiada satu ucapanpun yang diucapkannya melainkan ada di dekatnya malaikat pengawas yang selalu hadir.” (QS. Qaaf [50]: 18).

Hindarilah celetak-celetuk yang tiada berguna. Hindari bergurau yang berlebihan dan tiada bermakna. Jauhi berkomentar tanpa ilmu apalagi tentang urusan yang tak jelas benar tidaknya. Semoga kita tergolong hamba Allah Swt. yang sungguh-sungguh dalam berusaha mengendalikan lisan kita. Amiin yaa Rabbal’Aalamiin.[]

 

Sumber : www.smstauhiid.com

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

two × 2 =

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.