Home Hikmah Kemampuan Menikmatkan

Kemampuan Menikmatkan

474
0
SHARE

Oleh : Zainurrofieq

Bismillaahirrahmaanirrahiim.

Seorang manusia memiliki kekuatan, kemampuan untuk bisa bersyukur, menerima, dan  berterimakasih kepada Sang Khaliq atas apapun yang terjadi di dalam kehidupannya. Kemampuan ini adalah karunia dari Allah Swt. yang Dia simpan di dalam diri setiap orang. Dalam istilah lain kita bisa sebut kemampuan ini adalah potensi. Sejauh mana ia mampu membangkitkan energi tersebut, maka sejauh itu pula dia dapat merasakan kenikmatan dan kebahagiaan dalam menjalani hidupnya.

Kita senantiasa berharap bisa menjadi hamba yang ahli syukur. Namun, dari mana kita memulainya. Sedang di dalam Al Quran Allah Swt. berfirman, “(Iblis) berkata, “Karena Engkau telah menyesatkan aku, pasti aku akan selalu menghalangi mereka dari jalan-Mu yang lurus. Kemudian, pasti aku akan mendatangi mereka dari depan, dari belakang, dari kanan dan dari kiri mereka. Dan, Engkau tidak akan mendapati kebanyakan dari mereka bersyukur.” (QS. Al A’raf [7] : 16-17)

Ayat ini menerangkan kepada kita bahwa syaitan sangat berhasrat untuk mengeluarkan kita dari Shiraathal Mustaqim, syaitan sangat besar upayanya untuk memnggelincirkan kita dari jalan yang lurus. Dan, menjadi kegembiraan yang besar bagi syaitan manakala bisa mengeluarkan kita dari golongan hamba Allah yang bersyukur kepada-Nya.

Saudaraku, Rasulullah Saw.  mengajarkan kepada kita untuk berdoa minimal 17 kali sehari kepada Allah Swt. agar kita dikuatkan untuk tetap berada di Shiraathal Mustaqim. Doa tersebut tertuang dalam surat Al Fatihah yang senantiasa kita baca setiap kita shalat. Minimal 17 kali kita baca doa surat tersebut dalam shalat fardhu. “Ihdinaash shiraathal mustaqim”, yang artinya, “Tunjukanlah kami jalan yang lurus”.

Mengapa kita berdoa dengan kalimat tersebut? Karena inilah usaha yang akan benar-benar digencarkan oleh syaitan terhadap kita. Yaitu menggoda dan menipu kita agar kita keluar dari jalan yang lurus, agar kita menyerah untuk mengarunginya. Lantas, Shiraathal Mustaqim  atau jalan yang lurus itu seperti apa?

Ayat berikutnya dalam surat Al Fatihah menjelaskan jawabannya. Allah Swt. berfirman, “(yaitu) jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat kepadanya, bukan (jalan) mereka yang dimurkai dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat.” (QS. Al Fatihah [1] : 7)

Pembaca yang dirahmati Allah, kebanyakan para ahli tafsir menjelaskan arti dari kalimat “an’amta” pada surat Al Fatihah ayat 7 dengan, “yang telah Engkau beri nikmat”. Pada kesempatan ini kita ingin menggali, memunculkan sebuah perspektif lain bahwa kalimat “an’amta” tidak hanya kita artikan “memberi nikmat”. Akan tetapi lebih jauh dari itu, kita dapat memaknai kalimat “an’amta” itu adalah “menikmatkan”, bukan hanya memberi nikmat.

Apa maksud dari “menikmatkan”, sepertinya sama saja artinya. Mungkin kita bertanya seperti demikian. Pembaca yang budiman, beda antara ‘Allah memberi nikmat’ dengan ‘menikmatkan’. Kalau Allah memberi nikmat, maka itu gambarannya seperti kita diberi uang sekian ratus miliar oleh Allah Swt. Sedangkan ‘menikmatkan’ itu berarti manakala Allah memberi kita uang meski seribu atau dua ribu rupiah, namun Allah menikmatkannya bagi kita, maka kita menjadi orang yang bisa merasakan nikmatnya.

Bukankah tidak sedikit manusia yang memiliki harta kekayaan berlimpah ruah, rumah yang megah, kendaraan yang mewah, perusahaan yang banyak, namun justru tidak bisa menikmati semua itu? Bukankah banyak manusia yang memiliki segalanya, namun kering di dalam hatinya? Dan, bukankah banyak manusia yang memiliki berbagai macam perhiasan dunia, akan tetapi resah gelisah di dalam jiwanya?!

Maka dari itu, penting bagi kita untuk bisa memahami perbedaan antara kalimat “Allah memberi nikmat”, dengan kalimat “Allah menikmatkan kita”. Kalimat “Shiraathalladziina an’amta ’alaihim” maka maknanya, “Yaitu jalan yang Engkau nikmatkan, bukan hanya yang Engkau beri nikmat.”

Pembaca yang budiman, kita garisbawahi kalimat menikmatkan. Kalimat ini adalah kalimat aktif. Seseorang harus mampu menjadi orang yang mampu menikmatkan atas apapun yang ada dan kejadian apapun dalam kehidupannya sehari-hari. Ketika seseorang telah mampu menikmatkan apapun yang terjadi dalam kehidupannya, maka itulah jalan yang lurus. Jadi, kita meminta kepada Allah, “Ihdinaash shiraathal mustaqim. Shiraathalladziina an’amta ’alaihim”,  “Duhai Allah, tunjukanlah kepada kami jalan yang lurus, yaitu jalan yang Engkau nikmatkan.” Allahu Akbar!

Jalan yang Allah nikmatkan inilah jalan yang sangat mahal. Harganya tak terukur oleh apapun. Tidak semua orang mampu menikmatkan apa yang dia dapatkan, tidak setiap orang bisa menikmatkan setiap peristiwa yang terjadi di dalam kehidupannya.

Dan, syaitan akan terus mengiringi setiap langkah seluruh anak Adam. Syaitan akan terus merayu, melemparkan tipu daya, melakukan segenap upaya, agar kita menjadi manusia yang selalu saja mengeluh atas apa yang dimiliki dan atas apa yang terjadi dalam kehidupan kita. Mengeluh atas pendapatannya, mengeluh atas jabatannya, mengeluh atas penampilannya.

Syaitan akan menggoda kita untuk menjadi manusia yang selalu saja merasa kurang, yang selalu saja tak pernah puas, dan selalu saja lupa atas berbagai macam nikmat yang telah Allah Swt. berikan kepada kita. Syaitan akan terus menjebak kita menjadi manusia yang sama sekali tidak menikmatkan apa yang kita miliki dan apa yang terjadi dalam hidup kita.

Subhaanallah! Betapa indah konsep Allah Swt., yaitu mendidik kita untuk menjadi orang yang pandai menikmatkan. Apapun yang terjadi mari kita belajar bisa menikmatkan setiap babak dalam kehidupan kita. Salah satu contoh, ketika kita terjebak dalam kemacetan di jalan raya, apakah kita mengeluh? Janganlah mengeluh. Ingat pada kalimat ‘menikmatkan’. Janganlah mengeluh, lebih baik nyalakan radio, putar lantunan Al Qur’an, ingatlah atas segala nikmat yang selama ini telah Allah berikan kepada kita, dan kemacetan ini tidaklah seberapa dibandingkan semua itu.

Saudaraku yang dirahmati Allah Swt., kita memohon kepada Allah agar Allah menjadikan kita hamba-hamba-Nya yang pandai menikmatkan setiap karunia sekecil dan sesederhana apapun itu. Kita pun berlindung kepada Allah dari kekufuran manakala kita memiliki keberlimpahan pada apa yang kita miliki.

Kita tentu tidak ingin seperti kaum Saba. Dalam berbagai riwayat disebutkan bahwa kaum Saba adalah sebuah kaum yang sudah sangat maju peradabannya. Mereka memiliki ilmu pengetahuan yang sudah sangat berkembang untuk zamannya. Salah satu dari kemajuan mereka adalah keberhasilan membangun sebuah bendungan Ma’rib. Sebuah bendungan yang mampu mengairi sekitar 9.600 hektar tanah, sehingga negeri tersebut menjadi negeri yang sangat subur dan makmur.

Akan tetapi, kaum Saba hanyalah bisa sebatas menikmati saja segala macam kekayaan itu. Mereka tidak bisa menikmatkan berbagai karunia yang Allah limpahkan kepada mereka itu. Dengan kata lain, mereka tidak bersyukur kepada Allah Swt., malah justru bersikap kufur kepada-Nya dengan cara mengingkari kebenaran yang dibawa oleh utusan Allah kepada mereka. Sehingga akhirnya Allah Swt. menjatuhkan adzab sehingga hancurlah mereka dan musnahlah segala kemajuan yang mereka banggakan itu. Na’udzubillaahi mindzalik!

Rasulullah Saw. adalah sebaik-baiknya teladan bagi kita. Dalam sebuah riwayat disebutkan bahwa suatu ketika salah seorang sahabat datang kepada Aisyah r.a dan berkata, “Beritahukanlah kepadaku sesuatu yang menakjubkan dari Rasulullah Saw.”

Mata Aisyah r.a seketika itu berkaca-kaca, kemudian ia menjawab, “Bagaimana tidak menakjubkan, pada suatu malam beliau mendatangi aku, lalu pergi bersamaku ke tempat tidur dan berselimut sampai kulitku bersentuhan dengan kulitnya.”

Aisyah r.a melanjutkan, “Kemudian Rasulullah berkata, “Wahai putri Abu Bakar, biarkanlah aku beribadah kepada Tuhanmu.” Aku pun menjawab, “Aku senang berdekatan dengan engkau. Akan tetapi aku tidak senang menghalangi keinginan engkau.” Rasulullah pun mengambil wudhu.

Aisyah r.a menceritakan bahwa Rasulullah Saw. mendirikan shalat dan menangis di dalam shalatnya hingga air matanya bercucuran. “Beliau ruku, lalu menangis. Beliau sujud, lalu menangis. Beliau berdiri, lalu menangis. Begitu seterusnya sampai Bilal datang dan aku mempersilakannya masuk.”

Kemudian, Bilal r.a bertanya, “Ya Rasulullah, apa yang membuat engkau menangis? Bukankah Allah telah mengampuni dosa-dosa engkau yang lalu dan yang akan datang?”

Rasulullah Saw. menjawab, “Tak bolehkan aku menghendaki agar menjadi seorang hamba yang bersyukur?”

Subhaanallah! Sungguh menggetarkan hati kita kisah ini. Sosok seorang Rasulullah Saw. yang begitu sederhana hidupnya, yang sungguh berat ujiannya, dan telah diampuni Allah setiap dosa-dosanya, namun demikian besar syukurnya kepada Allah Swt. Setiap butir kurma kering yang beliau makan, setiap tetes air yang beliau minum, beliau nikmatkan sehingga menjadi berkah di dalam hidupnya.     

Semoga kita termasuk umat Rasulullah Saw. yang pandai bersyukur, memiliki kemampuan untuk menikmatkan setiap karunia yang Allah Swt. berikan kepada kita. Aamiin yaa Rabbal’aalamiin.[]

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

7 − 3 =

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.