Home Hikmah Antara Umur dan Waktu

Antara Umur dan Waktu

474
0
SHARE

Oleh : Muchlis M. Hanafi

Kita baru saja memasuki tahun yang baru, tahun 2019. Pergantian jam, pergantian hari, pergantian bulan dan pergantian tahun adalah hal yang alamiah serta menjadi tanda kebesaran Allah Swt.

Terlepas dari bagaimana penyikapan orang terhadap tahun Masehi, yang pasti selalu ada hikmah di balik setiap peristiwa. Allah Swt. berfirman, ..ingatkanlah mereka kepada hari-hari Allah. Sesunguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi setiap orang penyabar dan banyak bersyukur.(QS. Ibrahim [14] : 5)

Para mufassir menjelaskan kandungan dari ayat yang mulia ini, bahwa hari-hari yang dimaksud dalam ayat ini adalah berbagai peristiwa yang telah terjadi baik di masa lalu maupun yang baru saja terjadi. Melalui ayat ini Allah Swt. mengingatkan kepada kita untuk senantiasa menafakuri setiap pergantian waktu yang mana di dalamnya terjadi berbagai peristiwa yang selalu menyimpan hikmah untuk kita jadikan pelajaran.

Tidak terasa, waktu begitu cepat berlalu. Pergantian waktu biasanya dikaitkan dengan urusan umur. Maka tidak heran jika ada orang yang berulangtahun biasanya didoakan supaya panjang umur. Ini membuktikan secara sederhana bahwa waktu sangat berkaitan dengan umur.

Kalau sudah berbicara urusan umur, kita selalu berpikir tentang panjang dan pendek. Karena yang ada di dalam kamus kehidupan kita ini adalah masa kini, masa depan dan masa lalu. Sehingga banyak orang yang membiarkan umurnya berlalu begitu saja, tidak pernah terpikir baginya tentang lebar dan sempitnya waktu. Yang dimaksud lebar dan sempitnya waktu adalah tentang bagaimana kita mengisi keterbatasan waktu yang kita miliki ini dengan hal-hal yang bermanfaat dan bernilai di hadapan Allah Swt., sehingga tidak menyisakan ruang sedikitpun di dalam waktu ini bagi hal-hal yang tidak berarti.

Umur adalah karunia yang sangat besar dari Allah Swt. kepada kita. Oleh karena itu, kita diminta untuk memanfaatkannya dengan baik. Tapi pada kenyataannya tidak sedikit orang yang melalaikannya, sehingga merugi karena tidak memanfaatkan waktu dengan baik.

Dalam salah satu hadits Rasulullah Saw. berpesan, “Ada dua nikmat yang seringkali membuat orang merugi karena melalaikannya. Yang pertama adalah kesehatan, dan yang kedua adalah waktu yang luang.” (HR. Bukhari)

Saudaraku, panjang dan pendeknya waktu itu relatif. Saat kita menunggu datangnya sesuatu atau seseorang yang dicintai, waktu yang hanya sebentar akan terasa sangat lama. Dan, ketika yang dicintai itu tiba, meski telah berbincang lama hingga berjam-jam, waktu terasa berjalan hanya beberapa menit bahkan detik saja.

Bagi kita yang masih hidup di dunia dan membayangkan saudara-saudara kita yang telah tiada dan sudah berada di alam Barzah sejak puluhan bahkan ratusan tahun yang lalu, kita membayangkan itu adalah waktu yang sudah sangat lama. Padahal bagi mereka yang sedang berada di alam Barzah, waktu puluhan, ratusan bahkan ribuan tahun itu, bagi mereka kehidupan di sana hanya sebentar saja.

Sama dengan kisah seseorang yang dimatikan oleh Allah selama seratus tahun sebagaimana tercantum di dalam Al Quran surat Al Baqarah ayat 259. Allah mematikan orang itu selama seratus tahun kemudian menghidupkannya lagi. Lalu Allah bertanya kepadanya, “Berapa lama engkau tinggal di sini?” Orang itu menjawab, “Aku telah tinggal di sini sehari atau setengah hari.”

Kemudian, Allah Swt. berfirman, “Sebenarnya kamu telah tinggal di sini seratus tahun lamanya; lihatlah kepada makanan dan minumanmu yang belum lagi berubah; dan lihatlah kepada keledaimu telah menjadi tulang belulang; Kami akan menjadikanmu tanda kekuasaan Kami bagi manusia; dan lihatlah kepada tulang belulang keledai itu, bagaimana Kami menyusunnya kembali, kemudian Kami menutupnya kembali dengan daging.’ Maka tatkala telah nyata kepadanya (bagaimana Allah menghidupkan yang telah mati) dia pun berkata: ‘Saya yakin bahwa Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.’” (QS. Al Baqarah [2] : 259)

Begitulah, waktu, umur berjalan dengan relatif. Di dalam Islam, kehidupan yang fana di dunia ini tidaklah seberapa dibanding kehidupan akhirat. Kehidupan di akhirat itu adalah kehidupan yang hakiki. Maka, merugilah orang yang hidupnya hanya berorientasi pada keduniaan. Itu adalah ciri-ciri orang kafir, karena mereka tidak mengimani adanya hari akhir. Hidup bagi mereka hanyalah yang ada di dunia ini.

Bagi seorang muslim, hidup di dunia ini tidaklah hanya memperhatikan pada panjang dan pendeknya saja. Tetapi, juga memperhatikan lebarnya, yaitu seberapa jauh ia mengisi ruang-ruang dalam hidupnya dengan amal-amal yang berkualitas. Prinsip hidup seorang muslim adalah mengisi waktu dengan hal yang berkualitas dan menebar manfaat sebanyak mungkin.

Rasulullah Saw. berpesan, “Sebaik-baik manusia adalah yang bermanfaat bagi orang lain.” (HR. Ahmad, Thabrani, Daruquthni)

Terkadang ada orang yang berumur pendek, namun berkualitas dan bermanfaat bagi orang banyak. Lihatlah kehidupan para ulama kita. Imam Syafii ra. umurnya di dunia hanya 55 tahun, lahir pada tahun 150 H dan wafat pada 205 H. Tapi, karena beliau mengisi hidupnya dengan berkualitas, dengan karya-karya yang luar biasa bahkan terus menjadi rujukan sampai masa kini dan bermanfaat bagi jutaan umat manusia, maka beliau selalu dikenang sepanjang masa. Umurnya hanya 55 tahun, namun namanya tak lekang dimakan zaman. Bahkan karena karya-karyanya masih terus dikaji sampai saat ini, rasanya beliau masih hidup di tengah-tengah kita.

Saudaraku, maka marilah kita jadikan waktu yang kita miliki ini, yang tidak banyak ini, menjadi waktu yang berkualitas dan bermanfaat. Karena inilah tanda dari orang yang meyakini adanya hari akhir dan mengimani Allah Swt. Bahwa setiap amal pasti dipertanggungjawabkan, dan tiada kehidupan yang abadi kecuali di akhirat nanti. Semoga Allah Swt. senantiasa memberi kita petunjuk dan perlindungan. Aamiin ya Rabbal’aalamiin.[]

 

*Disarikan dari khutbah jumat Dr. Muchlis M. Hanafi, MA. di masjid Istiqlal Jakarta pada 4 Januari 2019.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.