Home Hikmah Menghargai Proses sebagai Spirit Kenabian

Menghargai Proses sebagai Spirit Kenabian

193
0
SHARE
TGB Muhammad Zainul Majdi

Oleh : TGB. Muhammad Zainul Majdi

Bismillahirrahmaanirrahiim.

Saudaraku, kita adalah orang-orang biasa, sesama umat nabi Muhammad Saw. Akan tetapi, meski kita hanyalah orang biasa namun kita bisa mendapatkan tempat yang luar biasa kelak di akhirat, yaitu tempat bersama dengan baginda nabi Muhammad Saw.

Jika Rasulullah Saw. Diibaratkan sebuah buku, maka buku tersebut pastilah memiliki judul yang sangat indah. Dan, judul buku tersebut adalah, “Sayyidul Anbiyaa wal Mursaliin”, penghulu dari seluruh nabi dan rasul. Atau, judulnya adalah “Asyraful khalqi ajma’iin”, makhluk yang paling mulia dan paling diagungkan oleh Allah Swt. Atau, buku itu judulnya, “Imaamul Muttaqiin”, pemimpin bagi orang-orang yang bertakwa. Jika Rasulullah Saw. digambarkan sebagai sebuah buku, maka buku tersebut akan memiliki judul yang luar biasa indah.

Kemudian, kalau kita buka buku tersebut halaman demi halaman, lembar demi lembar, bab demi bab, seterusnya hingga kalimat penutup, maka kita akan temukan bahwa cerita tentang kehidupan Rasulullah Saw. itu begitu sarat dengan suka dan duka. Tidak semua halaman itu menceritakan kisah-kisah yang manis. Tidak semua paragraf demi paragraf dalam buku itu menyenangkan hati. Karena ternyata banyak sekali episode kehidupan baginda Rasulullah Saw. yang berisi ujian demi ujian.

Sejak beliau masih di dalam kandungan ibundanya, ayah beliau sudah meninggal dunia. Setelah terlahir ke dunia, pada usia yang masih kanak-kanak ibunda beliau pun meninggal dunia. Beliau sudah menjadi yatim piatu ketika masih kanak-kanak, usia di mana seorang anak sangat membutuhkan belaian ibu dan penjagaan ayah. Kemudian beliau diasuh oleh kakeknya, namun pada saat usia beliau baru 2 tahun, kakeknya juga meninggal dunia.

Dalam keadaan yatim piatu, dalam asuhan pamannya, nabi Muhammad Saw. yang masih kanak-kanak hidup penuh kesederhanaan. Kerap kali beliau turut dengan pamannya menggembala kambing. Dan, sudah bukan hal yang aneh jikalau beliau dalam usia yang masih kecil menggembalakan ternak-ternak milik para pembesar kota Mekkah.

Dalam surat Adh Dhuha Allah Swt. merekam sebagian kecil perjalanan hidup nabi Muhammad Saw.

وَالضُّحَى (1) وَاللَّيْلِ إِذَا سَجَى (2) مَا وَدَّعَكَ رَبُّكَ وَمَا قَلَى (3) وَلَلْآَخِرَةُ خَيْرٌ لَكَ مِنَ الْأُولَى (4) وَلَسَوْفَ يُعْطِيكَ رَبُّكَ فَتَرْضَى (5) أَلَمْ يَجِدْكَ يَتِيمًا فَآَوَى (6) وَوَجَدَكَ ضَالًّا فَهَدَى (7) وَوَجَدَكَ عَائِلًا فَأَغْنَى (8) فَأَمَّا الْيَتِيمَ فَلَا تَقْهَرْ (9) وَأَمَّا السَّائِلَ فَلَا تَنْهَرْ (10) وَأَمَّا بِنِعْمَةِ رَبِّكَ فَحَدِّثْ (11)

“Demi waktu Dhuha (ketika matahari naik sepenggalah), dan demi malam apabila telah sunyi, Tuhanmu tidak meninggalkan engkau (Muhammad) dan tidak (pula) membencimu, dan sungguh, yang kemudian itu lebih baik bagimu dari yang permulaan. Dan sungguh, kelak Tuhanmu pasti memberikan karunia-Nya kepadamu, sehingga engkau menjadi puas. Bukankah Dia mendapatimu sebagai seorang yatim, lalu Dia melindungi(mu), dan Dia mendapatimu sebagai seorang yang bingung, lalu Dia memberikan petunjuk, dan Dia mendapatimu sebagai seorang yang kekurangan, lalu Dia memberikan kecukupan. Maka terhadap anak yatim janganlah engkau berlaku sewenang-wenang. Dan terhadap orang yang meminta-minta janganlah engkau menghardik(nya). Dan terhadap nikmat Tuhanmu hendaklah engkau nyatakan (dengan bersyukur).” (QS. Adh Dhuha [93] : 1-11)

Saudaraku, kehidupan baginda Nabi Muhammad Saw. bukanlah dongeng. Kisah hidupnya adalah sesuatu yang nyata. Meski beliau merupakan manusia yang paling mulia di antara manusia, akan tetapi kehidupan yang beliau lalui tidak serta merta penuh dengan kesenangan, kemewahan, kenyamanan. Justru kehidupan beliau semenjak kanak-kanak penuh dengan kesederhanaan dan kebersahajaan. Dan, inilah proses yang harus dilalui oleh baginda nabi Muhammad Saw.

Demikian pula dengan kita, dalam hidup ini pastilah kita menjalani proses kehidupan. Kita terkadang menemukan saat-saat dimana kita gembira, tertawa, bahagia, namun adakalanya kita merasakan kesedihan, kesempitan, kesusahan. Adakalanya kita bergembira karena meraih kesuksesan, namun adakalanya pula kita bersedih karena suatu kegagalan. Demikianlah proses kehidupan yang kita jalani, dan demikianlah pula kehidupan yang dilalui oleh baginda nabi Muhammad Saw.

Akan tetapi, ada yang membedakan antara kita dengan baginda nabi Muhammad Saw. dalam menjalani kehidupan ini. Yaitu, berbeda cara menyikapi. Mungkin kita saat mendapatkan kesenangan lebih cenderung mudah untuk lalai, sedangkan ketika mendapatkan kesusahan cenderung mudah untuk putus asa. Adapun baginda nabi Muhammad Saw. senantiasa menghadapi kehidupan ini dengan kesyukuran dan kelapangan hati.

Jika kita membuka kembali catatan sejarah kehidupan baginda nabi Muhammad Saw. maka kita akan temukan bahwa ternyata begitu banyak air mata yang menetes dari pelupuk mata beliau. Begitu banyak peristiwa yang beliau temui dan itu membuat beliau bersedih dan terharu.

Pernah suatu ketika, nabi Muhammad Saw. berjumpa dengan salah seorang sahabat. Ketika bersalaman, maka terasa oleh nabi Saw. betapa tangan sahabatnya itu kasar, lebih kasar daripada sahabat-sahabat yang lain. Lantas, baginda nabi Saw. bertanya kepadanya, “Apa sebabnya tanganmu hitam dan kasar seperti ini?” Sahabat itu menjawab, “Ya Rasulullah, tangan saya begini karena setiap hari saya bekerja mengikat kayu bakar lalu saya bawa ke pasar dan menjualnya di sana untuk menafkahi keluargaku.” Mendengar ucapan itu, Rasulullah Saw. menarik tangannya dan menciumnya seraya berkata, “Inilah tangan yang dicintai oleh Allah Swt.” Tangan yang bekerja keras, mengerjakan sesuatu yang baik, dengan cara yang baik dan untuk tujuan yang baik.

Maka saudaraku, ketika kita memperingati Maulid Nabi Saw., maka hendaknya yang kita ingat bukanlah hanya ujung dari kehidupan beliau saja di mana beliau merupakan seorang Rasulullah Saw. dimana segala kemuliaan dan keutamana tersemat pada diri beliau. Melainkan, ingatlah pula bahwa kehidupan yang beliau jalani adalah kehidupan yang penuh dengan ujian demi ujian.

Pernah suatu ketika selama 3 tahun lamanya nabi Muhammad Saw. beserta keluarga dan para sahabatnya diblokade oleh kaum kafir Quraisy, tidak boleh melakukan kegiatan perniagaan, tidak boleh berhubungan sosial dengan masyarakat. Sehingga blokade ini sempat membuat kehidupan nabi Muhammad beserta keluarga dan para sahabat menjadi terasa sangat berat. Bahkan untuk makan pun sampai mengandalkan pepohonan atau dedaunan yang tumbuh di antara bebatuan.

Kemudian, tidak lama setelah selesainya masa blokade itu, datang peristiwa yang sangat membuat hati beliau terpukul yaitu kematian istri tercinta, Khadijah ra. Lalu, tidak lama dari peristiwa kematian sang istri, menyusul pula kematian Abu Thalib, pamannya yang selama ini kerap membela dan melindungi baginda Nabi Saw. Tahun ini disebut dengan “Aamul Huzni”, tahun kesedihan.

Semua peristiwa yang berat ini tentunya terjadi atas izin Allah Swt. Dan, Allah memiliki rencana yang sangat indah bagi Rasulullah Saw. Karena ternyata dengan sederetan peristiwa yang berat tersebut membuat nabi Muhammad Saw. menjadi jauh lebih kuat, lebih sabar dan menjalani hidup ini dengan penuh rasa syukur kepada AllAh Swt. Sejatinya ini menjadi pelajaran berharga bagi kita tentang proses dalam kehidupan.

Berproses adalah ladang ibadah bagi kita, karena di sanalah jatah kita. Boleh jadi kita berproses, melakukan segala upaya untuk mencapai target yang diharapkan, akan tetapi di ujung hasilnya ternyata tidak sesuai harapan. Maka, jika kita menjalani prosesnya dengan baik, itulah yang menjadi amal shalih bagi kita. Sabarnya kita ketika lelah, syukurnya kita ketika mendapat kelancaran, yakinnya kita pada pertolongan Allah dan pantang berputus asa akan rahmat Allah, inilah yang sesungguhnya diajarkan oleh Rasulullah Saw. melalui perjalanan hidup beliau yang penuh ujian.

Maka saudaraku, marilah kita menghargai proses. Tidak ada orang yang hebat secara tiba-tiba, kecuali dia telah melalui perjalanan yang berat dan keras sebelumnya. Kita tentu mengenal nama Imam Bukhari, karyanya yaitu Shahih Bukhari adalah kitab rujukan yang paling utama bagi para pegitat ilmu atau peneliti yang hendak mempelajari sunnah Rasulullah Saw. Karyanya begitu monumental dan hampir tiada bandingannya.

Bagaimana bisa Imam Bukhari menulis kitab itu, apakah beliau menulis dengan mudah? Tidak. Beliau mesti melalui masa-masa kepenulisan yang berat dan panjang selama 16 tahun lamanya, 600 ribuan hadits beliau himpun. Beliau teliti satu persatu. Beliau menulis tidak dengan berdiam diri di rumah, melainkan beliau pergi ke tempat-tempat nun jauh hingga ke Mekkah, Irak, Khurasan, Bashrah, Mesir, untuk mengumpulkan satu demi satu hadits dari Rasulullah Saw.

Dari 600 ribuan hadits beliau teliti dan beliau saring mana yang shahih dan mana yang lemah. Seperti kita menyaring kopi, air kopi yang menetes dan terkumpul, itulah air kopi yang paling bersih, utuh, murni dan enak rasanya. Dari 600 ribuan hadits itu hanya beberapa ribu hadits saja yang dimasukkan Imam Bukhari di dalam kitabnya.

Nama Imam Bukhari yang saat ini begitu termasyhur, karya beliau menjadi rujukan utama para pembelajar sampai saat ini dan sampai waktu yang akan datang, itu semua adalah buah dari kesungguhan beliau dalam menjalani proses. Oleh karenanya, jika kita memiliki harapan dan cita-cita untuk sukses pada bidang yang sedang kita tekuni saat ini, maka hargailah prosesnya, bersungguh-sungguhlah dalam menjalani prosesnya, bersabar dalam menghadapi setiap ujiannya dan jalani semua itu dengan penuh kesyukuran kepada Allah Swt.

Demikian juga halnya jika kita melihat orang lain yang berada di puncak kesuksesan, jangan kita fokus melihat ujungnya saja, tapi lihatlah bagaimana jatuh bangunnya dia dalam meniti tangga demi tangga hingga akhirnya ia mencapai puncak kesuksesannya.

Demikian juga saat kita mengingat nabi Muhamamd Saw. Boleh kita mengingat beliau sebagai Sayyidul Anbiyaa wal Mursalin, sebagai manusia paling berpengaruh nomor satu di dunia. Tapi, ingatlah pula bagaimana beliau sebagai anak yatim piatu yang hidup mandiri dan bersahaja sejak kecil. Juga bagaimana kesabaran beliau dalam menjalankan tugas dakwah yang hingga dihina, dicaci, bahkan disakiti sampai berdarah-darah, beliau hadapi dengan sabar dan istiqamah. Bukan jalan yang mudah yang beliau lintasi, tapi tak ada jalan berat yang tak bisa ditaklukan dengan kesabaran dan kesyukuran kepada Allah Swt.

Beratnya kehidupan yang kita hadapi, belum apa-apa dibandingkan yang baginda Nabi Muhammad Saw. hadapi. Tidak hanya di medan dakwah dan medan jihad, namun sampai dalam kehidupan rumah tangga pun beliau jalani ujian dengan kesabaran dan kesyukuran. Ada beberapa ayat Al Quran yang turun terkait dengan kehidupan rumah tangga beliau. Artinya, dalam kehidupan rumah tangga Nabi pun itu ada dinamikanya.

Kemudian, jika kita tafakuri kehidupan kita bernegara di Indonesia. Begitu banyak suku bangsa dan bahasa, dihuni oleh penduduk yang berbeda keyakinannya, namun semua mampu bersatu dalam satu bingkai negara kesatuan Republik Indonesia. Berdirinya negara ini bukanlah hadiah sehari semalam saja. Melainkan, buah dari perjalanan panjang perjuangan para pendahulu kita. Mereka yang mengorbankan hidupnya demi kemerdekaan negeri ini, sehingga kita dapat nikmat lapangnya udara kemerdekaan hingga saat ini.

Lihatlah bagaimana proses yang dijalani bangsa ini dalam menggapai kemerdekaan. Jika kita menyadari bahwa betapa kemerdekaan adalah hal yang sangat mahal dan berharga maka ekspresi yang akan lahir dari diri kita adalah syukur kepada Allah Swt. Dan, satu bentuk syukur atas nikmat Allah Swt. berupa kemerdekaan ini adalah menjaga bangsa dan negara ini dengan sebaik-baiknya.

Selanjutnya, Rasulullah Saw. bersabda dalam satu hadits ketika beliau diminta oleh para sahabat untuk menceritakan dirinya. Beliau bersabda, “Aku adalah buah doa dari ayahku, Ibrahim, dan kabar gembira dari saudaraku, Isa.. (HR. Al Hakim)

Kemudian, kita ingat bahwa di dalam Al Quran terdapat satu doa nabi Ibrahim as. yang artinya, “Ya Allah, utuslah di antara anak keturunan kami ini seorang Rasul yang akan membacakan ayat-ayat-Mu, mengajarkan Kitab dan hikmah dan menyucikan umatnya..” ˆ(QS. Al Baqarah [2] : 129)

Doa nabi Ibrahim as. Ini beliau panjatkan berabad-abad jauh sebelum lahirnya nabi Muhammad Saw. Bahkan kota Mekkah pun masih berupa lembah tandus di tengah padang pasir yang gersang. Inilah yang kita sebut dengan The Power of Doa, kekuatan sebuah doa. Bahwa doa itu kekuatannya sangatlah dahsyat. Maka, banyak-banyaklah berdoa. Jangan pernah putus asa, karena orang beriman itu senantiasa yakin pada pertolongan Allah Swt.

Para ulama menasehatkan bahwa ada satu musuh dari doa. Apa itu? Amal yukhallifud du’a, amal yang berkebalikan dengan doa, amal yang tidak berkesesuaian dengan doa. Kita berdoa kepada Allah agar menjadi orang yang shalih, tapi shalat saja kita malas, tilawah Al Quran juga sangat jarang. Kita berdoa agar anak-anak kita menjadi anak-anak yang shalih/shalihah, tapi diri kita sendiri tidak memberikan contoh keshalihan kepada mereka.

Oleh karenanya, setiap doa-doa yang kita panjatkan, iringilah dengan amal perbuatan yang seiring sejalan dengan doa-doa kita. Kita berdoa agar negeri kita ini damai, rukun dan sejahtera, maka iringilah dengan amal perbuatan kita yang selaras seiring dengan doa kita itu. Bekerjalah dengan produktif, bersikaplah dengan penuh rasa persaudaraan.

Inilah salah satu spirit yang bisa kita petik dari perjalanan hidup Rasulullah Saw. untuk menghargai proses dalam kehidupan ini dan senantiasa menjadikan doa sebagai bagian penting dalam proses yang sedang kita jalani. Semoga Allah Swt. mengkaruniakan kedamaian dan kemakmuran untuk negeri kita, melindungi kaum muslimin dimanapun berada dan semoga kita termasuk umat nabi Muhamamd Saw. yang mendapatkan syafaatnya kelak di hari kiamat. Aamiin yaa Rabbal’aalamiin.[]

*Disarikan dari https://www.youtube.com/results?search_query=TGB+maulid

  

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.