Home Hikmah Iman dan Sabar

Iman dan Sabar

855
0
SHARE
Ust. Hanan Attaki

Oleh : Hanan Attaki

Keimanan dan kesabaran adalah satu paket yang tidak terpisahkan. Tidak disebut seseorang itu beriman kepada Allah Swt. jikalau dia tidak bersabar. Begitu juga orang yang mampu bersabar insyaaAllah dia termasuk orang yang beriman.

Allah Swt. berfirman di dalam Al Quran, “Wahai orang-orang yang beriman bersabarlah dan kuatkanlah kesabaranmu dan bersiap siagalah serta bertakwalah kepada Allah agar kamu beruntung.” (QS. Ali Imran [3]: 200).

Saudaraku, sesungguhnya iman itu bukanlah perkara ucapan semata. Jika hanya mengatakan “aku beriman” tentu itu sangat mudah, siapapun bisa mengatakannya. Akantetapi, iman bukanlah perkara ucapan semata. Iman itu ketetapan di dalam hati yang diikrarkan dengan lisan dan diwujudkan dengan amal perbuatan. 

Oleh karena itulah dalam ayat lain Allah Ta’ala mengingatkan kepada kita bahwa setiap ucapan keimanan yang diikrarkan oleh seseorang maka tentu Allah tidak akan membiarkannya begitu saja. Setelah ikrar keimanan itu akan didatangkan kepadanya ujian. Untuk apa ujian itu? Untuk membuktikan dan menguji kualitas keimanannya.

“Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan, “Kami beriman”, sedang mereka tidak diuji lagi? Dan sungguh, Kami telah menguji orang-orang sebelum mereka, maka Allah pasti mengetahui orang-orang yang benar dan pasti mengetahui orang-orang yang dusta.” (QS. Al Ankabut [29] : 2-3)

Ternyata tidaklah cukup membuktikan keimanan dengan ucapan saja. Melainkan, Allah akan menguji kebenaran dari ucapan kita itu melalui ujian demi ujian kehidupan. Nah, pada titik inilah kesabaran muncul. Orang yang sungguh-sungguh beriman kepada Allah Ta’ala maka dia akan bersabar dalam menghadapi berbagai ujian kehidupan. Sebaliknya, orang yang keimanannya masih sebatas lisan maka dia akan mudah berputus asa ketika berjumpa dengan ujian.

Ternyata, iman dan sabar betul-betul tidak terpisahkan. Maka, salah satu tanda orang beriman itu dia lebih tenang menyikapi kejadian dalam hidup ini. Dia jauh dari sikap-sikap emosional, jika kesal maka dia tidak akan mudah marah apalagi hingga meledak-ledak dan jika sedih atau kecewa maka dia tidak akan mudah menangis hingga meratap-ratap. Ia akan tenang dalam kesabaran karena ia yakin ada Allah yang Maha Kuasa atas segala sesuatu.

Para ulama banyak sekali menasihatkan kepada kita, “Laa taiasu, fainnal ya’s laisa min akhlaaqil mu’min”, janganlah engkau berputus asa karena sesungguhnya putus asa bukanlah bagian dari akhlak orang yang beriman kepada Allah. Orang beriman tidak akan mudah berputus asa, ia yakin bahwa setiap kenyataan hidup yang menimpa dirinya tidak pernah lepas dari kekuasaan Allah, oleh karenanya apapun yang terjadi dia akan tetap berpegang teguh kepada Allah dan berserah diri kepada-Nya. 

Apapun masalah kita, kalau ada iman yang kokoh di hati kita, yakin bahwa Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu, maka kita akan tetap punya harapan. Kita akan terus memperbaiki apa yang salah dari diri kita, kita akan terus ikhtiar memperbaiki apa yang kurang dari usaha yang sudah kita lakukan. Kita akan mencoba lagi dan mencoba lagi dengan doa yang tiada pernah terputus karena yakin Allah Maha Mengabulkan doa.

Jikapun pada akhirnya hasil berkata lain, tidak sesuai dengan keinginan kita, maka orang beriman akan mengatakan bahwa Allah Maha Tahu apa terbaik bagi hambanya, bahwa apa yang baik menurut kita belum tentu baik menurut Allah, namun apa yang baik menurut Allah dijamin itu yang terbaik bagi kita. 

Setiap hari berapa kali kita mengucapkan “Allahu Akbar”, Allah Maha Besar. Jika kita benar-benar yakin Allah Maha Besar, maka sebesar apapun masalah yang sedang kita hadapi, semua itu tiada artinya dibandingkan kemahabesaran Allah. Tidak ada masalah yang cukup besar di dunia ini jika ada sabar di hati kita.

Yang harus kita yakini bahwa ujian yang datang kepada kita itu merupakan wujud rasa sayang Allah kepada kita. Dengan ujian tersebut Allah ingin supaya derajat kita naik di hadapan-Nya. Rasulullah Saw. bersabda, “Sesungguhnya besarnya pahala tergantung dengan besarnya ujian. Sesungguhnya, apabila Allah mencintai suatu kaum, maka Dia akan mengujinya. Siapa yang ridha dengan ujian itu, maka ia akan mendapat keridhaan-Nya. Siapa yang membencinya maka ia akan mendapatkan kemurkaan-Nya.” (HR. Tirmidzi dan Ibnu Majah).

Iman dan sabar adalah dua hal yang tidak terpisahkan. Semoga kita termasuk orang-orang istiqamah dalam keimanan kepada Allah dan bersabar dalam menghadapi berbagai ujian hidup di dunia ini. Aamiin yaa Rabbal’aalamiin[]

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

three × two =

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.