Home Hikmah Puasa Punya Banyak Makna

Puasa Punya Banyak Makna

446
0
SHARE
Prof. Dr. Quraish Shihab

Oleh : Quraish Shihab

Bismillaahirrahmaanirrahiim.

Marilah kita senantiasa memuji Allah Swt. dan bersyukur kepada-Nya karena Allah masih memberikan kita kesempatan dan usia sehingga kita bisa kembali merasakan indahnya ibadah puasa Ramadhan pada tahun ini.

Puasa merupakan proses ibadah untuk meraih takwa. Takwa adalah satu kata yang hakikatnya menghimpun segala macam kebajikan. Kalau kita ingin merinci kata takwa ini maka secara singkat dalam konteks ibadah secara keseluruhan termasuk puasa, bertujuan mengingatkan manusia akan dua hakikat yang harus dihayatinya dalam kehidupan ini.

Pertama, bahwa manusia adalah makhluk dua dimensi. Manusia terdiri dari jasad dan ruh. Ibadah puasa dan semua ibadah hendaknya mengingatkan kita bahwa disamping kita perlu memberi perhatian kepada jasmani kita, kita juga wajib memberi perhatian serta mengasah dan mengasuh rohani kita. Inilah tujuan pertama dari semua ibadah, termasuk puasa.

Tujuan kedua, mengingatkan kita bahwa hidup bukan hanya sekarang dan di sini, tetapi hidup akan berlanjut hingga ke akhirat nanti, di sana dan sebentar lagi.

Selanjutnya, kalau kita mau merinci kedua tujuan tersebut, setiap kewajiban dan anjuran yang ditetapkan dalam konteks berpuasa mempunyai makna-makna yang dalam yang hendaknya mendapat perhatian kita. Sebagai contoh, kewajiban niat yang oleh sebagian ulama dikatakan harus dilaksanakan setiap hari sebelum terbitnya fajar. Niat dimaksudkan untuk bertekad melaksanakan puasa dengan aneka tuntunan dan sunah-sunahnya. Serta, sekaligus melakukan introspeksi terhadap pelaksanaan ibadah puasa yang telah kita lalui pada hari kemarin beserta ibadah lain yang menyertainya. Apa saja kekurangannya untuk kita sempurnakan dan apa saja kebaikannya untuk kita tingkatkan. Inilah fungsi niat.

Salah satu yang hendaknya diingat oleh setiap orang yang berpuasa bahwa dengan sukses berpuasa ia sebenarnya telah sukses untuk menghindarkan darinya paksaan kebiasaan-kebiasaan. Sebagai contoh, ada orang-orang yang terbiasa merokok yang tidak mampu berhenti merokok. Tetapi, dengan berpuasa ternyata ia mampu untuk berhenti merokok. Ini membuktikan bahwa sebenarnya manusia yang mempunyai tekad yang kuat akan mampu untuk menghindarkan diri dari kebiasaan-kebiasaan yang tidak sesuai dengan tuntunan agama atau tuntunan kesehatan.

Ini barulah sedikit dari sekian banyak hal yang harus kita lakukan dalam konteks ibadah puasa. Dengan berpuasa seseorang sebenarnya dituntut berupaya meneladani sifat-sifat Allah Swt. sesuai dengan kemampuannya sebagai manusia.

Allah tidak makan, Allah tidak minum, tidak memiliki pasangan. Dengan berpuasa, kita berusaha untuk meneladani sifat-sifat Allah itu sesuai dengan kemampuan kita sebagai manusia dalam kurun waktu tertentu yang Allah tetapkan sejak terbit fajar hingga terbenamnya matahari. Pada waktu-waktu tertentu ini kitapun tidak makan, tidak minum dan tidak berhubungan dengan pasangan bagi yang sudah menikah.

Di dalam surat Al Ikhlas terdapat ayat yang berbunyi, “Allaahush shamad”, apa arti Ash Shamad selain dari “tumpuan harapan”? Salah satu artinya adalah “tidak memiliki rongga”, sehingga tidak ada sesuatu apapun yang dapat masuk ke dalamnya, begitupun tidak ada sesuatu yang dapat keluar dari dalamnya. Nah, ini yang dijadikan oleh sebagian ulama untuk mengatakan bahwa Allah Swt. tidak makan karena tidak memiliki rongga, demikian juga Allah tidak mengeluarkan sesuatu karena Allah tidak memiliki rongga. Masih pada surat Al Ikhlas juga terdapat kalimat, “Lam yalid wa lam yuulad”, yang artinya Dia tidak beranak dan tidak pula diperanakkan.

Dengan berpuasa, kita makan dan tidak pula minum, tidak melakukan hubungan dengan pasangan bagi yang sudah menikah, kita sebenarnya sedang berusaha meneladani sifat-sifat Allah Swt. yang terkandung dalam dua kalimat tadi yaitu Ash Shamad dan Lam yalid wa lam yuulad. Kita berusaha memaknai sifat-sifat Allah Swt. ini dan berusaha meneladaninya sesuai dengan kemampuan kita, dari sejak terbitnya fajar sampai terbenamnya matahari selama satu bulan lamanya, 29 atau 30 hari.

Para pakar berkata bahwa 30 hari cukup untuk melakukan pembiasaan, dengan syarat setelah berlalu 30 hari tersebut kita harus tetap dalam lingkungan yang sesuai dengan apa yang diridhai oleh Allah Swt.

Saudaraku, ibadah puasa yang sedang kita laksanakan adalah salah satu cara pembentukan akhlak yang baik. Bagaimana bisa? Kita ketahui bahwa akhlak adalah kondisi kejiwaan yang menjadikan seseorang dapat melakukan sesuatu dengan mudah. Kalau sesuatu itu baik, maka akhlak yang dipampilkannya adalah akhlak yang luhur. Sedangkan kalau sesuatu itu buruk, maka akhlak yang ditampilkannya adalah akhlak yang buruk.

Dengan berpuasa, kita sedang berusaha untuk berakhlak meneladani sifat-sifat Allah Swt. Itulah salah satu makna dari sabda Rasulullah Saw. yang dinisbahkan kepada Allah Swt. dalam sebuah hadits qudsi, “Puasa itu adalah untuk-Ku dan Aku sendiri yang akan membalasnya”, artinya ibadah puasa itu adalah ibadah untuk meneladani sifat-sifat Allah Swt.

Masih banyak sifat-sifat Allah yang harus kita teladani dalam rangka membina akhlak mulia di dalam diri kita. Dan, semoga pada Ramadhan kali ini kita berhasil menjadi manusia yang mampu terlahir sebagai manusia terpuji yang memancarkan kemuliaan akhlak sebagai buah dari ikhtiar meneladani sifat-sifat Allah Swt. Aamiin yaa Rabbal’aalamiin.[]

 

*Sumber : https://www.youtube.com/watch?v=TkpIw3KMsv0, https://www.youtube.com/watch?v=jpVZvPeR_mY

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

two × 1 =

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.