Home Hikmah Tujuh Sebab Diri Kurang Berkembang

Tujuh Sebab Diri Kurang Berkembang

288
0
SHARE
KH. Abdullah Gymnastiar

Oleh : Abdullah Gymnastiar

Alhamdulillah. Segala puji hanya milik Allah Swt. Semoga Allah Yang Maha Baik menjadikan kita hamba-hamba-Nya yang senantiasa dilimpahi taufik dan hidayah-Nya. Shalawat dan salam semoga selalu tercurah kepada sang kekasih Allah, baginda nabi Muhammad Saw.

Saudaraku, salah satu ciri dari umat nabi Muhammad Saw. adalah memiliki semangat yang istiqamah meningkatkan kualitas dirinya. Baik dari segi keimanan di dalam hatinya, segi praktik ibadahnya, maupun segi kapasitas kemampuan atau keterampilan dirinya dalam urusan duniawi.

Semakin berkembang kualitas dan kemampuan seseorang, maka akan semakin terbuka pula jalan keberuntungan baginya di dunia maupun akhirat. Akan tetapi tidak sedikit orang yang sulit berkembang disebabkan beberapa faktor. Berikut ini akan kita kaji bersama beberapa penyebab sulitnya seseorang untuk berkembang.

Pertama, merasa puas dengan apa yang ada pada dirinya. Padahal apa yang sementara ini ada di dalam dirinya itu tidak memadai untuk menghadapi berbagai persoalan yang semakin hari semakin berkembang.

Kedua, bergaul hanya dengan orang yang kemampuannya di bawah dirinya sehingga ia selalu dipuji dan diandalkan. Dalam kondisi demikian, maka ia akan terjebak pada penyakit ujub, merasa diri hebat. Padahal dalam sebuah hadits, Rasulullah Saw. bersabda, Tiga hal yang membinasakan; Kekikiran yang diperturutkan, hawa nafsu yang diumbar dan kekaguman seseorang pada dirinya sendiri (ujub).” (HR. Thabrani)

Ketiga, pendengki. Seorang pendengki ketika melihat kelebihan orang lain maka yang hadir di dalam hatinya hanya rasa ketidaksukaan. Hatinya akan penuh dengan kebencian. Padahal setiap kali Allah Swt. takdirkan kita melihat kelebihan orang lain, maka itu adalah sebagai pemacu motivasi dari Allah agar kita pun bisa ikut berkembang.

Dengki adalah sifat yang sangat berbahaya dan merugikan. Selain mengotori hati, dengki membuat hidup seseorang menjadi tidak produktif. Karena ia sibuk dengan kebencian di dalam hatinya sendiri, sibuk memperhatikan kemajuan orang lain tanpa memperbaiki dirinya sendiri. Akhirnya emosinya terkuras dan energinya habis hanya untuk urusan seperti itu, tanpa menghaslkan prestasi apa-apa.

Kerugian karena dengki tidak sampai di sana. Rasulullah Saw. bersabda, “Jauhilah oleh kalian hasad (iri dengki) karena ia akan memakan kebaikan-kebaikan, sebagaimana api memakan kayu bakar.” (HR. Abu Daud)

Keempat, tidak memiliki cita-cita besar dalam hidup. Seseorang sangat dipandu dan digerakkan oleh cita-cita dan keinginannya. Orang yang sangat ingin menjadi bermanfaat banyak dalam hidup yang hanya sekali di dunia ini, maka ia akan termotivasi. Ia akan terpacu untuk memberi lebih banyak manfaat bagi orang lain dan lingkungannya. Atau minimal, ia pantang menjadi beban atau menyusahkan orang lain.

Sedangkan bagi orang yang tidak memiliki cita-cita seperti itu, cenderung tidak memiliki motivasi, hidupnya seperti tanpa arah. Jikapun terlihat sibuk, maka kesibukannya tidak memiliki target yang jelas dan pencapaiannya pun tidak terukur. Yang lebih menyedihkan lagi adalah ketika dia malah lebih banyak menyusahkan orang lain. Orang yang demikian akan sulit untuk berkembang.

Kelima, oang yang memiliki kesombongan di dalam hatinya. Rasulullah Saw. menyampaikan ciri-ciri orang yang sombong dalam salah satu haditsnya, “Sombong adalah menolak kebenaran dan meremehkan orang lain.” (HR. Muslim)

Orang yang sombong akan sulit untuk memeriksa dirinya sendiri, sehingga sulit baginya untuk melihat kekurangan dirinya apalagi untuk mengoreksi dan memperbaikinya. Ia tidak akan memiliki rencana yang terprogram untuk mengembangkan dirinya. Ia hanya sibuk meremehkan orang lain yang berprestasi, tidak menghargai setiap hasil karya dan pekerjaan orang lain. Baginya, hanya dirinyalah yang patut dipandang hebat dan dihargai.

Keenam, kurang disiplin. Orang yang kurang disiplin biasanya hanya semangat di awal, sedangkan pada perjalannya ia akan mudah sekali merasa bosan. Jika sudah muncul rasa bosan maka semangatnya berganti menjadi malas. Sedikit saja menemui kesulitan, maka ia akan mudah saja untuk menghindar, bukan menghadapi dan menyelesaikannya.

Padahal hanya semangat di awal saja tidak cukup untuk bisa berkembang. Perlu kegigihan dan keuletan yang tak kenal menyerah sampai target tercapai. Bahkan jika bisa melebihi target yang direncanakan.

Ketujuh, orang yang riya’. Yaitu orang yang melakukan suatu pekerjaan demi mendapat pujian orang lain. Orang yang demikian memiliki daya tahan yang lemah dan mudah rapuh ketika setelah ia bekerja tidak ada orang lain yang memujinya. Orang yang demikian sulit berkembang karena yang ia kejar hanya pujian sekejap mata yang sesungguhnya tiada artinya.

Saudaraku, bagi orang yang beriman, memperbaiki dan mengembangkan diri adalah amal yang wajib dilakukan karena setiap waktu yang dijalani adalah amanah Allah Swt. yang harus dipertanggungjawabkan dengan cara mengisinya dengan amal terbaik. Semoga kita bisa mewaspadai ketujuh faktor di atas sehingga kita termasuk orang-orang yang mampu mengembangkan diri sebagai wujud rasa syukur kepada Allah Swt. Aamiin yaa Rabbal ‘aalamiin.[]      

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

seven − 3 =

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.