Home Hikmah Ketika Musibah Datang

Ketika Musibah Datang

322
0
SHARE
Ust. Abdul Somad, Lc., MA.

Oleh : Abdul Somad

Bismillaahirrahmaanirrahiim.

Jangankan harta kita, jangankan jabatan kita, jangankan kendaraan kita, jangankan popularitas kita, bahkan diri kita pun adalah milik Allah Swt. Bukan milik kita sendiri. Jika Allah Swt. yang memiliki kita, maka sesungguhnya Dia berhak dan berkuasa mengambilnya kembali kapan saja dan dimana saja.

Oleh karenanya, salah satu sebab yang membuat manusia merasa sangat kehilangan adalah karena merasa memiliki. Dia merasa hartanya miliknya, dia merasa segala kekayaan yang sekian lama ia kumpulkan itu adalah miliknya, dia merasa anaknya adalah miliknya, dia merasa bahwa dirinya adalah miliknya. Kalau orang sudah terlampau merasa memiliki, maka ia akan sangat dekat dengan kekecewaan. Karena segala sesuatu yang ia kira miliknya itu akan lepas dari genggamannya, akan pergi meninggalkannya.

Maka, janganlah merasa memiliki secara mutlak. Betul bahwa nama yang kita miliki itu sertifikatnya atas nama kita, betul kendaraan yang kita pakai sehari-hari itu surat-suratnya atas nama kita, betul anak yang kita cintai itu akta kelahirannya sah kita adalah orangtuanya. Namun, penting untuk selalu kita sadari bahwa semua itu adalah titipan dari Allah Swt.

Karena semua itu adalah titipan, maka sesungguhnya kita ini adalah hanya tukang jaga saja. Seperti tempat penitipan barang di masjid atau di supermarket, barang-barang yang dititip kepada kita adalah mirik mereka dan peran kita di sana hanya sebagai penjaga saja. Sementara jika mereka datang dan hendak mengambilnya maka tentu kita akan menyerahkannya kembali dengan penuh sukarela. Tidak mungkin kita marah tatkala mereka datang mengambil barang-barang mereka.

Seperti itulah pula segala yang kita sangka milik kita. Anak, istri, suami, rumah, mobil, motor, jabatan, semua itu titipan dari Allah Swt. Jangan sampai kita salah sangka. Mari kita renungi salah satu petikan ayat di penghujung surat Al Baqarah, “Lillaahi maa fissamaawaati wal ardh”, kepunyaan Allah-lah segala apa yang ada di langit dan di bumi. (QS. Al Baqarah [2] : 284)

Apa yang ada di seluruh alam ini, termasuk yang ada dalam genggaman kita ini, bukanlah milik kita. Semua ini hanya titipan, semua ini milik Allah Swt. Kalau kita mengira yang ada di genggaman kita ini milik kita, ketika ia hilang maka kita akan mudah depresi.

Jika kita kehilangan anak karena suatu sebab, boleh kita sedih, wajar, tapi tidak usah kita meratapi kepergiannya, tidak usah kita sampai berhari-hari tenggelam dalam kepiluan. Mengapa? Karena kematian adalah ranah kekuasaan Allah dan anak kita adalah milik Allah. Bukankah kita pun sedang menunggu giliran untuk dijemput oleh malaikat maut?

Sikap terbaik yang akan dilakukan oleh orang beriman ketika kehilangan orang yang dicintainya adalah semakin mendekat kepada Allah, Dzat Yang Maha Memiliki. Berdoa kepada Allah, mohonkan ampunan untuknya dan untuk kita. Perbaiki diri dan kualitas ibadah kita. Karena sesungguhnya hidup di dunia ini sungguh sangat sebentar saja. Allah Maha Kuasa mengumpulkan kembali dengan anak kita atau dengan orangtua kita, atau dengan istri/suami kita di tempat yang jauh lebih indah daripada dunia ini. Sebuah tempat yang tidak akan ada lagi sakit, kematian, kesedihan, rasa kehilangan. Suatu tempat yang hanya diliputi oleh kebahagiaan selamanya. Itulah surga milik Allah Swt.

Ketika kita melihat kematian, jangan pernah kita berpikir betapa Allah tidak sayang kepada kita karena telah memisahkan kita dengan orang yang kita cintai. Karena sesungguhnya rasa sayang manusia sangatlah terbatas. Coba pikirkan, berapa lama rasa sayang manusia bisa bertahan dalam satu hari? Akan ada saatnya ia sibuk dengan pekerjaannya sehingga lupa dengan orang yang dia sayangi. Bahkan tidak sedikit orang yang awalnya saling menyayangi, berjanji saling menjaga, tapi kemudian mereka berbalik jadi saling menjauhi bahkan membenci.

Allah Swt. berfirman, “Dan janganlah kamu mengatakan terhadap orang-orang yang gugur di jalan Allah, (bahwa mereka itu ) mati; bahkan (sebenarnya) mereka itu hidup, tetapi kamu tidak menyadarinya. Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar.” (QS. Al Baqarah [2] : 154-155)

Maka, tugas kita adalah menjaga titipan Allah Swt. Jagalah keluarga kita dari api neraka, bombing mereka agar menjadi orang-orang yang mencintai Allah sehingga Allah pun mencintai mereka. Sehingga ketika Allah mengambil mereka kembali dari kita, sesungguhnya Allah lebih mencintai mereka, juga mencintai kita dengan memberi ujian yang bisa menaikkan derajat kita di hadapan-Nya.

Jadilah orang-orang yang sabar tatkala datang musibah kepada kita. Jadilah orang-orang yang seperti Allah jelaskan dalam Al Quran yaitu orang yang mengucapkan “Inna lillaahi wa innaa ilaihi raaji’uun” ketika musibah datang. Karena inilah ciri orang yang, “Mereka itulah yang mendapat keberkatan yang sempurna dan rahmat dari Tuhan mereka dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk.” (QS. Al Baqarah [2] : 157)

Saudaraku, semoga Allah Swt. senantiasa melimpahi petunjuk kepada kita. Sehingga kita menjadi hamba yang senantiasa tawakal kepada-Nya. Hamba yang mampu bersabar tatkala musibah datang. Semoga Allah Swt. mengumpulkan kembali kita bersama orang-orang yang kita kasihi di surga-Nya. Aamiin ya Rabbal’aalamiin.[]

 

*Disarikan dari rekaman ceramah Ust. Abdul Somad, Lc. MA. pada chanel Youtube yang dipublikasikan oleh Islam Daily pada 01 Agustus 2018.

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

nineteen − 13 =

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.