Home Hikmah Kerja Adalah Ibadah

Kerja Adalah Ibadah

401
0
SHARE
Kang Rasyied

Oleh : Kang Rashied

Bismillaahirrahmaanirrahiim.

Dengan bekerja, sebenarnya kita sedang mengamalkan ajaran baginda Nabi Muhammad Saw., karena beliau juga bekerja. Dengan bekerja, sebenarnya kita sedang ikhtiar menjauhkan diri dari meminta-minta. Karena Rasulullah Saw. dalam salah satu haditsnya bersabda, “Tangan yang di atas lebih baik daripada tangan yang di bawah. Dan, mulailah dari orang yang menjadi tanggunganmu. Dan, sebaik-baik sedekah adalah yang dikeluarkan dari orang yang tidak membutuhkannya. Barangsiapa menjaga kehormatan dirinya maka Allah akan menjaganya dan barangsiapa yang merasa cukup maka Allah akan memberikan kecukupan kepadanya.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Dengan bekerja, maka kita akan mendapatkan penghasilan yang dengan penghasilan tersebut kita bisa memberi bukan menerima atau meminta-minta. Tangan yang di atas menjadi simbol memberi, sedang tangan di bawah menjadi simbol menerima atau meminta.

Dengan bekerja, maka sebenarnya kita sedang bersyukur kepada Allah Swt. Karena ketika kita bekerja kita sedang menggunakan akal pikiran kita, mata, telinga tangan kita, kaki kita, yang mana kesemuanya itu adalah pemberikan dari Allah Swt. Sebaliknya, jika kita malas bekerja maka kita mengkufuri semua pemberian Allah itu.

Semua itu jika diniatkan karena Allah Swt. maka akan bernilai ibadah. Sebagai seorang muslim tentu kita akan menjadikan setiap lini dalam kehidupan kita sebagai jalan mendapatkan ridha Allah Swt., termasuk pada pekerjaan kita.

Bekerja adalah ibadah. Rasulullah Saw. adalah seorang yang sejak masa mudanya melakukan ikhtiar untuk kemandirian. Beliau pernah menjadi seorang penggembala, kemudian pernah juga berdagang dengan mendagangkan barang milik orang lain, kemudian pernah juga menjadi seorang pebisnis. Dalam sebuah hadits Rasulullah Saw. bersabda, “Tidaklah seorang (hamba) memakan makanan yang lebih baik dari hasil usaha tangannya (sendiri), dan sungguh Nabi Daud ‘alaihissalam makan dari hasil usaha tangannya (sendiri).” (HR. Muslim)

Bekerja yang menjadi ibadah adalah bekerja yang terjadi karena perpaduan usaha yang lurus dan niat yang lurus. Inilah kerja atau usaha yang disebut sebagai ikhtiar. Kalau kerja hanya kerja, maka orang kafir juga bekerja. Kalau usaha hanya usaha, maka hewan juga berusaha mendapatkan makanannya. Yang membedakan seorang muslim dengan orang kafir atau dengan makhluk lain dalam urusan kerja atau usaha adalah seorang muslim kerja dengan niat meraih ridha Allah Swt.

Bekerja boleh apa saja. Profesi bisa apa saja. Namun, sebagai seorang muslim, pastikan bahwa yang kita lakukan memiliki efek kebaikan bagi kemaslahatan umat. Pastikan bahwa yang kita lakukan selamat dari kecurangan. Pastikan bahwa yang kita lakukan adalah bentuk tanggungjawab atas amanah jabatan dan tugas yang kita pikul. Pantang bagi seorang muslim untuk khianat saat bekerja. Pantang bagi seorang muslim korupsi saat bekerja. Seorang muslim hanya fokus pada yang halal dan menjauhkan diri dari yang haram.

Ada sebuah ungkapan yang maknanya sangat dalam dari Syaikh Ibnu Athaillah ra., “Sawaabiqul himaami laa tahriku aswaaral aqdaari. Hasrat atau cita-cita kalian yang tinggi itu tidak akan pernah merobohkan dinding takdir.”

Makna dari kalimat ini adalah bahwa sekeras apapun usaha yang kita lakukan untuk menggapai cita-cita kita, semua itu tidak akan pernah melompati takdir yang sudah Allah tetapkan untuk kita. Maka, mungkin ada yang bertanya, jika takdir sudah ditetapkan maka untuk apa kita berusaha?

Saudaraku, di antara manusia ada yang berpikir bahwa Allah sudah menjamin rezeki manusia, maka tidak perlu lah bekerja karena Allah sudah menjamin semua, nanti rezeki datang sendiri. Di seberang itu ada juga sekelompok manusia yang berpikir bahwa segala sesuatu bisa diraih dengan kekuatan sendiri, tidak ada keterlibatan Allah. Inilah dua kutub pemikiran ekstrim manusia, dan keduanya keliru.

Kembali kepada kalimat Syaikh Ibnu Athaillah, kalimat ini memiliki tiga makna.

Makna pertama, seluruh kehidupan ini diatur oleh takdir Allah Swt. Takdir itu berasal dari kalimat qadara, yaqdiru, taqdiran, artinya ukuran. Yang menjadi contoh takdir Allah itu adalah api panas, air dingin, ikan hidup di air, burung bisa terbang, matahari terbit dari timur terbenam di barat, ada malam ada siang, ada laki-laki ada perempuan.

Makna kedua, takdir itu cara pandang batin, sedangkan ikhtiar itu cara pandang lahir. Takdir itu bisa terjadi kalau ada syariatnya atau jalannya. Menjadi seorang perempuan adalah takdir. Salah satu ciri dari perempuan adalah bisa mengandung dan melahirkan. Maka, jalan menuju kepada takdir tersebut adalah dengan pernikahan dan perkawinan.

Makna ketiga, takdir itu wilayah Allah, tapi ikhtiar itu wilayah kita. Dalam sebuah hadits Rasulullah Saw. bersabda, “Antum a’lamu bi umuurid dunyakum. Kalian lebih mengerti urusan dunia kalian.” (HR. Muslim). Dalam urusan mengusahakan, maka inilah ranah bagi manusia. Dengan cara seperti apa, dengan strategi yang bagaimana, dengan metode yang mana, inilah bagian manusia. Adapun Allah, Allah yang mentakdirkan berhasil atau tidak.

Allah Swt. menjamin seluruh makhluk dengan kecukupan rezeki, ini adalah takdir. Sementara makhluk bekerja, berusaha, berikhtiar untuk menjemput rezeki tersebut. Sebesar apakah rezeki yang akan didapatkan, sebanyak apakah rezeki yang akan diperoleh, apakah sesuai dengan harapannya ataukah tidak, ini bukanlah ranah makhluk. Oleh karenanya, yang menjadi bahan penilaian bagi Allah Swt. atas diri manusia adalah amalnya, ikhtiarnya, upayanya. Apakah seseorang bekerja dengan jujur atau curang, apakah dia amanah atau khianat, inilah yang menjadi penilaian Allah atas diri kita.

Maka, bekerja yang menjadi ibadah itu tidaklah diukur dari besar atau kecilnya pencapaian yang diraih oleh kita. Bukan pada berapa miliar uang yang didapatkan, tapi bagaimana cara kita mendapatkannya, disitulah area ibadah kita. Kita gagal, padahal upaya kita sudah baik dan benar, cara kita sudah jujur dan amanah, maka tetap bernilai besar di hadapan Allah dan pasti akan Allah ganjar dengan ganjaran kebaikan. Kita sukses mendapat harta yang berlimpah, tapi didapat dengan cara yang kotor, curang, bohong, manipulatif, maka tetap bernilai buruk di hadapan Allah dan pasti ada balasannya bagi kita.

Tugas kita adalah meluruskan niat dalam bekerja, menjaga kebersihan dan kesucian amal kita dalam bekerja dari keburukan. Bersungguh-sungguh dalam menyusun rencana dan menjalankannya. InsyaaAllah kerja kita menuai hasil dan bernilai ibadah.

Saudaraku, Allah takdirkan kita menjadi manusia lengkap dengan segala potensinya. Allah juga takdirkan kita mendapatkan jatah rezeki yang terjamin di dunia ini. Tugas kita sekarang adalah berikhtiar menjemputnya dengan cara-cara yang Allah ridhai, sehingga bekerja kita menjadi bernilai ibadah di hadapan Allah Swt., tidak hanya untuk kesuksesan di dunia namun juga kebahagiaan di akhirat nanti. Wallaahua’lam bishawab.[]

 

*Disarikan dari https://www.youtube.com/watch?v=hq_XVGcgTgs.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

eighteen + 5 =

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.