Home Hikmah Cara Nabi Menghadapi Hoax

Cara Nabi Menghadapi Hoax [2]

337
0
SHARE
Haris Muslim Lc., MA

Oleh : Haris Muslim

Peristiwa ketiga, ini adalah peristiwa yang paling besar, terjadi pada tahun 6 Hijriyyah. Yaitu, ketika muncul berita bohong yang menimpa istri Rasulullah Saw., Aisyah ra. Saat itu Aisyah ikut dalam rombongan Rasulullah Saw. namun di tengah perjalanan rombongan ini beristirahat. Saat rombongan melanjutkan perjalanan, Aisyah ra. merasa bahwa kalungnya tertinggal dan belum diketahui di mana kalung tersebut berada. Maka, Aisyah ra. pun mencari kalungnya.

Sayangnya, para sahabat mengira bahwa Aisyah ra. sudah berada di dalam tandunya yang tertutup. Saat rombongan ini berangkat, tandu itu turut dibawa juga. Padahal, Aisyah ra. belum berada di dalamnya karena masih mencari kalungnya. Aisyah pun tertinggal.

Sementara dalam rombongan ini, Rasulullah Saw. menugaskan seorang sahabat bernama Shafwan bin Mu’athal ra. sebagai petugas ‘sapu jagat’, yang tugasnya menyisir bagian belakang rombongan untuk memastikan bahwa tidak ada bagian dari rombongan ini yang tertinggal karena suatu masalah.

Betapa kaget Shafwan ketika dia menyisir jejak rombongan ia menemukan Aisyah ra. tertinggal. Tiada sepatah katapun yang diucapkan oleh keduanya kecuali Shafwan yang mengucapkan, “Innaalillaahi wa innaa ilaihi raajiun”, karena betapa terkejutnya ia. Maka, Shafwan mempersilakan Aisyah ra. menunggangi kudanya, sedangkan dia berjalan kaki sampai Madinah.

Setibanya di Madinah, orang-orang munafik menyaksikan keadaan itu. Tidak lama kemudian tersiarlah berita bahwa ada skandal antara Shafwan dan Aisyah ra. Akibat berita bohong ini stabilitas masyarakat Madinah pun tergoncang. Tidak hanya para sahabat, bahkan Rasulullah Saw. pun sempat terpengaruh perasaaannya, bukan karena beliau percaya pada berita itu tapi karena betapa derasnya berita bohong itu beredar di Madinah.

Rasulullah Saw. sangat menyayangi istrinya, Aisyah ra. Namun, beliau juga manusia biasa yang memiliki perasaan dan peristiwa ini sempat membuat perasaan beliau terusik. Sampai-sampai Aisyah ra. pernah berkata, “Tiada yang berubah pada diri Rasulullah Saw. karena peristiwa itu kecuali satu hal yaitu aku tidak menemukan kelembutan yang biasa aku temukan pada diri beliau.”

Rasulullah Saw. tentu bertindak dengan cara mencari informasi yang sesungguhnya. Beliau bertanya kepada para sahabat tentang kebenaran berita itu, namun karena tidak ada satupun sahabat yang menyaksikan kejadiannya maka para sahabat hanya mampu menyatakan keyakinan mereka bahwa Aisyah ra. ada dalam kebenaran. Salah satunya yang ditanya oleh Rasulullah Saw. adalah seorang wanita yang sudah sekian lama membantu keperluan Aisyah ra. yaitu Burairah. Dan, Burairah pun sama pandangannya dengan para sahabat.

Sayang sekali tidak ada seorang pun yang menyaksikan peristiwa itu. Sampai akhirnya Allah Swt. menurunkan wahyu yang tercantum dalam surat An Nur ayat 11 sampai 20. Dalam ayat yang panjang ini Allah Swt. memberikan petunjuk bahwa berita yang dihembuskan oleh orang-orang munafik itu bohong dan Aisyah ra. benar.

Hikmah dari ketiga peristiwa ini adalah bahwa berita bohong senantiasa ada pada setiap zaman. Ketika berita bohong tersebar, biasanya bisa mengguncang stabilitas masyarakat. Jika pada zaman Rasulullah Saw. saja berita bohong itu ada, maka apalagi di zaman kita yang mana informasi dan komunikasi sudah sangat cepat bergulir. Perkembangan teknologi tentu baik. Namun, ada sisi buruknya manakala informasi yang datang tidak kita saring terlebih dahulu.

Apa yang Rasulullah Saw. tatkala mendapatkan sebuah berita? Ternyata Rasulullah Saw. melakukan tabayun, klarifikasi, bertanya. Secara pribadi tentu Rasulullah Saw. sempat terpengaruh oleh berita-berita bohong tersebut di atas, namun akal pikiran beliau tetap sehat terjaga dan berupaya mencari kebenaran.

Allah Swt. berfirman, “Wahai orang- orang yang beriman, jika ada seorang fasiq datang kepada kalian dengan membawa suatu berita penting, maka tabayyunlah (telitilah dulu), agar jangan sampai kalian menimpakan suatu bahaya pada suatu kaum atas dasar kebodohan, kemudian akhirnya kalian menjadi menyesal atas perlakuan kalian.” (QS. Al Hujurat [49]:6)

Tidak sedikit permusuhan, perkelahian bahkan pertumpahan darah yang terjadi di antara manusia yang disebabkan sebuah berita bohong. Inilah salah satu fitnah di antara banyak fitnah pada zaman ini. Umat Islam saat ini seringkali diuji dengan berita-berita yang tidak jelas kebenarannya, namun akibatnya begitu meresahkan.

Oleh karenanya, setiap kali mendapatkan berita yang begitu mudahnya sampai di tangan kita, janganlah buru-buru disebarkan. Teladanilah akhlak Nabi Muhammad Saw. di mana beliau senantiasa menelitinya, menanyakannya, mencari kebenarannya. Jika salah, jelas jangan disebarkan. Jikapun berita itu benar, maka bertanyalah pada diri sendiri apakah baik atau tidak jika disebarkan, karena tidak setiap berita yang benar itu baik untuk disebarkan.

Selain itu, Allah Swt. juga berfirman, “Jauhilah oleh kalian dari kebanyakan persangkaan, sesungguhnya sebagian persangkaan adalah dosa.” (QS. Al Hujurat [49] : 12)

Inilah pedoman yang Rasulullah Saw. ajarkan kepada kita dalam menyikapi berita yang datang. Rasulullah Saw. juga mengajarkan kepada kita untuk tidak mengolok-olok suatu kaum atau mereka yang ada dalam berita yang sampai kepada kita. Allah Swt. berfirman, “Hai orang-orang yang beriman, janganlah suatu kaum mengolok-olok kaum yang lain (karena) boleh jadi mereka (yang diolok-olok) itu lebih baik dari mereka (yang mengolok-olok)..” (QS. Al Hujurat [49] : 11).

Tidak perlu kita berkomentar negatif terhadap orang-orang yang disebutkan dalam sebuah berita dengan pemberitaan yang buruk. Apalagi jika ternyata beritanya tidak benar. Jika pun beritanya benar, mengolok-olok mereka tidak akan membuat mereka berubah menjadi lebih baik. Sikap yang lebih utama adalah mendoakan kebaikan bagi mereka.

Semua kajian mengenai sikap terhadap berita ini bermuara pada satu hal yang sangat mendasar yaitu kejujuran. Inilah nilai terpenting yang Rasulullah Saw. ajarkan. Hampir semua syariat yang dibawa oleh Rasulullah Saw. mengajarkan nilai kejujuran. Ketika kita batal di dalam shalat, tidak ada orang lain yang tahu, namun kita akan balik badan untuk wudhu dan kembali bergabung ke dalam jamaah shalat. Begitu juga shaum, tidak ada orang lain yang tahu secara pasti kita sedang shaum, hanya kita dan Allah Swt. yang mengetahui.

Rasulullah Saw. bersabda, “Alaikum bishshidqi, fa innaa shidhqa yahdii ilal birri, wa innal birraa yahdii ilal jannah, berperilaku jujurlah kalian karena kejujuran itu akan membawa kepada kebaikan dan kebaikan akan membawa ke surga.” Kebaikan dalam hadits ini disebut dengan Al Birr, dan Ragib Al Asfahani menerangkan bahwa Al Birr adalah satu kalimat yang meliputi segala jenis kebaikan.

Demikianlah panduan Rasulullah Saw. untuk kita dalam menyikapi segala bentuk berita di zaman yang penuh dengan kemajuan teknologi informasi dan komunikasi. Semoga menjadi pelajaran bagi kita untuk mengamalkan akhlaqul karimah dalam menyikapi pemberitaan.[]

 

*Disarikan dari rekaman khutbah Jumat Ust. Haris Muslim, MA. pada chanel Youtube di masjid Salman ITB, yang dipublikasikan oleh Salman TV pada 23 Desember 2018.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

three × three =

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.