Home Hikmah Cara Nabi Menghadapi Hoax

Cara Nabi Menghadapi Hoax [1]

460
0
SHARE
Haris Muslim Lc., MA.

Oleh : Haris Muslim

Bismillaahirrahmaanirrahiim.

Jaman sekarang ini, di tengah perkembangan teknologi informasi dan komunikasi yang sangat pesat, kita menyaksikan banyak sekali informasi yang datang begitu deras hingga cukup sulit membedakan mana berita yang benar dan mana berita yang bohong. Perlu kebijaksanaan dan kecermatan kita dalam mencerna setiap berita yang datang, apalagi jikalau berita tersebut hendak kita sebarkan lagi kepada orang lain.

Mengenai berita bohong atau populer dikenal dengan istilah hoax, sebenarnya tidak hanya pada zaman kita saja terjadi, melainkan sudah banyak terjadi sejak zaman dahulu termasuk pada zaman Nabi Saw. Pada kesempatan kali ini setidaknya ada tiga peristiwa yang bisa kita jadikan bahan pembelajaran.

Peristiwa pertama, adalah ketika perang Uhud pada tahun 3 Hijriyyah. Peristiwa ini terjadi di sekitar gunung Uhud di dekat kota Madinah Al Munawarah. Perang ini terjadi antara kaum muslimin yang dipimpin oleh Nabi Muhammad Saw. menghadapi pasukan kaum kafir Quraisy yang menyimpan dendam akibat kekalahan telak pada perang Badar di tahun 2 Hijriyyah.

Pada perang Uhud ini, kekuatan pasukan Quraisy sebesar 3.000 orang, sedangkan pasukan kaum muslimin 1.000 orang. Tetapi, di tengah perjalanan 300 orang dari pasukan kaum muslimin membelot, mengikuti orang-orang munafik yang dipimpin oleh Abdullah bin Ubay bin Salul.

Singkat cerita, dalam perang ini pasukan kaum muslimin hampir saja meraih kemenangan. Rasulullah Saw. menugaskan 50 orang pasukan pemanah untuk tetap berada di posisinya di atas bukit Ar Rumat atau bukit pemanah. Ketika pasukan pemanah ini menyaksikan bahwa pasukan kaum muslimin sudah hampir bisa dipastikan menang dan mereka melihat berlimpahnya harta yang ditinggalkan pasukan Quraisy, maka mereka berpikir bahwa perang sudah selesai dan tanpa ada komando dari Rasulullah Saw. mereka turun untuk mengambil harta itu.

Ketika itulah pasukan Quraisy di bawah komando Khalid bin Walid, sebelum memeluk Islam, bergerak memutar dan menyerang balik pasukan kaum muslimin yang sedang lengah. Maka meletuslah kembali pertempuran sengit sampai-sampai Rasulullah Saw. terluka, giginya tanggal, pelipisnya berdarah. Dan, ketika itu tersebar berita bahwa Rasulullah Saw. telah meninggal dunia.

Pasukan kaum muslimin ketika itu berada di tengah kegetiran yang mencekam. Di saat banyak para sahabat syahid seperti Hamzah bin Abdul Muthalib dan Mus’ab bin Umair, tersebar pula berita bahwa Rasulullah Saw. telah syahid. Betapa ini menjadi tekanan psikologis yang sangat berat bagi kaum muslimin. Padahal berita tersebut tidak benar.

Peristiwa kedua, terjadi pada tahun 6 Hijriyyah. Rasulullah Saw. bersama para sahabat berniat melaksanakan ibadah Umrah ke Mekkah. Jumlah jamaah kaum muslimin kala itu ribuan orang. Sebelum berangkat, Rasulullah Saw. mengirim utusan ke Mekkah untuk mencari tahu apakah warga di Mekkah sudah mengetahui tentang rencana rombongan umrah ini ataukah belum.

Singkat cerita, Rasulullah Saw. dan para sahabat pun berangkat menuju Mekkah. Tetapi, di tengah jalan sekitar 20 km dari Mekkah yaitu di satu tempat bernama Hudaibiyyah, rombongan umrah ini dihalangi oleh orang-orang Quraisy dan dilarang untuk memasuki Mekkah. Padahal Rasulullah Saw. dan jamaah sudah mengenakan pakaian ihram. Ada apa gerangan?

Ternyata, kaum kafir Quraisy di Mekkah mendengar berita bahwa kedatangan Rasulullah Saw. dan rombongan yang besar ini adalah untuk menaklukan mereka. Padahal Rasulullah Saw. dan para sahabat datang ke Mekkah untuk ibadah umrah. Melihat keadaan ini, Rasulullah Saw. mengutus Utsman bin Affan ra. untuk bernegosiasi dengan para pemimpin kafir Quraisy di Mekkah. Begitu juga dari kota Mekkah datang utusan untuk menemui Rasulullah Saw. untuk bernegosiasi.

Dari negosiasi ini tercetuslah perjanjian Hudaibiyyah yang beberapa poinnya dirasakan oleh para sahabat memberatkan kaum muslimin. Seperti poin bahwa kaum muslimin baru bisa menunaikan umrah pada tahun berikutnya bukan pada tahun itu. Juga ada poin bahwa orang Islam yang ada bersama kaum kafir Quraisy tidak diperbolehkan bergabung dengan Rasulullah Saw., sedangkan orang kafir Quraisy yang berada di tengah kaum muslimin diperbolehkan bergabung dengan mereka. Selain itu ada juga kesepakatan genjatan senjata selama 10 tahun. Meski ada beberapa poin yang dirasa memberatkan namun penjanjian itu ditandatangani oleh Rasulullah Saw. dan tentu saja beliau sangat memahami makna dari perjanjian ini.

Ketika perjanjian tersebut selesai ditandatangani, datanglah berita bahwa Utsman bin Affan ra. yang sedang berada di Mekkah dibunuh. Berita ini tentu membuat kaum muslimin emosi dan terguncang. Maka, seketika itu Rasulullah Saw. mengumpulkan kaum muslimin di bawah satu pohon yang disebut pohon Ridwan. Tujuan Rasulullah Saw. mengumpulkan kaum muslimin adalah untuk menenangkan mereka, meyakinkan mereka untuk tidak mengambil langkah apapun sebelum mendapat kepastian berita itu serta membaiat mereka untuk tetap setia sehingga tidak bertindak apa-apa tanpa arahan dari Rasulullah Saw. Peristiwa ini dikenal dengan Baiatur Ridwan.

Dengan baiat tersebut kaum muslimin mematuhi Rasulullah Saw. untuk tidak beranjak dari tempat itu sebelum benar-benar mendapatkan kebenaran tentang berita terbunuhnya Utsman. Sementara Rasulullah Saw. dan beberapa sahabat mencari tahu kebenaran berita tersebut. Akhirnya kebenaran pun terungkap bahwa Utsman tidak dibunuh, Utsman masih hidup dan bergabung kembali dengan Rasulullah Saw.

 

*Disarikan dari rekaman khutbah Jumat Ust. Haris Muslim Lc., MA. pada chanel Youtube di masjid Salman ITB, yang dipublikasikan oleh Salman TV pada 23 Desember 2018.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

eighteen + eight =

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.