Home Hikmah Corona Untuk Muhasabah

Corona Untuk Muhasabah

186
0
SHARE

Oleh: Amirullah Kandu

Sejak mewabahnya virus terbaru ini sejak Desember 2018 di Kota Wuhan China, ratusan ribu jiwa telah menjadi korban atas serangan mahluk super kecil ini. Terbukti, tidak ada satu negara pun yang sanggup menghentikan wabah ini setidaknya sampai detik ini. Bahkan sekelas negara adidaya Amerika Serikat dibuat tidak berkutik oleh serangan wabah ini.

Apa yang tidak dimiliki oleh sebuah negara Amerika Serikat? Kekuatan ekonomi, kecanggihan teknologi, peralatan perang paling mutakhir, dan hak veto yang sanggup mengendalikan politik dunia.

Ternyata sederet kelebihan tersebut, tidak bisa dijadikan tolak ukur akan kekuatan makhluk bila dihadapkan dengan kekuatan Allah SWT. Makhluk kecil ini hanya salah satu di antara ciptaan Allah untuk menegur siapapun yang berlagak sombong di muka bumi ini.  “Janganlah kamu berjalan di muka bumi dengan sombong dan merasa paling besar. Karena meskipun kamu melakukan kesombongan itu, sekerar-kerasnya hentakan kakimu tetap tidak akan bisa menembus bumi. Demikian pula, kendatipun kamu tinggikan dirimu tanda kesombongan, ketinggianmu itu tetap tidak akan sampai menyejajari tingginya puncak gunung.” (QS. Al-Israa’ [17]: 37)

Coronavirus tiba-tiba menjadi momok yang sangat menakutkan bagi manusia sejagad raya ini. Bagi mereka yang menganut prinsip hidup hedonis dan materialistis, tentu “shock” dan kelabakan, karena tiba-tiba kenikmatan yang selama ini dirasakan hilang seketika. Prinsip hidup materialistis nan hedonis tidak hanya dianut oleh orang-orang Eropa yang mayoritas non-Muslim. Namun, celakanya, prinsip ini sudah menjangkiti gaya hidup sebagian besar umat Islam yang notabene memiliki prinsip-prinsip hidup yang sangat luhur berdasarkan Al-Qur’an dan Sunnah Rasulullah SAW. Hadits Rasulullah SAW yang artinya “tidak beriman salah seorang di antara kalian sampai dia mencintai apa yang dicintai saudaranya,” hanya menjadi jargon dan retorika belaka. Tidak ada implementasi dari mereka yang selama ini diberi kenikmatan duniawi.

Ajaran-ajaran Islam pun secara tidak sadar mulai ditinggalkan. Konsep hidup tolong-menolong dan tenggang rasa antar sesama tergantikan dan terkikis oleh egoisme pragmatis. Kearifan lokal yang ada di dalam budaya Indonesia terkubur oleh prilaku-prilaku “tamak” akibat mengutamakan kepentingan pribadi masing-masing. Tidak memandang lagi siapa kawan dan siapa lawan. Teman bisa jadi lawan, namun lawan sangat bisa menjadi teman baik.

Kisah Nabi Ibrahim a.s. yang memiliki binatang ternak yang tak terhitung jumlahnya, namun tidak pernah makan sebelum mengajak tetangganya atau siapapun yang terlihat olehnya untuk makan bersama, mungkin akan tinggal dongeng belaka. Pesan sosialnya tidak lagi sanggup melekat di benak umat Islam lantaran di dalam otaknya tidak lagi memiliki spase atau kuota untuk menyimpan data semacam ini.

Target hidup menjadi sangat singkat, yakni hanya sebatas kehidupan duniawi. Allah SWT pasti akan memberikan apapun sesuai dengan proposal dari mahluknya. Jika sang mahluk meminta kehidupan duniawi, maka Dia pasti kasih, dan pastinya sang mahluk hanya akan mendapatkan kehidupan duniawi semata. Dan apabila sang mahluk menginginkan kehidupan ukhrawi, maka Allah SWT pasti akan memberikannya, plus ditambahkan bonus berupa kehidupan duniawi tanpa ia minta.   “Seseorang tidak akan mungkin mati kecuali dengan izin Allah. Karena, hal itu benar-benar telah dicatat oleh Allah dalam buku yang mengandung semua ajal manusia. Barang siapa berharap kesenangan dunia akan diberi, dan barang siapa berharap imbalan akhirat akan diberi juga. Allah akan memberi imbalan kepada mereka yang mensyukuri nikmat.” (QS. Ali Imran [3]: 145)

Coronavirus ini adalah teguran Allah SWT bagi mereka yang melampui batas selama ini. Lupa akan nikmat Allah, bahwa nikmat itu hanya titipan dari Allah dan di dalamnya ada hak-hak orang lain yang harus ditunaikan. Teguran bagi mereka yang tidak peduli akan nasib saudara-saudaranya, dan rela melihat saudaranya menderita dan mengalami kesusahan. Teguran bagi siapapun yang mengedepankan unsur materi dalam setiap transaksinya. Wallahu a’lam.

 

 

 

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

nine + 15 =

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.