Home Hikmah Menjadi Manusia Merdeka

Menjadi Manusia Merdeka

352
0
SHARE
Kang Rasyied

Oleh : Kang Rasyid

Bismillaahirrahmaanirrahiim.

Zaman sekarang banyak orang yang fisiknya merdeka, namun batinnya tertindas. Ada seorang tokoh yang dipenjara karena suatu kasus. Ketika petugas berwenang melakukan sidak ke sel tempat dia dikurung, petugas menemukan televisi, tablet, lemari es dan perlengkapan lain yang semestinya tidak boleh ada di dalam sel.

Maka, petugas pun menyita semua barang-barang itu. Ketika para petugas mengangkut barang-barang tersebut, tokoh yang dipenjara ini mempersilakannya. Namun, ada satu benda yang dia mohon dengan sangat agar tidak disita, yaitu tablet. Mengapa? Karena dengan tablet itulah selama di penjara dia menumpahkan segala pikiran dan perasaannya dalam bentuk tulisan. Menurutnya, jika dia tidak menuliskan apa yang dia pikirkan dan rasakan maka dia bisa mati. Maka, tubuhnya boleh dipenjara, namun pikiran dan perasaannya ingin selalu merdeka. Dia bisa berada di dalam penjara hingga bertahun-tahun lamanya, namun selama batinnya merdeka maka tubuh yang terkurung itu tidaklah masalah.

Saudaraku, yang paling utama adalah kemerdekaan batin. Banyak orang yang tubuhnya merdeka, memiliki kendaraan yang bagus, rumah yang luas, jabatan yang tinggi, tapi ternyata batinnya terkungkung.

Allah Swt. berfirman, “Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama (Allah); (tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada perubahan pada fitrah Allah. (Itulah) agama yang lurus; tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.” (QS. Ar Ruum: [30] : 30)

Rasulullah Saw. berfirman, “Setiap anak yang lahir dilahirkan di atas fitrah, maka kedua orangtuanyalah yang menjadikannya Yahudi, Majusi, atau Nasrani.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Saudaraku, setiap bayi yang terlahir ke dunia ada dalam keadaan merdeka. Namun, semakin dia tumbuh dan bertambah usianya, kemerdekaannya perlahan semakin terkikis. Dia semakin tertindas oleh hawa nafsu dirinya sendiri. Dia teraniaya oleh syahwat dan emosinya.

Allah Swt. menciptakan nabi Adam as. tanpa ayah dan tanpa ibu. Nabi Adam tercipta dalam keadaan merdeka. Apa penopang kemerdekaan hidup nabi Adam? Itulah ilmu pengetahuan. Allah Swt. berfirman, “Dan Dia mengajarkan kepada Adam nama-nama (benda-benda) seluruhnya, kemudian mengemukakannya kepada para malaikat lalu berfirman: “Sebutkanlah kepada-Ku nama benda-benda itu jika kamu memang orang-orang yang benar!” (QS. Al Baqarah [2]: 31)

Ilmu pengetahuan merupakan langkah pertama untuk menjadi manusia merdeka. Allah Swt. memberikan ilmu kepada nabi Adam, sehingga nabi Adam dengan akal pikirannya bisa mengetahui nama-nama benda di alam semesta ini. Sehingga kemudian naiklah derajat nabi Adam as. dan para malaikat pun bersujud menghormati nabi Adam as. atas perintah Allah Swt.

Namun, ada satu di antara para malaikat ini yang bertanya-tanya dan mengelak dari perintah Allah Swt. tersebut. Dia berpikir bahwa nabi Adam diciptakan dari tanah sedangkan dia diciptakan dari api, maka seharusnya api lebih mulia daripada tanah, begitu pikirnya. Dialah iblis. Dengan akal pikiran dan pengetahuannya, Iblis justru terjerembab menjadi makhluk yang hina karena membangkang terhadap perintah Allah Swt.

Oleh karena itu, untuk meraih kemerdekaan hakiki sebagai manusia maka kuncinya adalah akan pikiran yang terbimbing oleh wahyu dari Allah Swt. Dalam hal ini, kemerdekaan batin bagi kita adalah kemerdekaan batin yang dilandasi dengan akal pikiran yang tunduk kepada tuntunan Allah Swt. dan rasul-Nya. Inilah fitrah.

Akal pikiran yang dibiarkan liar meski dia dipenuhi dengan ilmu pengetahuan maka akan cederung mencelakakan. Maka, tidak heran jika kita menyaksikan ada orang yang pintar, gelar akademisnya berderet, namun menjadi tersangka kasus korupsi. Berarti kepintarannya malah digunakan untuk mengelabui orang lain, untuk memanipulasi data, mengakali anggaran supaya bisa memuaskan hawa nafsunya atas harta kekayaan. Apakah orang yang seperti ini akan merdeka batinnya? Tidak. Kenapa? Karena setiap orang yang melakukan kejahatan, sesungguhnya dia sangat takut jika perbuatannya sampai terungkap. Apalagi jika sampai berurusan dengan hukum. Jikapun dia berhasil dalam kejahatannya, batinnya tetap dihantui rasa takut, dia menutupi satu kebohongan dengan kebohongan berikutnya, dan begitu seterusnya.

Rasulullah Saw. bersabda, “Jihad yang paling utama adalah seseorang berjihad (berjuang) melawan dirinya dan hawa nafsunya di jalan Allah Azza wa Jalla.” (HR. Tirmidzi dan Ahmad)

Ketika manusia bisa mengendalikan hawa nafsunya, maka sesungguhnya dia akan mampu menaklukan apa saja di luar dirinya. Demikian halnya dalam urusan jihad di medan peperangan, hanya orang yang mampu mengendalikan hawa nafsunyalah yang akan mampu menaklukan musuhnya. Maka, dalam catatan sejarah kita bisa saksikan bagimana Rasulullah Saw. dan para sahabat mampu menaklukan musuh pada perang Badar, padahal musuh tiga kali lipat lebih banyak jumlahnya. Akan tetapi, pada perang Uhud Rasulullah Saw. dan kaum muslimin bisa ditaklukan oleh musuh, disebabkan kelompok pasukan pemanah dari kaum muslimin yang hawa nafsunya sudah tergoda dengan harta rampasan perang hingga mengenyampingkan perintah Rasulullah Saw. agar mereka tetap berada di posisinya ketika itu.

Saudaraku, kemerdekaan secara fisik tentu menjadi dambaan kita semua. Oleh karenanya, para pendahulu kita berjuang mengorbankan harta bahkan jiwa demi meraih kemerdekaan dari penjajahan bangsa lain. Akan tetapi, ada hal yang jauh lebih berharga dari kemerdekaan fisik, yaitu kemerdekaan batin. Inilah kemerdekaan yang mampu menjadi energi besar untuk menyalakan harapan, semangat jihad, semangat ibadah di jalan Allah Swt.

Merdekakanlah batin kita dengan dzikrullah, menyebut dan mengingat Allah Swt. pada setiap waktu dan tempat. “(yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka manjadi tentram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingati Allah-lah hati menjadi tenteram.” (QS. Ar Ra’du [13] : 28)

Karena hati yang resah, gelisah, sedih, penuh amarah dan dendam adalah hati yang jauh dari mengingat Allah Swt. Padahal hati yang demikian merupakan indikasi dari ketidakmerdekaan batin kita. Raga kita bisa berjalan kemana saja, bahkan dikelilingi dengan segala fasilitas yang mewah, namun juga hati dirundung resah, gelisah, sedih dan dendam, segala kemewahan itu tiada artinya lagi.

Nabi Yaqub as. pernah dilanda kesedihan mendalam akibat berita bohong atau hoax yang dibawa oleh anak-anaknya, yaitu berita tentang kematian salah satu anaknya yaitu Yusuf as. Nabi Yaqub begitu sedih karena betapa besar rasa sayangnya terhadap nabi Yusuf. Kemudian, nabi Yaqub berdoa kepada Allah Swt., “Hanya kepada Allah aku mengadukan kesusahan dan kesedihanku. Dan, aku mengetahui dari Allah apa yang tidak kamu ketahui.” (QS. Yusuf [12] : 86)

Dengan doa-doanya kepada Allah Swt., nabi Yaqub as. berupaya melepaskan segala kesedihan yang menyelimuti hatinya, sehingga kemudian Allah Swt. balas dengan jawaban demi jawaban yang menenangkan hatinya. Hingga di kemudian hari nabi Yaqub bisa berjumpa lagi dengan putranya, yaitu nabi Yusuf as. dalam keadaan yang baik atas izin Allah Swt.

Kesimpulan pada kajian kita kali ini adalah, milikilah kemerdekaan batin, inilah kemerdekaan yang bisa mengantarkan kemerdekaan fisik seutuhnya. Kemerdekaan batin diraih dengan akal pikiran yang tunduk pada tuntunan Allah Swt. dan rasul-Nya. Penuhi batin kita dengan dzikrullah, semoga Allah Swt. senantiasa membimbing kita dengan hidayah-Nya dan kita menjadi manusia merdeka yang sesungguhnya. Wallaahua’lambishawab.[]

 

*Disarikan dari : https://www.youtube.com/watch?v=S42DD39sXuo

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.