Home Hikmah Pentingnya Penafsiran Al Quran

Pentingnya Penafsiran Al Quran [3]

551
0
SHARE
Dr. Muchlis M. Hanafi, MA.

Oleh : Muchlis M. Hanafi

Bismillaahirrahmaanirrahiim.

Ada satu hal yang seringkali membuat orang salah dalam menafsirkan Al Quran. Yaitu, ketika dia mencomot satu dua ayat dari Al Quran lalu dipahami secara leterlek dan terpisah dari konteksnya.

Sebagai contoh, di dalam surat At Taubah ayat 29 Allah Swt. berfirman, Perangilah orang-orang yang tidak beriman kepada Allah dan tidak (pula) kepada hari Kemudian, dan mereka tidak mengharamkan apa yang diharamkan oleh Allah dan RasulNya dan tidak beragama dengan agama yang benar (agama Allah)..”

Jika yang dijadikan rujukan hanya terjemah Al Quran saja, maka apa yang terjadi? Ketika dia melihat ada orang kafir, non muslim, sedang berjalan di tempat umum, kemudian dia menyerangnya bahkan membunuhnya. Mengapa ini bisa terjadi? Itulah jika orang memahami ayat secara parsial atau secara sepotong-sepotong.

Atau contoh lainnya ketika orang menemukan ayat Al Quran yang artinya, “..Dan barangsiapa yang tidak berhukum dengan hukum Allah maka mereka itu adalah orang-orang yang kafir.” (QS. Al Maidah [5] : 44) Karena dia memahami ayat secara parsial maka dia berpikir bahwa orang kafir itu halal darahnya kemudian dia merasa berhak untuk memeranginya. Jika seperti ini cara orang memahami Al Quran maka tentu dunia ini akan “ramai”, penuh dengan kekacauan.

Oleh karenanya, akan menjadi berbahaya jika kita memahami Al Quran secara leterlek, secara parsial, sepotong-sepotong dan keluar dari konteksnya. Jadi, dalam menafsirkan Al Quran kita perlu melihat secara keseluruhan, komprehensif, tidak sepotong-sepotong.

Lantas siapakah yang berhak menafsirkan Al Quran? Sebagai gambaran, jika kita sakit gigi kemanakah kita akan berobat? Tentu ke dokter gigi, dokter yang memiliki kepakaran dalam masalah gigi. Tentu kita tidak akan berobat ke dokter ahli jantung meski sepintar apapun dokter tersebut. Nah seperti itu pula dalam hal penafsiran Al Quran, perlu orang yang memiliki kapasitas dan otoritas, yaitu orang yang memang memiliki ilmunya untuk menafsirkan Al Quran. Apalagi Al Quran merupakan kalam Allah sebagai petunjuk bagi kehidupan seluruh makhluk di dunia, tentu tidak boleh sembarangan dalam menafsirkannya. Untuk bertanya mengenai persoalan hidup ini akan jauh lebih baik manakala kita bertanya kepada orang yang memang ahlinya.

Memahami Al Quran itu merupakan hak dan kewajiban setiap orang, karena Al Quran adalah petunjuk kehidupan menuju kebahagiaan sejati. Tetapi memahamkan orang terhadap Al Quran dalam bentuk penafsiran tentu tanggungjawabnya tidak bisa diserahkan kepada sembarang orang. Hak untuk sehat adalah hak setiap orang, tetapi menyehatkan orang lain, mengupayakan orang yang sakit menjadi sehat kembali tentu diserahkan kepada dokter yang ahli di bidang itu.

Siapakah yang bisa kita jadikan tempat untuk bertanya mengenai Al Quran? Mereka adalah orang-orang yang memiliki ilmu dalam bahasa Arab, yang paham ilmu-ilmu keislaman; ilmu hadits, ushul fiqih, sejarah Islam, dan ilmu lainnya. Selain itu, ia juga mestilah orang yang lurus akidahnya, tulus memberikan pemahaman, dan memiliki semangat dalam pencerahan masyarakat.

Seperti orang mau menangkap ikan, maka dia harus melengkapi diri dengan peralatannya. Tanpa itu, ia akan sangat kesulitan bahkan tidak bisa mendapatkan ikan. Seperti itu pula orang yang menafsirkan Al Quran, dia perlu perangkat keilmuan yang lengkap supaya tidak keliru.

Kemudian, Allah Swt. memberi kita akal. Dan, akal itu tentu harus digunakan. Al Quran pun pada banyak ayat merangsang akal pikiran kita untuk mencermati alam semesta, juga untuk mencermati Al Quran itu sendiri. Jadi, Al Quran itu dengan alam semesta ini adalah dua hal yang diciptakan oleh Allah Swt. secara saling berhubungan dan harus kita cermati.

Alam semesta itu juga adalah kitab suci Allah yang terlihat, adapun Al Quran adalah kitab suci Allah yang terbaca. Akal diberi ruang untuk memahami itu. Tetapi, akal manusia itu sangat terbatas, panca indera kita pun terbatas. Coba perhatikan, tongkat selurus apapun, ketika dimasukkan ke dalam gelas berisi air maka akan nampak bengkok, padahal tongkat itu sesungguhnya tetap lurus, hanya pandangan kita saja yang membuatnya seolah bengkok. Jadi, panca indera kita terbatas, akal kita pun terbatas. Oleh karena keterbatasan itulah kemudian muncul berbagai macam penafsiran antara satu dengan yang lain.

Dalam menafsirkan Al Quran tidak cukup hanya mengandalkan akal pikiran atau logika. Namun, berikanlah kesempatan bagi akal pikiran untuk mencerna apa yang disampaikan oleh Rasulullah Saw. mengenai Al Quran, beri pula akal pikiran kita kesempatan untuk memahami riwayat-riwayat para sahabat Nabi Saw. dan generasi setelah mereka mengenai Al Quran. Berikan pula akal pikiran kita kesempatan untuk memahami ilmu-ilmu penunjang seperti ilmu hadits, ilmu sejarah, ilmu ushul fiqih dan tentu saja ilmu bahasa Arab. Pada ruang inilah akal pikiran kita bekerja dalam keterbatasannya.

Allah Swt. berfirman, “..Maka bertanyalah kepada orang yang memiliki pengetahuan jika kamu tidak mengetahui.” (QS. An Nahl [16] : 43)

Hikmahnya, jangan pernah merasa cukup dalam belajar. Banyaklah bertanya kepada ulama yang ahli dalam bidangnya. Rajinlah mengikuti majlis-majlis ilmu Al Quran. Kedua, perbedaan penafsiran itu merupakan keniscayaan. Penjelasan seperti apapun, selama itu disampaikan oleh ulama yang otoritatif, ada dasarnya, dan itu menenangkan hati kita, kita yakin dengan itu, maka ikutilah.

Tidak perlu bingung jika kita menemukan perbedaan penafsiran di kalangan para ulama tafsir karena semua itu tentu dilatarbelakangi landasan keilmuan. Jadikanlah perbedaan itu sebagai wawasan kita. Perbedaan penafsiran adalah bukti dari betapa kayanya khazanah keilmuan Islam. Boleh kita memegang salah satu pandangan ulama yang menurut kita paling menenangkan, namun tidak perlu menyalahkan penjelasan dari ulama lain karena mereka pun memiliki dasar keilmuan.

Semoga kita termasuk hamba-hamba Allah Swt. yang mencintai Al Quran, senantiasa membacanya, mempelajarinya dan mengamalkannya. Aamiin ya Rabbal’aalamiin.[]

 

*Disarikan dari rekaman ceramah Dr. Muchlis M. Hanafi, MA. pada chanel Youtube yang dipublikasikan oleh Aishaderm Cosmetics pada 8 Juni 2018.

 

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

16 + 1 =

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.