Home Hikmah Shalat dan Penegakan Hukum

Shalat dan Penegakan Hukum

199
0
SHARE

Oleh : Zainurrofieq

Bismillaahirrahmaanirrahiim.

Rasulullah Saw. bersabda, “Islam dibangun di atas lima perkara: [1] persaksian bahwa tidak ada tuhan kecuali Allah dan Muhammad adalah utusan Allah, [2] mendirikan shalat, [3] menunaikan zakat, [4] ibadah haji, dan [5] puasa Ramadhan.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Dalam redaksi hadits ini, Rasulullah Saw. menggunakan kata “buniya”  yang berarti “dibangun”, hal ini tiada lain adalah untuk lebih memudahkan kita memahami pesan Rasulullah tersebut. Dalam hadits ini Islam digambarkan sebagai sebuah bangunan yang memiliki lima pilar atau tiang penyangga. Maka, logikanya ketika pilar atau tiang penyangga itu tidak ada atau terlepas atau rapuh, maka bangunan tersebut akan sangat rentan rubuh. Muhammad ibn nashr Al Marwazi dalam Ash Shalah menerangkan hadits ini dengan kalimat, “Islam dibangun berdasarkan lima penopang..”

Shalat adalah hal yang tidak terpisahkan dari jatidiri seorang muslim. Sudah seyogyanya aturan-aturan shalat dimengerti oleh setiap muslim. Dalam shalat berjamaah pun demikian, aturan-aturan shalat berjamaah harus sudah menjadi pengetahuan yang melekat pada diri setiap muslim.

Shaf yang harus rapat dan lurus. Posisi imam yang didepan dan makmum di belakangnya. Gerakan shalat imam yang tidak boleh didahului oleh makmum, dan aturan-aturan lainnya. Semua ini menggambarkan jamaah shalat, semuanya adalah sama di hadapan hukum agama. Semuanya harus mentaati aturan yang sudah ditetapkan dalam urusan shalat.

Tidak ada orang yang karena jabatannya adalah sebagai seorang direktur maka ia mendapatkan keistimewaan tertentu berupa keringanan jumlah rakaat. Tidak ada orang yang karena kaya raya maka ia bisa shalat berjamaah sambil duduk di kursi yang sangat nyaman tanpa ada udzur. Tidak ada orang yang karena miskin maka ia shalat berjamaah terpisah shafnya di tempat paling belakang. Semua itu tidak berlaku dalam shalat. Setiap orang berdiri sama tinggi, duduk sama rendah dalam shalat. Semua sama di hadapan Allah Swt. tanpa ada unsur pembeda dalam hal urusan dunia. Setiap orang dalam jamaah shalat mendapatkan kewajiban yang sama.

Demikian juga dalam kehidupan sehari-hari. Baik pemimpin maupun yang dipimpin harus berjalan mentati hukum yang berlaku. Tidak bisa seorang pemimpin karena merasa punya jabatan, bisa seenaknya saja melanggar hukum. Tidak boleh seorang yang kaya raya bisa semena-mena karena merasa berkuasa dengan hartanya.

Shalat mendidik pelakunya menjadi pribadi yang sadar akan hakikat siapa dirinya di hadapan Allah Swt. Sehingga setiap orang akan menjaga haknya sembari menjaga hak orang lain, dan menjalankan kewajibannya dengan penuh rasa amanah karena sadar bahwa setiap perbuatan pasti akan dipertanggungjawabkan di hadapan Allah Swt. Tidakkah ini suatu kehidupan yang sangat nikmat?

Demikianlah salah satu hikmah shalat yang jika kita tunaikan secara khusyu dan tumaninah tentu saja ditopang dengan pemahaman tentang hakikat shalat, akan berbuah keberkahan dalam kehidupan kita dalam bermasyarakat dan bernegara. Wallaahu a’lambishawab.[]

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.