Home Hikmah Letak Kebahagiaan Hidup  

Letak Kebahagiaan Hidup  

1044
0
SHARE
Ust Abdul Somad Lc., MA.

Oleh : Abdul Somad

Bismillaahirrahmaanirrahiim.

Apa sebenarnya hakikat bahagia itu? Ada seorang kaya raya, hartanya banyak, dia naik mobil mewah. Dalam perjalanan dia tengok ke sebelah kanan nampak tanaman padi pada sawah yang terhampar hijau. Di tengah sawah terlihatlah seorang laki-laki yang menyambut kedatangan istri dan anaknya yang mengantarkan makan siang untuknya. Makanan tiba pada waktu yang tepat, air minum yang menghilangkan dahaga. Lapar hilang rindu pun sirna karena istri dan anak ada di sekitar dia.

Orang kaya yang sedang melihat mereka dari balik kaca jendela mobil mewahnya itu berpikir betapa bahagia hidup menjadi petani seperti mereka, berkumpul bersama keluarga makan siang bersama, sedangkan dia sendirian terus dengan segala kesibukannya.

Pada saat yang bersamaan, laki-laki petani yang sedang berada di gubuk di tengah sawah itupun rupanya memandang ke arah mobil mewah itu. Apa yang terpikir di benak sang petani? Ia berpikir bahwa betapa bahagianya orang kaya itu bisa naik mobil yang bagus, sedangkan dia hanya duduk di gubuk tua ini.

Saudaraku, maka dari cerita ini kita bisa menyimpulkan bahwa kedua orang tersebut dalam keadaan yang berbeda rupanya mengalami hal yang sama, yaitu sama-sama tidak bahagia. Lantas, bahagia itu ada di mana?

Ada seorang pemuda yang kuliah di sebuah universitas. Tatkala masih kuliah maka ia berpikir betapa bahagianya jika ia lulus dan menjadi sarjana. Manakala dia telah lulus dan jadi sarjana maka dia berpikir betapa bahagianya jika dia meraih gelar Master. Dan, ketika dia berhasil meraih Master diapun berpikir betapa bahagianya jika dia bisa meraih gelar Doktor.

Selepas meraih doktor dia ternyata tidak bahagia karena banyak sekali orang yang bertanya kapan menikah padahal sudah lulus S3. Maka, dia berpikir betapa bahagia jika sudah menikah. Namun, setelah menikah diapun tidak bahagia karena orang-orang bertanya kenapa belum juga memiliki anak. Terus begitu. Jika demikian, bahagia itu milik siapa?

Oleh karena itu, jika kita membuka kitab-kitab para ulama salaf dan mencari makna kebahagiaan, kita akan temukan bahwa bahagia adalah manakala dada terasa lapang apapun kejadian yang datang. Kalaulah orang kaya yang berada di mobil mewah itu hatinya lapang, maka dia akan bahagia. Kalaulah petani yang berada di bawah gubuk tua itu hatinya lapang, maka dia akan bahagia. Kalaulah pemuda yang baru meraih gelar sarjana itu hatinya lapang, maka dia akan bahagia. Siapapun yang hatinya lapang, dia akan bahagia.

Oleh karena itulah, ketika nabi Musa as. hendak menghadapi ayah angkatnya yaitu Fir’aun, beliau memohon kepada Allah Swt. hati yang lapang dengan doanya yang termasyhur, “Rabbishrahlii shadrii wa yassirlii amrii..” Duhai Allah Rabb-ku, lapangkanlah dadaku, mudahkanlah urusanku. (QS. Thahaa [20] : 26-27)

Demikian halnya baginda nabi Muhammad Saw. di perang Uhud manakala beliau berada dalam situasi yang sulit, pasukan kaum muslimin terdesak, banyak sahabat yang gugur, dan nabi Saw. berada dalam keadaan yang membahayakan. Pelipisnya berdarah, giginya patah, kakinya pun terluka, namun baginda Nabi Saw. tetap berada dalam ketenangan. Karena Allah Swt. berfirman, “Alam nasyrah laka shadrak”, “bukankah Kami telah melapangkan untukmu dadamu.” (QS. Al Insyirah [94] : 1)

Mengapakah Buya Hamka yang dijebloskan ke dalam penjara, masih mampu membuahkan sebuah karya yang luar biasa yaitu Tafsir Al Azhar? Tiada lain adalah karena hati yang lapang yang dikaruniakan Allah Swt. kepadanya. Itulah pula yang membuat seorang Sayyid Qutub yang meski dipenjara dan menghadapi detik-detik ke tiang gantungan, beliau masih sempat menulis karya besar yang masih dipakai oleh banyak orang sampai sekarang yaitu tafsir Fii Dzilalil Quran. Tiada lain karena kelapangan hati yang dianugerahkan Allah kepadanya.

Maka, berbahagialah orang yang hatinya senantiasa lapang. Mohonlah kepada Allah Swt. kelapangan hati. Hati yang lapang akan mampu meredupkan beban masalah sebesar apapun. Hati yang lapang akan mampu meredam segala gelisah yang timbul karena masalah hidup yang bertubi-tubi. Mohonlah kepada Allah Swt. kelapangan hati diiringi ketaatan kepada-Nya tanpa ditunda-tunda usah dinanti-nanti. Semoga Allah memberikan hati yang lapang kepada kita semua. Aamiin ya Rabbal’aalamiin.[]

*Disarikan dari ceramah Ust. Abdul Somad pada chanel Taman Surga di Youtube yang dipublikasikan tanggal 3 Agustus 2018.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

twenty + 8 =

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.