Home Hikmah Adil Menegakkan Kebenaran

Adil Menegakkan Kebenaran

910
0
SHARE
KH. Ahmad Mustofa Bisri

Oleh : Ahmad Mustofa Bisri

Bismillaahirrahmaanirrahiim.

Untuk dapat melakukan apa yang diajarkan oleh Rasulullah Saw. dalam menyempurnakan akhlak, ada satu yang sangat penting karena hal itu diulang-ulang dalam Al Quran yaitu sikap adil, atau jejeg dalam bahasa Jawa.

Banyak sekali dalil mengenai keutamaan bersikap adil. Di dalam khutbah-khutbah Jumat, di bagian pembukaan para khatib seringkali mengingatkan jamaah dengan penggalan ayat, “Innallaaha ya’muru bil ‘adli wal ihsan”, sesungguhnya Allah memerintahkan kalian untuk berbuat adil dan berbuat kebajikan (QS. An Nahl [16] : 60).

Atau sebagaimana firman Allah Swt. di dalam Al Quran, “Wahai orang-orang yang beriman! Jadilah kamu sebagai penegak keadilan karena Allah, (ketika) menjadi saksi dengan adil. Dan janganlah kebencianmu terhadap suatu kaum, mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah. Karena (adil) itu lebih dekat kepada takwa. Dan bertakwalah kepada Allah, Sesungguhnya Allah Maha Teliti atas apa yang kamu kerjakan.” (QS. Al Maidah [5] : 8)

Dalam ayat ini Allah Swt. menyebutkan, “Kuunuu qawwaamiina lillaahi syuhadaa-a bilqishti” yang banyak diterjemahkan dengan, “Jadilah kalian sebagai penegak keadilan karena Allah, (ketika) menjadi saksi dengan adil”. Dalam surat An Nisa ayat 135 pun ada kalimat yang sangat mirip dengan kalimat ini. Jika kita tafakuri maka seakan Allah Swt. sedang menegaskan kepada kita bahwasanya jika kita tidak berbuat adil maka kita sedang tidak lillaah, karena jika kita berbuat lillaah, karena Allah Swt., maka kita akan sekuat tenaga bersikap adil.

Namun, manusia seringkali kesulitan berbuat adil karena kita itu memiliki yang namanya ‘atifah atau emosi. Sedangkan emosi itu karakternya condong ke sana atau condong ke sini. Condong ke sana benci, condong ke sini cinta. Karena itulah, Rasulullah Saw. selalu mengajarkan sikap tengah-tengah.

Adil itu tidak bisa dilakukan oleh mereka yang ekstrim ke arah tertentu atau condong ke sisi tertentu. Anda kalau terlalu benci maka anda tidak bisa adil. Anda terlalu cinta juga tidak bisa berbuat adil. Karena adil itu letaknya di tengah-tengah, sedangkan terlalu cinta atau terlalu benci itu ada di salah satu sisi. Dengan sikap tengah-tengah, kita bisa menjaga secara lebih mudah agar kita bisa bersikap adil.

Ada yang menarik di dalam ayat surat Al Maidah yang disebutkan di atas tadi yaitu kalimat, “Dan janganlah kebencianmu terhadap suatu kaum, mendorong kamu untuk berlaku tidak adil.”

Mari kita lihat lagi bagian awal dari ayat ini dimana Allah Swt. menyampaikan, “Kuunuu qawwaamiin”, jadilah kamu sekalian orang-orang mukmin penegak-penegak kebenaran. Jadi, kalau kita ingin menegakkan kebenaran maka sikap adil harus ditegakkan dalam diri kita. Dan, sikap tersebut mesti lillah, karena Allah, bukan karena hawa nafsu atau alasan apapun selain Allah Swt.

Sekarang ini banyak sekali orang yang ingin menegakkan kebenaran. Itu bagus. Namun, jika kita terlalu bersemangat maka kita jadi rentan untuk lupa bahwa kita pun harus berlaku adil meskipun dalam menegakkan kebenaran, atau terutama karena menegakkan kebenaran.

Dalam ayat ini Allah Swt. dengan sangat jelas dan tegas bahkan menggunakan penekanan sebagai penguat, menerangkan kepada kita agar tetap menegakkan keadilan bahkan terhadap kaum yang kita tidak suka. Jangan sampai rasa tidak suka kita terhadap mereka membuat kita tidak bersikap adil atas mereka.

Banyak para ahli tafsir menjelaskan maksud kata “kaum” dalam ayat ini adalah orang-orang kafir. Maka, jika terhadap orang-orang kafir saja kita harus dilarang bersikap tidak adil, apalagi sesama kaum yang beriman kepada Allah Swt.[]

 

*Disarikan dari rekaman ceramah KH. Ahmad Mustofa Bisri (Gusmus) yang dipublikasikan pada 14 Mei 2017 pada chanel Youtube.

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

seventeen + 16 =

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.