Home Hikmah Tiga Pilar Penopang Semangat Persaudaraan di Momen Idul Fitri

Tiga Pilar Penopang Semangat Persaudaraan di Momen Idul Fitri

643
0
SHARE
KH. Zainurrofieq, Lc., MA.

Oleh : Zainurrofieq

Berbahagialah kita yang baru saja selesai melalui Madrasatut Taqwa selama satu bulan penuh di bulan Ramadhan. Bulan mulia yang sangat kondusif dalam mengantarkan kita kembali menjadi manusia-manusia yang menyucikan dirinya dan mengabdikan dirinya di jalan Allah Swt.

Di dalam Al Quran Allah Swt. berfirman, “Dan (demi) jiwa serta penyempurnaanya (ciptaannya). Maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu, (jalan) kefasikan dan ketakwaan. Sesungguhnya beruntunglah orang yang mensucikan jiwa itu, dan sesungguhnya merugilah orang yang mengotorinya.” (QS. Asy Syams [91] : 7-10)

Ramadhan ternyata menjadi portal terindah yang dibuat Sang Pendesain kehidupan  untuk  mengembalikan manusia pada fitrah jalan kesucian diri dan kebahagiaan di momen Idul fitri.

Dan, persaudaraan atau bersaudara adalah fitrah terindah manusia. Dengan sangat jelas Allah Swt. menyebutkan bahwa persaudaraan merupakan sebuah kenikmatan, sebagaimana tertuang dalam Al Quran surat Ali Imran ayat 103.

Imam Ath-Thabariy rahimahullah menjelaskan dalam tafsirnya, ”Ingatlah wahai kaum Mukminin akan nikmat Allah Azza wa Jalla yang telah dianugerahkan kepada kalian! Yaitu manakala kalian saling bermusuhan karena kemusyrikan kalian; kalian saling membunuh satu sama lain disebabkan fanatisme golongan, dan bukan disebabkan taat kepada Allah Azza wa Jalla dan Rasul-Nya.  Allah Azza wa Jalla kemudian mempersatukan hati-hati kalian dengan datangnya Islam. Maka Allah Azza wa Jalla jadikan sebagian kalian sebagai saudara bagi sebagian yang lain, padahal sebelumnya kalian saling bermusuhan. Kalian saling berhubungan berdasarkan persatuan Islam dan kalian bersatu padu di dalam Islam.”

Penduduk Madinah secara umum saat itu  dihuni dua kabilah besar yaitu Aus dan Khazraj. Sebelum kedatangan Islam mereka kerap berperang dan bermusuhan tanpa henti. Namun sesudah kehadiran Islam yang dibawa Nabi Muhammad Saw. mereka menjadi bersaudara.

Imam Ibnu Katsîr ra. menjelaskan: “Konteks firman Allah Azza wa Jalla  Ali Imran 103 berkenaan dengan keadaan orang-orang Aus dan Khazraj. Sesungguhnya pada zaman jahiliyah dua kabilah itu sangat sering terlibat dalam pertempuran, permusuhan keras, kebencian, dengki dan dendam. Karenanya mereka terperangkap dalam peperangan terus menerus tanpa berkesudahan. Ketika Allah Azza wa Jalla mendatangkan Islam, maka masuklah sebagian besar dari mereka ke dalam Islam. Akhirnya mereka hidup bersaudara, saling menyintai berdasarkan keagungan Allah Azza wa Jalla , saling berhubungan berlandaskan (keyakinan atas) Dzat Allah Azza wa Jalla , dan saling tolong menolong dalam ketaqwaan serta kebaikan.”

Salah satu misi besar yang selalu dibawa oleh Nabi Muhammad Saw. di sepanjang dakwah beliau adalah ajaran untuk menjunjung tinggi persaudaraan. Konsep persaudaraan di sini bukan hanya persaudaraan dalam artian sempit, seperti persaudaraan yang dilandasi oleh hubungan nasab atau keluarga saja, namun juga persaudaraan dalam artian global atau universal, yaitu persaudaraan yang dilandasi oleh faktor-faktor agama, bangsa, hingga kemanusiaan.

Ajaran persaudaraan ini tidak hanya beliau bawa setelah beliau diangkat menjadi Nabi dan Rasul yaitu di saat beliau berumur 40 tahun, namun bahkan jauh sebelum itu, tepatnya di masa kanak-kanak dan remajanya, Nabi Muhammad sudah mengajarkan semangat persaudaraan tersebut lewat praktek tingkah laku dan keseharian beliau.

Tidak hanya mencontohkan dengan memperaktikkan spirit persaudaraan, tapi Rasululllah berhasil meng-coach para sahabatnya dalam menjalankan ruh persaudaraan tersebut. Ketika Nabi dan kaum muslimin berhijrah ke Madinah pasca siksaan yang dilancarkan oleh masyarakat Mekah yang tidak setuju dengan dakwah Islam yang beliau bawa, hal pertama yang beliau lakukan lagi-lagi adalah mempersaudarakan antara kaum Muhajirin dengan kaum Anshar.

Di antara sahabat yang beliau persaudarakan adalah Ja’far ibn Abi Thalib dengan Muadz ibn Jabal, Abu Bakar dengan Kharijah ibn Zaid ibn Haritsah, Umar ibn Khattab dengan Itban ibn Malik, Abdurrahman ibn Auf dengan Sa’ad ibn al- Rabi’, dan lain-lain.

Kita ketahui di antara keberhasilan Rasulullah Saw. mengajarkan ruh persaudaraan adalah ketika Saad ibn Rabi dari kaum Anshar ingin memberikan harta bahkan istrinya, setelah ditalak, kepada  Abdurrahman Ibn Auf, walaupun kemudian Abdurrahman bin auf menolaknya dengan halus dan justru berjibaku bersama membangun pasar Al Uqadz di Madinah. Dengan ruh persaudaraan Rasulullah mengarahkan kaum Anshar dan Muhajirin memenangkan ekonomi Madinah, bahkan di hari kemudian bisa sampai menguasai dunia.

Dengan ruh persaudaraan itu, cita-cita bersama dalam hidup berkelayakan, damai , bahagia dan saling memajukan dapat tercipta dengan baik.

Yang mempersaudarakan kita adalah Allah. Itu bagian kenikmatan besar, dalam Al Quran pun Allah menambahkan bahwa  persaudaraan merupakan hal yang sangat dibenci oleh iblis. Rasulullah Saw. pernah menyampaikan bahwa iblis pernah putus asa untuk  mendirikan patung-patung berhala di Makkah. Namun, iblis tidak akan pernah putus asa untuk menjadikan umat manusia saling bermusuh-musuhan.

Yakinlah kita, betapa beratnya memperjuangkan dan mempertahankan persatuan dan kesatuan di antara kaum muslimin, baik secara pribadi, keluarga, tetangga, komunitas, masyarakat bahkan skup negara dan bangsa.

Guna mewujudkan cita cita dan nilai agama ini perlu kiranya kita mulai mengagendakan langkah-langkah kongkrit dalam membangun dan mempertahankan nilai persaudaraan tersebut, diantaranya adalah:

  1. Semangat Ishlah

Apa dan bagaimanapun kondisi kekinian yang merupakan manifestasi dari keridhaan dan kenyataan yang Allah berikan dalam kenyataan hidup kita.  Al Quran menggambarkan bahwa ada satu semangat yang  dengan sengaja harus senantiasa diusahakan. Inilah yang kemudian diistilahkan dengan spirit ishlah alias berdamai diri memperbaiki diri, menata ke arah yang lebih maslahat.

Spirit ishlah ini mesti dihadirkan dalam benak semua di antara kita agar senantiasa bisa gayung bersambut dengan konsep yang memang Alllah Azza wa jalla gariskan dalam Al Quran.

Al Ishlah dalam bahasa Arab berarti memperbaiki, mendamaikan dan menghilangkan sengketa atau kerusakan. Berusaha menciptakan perdamaian, membawa keharmonisan, menganjurkan orang untuk berdamai antara satu dan lainnya, melakukan perbuatan baik berperilaku sebagai orang suci (baik) adalah bentuk-bentuk dari ishlah.

Islah merupakan kewajiban bagi umat Islam, baik secara personal maupun sosial. Penekanan ishlah ini lebih terfokus pada hubungan antara sesama umat manusia dalam rangka pemenuhan kewajiban kepada Allah Swt.

  1. Budaya Memaafkan

Setiap manusia tidak pernah luput dari kesalahan. Meminta maaf adalah jalan terbaik untuk proses awal memperbaiki kesalahan. Namun, memaafkan adalah persoalan yang berbeda. Butuh jiwa besar dan lapang dada untuk memaafkan kesalahan. Apalagi kesalahan itu telah menimbulkan kerugian dan luka besar dan mendalam dalam kehidupan seseorang. Memaafkan merupakan keputusan sadar untuk menghilangkan perasaan kebencian agar tidak larut dalam perasaan dan keinginan balas dendam.

Terlepas mereka layak untuk dimaafkan atau tidak, memaafkan bukan sebuah tindakan untuk melupakan sejarah masa lalu, tetapi memaafkan merupakan pandangan optimisme untuk membangun masa depan yang lebih baik. Memaafkan bukan pula melupakan kesalahan, tetapi upaya memperbaiki keretakan hubungan untuk tidak larut dalam perasaan saling membenci.

Dalam memaafkan ada proses individu berupaya mengatasi problem individual berupa kebencian dan dendam. Pada tingkat selanjutnya individu memilih sikap dan perilaku baik bahkan mengasihi pihak lain yang berbuat salah. Jadi, memaafkan mengandung pelepasan aspek negatif dalam ranah emosi. Dengan kata lain, memaafkan adalah strategi mengatasi hubungan yang rusak dengan dasar prososial.

Memaafkan merupakan pondasi dalam membangun perdamaian karena sesunguhnya perdamaian sejati berawal dari pikiran yang damai tanpa rasa benci dan dendam. Orang yang terus larut dalam perasaan kebencian dan dendam justru akan merusak pikiran dan emosinya. ia menghabiskan pikiran dan waktunya dengan menoleh ke belakang tanpa mempunyai pandangan ke depan yang lebih baik. Memaafkan bukan melupakan kesalahan, tetapi memutus siklus kebencian agar tidak mewariskan dendam kepada generasi berikutnya.

  1. Menghormati Sesama dengan Ihsan

Setelah spirit ishlah dibangun, dilanjutkan dengan membiasakan diri memaafkan, terakhir mesti dilanjutkan dengan aksi menghargai sesama dan memberi kebermanfaatan. Inilah yang kemudian diistilahkan dengan Al Ihsan.

Sejatinya, berbuat baik kepada sesama manusia adalah perintah Allah Ta’ala. Sungguh, Allah Ta’ala menyebutkan lafazh ihsan (berbuat baik) dalam berbagai mu’amalah (interaksi).

Dalam hadits Rasululllah Saw. menjamin bahwa  orang yang  paling baik adalah orang yang  paling bermanfaat bagi yang lainnya. Beliau bersabda, “Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia.” (HR. Ahmad, Ath Thabrani, Ad Daruqutni. Hadits ini dihasankan oleh al-Albani di dalam Shahihul Jami’)

Inilah tiga pilar yang menjadi mutiara terpendam di bulan Ramadhan untuk kita ungkap dan kita jadikan pengokoh persaudaraan dalam kehidupan kita. Gema takbir Idul Fitri menjadi momentum emas bagi deklarasi kita bahwa persaudaraan adalah hal yang tidak bisa ditawar dan mesti terus kita kukuhkan. Insyaa Allah![]

Banjaran, 4 Juni 2019.

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

4 × five =

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.