Home Hikmah Menatap Indonesia dengan Mata Syukur

Menatap Indonesia dengan Mata Syukur

362
0
SHARE
TGB Muhammad Zainul Majdi

Oleh : TGB Muhammad Zainul Majdi

Bismillaahirrahmaanirrahiim. 

Tataplah negeri kita ini, Indonesia, dengan mata syukur, jangan dengan mata dengki. Jika kita menatapnya dengan mata syukur, maka tidak akan ada habisnya kita bersyukur kepada Allah Swt. atas apa yang Dia berikan kepada masyarakat Indonesia. Sedangkan jika kita menatap negeri ini dengan mata dengki maka akan selalu mudah kita temukan kekurangan-kekurangannya. 

Bersyukurlah atas karunia Allah Swt. kita berupa tanah air bernama Indonesia. Negeri yang sangat sangat subur dan kaya dengan sumber daya alamnya. Pun bersyukurlah kita ditakdirkan oleh Allah Swt. menjadi bagian dari umat Islam di Indonesia. Negeri yang umat Islamnya paling besar di dunia. Meski banyak para peneliti yang memprediksikan bahwa tahun 2050 nanti umat Islam terbesar di dunia ini bukanlah di Indonesia, melainkan di India. 

Saudaraku, menjadi umat Islam terbesar di dunia merupakan potensi yang luar biasa. Betapa banyak kebaikan yang bisa lahir dari umat sebesar ini. Kuncinya adalah terus bersilaturahim di antara kita. Terus menjalin tali komunikasi dan kerjasama di antara kita. Jangan sampai perbedaan kecil yang sifatnya sangat sebentar justru malah menjadi dinding penghalang bagi kita untuk bersilaturahim. Jika ini yang terjadi, maka betapa kita rugi besar. 

Jangan sampai agenda yang bersifat sebentar semisal pileg, pilpres sampai mencerai-beraikan tali silaturahim di antara kita. Betul memang pada kenyataannya gesekan di antara warga atau umat ini terjadi di sepanjang perhelatan tersebut. Namun, saat itu selesai maka mari kita sudahi sikap berhadapan-hadapan itu. Karena sejatinya perhelatan tersebut hanyalah perlombaan kita dalam hal kebaikan. Fastabiqul khairat.

Ada agenda yang jauh lebih besar dibandingkan perhelatan yang kita sebut dengan pesta demokrasi, yaitu agenda mensyukuri karunia Allah Swt. bernama Indonesia. 

Indonesia itu kalau menurut sebagian ulama yang mendefinisikan Al Baladul Islam atau negeri Islam, yaitu suatu negeri yang mayoritas penduduknya adalah kaum muslimin. Kalau berdasar pada definisi ini maka apakah Indonesia bisa disebut negara Islam? Bisa.

Kemudian, ada juga ulama yang mendefenisikan bahwa negeri Islam adalah negeri di mana syariat Islam bisa dijalankan. Apa saja bentuk-bentuk syariat Islam yang bisa kita saksikan di Indonesia? Kita bisa dengar kumandang adzan lima kali dalam satu hari tanpa ada yang menghalang-halangi. Kita bisa saksikan umat Islam berbondong-bondong menunaikan shalat berjamaah di masjid-masjid tanpa mengalami kesulitan. Tidak ada negara di dunia yang jumlah masjid dan mushalanya lebih banyak dari Indonesia. Menurut Dewan Masjid Indonesia (DMI) terdapat 800 ribu jumlah masjid di Indonesia pada tahun 2018 dan itu masih bisa terus bertambah. 

Walaupun secara resmi Indonesia tidak disebut sebagai Negara Islam, tetapi pada kenyataannya syariat Islam bisa dijalankan di negeri ini. Ruang-ruang untuk menunaikan tuntunan agama Islam di negeri ini terbuka lebar. Majlis-majlis   pengajian, panggung-panggung tabligh akbar bisa diselenggarakan dengan leluasa. 

Hanya di Indonesia siapa saja bisa naik mimbar dan menyampaikan ceramah atau khutbahnya selama dia yang dipersilakan oleh pemakmur masjid atau panitia kegiatan. Sedangkan di negeri lain tidak bisa seperti itu. Di Mesir misalnya, siapa yang hendak mengisi khutbah atau ceramah mesti memegang surat resmi, dan jika tidak ada maka bisa diturunkan meskipun dia sedang mengisi ceramah atau khutbah. 

Di Indonesia keleluasaan itu terbuka sangat lebar. Alhamdulillah. Maka, marilah kita tatap Indonesia ini dengan mata syukur. Jika kita bertanya apakah pada zaman Nabi Saw. di Madinah itu tidak ada orang-orang yang bebal? Jawabannya, ada. Tidak semua orang di Madinah itu beriman semua. Banyak pula di antara penduduk Madinah itu orang-orang munafik. 

Namun, perhatikan bagaimana cara Rasulullah Saw. Menjalankan roda dakwah di Madinah, beliau tetap mengedepankan akhlak mulia. Tidak ada cacian, hinaan, makian terhadap mereka yang belum beriman kepada Allah Swt. Rasulullah Saw. istiqamah dalam memberikan keteladanan dengan tutur kata yang baik dan perilaku yang mulia. Dari sekian ribu hadits, adakah kita temukan satu riwayat saja yang menyatakan bahwa baginda Rasulullah Saw. pernah mengumpat atau menghina seseorang? Tidak ada. Jika Rasulullah Saw. tidak melakukan hal seperti itu, maka jika kita melakukannya, pantaslah kita bertanya pada diri kita sendiri, “Siapakah panutan kita?” 

Kita menyadari bahwa kezhaliman terjadi dimana-mana, kemunkaran terjadi hampir di setiap sudut kota, kita harus menegakkan amar ma’ruf nahyi munkar. Kemunkaran, kezhaliman, kejahatan tidak hanya terjadi hari ini. Sejak zaman Nabi Muhammad Saw. pun sudah ada kezhaliman. Yang terpenting bagi kita adalah mari tetap meneladani uswah hasanah kita, baginda Rasulullah Saw. yang menegakkan kebenaran dan kebaikan dengan akhak mulia, dengan cara-cara yang baik. 

Rasulullah Saw. berpesan, “Sesungguhnya lemah lembut tidaklah ada pada sesuatu kecuali akan menghiasinya, dan tidaklah dicabut (kelemahlembutan) dari sesuatu kecuali akan memperkeruhnya.” (HR. Abu Dawud) 

Adalah Zaid Ibnu Sya’nah, seorang Yahudi yang cukup paham akan Taurat. Suatu ketika, Zaid Ibnu Sya’nah mendatangi Nabi Saw. untuk menagih utang kepada beliau. Saat itu Nabi Saw. sedang berkumpul dengan para sahabat.  Nabi Saw. memang berhutang kepada Zaid Ibnu Sya’nah namun masih ada tiga hari dari masa jatuh tempo hutang tersebut. 

Zaid Ibnu Sya’nah lantas berseru kepada Nabi Saw. dan menghina beliau dan keluarga beliau sebagai keluarga penghutang. Umar bin Khaththab yang saat itu sedang duduk seketika bangkit dan memarahi Zaid Ibnu Sya’nah. Kemudian, Rasulullah Saw. menegur Umar dan berkata, “Wahai Umar, kami ini perlu dinasehati. Aku perlu nasehat agar segera melunasi utang, dan dia perlu nasehat agar bersikap baik saat menagih utang.”

Kemudian, Rasulullah Saw. meminta Umar untuk pergi bersama Zaid dan menitipkan sejumlah uang kepada Umar untuk melunasi utangnya. “Umar bayarkan utangku dan lebihkan sebagai kompensasi dari rasa takutnya saat dimarahi olehmu.”   

Umar pun mendatangi Zaid Ibnu Sya’nah dan menanyakan perihal sikapnya tadi. Di luar dugaan, Zaid Ibnu Sya’nah berkata kepada Umar, “Wahai Umar, dari semua tanda kenabian yang aku baca di Taurat sudah aku temukan ada pada diri Muhammad, kecuali dua hal yaitu pertama, kemaafannya mendahului kemarahannya, dan kedua, semakin dia dikasari semakin keluar kehalusan perangainya. Itu belum aku temukan dan tadi aku menyaksikannya. Umar, engkaulah orang pertama yang melihat aku bersaksi menyatakan Laa ilaaha ilallaah waasyhadu anna Muhammadar rasuulullah! ” 

Lantas, Umar pun membawa Zaid kembali bertemu Nabi Saw. Umar menceritakan apa yang sebenarnya terjadi. Dan, Nabi Saw. pun tersenyum.

Saudaraku, salah satu pelajaran yang bisa kita petik dari dakwah Rasulullah Saw. adalah memenangkan hati manusia dengan kemaafan. Maka, marilah kita sama-sama mensyukuri karunia Allah Swt. bernama Indonesia ini dengan senantiasa mengedepankan kemaafan terhadap sesama kita, memperkuat jalinan tali silaturahim dan semangat persaudaraan. 

Allah Swt. berjanji bahwa Dia akan menambahkan karunia-Nya terhadap hamba-Nya yang bersyukur. Semoga Allah menambahkan karunia keamanan, kenyamanan, kedamaian di negeri kita Indonesia atas sikap syukur kita kepada-Nya. Karena Allah Maha Memenuhi Janji-Nya. Aamiin yaa Rabbal’aalamiin[] 

 

 *Disarikan dari rekaman ini.  

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

8 − six =

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.