Home Feature Belajar Dari Bangsa Habasyah

Belajar Dari Bangsa Habasyah

265
0
SHARE

Oleh: KH. Zainurrofieq, M.Hum

“Sesungguhnya di negri Habasyah terdapat seorang raja yang tak seorang pun didzaliminya, pergilah ke negrinya, hingga Allah membukakan jalan keluar bagi kalian dan penyelesaian atas peristiwa yang menimpa kalian”. (Kitab Fathulbari, Vol 7 hal 189).

Wasathiyyah.com–Pada tahun kelima setelah kenabian atau tahun ketujuh sebelum Hijrah ke Madinah (Yastrib), Nabi Muhammad SAW memerintahkan sahabat-sahabat yang beriman untuk berangkat menemui Raja Najasi di Habasyah, sebagai upaya penyelamatan aqidah mereka yang terus mendapatkan terror dan perlakuan tidak baik dari kaum kuffar Quraish. Perjalanan tersebut dipimpin Utsman Bin Ma’zun.

Rasulullah SAW sendiri memang tidak mendapatkan perlakuan terlalu keji seperti para pengikutnya karna rasul dilindungi Allah swt dan secara politis dijamin pamannya yaitu Abu Thalib.

Taktik dan strategi Rosul sangatlah cerdik, dimana saat itu dua bangsa besar yang layak dimintain suaka adalah Persia dan Romawi, namun Rasul malah mengarahkan agar para sahabat menyebrangi laut merah menuju Habasyah.

Hal ini ditopang karena posisi kemoderatan Raja Najasi tidak seperti Raja Roma dan Persia yang sangat protektif dan absolut pada masyarakatnya, disamping secara kesan, bangsa Habasyah lebih meyakini bahwa orang Makkah masih memiliki kesucian dengan cerita kegagalan Abrahah (salah satu gubernur Habasyah) diserang makhluk angkasa ketika ingin mengancurkan Kabah.

Selain itu karna memang juga Raja Najasi berhasil memberikan jaminan kepada Rasulullah SAW untuk menjaga dan menghormati keyakinan kaum Muslimin.

Berkat penjelasan Jafar Bin Abi Thalib tentang posisi Nabi Isya dan Maryam dalam ajaran dan  keyakinan Islam, Raja Najasi berhasil mengusir orang Kufar Quraysh yang sempat membenturkan (mengadudomba) antara Islam dan Nasrani, bahkan karna hubungan yang baik tersebut akhirnya raja Najasi masuk Islam dan ketika meninggal dunia Rasulullah sempat mensolat gaibkan raja Najasi.

Diantara buah penyebaran Islam di Habasyah adalah masuk Islamnya sang legenda budak (hamba sahaya)  yang kemudian menjadi tukang adzannya rasulullah yaitu Bilal bin Rabah. Bilal terus didesak majikannya untuk kembali kedalam kekufuran tapi malah lantang mengumandangkan kalimat “Ahad…,  ahad…, Ahad…. dan penganiayaannya terus berlanjut sampai Abu Bakar terenyuh untuk memerdekakannya.

Alhamdulillah, sampai Rasulullah SAW dikabarkan pernah mendengar terumpahnya Bilal di Surga, saking mendapat posisi yang baik dalam sejarah dakwah Islam.

Dalam Athlas Hadits An-Nabawi, Syauqi Abu Khaliil menyatakan bahwa bangsa Habasyah ini dalam posisi sekarang adalah Negara Ethiopia, dengan batas utara Eritria, selatan Kenya, Barat Sudan selatan dan timor Djiboti.

Ethiopia adalah Negara daratan yang tidak memiliki laut dengan luas 1.104.300 km2. Di Etiopia ada Ancient City (kota tua) yang digambarkan sebagai “Cameleot of afrika” dan UNESCO menyebutnya sebagai keajaiban dunia ke delapan.

Diantara keunikaan Ethiopia juga adalah Negara tersebut tidak memiliki hari kemerdekaan karena memang tidak pernah dijajah bangsa lain dalam sejarahnya.

Pada tahun 2000, Ethiopia dinyatakan sebagai Negara termiskin ke 3 di dunia. PDB (Produk Domestik Bruto) nya perkapita saat itu cuman 650 dollar As, lebih dari 50 persen penduduknya hidup dibawah garis kemiskinan global. Ditambah wabah kekeringan dan busung lapar tahun 1983-85 sampai 400.000 jiwa meninggal karna kelaparan.

Namun secara mengejutkan, Word Bank menyebutkan dalam satu dekade saja Negara dengan berpenduduk 105.350.020 (tahun 2000) yang 43,55% nya berkepercayaan ortodok dan 33,9% muslimin itu mengalami kemajuan yang luarbiasa, bahkan menurut FSI (Food sustainability Index) sempai menduduki peringkat ke 12 sebagai Negara adidaya pertanian dan ketahanan pangan tepat satu tangga dibawah USA (urutan 11), pertumbuhan ekonomi yang kuat dan berkelanjutan rata-rata 10,9 persen pertahun, dibandingkan negara tetangganya Nigeria hanya 2,1 persen. Ghana hanya 6,4 persen.

Seorang ahli ekonomi politik  Afrika dari Universitas of st. Andrew, Ian Tailor mengatakan bahwa model yang digunakan Etiopia adalah mirip dengan yang terjadi di China di awal-awal abad 21. Dan memang China telah melengkapi Addis Ababa dengan jalan lingkarnya senilai 86 juta dollar, persimpangan seharga 12,7 juta dollar, jalan raya seharga 800 juta dollar dan jalur kereta api senilai 4 milyar dollar AS. China juga tercatat membangun system kereta bawah tanah pertama dikota ini yang mampu mengangkut 30.000 penumpang perjam. AfDB (African Develofment Bank) memastikan Etopia akan memfokuskan pembangunan ekonominya pada jalur infrastruktur dengan belanja 89 juta Dollar Amerika, selain itu kini tengah membangun proyek yang sangat ambisius sedaratan Afrika yaitu bendungan Grand Renaisance yang akan mampu megeluarkan tenaga listrik 6000 mega watt untuk pemakaian industrialisasi, domestic dan ekspor. Sejak tahun 2000, kreditur china telah memberikan sejumlah dana sebesar 12,1 milyar dollar AS.

Pada 11 oktober 2019 lalu, negri yang tengah berlari mengejar ketertinggalannya ini kembali mengguncangkan dunia dengan raihan perdana mentri termudanya Abiy Ahmed Aly yang baru berusia 43 tahun meraih Nobel Perdamaian dari Ketua komite Nobel Norwegia Berit Reiss Andersen. Abiy merupakan praih Nobel Perdamaian ke seratus setelah menyingkirkan 301 nominator lainnya ( 223  tokoh indifidual dan 78 organisasi). Abiy dianggap sangat layak mendapat anugrah tersebut karna kerja nyatanya dan dalam tempo waktu yang sangat singkat.

Semboyannya yang diusung dalam bahasa Etiopia : “Medemer” (kebersamaan dan insklusivitas) telah menjadi saksi terselesaikannya konflik Islam Kristen, disamping dengan segala kebijakannya yang tergolong radikal ia mencoba memulihkan apa yang sedang dialami Negara. Membebaskan ribuan tahanan politik, mencabut keadaan darurat, mencabut segala control pemerintah pada media, memecat cabinet yang masuk dalam lingkaran masalah, serta reformasi ekonomi yang sangat berdampak pada percepatan hingga IMF menyatakan Etiopia sebagai Negara pertumbuhan tercepat di afrika tahun 2018.

Abiy pun menyudahi konflik dengan Eritria yang sudah berlanjut 20 tahun dengan menandatangani deklarasi damai dengan Isaiah Afwerky.

Semboyan perdamaiannya yang terkenal dan dipajang di bangunan  museum adalah: “I Believe peace  is the affair of the heart,  peace is a labor of love”.

Bersyukur dipenghujung tahun ini, saya bisa menyertai para tamu Allah dan tamu Rasulullah bisa singgah di Addis Ababa (ibu kota Etiopia) telah  belajar dan melengkapi nilai-nilai ruh kesucian dalam membangkitkan kehidupan diri dan peradaban bangsa. Terima kasih pak Eka (marketing Air Etiopian), Getway Tour&Travel serta Mrs. Margarete (Guide Tour).

Bungabaru, 30 Desember 2019

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

fourteen − 5 =

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.