SHARE
www.whitecase.com

Oleh : Teguh A. Deswandi

Saat pesawat ini berada di holding area, berputar sekian menit untuk menunggu antrian landing, kami sudah dapat menyaksikan gemerlap kota yang penuh dengan sejarah itu. Pijaran bola lampu di kota ini seperti ikatan tali tak berputus, menyambung dari satu distrik ke distrik lainnya. Walau pijarannya sedikit melemah, karena alam berada dalam spektrum warna biru muda, yang sesuai dengan frekuensi tiroid, artinya saat itu sudah masuk waktu Subuh, hingga pijaran lampu sedikit terbias oleh warna langit yang membiru.

Kami kembali meyakinkan diri, bahwa saat ini jasad kami berada di sebuah negeri yang pernah diceritakan Rasulullah Saw. Negeri futuristik yang menjadi kenyataan dari janji Rasul 14 abad silam, negeri yang memberikan jaminan keindahan alam dan mozaik Islamnya itu kini berada tepat dalam pijakan kaki. Tapak kami mulai menelusuri jejak Al-Fatih kala masuk di jantung Konstantinopel, kota yang dijanjikan Rasul bagi umat Islam ini, benar-benar membuat takjub. Bagaimana tidak, sejak bus bertolak dari bandara Attaturk, kami disuguhkan oleh indahnya panorama yang tiada henti.

Cuaca di bawah 7 derajat celcius, tidak membuat saya beserta traveller lainnya tertegun dengan keindahan alam yang tersaji, dirangkai bangunan dan lekukan geografis yang dikelilingi lautan, serta banyaknya peninggalan budaya dari setiap peradaban Romawi & Islam menambah cantik kota 1000 minaret ini, it’s an amazing city! Sangat detail, perancangan kota dengan situs-situs yang gagah berdiri ini menunjukan tiada ketimpangan antara infrastruktur dan aspek budaya, seimbang dan eksotik.

Di mulai dari Hippodrome kaki melangkah dengan sedikit basah oleh air akibat embun dan hujan rintik khas musim dingin di Istanbul. Energi dan aura yang terpancar, benar-benar melenyapkan kelelahan setelah terbang 11 jam lebih dari Jakarta. Berjalan riang, sesekali berdiam dengan gaya fokus pada kamera yang tertuju. Selfie, wefie dan foto bersama di setiap tempat dan situs yang teramat sayang untuk dilupakan.

Candaan Imron, seorang Tourguide berkebangsaan Turki berdarah Maroko membuat suasana hangat ditengah gigil yang menerpa. Perbedaan fisik dan karakter Imron dengan kami sangat jelas, selain lebih eye-catching, dia seolah tak merasakan kedinginan, dengan hanya menggunakan kaos dan jaket tipis berlengan pendek. Dia memiliki selera humor yang baik, karenanya, sangat mudah dan asyik berbaur dengan para traveller. Candaan dan keriangan Imron sedikit ‘melupakan’ bahwa kami sedang kedinginan. Sesekali candaannya garing, tapi di saat itulah justru candaan yang paling menghibur, karena mimik wajahnya yang sangat berkesan.

Pagi itu, di bawah rintik hujan, kami menelusuri komplek bekas pacuan kuda era Kekaisaran Romawi, saat ini bernama Sultanahmet Square. Taman komplek indah ini terletak dalam satu area dengan Basilica Cistern, Blue Mosque, Hagia Sophia dan disampingnya Istana Topkapi. 1 pilar dan 2 obelisk menambah background indahnya ber-wefie ria.

Di Sultan Ahmet Square ini juga terdapat sejumlah bangku taman yang bisa kita gunakan untuk istirahat dan bersantai sejenak setelah berkeliling area. Di setiap sudut, ada beberapa pedagang kacang turki dan jagung bakar meski dengan roda seadanya tetapi tidak merusak tatanan keindahan taman. Bahkan tidak jarang turis mancanegara senang berfoto dengan mereka, selain karena tampang penjual yang betah dipandang terutama bagi kaum hawa, gerobak rodanya pun sedikit unik. Tak heran kaum hawa paling banyak yang berburu foto dengan para pedagang, wisatawan pria pun ada, termasuk saya.

Terus berjalan, hingga sampai di sebuah German Fountain, ini adalah bangunan air mancur bergaya arsitektur neo-byzantine yang merupakan hadiah dari Kaisar Jerman Wilhelm II. Bangunan air mancur ini terletak di pintu masuk Hippodrome sebelah utara, persis di depan Masjid Biru. Rasanya saya berada pada era klasik yang melibatkan kolosal peran, tentunya dengan hiasan mozaik Arab yang teramat kental dan detail. Tanah yang saya pijak saat ini pernah dikuasai oleh 3 Kekaisaran besar saat itu, Romawi, Byzantine dan Ottoman. Sebuah sejarah yang mustahil terlupa dalam tinta emas lembaran Turki.

Berkunjung ke Negeri Al Fatih, seolah mengajarkan saya betapa kokohnya pasukan Muhammad Fatih, tak kenal lelah, tak pernah surut dari inovasi, terus bergerak, bergerak dan bergerak. Move to life, terus bergerak untuk keagungan kalimat Allah Swt. di bumi Utsmaniyyah. Percaya diri dan teguh dalam pendirian histori, bahwa mereka adalah pasukan terbaik yang pernah di-ikrarkan Rasulullah Saw. Melihat dan menyaksikan benteng besar dengan batasan laut dan pagar bukit tinggi, mampu ia taklukan, melawan kemustahilan para penguasa, bukan menjebol tirai rantai raksasa, tetapi mengangkat kapal perang melintasi bukit yang tinggi.

Masih banyak sesungguhnya cerita yang mengundang rasa di negeri ini, karena setiap pojokannya meliputi langkah para muslim sejati, dari janji sang Nabi.[]

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.