Home Feature Tanah Tuhan

Tanah Tuhan

132
0
SHARE

Oleh: Syamsu Alam Darwis *)

Kyai Haji Arfah, di sore yang sejuk itu sedang menyeruput kopi kesukaannya di depan teras rumah, bikinan sang Istri. Sudah sebulan sang Kyai mengisolasi diri di rumah, sepulang dari Mesir, Negeri Para Nabi, mengisi ceramah dihadapan pelajar dan warga Indonesia. Kopi yang diseruput pun adalah kopi khas oleh-oleh dari Mesir, Qahwa Bil Bunduq, kopi robusta yang dicampur dengan kopi Arabika dan kacang Hazel Nut. Kyai Arfah hari-hari ini tidak lagi mengisi pengajian di Islamic Center Mataram atau menghadiri undangan khutbah Jumat dan pengajian di kampung-kampung,  beralih ke pengajian pagi online.

Sore itu, Kyai Arfah membuka-buka percakapan jejaring sosial WA di ponselnya, dan  membuka grup diskusi Mataram Beriman, grup pengajian di kota itu. Ada Farel, salah seorang jamaah yang rajin pengajian  langsung mengajukan pertanyaan. “Pak Kyai, apakah kita boleh menolak jenazah COVID-19, ?“

“Iya Saya baca itu,” jawab Kyai Arfah. “kabar perlakuan itu kita baca semua, sangat menyedihkan ada jenazah perawat dan warga lainnya yang terkena COVID-19 ditolak dimakamkan di lingkungan mereka,” Seru Kyai Arfah.

“Alasannya mungkin belum dapat ijin warga atau juga masih ada rasa takut kalau dimakamkan disana akan menularkan virus itu Pak Kyai,” seru Khadijah menimpali, salah satu jamaah keturunan Arab yang mukim di pesisir Pantai Ampenan.

“Begini,” Kyai Arfah mencoba menjelaskan.

“Islam memandang seluruh muka bumi ini adalah Tanah Sang Pencipta, Tanah Tuhan, tempat layak huni sekaligus tempat beribadah kepada Allah SWT, kita umat manusia ini hanya dititipkan bumi ini untuk kita makmurkan. Memakmurkan bumi ini dengan perbuatan amal-amal shaleh, menjaga keesaan Allah SWT dan berbuat baik antar sesama makluk,” ungkap Kyai Arfah.

“Nah, pengantaran jenazah ke tempat terakhir adalah salah satu amal kebaikan yang dianjurkan, apalagi jenazah yang akan dimakamkan ini sudah memenuhi standar protokol khusus kesehatan, jenazah dibungkus dalam kantong jenazah yang sangat rapat, lalu dimasukkan ke dalam peti, disemprot disinfektan untuk memastikan kondisi lebih steril, virus corona tidak mencemari tanah atau sumber air di sekitar pemakaman, selain itu petugasnya juga sudah dilatih khusus untuk pemakaman jenazah COVID-19 dengan benar dan aman” ujar Kyai meyakinkan.

Kyai Arfah berusaha menambahkan dengan mengambil contoh adanya jenazah yang terinfeksi COVID-19 dimakamkan di pemakaman Baqi’ Madinah, yang lokasinya persis di samping Masjid Nabawi. Jenazah itu dimuliakan, diperlakukan dengan sangat baik. Salat jenazah dilakukan di pemakaman, lima petugas penggotong dan pengubur jenazah berpakaian lengkap dengan alat perlengkapan diri (APD).

Kyai Arfah menerangkan agar lebih lengkap bagaimana perlakuan Baginda Rasulullah SAW kepada jenasah, siapapun itu, baik muslim ataupun non muslim. Suatu hari Rasulullah mendapati rombongan yang mengangkut jenazah lewat di hadapan beliau. Nabi pun berdiri menghormati. Sahabat beliau segera memberi tahu dengan nada seolah protes, “Itu kan jenazahnya orang Yahudi, mengapa kita harus berdiri” “Bukankah ia juga manusia?” sahut Rasulullah. “Kematian itu sangat menakutkan. Karena itu, apabila kalian melihat jenazah (apapun agamanya) yang sedang lewat, berdirilah sejenak (agar kalian ingat mati),” jawab Rasulullah kepada para sahabat.

Rasulullah menjawabnya dengan pertanyaan, “Bukankah dia manusia (nafs)?” Dengan jawaban semacam ini Rasulullah seakan mengingatkan para sahabat bahwa tiap manusia layak mendapat penghormatan, terlepas dari apa latar belakang sosial dan agamanya, bahkan ketika manusia itu sudah terbaring lunglai kaku menjadi mayat. Baginda Rasulullah memberikan contoh yang sangat apik. Nabi berdiri itu karena para malaikat juga berdiri saat ada jenazah yang hendak dikebumikan,  Nabi berdiri karena mengagungkan Allah Swt. yang telah mencabut nyawa manusia, dan Nabi berdiri saat jenazah Yahudi hendak dikebumikan itu karena Yahudi itu pun sama dengan manusia lainnya, manusia ciptaan Allah yang sama-sama harus dihormati dan dimuliakan di tanah peristirahatannya yang terakhir.

“Saudara-saudaraku, anggota grup yang mulia, kisah ini memberi keteladanan bagi kita semua, betapa agungnya kemanusiaan dalam Islam. Rasulullah meneladankan kepada umatnya tak hanya teguh di jalan tauhid tapi secara bersamaan juga ikhlas menghargai martabat manusia, apa pun latar belakangnya,” ungkap Kyai Arfah menutup penjelasan.

“Kyai, bagaimana kalau ada diantara kami yang ingin wakafkan tanahnya untuk pemakaman COVID-19,” Tanya Zaky kepada Sang Kyai.

“Barakallah,” Sergap Kyai Arfah spontan

“Mewakafkan harta yang dimiliki berupa tanah untuk kepentingan warga secara umum merupakan satu tindakan yang amat mulia, apalagi mewakafkan sebagai tanah pemakaman korban COVID-19, itu sungguh sangat mulia,” Ulas Kyai Arfah.

“Pak Zaky sebagai Calon Waqif bisa datang ke KUA terdekat, bawa KTP dan dokumen sah atas tanah yang dimiliki, di KUA ucapkan ikrar wakaf kepada nazhir (pengelola harta wakaf) dengan saksi Kepala KUA dan para penerima manfaat, selanjutnya Kepala KUA membuat akta ikrar wakaf dan surat pengesahan, salinan akta ikrar diberikan pada waqif dan nazhir, kemudian Nazhir melakukan pendaftaran atas tanah wakaf ke Badan Pertanahan Nasional (BPN),” jawab Kyai Arfah.

Kyai Haji Arfah menatap langit Mataram yang sudah mulai mendung, hembusan angin yang lirih dan semakin dingin. Hujan datang  membasahi bumi, Seketika itu Adzan Magrib berkumandang, Kyai Arfah pamit di grup sosial yang beroperasi 24 jam tiada henti itu untuk Salat Magrib berjamaah bersama keluarga. (WST/YNF)

*) Direktur Azkia Institute Jakarta.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

sixteen − 14 =

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.