Home Feature Ramadhan di Damaskus

Ramadhan di Damaskus

280
0
SHARE
Dadan Ali Murdani, Lc.

Oleh : Dadan Ali Murdani

Ramadhan kali ini di Suriah terlihat lebih tenang dan damai dibandingkan dengan Ramadhan tahun-tahun sebelumnya pasca meletusnya Arab Spring delapan tahun lalu yang telah memporak-porandakan Suriah dengan perang sipilnya. Perang itu telah melumpuhkan keamanan dan ekonomi masyarakat setempat yang efeknya masih terus terasa bahkan hingga memasuki bulan Ramadhan seperti sekarang. Sehingga masyarakat Suriah pun tidak dapat memaksimalkan perayaan Ramadhannya sebagaimana umat muslim pada umumnya di belahan dunia lain.

Padahal beragam tradisi dan ritual ke ramadhanan sudah mendarah daging bagi masyarakat Arab lebih khusus lagi Suriah, sampai-sampai wilayah Syam ini dikenal dengan ‘kota yang tidak pernah tidur’ kala Ramadhan menjemputnya. Akan tetapi, itu semua kini tinggal cerita.

Suriah dengan ibu kotanya Damasksus tidak seperti dulu lagi. Tidak seramai dahulu kala. Bukan karena mereka enggan keluar dengan alasan faktor keamanan, namun mereka memang ‘dipaksa’ tidak keluar karena alasan ekonomi yang tak kunjung memihak.

Jalanan kota yang lebarnya lebih besar dari jalan-jalan di ibu kota kita, hanya menyisakan aspal panas yang sesekali saja digilas ban mobil. Ya, alat-alat transportasi sudah jarang terlihat, mengingat bahan bakar yang semakin langka dan mahal. Tidak aneh jika satu SPBU bisa di kerumuni oleh banyak mobil yang mengular sampai tiga kilo meter jauhnya.

Saat ini, Suriah juga mulai memasuki musim panas di mana waktu siangnya jauh lebih lama dibandingkan waktu malam. Artinya, penduduk di sini harus rela menahan lapar dari pukul 04:00 subuh sampai adzan Maghrib berkumandang pukul 20:00 waktu setempat. Namun meski demikian, masyarakat di sini sudah terbiasa menjalani puasa di tengah terik mentari yang semakin panas dengan tempo waktu siangnya yang semakin lama. Untuk yang tinggal di kawasan Damaskus mungkin sedikit lebih beruntung karena cuaca di kota ini terbilang cukup sejuk.

Guna menyemarakkan ramadhan di sini, pihak KBRI Damaskus selalu mengadakan  buka puasa bersama WNI dan mahasiswa setiap Kamis selama bulan Ramadan. Acara tersebut sudah menjadi tradisi di kedutaan yang terus diwariskan dari satu generasi ke generasi. Adapun mengenai pelaksanaannya hari Kamis, dikarenakan Kamis di Suriah dan juga dunia Arab lainnya merupakan akhir pekan sehingga bisa dimanfaatkan untuk bersilaturahmi antar sesama warga perantauan.

Setiap Kamis staff  KBRI bergantian menjadi panitia untuk acara buka bersama. Kehangatan suasana di KBRI setiap Kamis sejenak dapat mengobati pada suasana berbuka puasa di kampung halaman mereka di mana menu yang dihidangkan pun khas nusantara, sebut saja bakso, opor, gulai dan lain-lain.

Suriah juga cukup kaya dengan aneka kulinernya  seperti baba ganoush,  fattoush, sawarmma ful, madams kabab bil karraz hummus dan lainnya. Mungkin nama-nama ini masih asing di telinga Indonesia, untuk bisa membayangkannya,  sedikit kami berikan gambarannya. Baba Ganoush adalah campuran terong panggang yang dimasak bersama dengan minyak zaitun dan dibumbui tomat. Makanan ini biasanya digunakan untuk sambal roti. Sedangkan Sawarma, sejenis sandwich yang dilengkapi dengan irisan ayam atau daging kambing lalu dilumuri salad mayones dan mukhalal, sejenis acar, atau disebut tursi bagi orang mesir.

Yang berbeda dari kebiasaan masyarakat Suriah menjelang takjil adalah tidak ditemukannya tradisi buka puasa di jalanan. Tidak seperti negara-negara Arab lainnya semisal Mesir yang kerap kali menyediakan maidaturrahman (jamuan Tuhan) yang bisa  didapati di jalanan umum mana saja dengan tenda-tenda besar dan meja makan yg berjejer panjang. Di Suriah tradisi ini hanya dilakukan di dalam masjid saja.

Pun dengan ritual Tarawihnya. Di Suriah lebih khusus lagi di Damaskus, rakaat Tarawih diseragamkan sesuai dengan anjuran mayoritas ulama di negara ini yakni 23 rakaat. Sedang bagi yang ingin menjalankan 8 rakaat saja mereka diperbolehkan untuk meninggalkan barisan shalat lebih dulu.

Betapapun, Damaskus di kala Ramadhan tetaplah menjadi kota yang indah, kota penuh bersejarah yang jejaknya masih nampak hingga sekarang. Kota yang pernah menjadi panggung kolosal tentang perdamaian dan persaudaraan antar umat manusia.

Salah satu jejak tersebut bernama Al Jami Al Umawi atau masjid Umawiyah. Dahulunya, bangunan ini merupakan tempat peribadatan bangsa Aram dalam menyembah dewa Haddad. Kemudian, ketika agama Nasrani berkembang di Damaskus pada abad ke 4 Masehi, bangunan ini berubah menjadi gereja yang bernama gereja St. John the Baptist Basilica.

Berikutnya, saat Islam masuk ke Damaskus, untuk menjaga kerukunan hidup beragama, umat Nasrani membagi tempat ibadah mereka ini menjadi dua bagian, yang sebelah timur untuk gereja dan sebelah barat menjadi berfungsi sebagai masjid. Oleh karenanya, kedua menara di masjid ini tidak sama pada umumnya. Dua umat beragama beribadah di tempat yang sama, hanya dibatasi dinding pemisah saja.

Dari bangunan yang sama inilah umat Islam mengumandangkan adzan sebagai panggilan shalat, dan umat Nasrani membunyikan lonceng sebagai panggilan ibadah mereka. Hal ini berlangsung kurang lebih selama 70 tahun. Maka, tidak heran jika sampai sekarang umat Nasrani dari berbagai penjuru negara masih ada yang berdatangan ke masjid Umawi ini untuk berziarah. Di salah satu sudut masjid Umawi ini terdapat satu menara putih yang diyakini oleh sebagian umat Nasrani bahwa Almasih selaku juru selamat akan turun kembali ke dunia melalui menara tersebut pada akhir zaman. Hal yang mana diyakini pula oleh kaum muslimin bahwa nabi Isa as. akan turun kembali ke bumi sebagaimana disampaikan oleh nabi Muhamad Saw. dalam salah satu haditsnya.

Belum lama Suriah dilanda perah saudara yang begitu menyakitkan, sudah tidak terhitung lagi berapa korban yang berjatuhan karenanya. Perang memang tidak menyisakan apa-apa selain tangis pilu kesedihan. Namun, Ramadhan datang membawa secercah kesejukan di tengah sahara. Semakin hari, Suriah, khususnya Damaskus semakin terasa tenang dan aman. Masyarakat semakin merasa leluasa beraktifitas. Semoga Ramadhan tahun ini membawa hawa perdamaian bagi Suriah dan juga bagi negara-negara yang sedang berkonflik pada umumnya.[]

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.