SHARE
Gambar dari aqlnews.com

Oleh : Teguh A. Deswandi

“Diam itu emas”, demikian pepatah yang sudah lama kita dengar. Tetapi pada kondisi tertentu, malah ada ungkapan lain bernada canda, “Diam itu mem’bete’ kan”, atau “Diam itu membosankan”. Adigium ‘Diam itu emas’ lebih menunjukan pada saat interaksi yang kurang bermanfaat.

Ketika obrolan, atau candaan sudah mengarah ke perihal yang tidak jelas, maka Islam mengajarkan untuk berdiam diri. Baik lisan maupun tindakan, hal itulah yang menjadikan bahwa diamnya lebih mulia daripada sebatang emas. Karena dalam kesunyian diam-nya, ia akan berusaha menciptakan energi pikir yang bisa menghasilkan sesuatu lebih bernilai daripada nilai emas.

Baiklah, sekarang mari kita putar angle tulisan ini untuk kembali pada arah tema di atas. Ketika ‘diam’ itu berbahaya, ketika ‘diam’ itu seolah menghanyutkan dengan cara yang teramat lembut, bahkan nyaris tak terasa. Diam akan menjadi semacam malapetaka yang teramat dahsyat pada bangunan kokoh sekalipun.

Sesuatu yang tampak diam atau senyap, kerap membuat ribuan pertanyaan. Mengundang misteri yang sulit ditebak, melompat tak tentu arah, bisa juga muncul suatu hal yang tak pernah diperkirakan sebelumnya. Air yang diam, jangan dikira arus bawahnya tak melaju kencang, jiwa yang diam –pastinya- memiliki energi kuat untuk ‘meledak’ kapan saja secara tak terduga.

Diam tidak selamanya aman. Ia bisa menunjukan sinyal siaga untuk menghadapi gejolak selanjutnya. Gejolak yang tak pernah dipikirkan sebelumnya. Seorang anak akan sangat takut, ketika ayahnya hanya diam membisu, karena ia sulit menebak apa yang akan dilakukan sang ayah selanjutnya, apakah diam-nya tanda menyetujui apa yang ia lakukan, atau sebaliknya (?), dalam diam-nya mengundang riak pikir yang –sejatinya- menjadi alasan sang anak untuk berbenah, hingga result diam-nya itu menjadi energi positif yang luar biasa.

Misteri ‘diam’ akan naik bertahap, jika level diam itu terus berlanjut pada hal negatif, karena tiada yang peka terhadap proses diam itu, maka muncullah sebuah sikap yang lebih membahayakan, yakni mengacuhkan semua yang ada di sekitarnya. Acuh alias cuek adalah akibat dari bahaya diam yang tidak segera ditangkap sinyalnya.

Dalam Islam, yang paling ditakuti pada kehidupan ini, ketika Allah Swt., Dzat Maha Segalanya sudah mendiamkan makhluknya dalam kubangan kenistaan. Tiada teguran, atau bahkan seolah diacuhkan oleh Khaliq adalah malapetaka yang teramat besar dalam kehidupan manusia.

Jika diaplikasikan pada kehidupan sehari-hari, baik dalam ranah keluarga maupun dunia kerja, maka diam dan acuh itu akan berakibat fatal pada keberlangsungan hidup komunitas itu. Jika seorang suami atau istri telah memberikan sinyal diam pada pasangannya, maka –sejatinya- pasangannya harus saling membahu untuk meredakan sinyal itu, agar tidak melangkah pada derajat ‘acuh’.

Pun demikian jika terjadi pada dunia kerja, jika atasan sudah merasa diam pada aspek yang awalnya begitu respek, maka tim harus segera peka untuk menangkapnya. Berusaha menghindari rasa pimpinan untuk menaiki level ‘diam’-nya ke tingkatan ‘acuh’ (don’t care) terhadap kualitas kerja yang terjadi.

Perlu kepekaan dan keterampilan dalam merespon ke-diam-an. Memilih diam ketimbang udapan atau perbuatan yang buruk, tentu diam itu akan menjadi emas. Tapi, membiarkan suatu masalah dengan cara diam, ini sejatinya menyalakan bom waktu yang bisa meledak sewaktu-waktu. Berbijaksanalah, karena segala sesuatu ada waktu dan alasannya, termasuk urusan diam.[]

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.