Home Feature Tujuh Ramadhan, Haul Sang Kiai

Tujuh Ramadhan, Haul Sang Kiai

188
0
SHARE

Oleh Aguk Irawan MN.

Dalam suasana yang mencekam, di pondok Pesantren Tebuireng, tiba-tiba salah seorang cucu yang imut dan berwajah polos mendekat pada kakeknya. “Ka-kek…” Sang Kakek yang dipangil itu langsung menimpali.

“He’em, ada apa sayang?” Jawab Kiyai Hasyim sambil tersenyum. Tak lama kemudian cucu Kiyai Hasyim, bernama Abdurrahman itupun berbisik ketelinga kanan sang Kakek dengan manja, “Kakek ada tamu dari utusan Jenderal Soedirman dan Bung Tomo. Penting, katanya.”
Wajah Kiyai Hasyim berubah menjadi sedikit tegang. Tak lama kemudian ia pun mengatakan sesuatu kepada para santrinya.

“Kali ini ngaji ditunda. Kita lanjutkan setelah tamu pulang.” Tak lama setelah menutup kitabnya. Dua tamu yang terdiri dari laskar pejuang dari kelompok Hizbullah dan Sabilillah itu sudah menunggu di depan pintu ndalem Kiai itu langsung unjuk salam secara bersamaan.

“Assalammualaikum, Kiyai.”

“Wa’alaikumsalam,” jawab Kiyai Hasyim datar dan teduh.

“Rupanya ada tamu penting. Sudah lama menunggu?”

“Belum seberapa Kiyai, mungkin baru sepuluh menit yang lalu.”

“Kami berdua utusan panglima Besar Soedirman dan Bung Tomo.” Berhenti sesaat, kemudian salah satunya melanjutkan.

“Panglima Jenderal Soedirman dan Bung Tomo titip salam untuk Kiyai. Dan beliau terus memohon agar Kiyai meningkatkan doanya untuk laskar pribumi di medan peperangan.”

“Alaikuma salam warakhmatullah wabarakatuh…, sampaikan kembali salamku untuk mereka berdua.”

“Insyaallah Kiyai.”

Kedua tamu itu menceritakan kondisi terakhir di medan pertempuran, bahwa situasi sedang gawat dan darurat. Belanda telah melakukan perlawanan sengit, dan melibatkan tentara sekutu lebih dari 200.000 dengan senjata lengkap.

“Beliau meminta, jika situasi di Jawa Timur, khususnya di Jombang tak terkendali, Kiyai diminta mengungsi. Bung Tomo dan Jendral Soedirman sudah menyiapkan tempat khusus untuk Kiyai dan beberapa santri.”

“Menurut kabar yang saya terima, Tanjung Perak di Surabaya, dan kawasan Rejosari Malang sudah dikuasai oleh Belanda, lebih dari 1000 pejuang Hizbullah, Sabilillah dan TNI sudah gugur.”

“Rupanya sudah sedemikian genting,” kata Kiyai Hasyim sambil menahan sesak napas, mengelus- ngelus dada karena sangat kaget mendengar berita itu.

“Berapa lama kira-kira perang akan berlangsung?”

“Tidak tahu Kiyai, tapi kian hari, pusat perbentengan pribumi kian terpuruk. Pegunungan Malang sudah dikuasai penuh.”

“Masya Allah, Masya Allah, Masya Allah,” tiba-tiba kedua mata Kiyai Hasyim terpejam, dan tubuhnya sedikit bergetar. Tak lama kemudian tubuh renta itu menimpa cucu yang sedang duduk di pangkuannya.

“Kakek, Kakek?” kontan saja sang cucu cemas, sambil mencoba membangunkan tubuh kakeknya, tapi kakeknya belum bisa bangun. Matanya tetap terpejam. Anak itu panik, lalu menangis..“Eheh..ehe, Kakek…!!” Kedua utusan itu langsung mendekat pada Kiyai dan mencoba membangunkan Kiyai dari ketidaksadarannya. Badan Kiyai lemas, wajahnya pucat-pasi.

Salah seorang dari tamu itu kemudian memberitahu keluarga ndalem dan mengabarkan peristiwa itu pada para santri. Tidak sampai lima menit, ruang tamu itu sudah dipadati keluarga besar dan beberapa santri. Datanglah dokter Angka untuk memeriksa kesehatan Kiyai. Keluarga diminta untuk mengangkat Kiyai ke tempat tidur agar bisa beristirahat. Kiyai Hasyim diduga terkena serangan jantung.

Setelah semuanya terkendali, dua orang utusan itu pamit dan kembali bergabung ke medan pertempuran bersama TNI. Hingga tengah malam kondisi Kiyai Hasyim yang masih pingsan belum membaik. Sesekali sadar, dan saat itu ia sering menyebut-nyebut laskar Hizbullah, dan laskar Sabilillah, kemudian melafalkan wirid dan shawalat. Para santri dan kelurga yang hadir mendoakan kesembuhannya. Tapi Allah berkehendak lain, sekitar pukul 3 dini hari, ketika orang hendak melakukan sahur, Kiyai Hasyim menghadap kepada Allah, bertepatan dengan 7 ramadhan bertepatan dengan tanggal 26 Juli 1947.

Innalillahi wainnailaihi rajiun. Negeri berkabung saat hari-hari bercampur darah para pejuang, pertempuran terus memakan korban. Maka pada 30 Juli 1947, Nehru, Presiden India, dengan resmi meminta supaya aksi militer Belanda dimasukkan ke dalam agenda Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-bangsa (PBB).

Sanad Keilmuan

KH, Hasyim Asy’ari dilahirkan pada tanggal 10 April 1875 atau menurut penanggalan arab pada tanggal 24 Dzulqaidah 1287H di Desa Gedang, Kecamatan Diwek, Kabupaten Jombang, Jawa Timur. Ia putra dari pasangan Kyai Asyari dan Nyai Halimah, Ayahnya Kyai Asyari merupakan seorang pemimpin Pesantren Keras yang berada di sebelah selatan Jombang. Ia anak ketiga dari 11 bersaudara. Dari garis keturunan ibunya, KH. Hasyim Asyari punya nasab kedelapan dari Jaka Tingkir (Sultan Pajang).

Setelah mengembara dari pesantren ke pesantren di Pulau Jawa, tepatnya usai mondok di Pesantren Darat, asuhan Kiyai Sholeh Darat. Ia sungguh beruntung, selain bertemu dengan santri lain seperti Kiyai Ahmad Dahlan (Darwis). Kiyai Munawwir. Kiyai Mahfudz Termasi dan lain sebagainya. Dari Kiyai Soleh Darat ini, sanad keilmuannya sampai ke Rasulallah dan para Empu di Tanah Jawa.

Di Hijaz, Ia berguru pada Syaikh Nawawi Al-bantani, Syaikh Ahmad Khatib Minangkabau, Syaikh Mahfudh At Tarmisi, Syaikh Ahmad Amin Al Aththar, Syaikh Ibrahim Arab, Syaikh Said Yamani, Syaikh Rahmaullah, Syaikh Sholeh Bafadlal, Sayyid Abbas Maliki, Sayyid Alwi bin Ahmad As Saqqaf, dan Sayyid Husein Al Habsyi. Sementara di Jawa, melalui Kiyai Soleh Darat, ia mendapatkan ilmu keislaman yang sintesis dengan kearifan lokal, yang sandanya sampai ke Kanjeng Sunan Kalijaga, bahkan Empu Prapanca.

Cerita sanad-nya itu demikian; atas perintah gurunya, Sunan Bonang, Sunan Kalijaga diperintah menyadur naskah Kemandalaan-Majapahit, Silakrama karya Empu Prapanca, hasilnya adalah Serat Dewa Ruci. Kitab ini kemudian diajarkan kepada Sunan Bayat, hasilnya Nitibrata. Diajarkan kepada Ki Ageng Donopuro hasilnya Swakawiku. Diajarkan kepada Kiai Hasan Besari hasilnya adalah Krama Nagara. Diajarkan kepada Kiai Anggamaya hasilnya adalah Dharmasunya. Dijarkan kepada Kiai Yosodipura I hasilnya Sana Sunu. Diajarkan kepada Kiai Katib Anom hasilnya adalah Wulang Semahan. Diajarkan kepada Kiai Shaleh Asnawi hasilnya adalah Dasasila. Diajarkan kepada Kiai Sholeh Darat hasilnya adalah Sabilul Abid. Diajarkan kepada Kiai Hasyim Asy’ari hasilnya adalah Adabul Alim wal Muta’alim.

Karena itu, tak mengherankan ada kedekatan subtantif antara ajaran Kiyai Hasyim Asyari dalam Adabul Alim wal Muta’alim dengan Empu prapacanca, dengan Kitab Silakrama, terutama titik temu ada dalam bab tiga, adab murid kepada gurunya dan bab dua (a), naskah Lontar Empu Prapanca.

Nasionalis Sejati

Kiyai Hasyim Asy’ari adalah ulama yang tidak mau sedikitpun tunduk kepada penjajah, baik Belanda atau Jepang. Tetapi, begitu kolonial ada kesempatan untuk mendesak, langsung ia menyerukan kepada umat untuk menghidupkan agama dan ukhuwah. Inilah salah satu tipikal Kiyai Hasyim dalam berpolitik.

Pada masa penjajahan itu, ia sering dibujuk Belanda untuk tunduk, namun selalu berhasil ditolaknya. Akibat sikapnya yang non-kooperatif terhadap Belanda ini, pesantren Tebuireng pernah dihancurkan Belanda.
Pada tahun 1913 intel Belanda mengirim seorang pencuri untuk membuat keonaran di Tebuireng. Namun ia tertangkap dan dihajar beramai-ramai oleh santri hingga tewas.

Peristiwa ini dimanfaatkan oleh Belanda untuk menangkap Kiyai Hasyim dengan tuduhan pembunuhan. Dalam pemeriksaan, Kyai Hasyim yang sangat piawai dengan hukum-hukum Belanda, mampu menepis semua tuduhan tersebut dengan taktis.

Akhirnya ia dilepaskan dari jeratan hukum. Belum puas dengan cara adu domba, Belanda kemudian mengirimkan beberapa kompi pasukan untuk memporak-porandakan pesantren yang baru berdiri 10-an tahun itu. Akibatnya, hampir seluruh bangunan pesantren porak-poranda, dan kitab-kitab dihancurkan serta dibakar. Perlakuan represif Belanda ini terus berlangsung hingga masa-masa revolusi fisik Tahun 1930an.

Pada sekitar tahun 1935, Belanda memainkan politik tipu muslihat. Gubernur Belanda bersikap melunak kepada pesantrennya. Pemerintah penjajah menawarkan bantuan. Tidak cukup itu, Belanda mengumumkan akan memberikan gelar Bintang Perak kepada KH. Hasyim Asyari atas jasanya dalam mengembangkan pendidikan Islam. Tetapi gelar kehormatan dalam bidang pendidikan dan bantuan itu ia tolak. Penjajah Belanda tidak putus harapan.

Untuk kedua kalinya Kiyai Hasyim Hasyim Asy’ari didekati dengan melakukan lobi-lobi melalui orang-orang suruhan Belanda Di antaranya ia pernah dianugerahi bintang jasa pada tahun 1937, tapi ditolaknya. Justru Kyai Hasyim sempat membuat Belanda kelimpungan. Pertama, ia memfatwakan bahwa perang melawan Belanda adalah jihad (perang suci). Belanda kemudian sangat kerepotan, karena perlawanan gigih melawan penjajah muncul di mana-mana.

Kedua, Kyai Hasyim juga pernah mengharamkan naik haji memakai kapal Belanda. Fatwa tersebut ditulis dalam bahasa Arab dan disiarkan oleh Kementerian Agama secara luas. Keruan saja, Van der Plas (penguasa Belanda) menjadi bingung. Karena banyak ummat Islam yang telah mendaftarkan diri kemudian mengurungkan niatnya. Masa awal perjuangan Kyai Hasyim di Tebuireng bersamaan dengan semakin represifnya perlakuan penjajah Belanda terhadap rakyat Indonesia.

Pasukan Belanda tidak segan-segan membunuh penduduk yang dianggap menentang undang-undang penjajah. Pesantren Tebuireng pun tak luput dari sasaran represif Belanda. Pada bulan Maret 1942, Pemerintah Hindia Belanda menyerah kepada Jepang di Kalijati, dekat Bandung, sehingga secara de facto dan de jure, kekuasaan Indonesia berpindah tangan ke tentara Jepang.

Perlawanan Terhadap Jepang

Jauh hari sebelum kapal perang Jepang mendarat di Asia, Jepang sudah membuat propaganda yang menyebar ke telinga anak bangsa di seluruh tanah air tercinta. Slogan “Jepang adalah Cahaya Asia, Jepang Pemimpian Asia dan Jepang Pelindung Asia” merupakan propaganda yang sangat memberikan hawa baru bagi bangsa yang sedang terjajah.

Japang datang, Belanda meradang. Konfrontasi tentara bermata sipit itu lawan Belanda, membuat sang penjajah kulit putih itu menyerah. Bala Tentara Jepang yang dipimpin oleh Imamura itu membuat Gubernur Belanda, Jenderal Van Starkenborgh bertekuk lutut saat ditangkap di Kalijati, Subang tanggal 8 Maret 1942.

Berita dari Kalijati itu kemudian menyebar ke seluruh pelosok Jawa bahkan nusantara. Anak bangsa Indonesia semakin yakin bahwa kemerdekaan semakin dekat, sehingga mereka semakin semangat meneriakkan pekik kemerdekaan.

Di Surabaya, sekretariat Nahdhatul Ulama menjadi semarak oleh orang-orang yang terlibat di kepengurusan. Gema tahlil membahana seiring geliat pengurus yang semakin tak sabar mendengarkan apa yang akan dititahkan Kiyai Hasyim Asy’ari.

Masyarakat pun semakin berduyun-duyun berkerumun di depan gedung tersebut. Sebab mereka tahu akan ada tausiyah akbar oleh sang Kiyai yang penuh kharima itu.

“Saudara-saudaraku,” seru Kiyai Hasyim Asy’ari di tengah-tengah tausiyahnya, “dalam kesempatan ini marilah kita merunduk sejenak, bertafakur dan tentu saja menyampaikan puja-puji kita kehadirat Allah Subhanahu wa Ta’ala yang telah begitu banyak mencurahkan rahmat-Nya kepada kita. Salah satu caranya adalah dengan mendatangkan wasilah tentara Jepang untuk mengusir kompeni yang sudah bercokol selama kurang lebih delapan generasi. Kita patut bersyukur, dan salah satu cara syukur kita adalah dengan mengisi kesempatan baik ini untuk menata negeri sendiri, membangun pranata madrasah- madrasah untuk menyokong kecerdasan ummat, dan tentu saja kita tingkatkan hubungan baik ini dengan pemerintahan Jepang.”

Begitu seru Kiyai Hasyim di atas mimbar dengan suara semangat yang meluap-luap, meletup-letup. Sebuah sikap apresiasi kepada Jepang, sebagaimana yang telah ditunjukkan pula oleh pemimpin nasionalis sekuler di hampir semua daerah.

Tak ketinggalan Bung Karno dan Bung Hatta juga menyerukan hal yang sama. Hal ini,, baik langsung maupun tidak langsung, karena Jepanglah Belanda terusir dari pertiwi, dengan demikian Jepang mengurangi penderitaan rakyat yang sudah berabad-abad lamanya.

Akan tetapi, hari-hari belum genap satu bulan, harapan besar rakyat Indonesia untuk merdeka menjauh. Awal Juli 1942, Jepang yang pernah menjanjikan kepada Soekarno sebagai pemimpin GAPI untuk mengadakan kampanye publik dan membentuk pemerintahan yang sah dan berdaulat utuh di bawah kibaran bendera merah-putih, kini janji itu mereka khianati dan justru terganti dengan kebijakan yang sangat mengejutkan.

Persis pada tanggal 15 Juli 1942, tiba-tiba Jepang membuat kebijakan yang sepihak berupa larangan terhadap semua gerakan sosial dan politik. Pada tengah malam di hari itu, banyak pemimpin revelosioner yang awalnya satu barisan dengan Jepang ditangkapi.

Bahkan polisi Jepang (Kempetai) dengan begitu saja mengambil tindakan yang aneh pada pribumi. Makanan, pakaian, barang, dan obat-obatan menghilang dari pasaran. Karena sulit pakaian, banyak rakyat memakai celana terbuat dari karung goni. Hanya orang kaya saja yang punya baju yang terbuat dari kain. Itu pun kain seadanya, jauh dari layak.

Dampak dari kebijakan sepihak dan nyeleneh ini, rakyat pribumi pun sulit mendapat obat-obatan. Rumah-rumah sakit langka. Mereka yang menderita penyakit kudis, koreng, jumlahnya meningkat, karena sulit mendapatkan salep. Hampir saja tak ada anak- anak pribumi yang tidak berpenyakitan jenis ini. Karena kelangkaan obat, sementara jumlah penyakit yang mendera anak semakin banyak, jadilah pribumi membuat obat salep sendiri dari berbagai macam jenis tumbuhan, dan dipoleskan ke tempat yang sakit sebagai ganti perban.

Kelaparan melanda di mana-mana, dan karena tak kuat menahan lapar, banyak peibumi yang mengais makanan dari sisa makan orang Jepang. Saat itu tempat sampah menjadi tempat paling favorit bahkan orang berebut dengan cara ramai-ramai mengambil sisa makanan dari buangan makan orang Jepang. Dan kalau bukan rebutan makanan di tempat sampah, penjajah Jepang memerintahkan rakyat makan bekicot.

Banyak laki-laki Indonesia diambil dari tengah keluarga mereka dan dikirim hingga ke Burma untuk melakukan pekerjaan pembangunan dan banyak pekerjaan berat lainnya dalam kondis yang sangat buruk. Ribuan orang mati atau hilang. Tentara Jepang dengan paksa mengambil makanan, pakaian dan berbagai pasokan lainnya dari keluarga-keluarga Indonesia, tanpa memberikan ganti rugi.
Radio yang hanya dimiliki beberapa gelintir orang disegel. Hanya siaran pemerintah Dai Nippon yang boleh didengarkan. Kalau sampai ketahuan rakyat mendengarkan siaran luar negeri pasti akan dihukum berat. Orang akan bergidik bila mendengar Kempetai atau polisi militer Jepang.

Pada malam hari seringkali terdengar sirene kuso keho sebagai pertanda bahaya serangan udara dari tentara sekutu. Rakyat pun setelah memadamkan lampu cepat-cepat pergi ke tempat perlindungan. Di halaman rumah-rumah kala itu digali lobang untuk empat atau lima orang bila terdengar sirene bahaya udara. Ratusan ribu tenaga kerja paksa atau disebut romusha dikerahkan dari pulau Jawa ke luar Jawa, bahkan ke luar wilayah Indonesia.

Mereka diperlakukan tidak manusiawi sehingga banyak yang menolak jadi romusha. Jepang pun menggunakan cara paksa. Setiap kepala daerah harus menginventarisasikan jumlah penduduk usia kerja, setelah mereka dipaksa jadi romusha. Ribuan romusha dikerahkan ke medan pertempuran Jepang di Irian, Sulawesi, Maluku, Malaysia, Thailand, Birma dan beberapa negara lainnya.

Begitu banyak kebijakan aneh yang menyiksa pribumi dan dampak buruk ekonomi horisontal terus mendera silih berganti, tidak hanya terbatas pada kelangkaan makanan, standar kesehatan yang sangat rendah, kerja paksa, tetapi termasuk juga memperbudak para perempuan. Ribuan wanita Indonesia yang ditangkap dipaksa menjadi fujingkau atau yugun ianfu alias perempuan pemuas seks tentara Jepang.

Sekolah-sekolah juga dipaksa untuk tutup, dan buku serta kertas, pensil menghilang pula dari pasar. Akhirnya pribumi membuat buku tulis yang terbuat dari kertas merang. Pensilnya menggunakan arang, hingga sulit sekali menulis.

“Saudara-saudara, sekolahan dan madrasah tak boleh ditutup, sebab sudah menjadi kewajiban kita bersama untuk mencerdaskan anak bangsa. Dan kita jadi sadarlah, ternyata orang kulit kuning, Jepang datang ke bumi pertiwi kita tidak hendak untuk membantu kita, tapi merebut kekuasaan dari Belanda untuk mereka sendiri!”

Begitulah seruan Kiyai Hasyim di mana-mana, dan seruan itu juga menjadi topik besar-besaran di Soeara Nahdlatoel Oelama. Lebih dari itu, Kiyai Hasyim di media basis NU itu juga menjelaskan bahwa motif Jepang bersemangat untuk menguasai benua Asia adalah karena kebutuhan atas sumber enegi minyak bumi. Karena saat itu geliat industri di Jepang mulai naik, sementara negara-negara Barat yang diwakili oleh Amerika mengembargo minyak ke Jepang.

Dada Kiyai Hasyim semakin miris saat tak lama kemudian Jepang menetapkan kebijakan untuk seikeirei, sebuah ritual atau upacara khas dengan cara membungkukkan badan ke istana kaisar pukul tujuh pagi. Hasyim melihat itu mirip rukuknya kaum muslimin, apalagi kiblatnya mengarah kepada Kaisar Jepang Tenno Heika, yang diyakini orang Jepang sebagai titisan Dewa.

“Saudara-saudaraku seiman dan sebangsa, membungkukkan badan serupa rukuk dalam shalat untuk menghadap ke Kaisar Jepang sebagai penghormatan, adalah bagian dari kemusyrikan. Karena itu haram hukumnya!” Teriak Kiyai Hasyim lantang.

Kiyai Hasyim Asy’ari juga memberikan fatwa haram teradap muslim pribumi untuk menyanyikan lagu kebangsaan “Kimigayo” dan mengibarkan bendera Hinomaru serta segala bentuk Niponisasi (serba Jepang). Hari berikutnya, Kiyai Hasyim menyerukan semua pribumi yang bekerja di Pabrik Gula yang saat itu dikuasai oleh Jepang, untuk mogok kerja hingga perekonomian nyaris lumpuh beberapa hari.

Tak berhenti di situ, Kiyai Hasyim juga menyiapkan kader-kader Islam militan, dari para santri untuk ikut terjun ke milisi Laskar Hizbullah dan Barisan Sabilillah yang diketuai oleh puteranya yang bernama Abdul Kholik. Begitu juga Sang Kiyai itu meminta dengan sangat agar setiap kaum muslimin bangsa ini di manapun berada bergabung bersama tentara Pembela Tanah Air (PETA), atau masuk gerakan Pandu Hisbul Wathan organisasi sayap Muhammadiyah. Akibat perlawananya ini,–sebagaimana yang kita tahu, –ia kemudian dimasukkan ke penjara dan disiksa, tetapi api perlawanannya, sedikitpun tak pernah padam.

Diantara kelebihan lain Kiyai Hasyim Asy’ari adalah kemampuan menyampaikan keilmuan Islam dengan spirit nasionlisme dan kebangsaan, serta mampu membuat jaringan intelektual di seluruh Nusantara, terutama pulau Jawa. Jaringan intelektual pertama dimulai dari para santrinya yang tersebar di berbagai daerah untuk membentengi rakyat Indonesia dari pengaruh budaya asing seperti penjajah Belanda dan Jepang. Sebab, untuk membangun kekuatan bangsa Indonesia, diperlukan jaringan intelektual sebagai penggerak.

Bagi Kiyai Hasyim Asy’ari, para intelektual jangan sampai terpecah-belah dan dibiarkan untuk diadu-domba, tapi harus kokoh dalam persatuan. Karena, Indonesia akan lemah jika intelektualnya tercerai-berai. Untuk mewujukdan itu, iapun menjadi sosok penting dalam pendirian organisasi Nahdlatul Ulama pada tahun 1926, dan pada tahun 1944, beberapa tokoh Islam juga mengangkat Kiyai Hasyim Hasyim Asy’ari sebagai ketua MIAI (Majelis Islam A’la Indonesia) yang komponennya dari beberapa organisasi Islam di Indonesia.

Melalui dua ormas ini, nasionalisme dan ukhuwah Islam bangkit, sehinga cita-cita bangsa Indonesia meraih kemerdekaan, diantaranya dapat mudah terwujud. Maka, Presiden Soekarno lewat Keputusan Presiden (Kepres) No. 249/1964 menetapkan KH. Muhammad Hasyim Asy’ari sebagai Pahlawan Nasional

Wallahu’alam bisahwab.

Yogyakarta, 11 Mei 2019

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.