Home Feature Nilai-Nilai Al-Azhar, Menjaga Titipan Allah

Nilai-Nilai Al-Azhar, Menjaga Titipan Allah

102
0
SHARE

Oleh: KH. Zainurrofieq, M.Hum

Eksotis. Inilah kesan pertama, saat kedua kaki saya melangkah di jalan tepi telaga. Mata saya termanjakan oleh ikan-ikan Mas menari diantara perahu dan rakit. Dada saya merasa lega, ketika menghirup udara di bawah pepohonan rindang. Cottage dan bangunan didesain khas Sunda. Inilah suasana surga tersembunyi yang berada 11 Km dari pusat kota Garut. Namanya Kampung Sampireun Resort dan SPA.

Di tempat itulah, para alumni Al-Azhar Mesir berkumpul. Momentum berharga ini, sangat berharga, terutama bagi saya. Sebab, pertemuan ini bukan sekedar silaturahim, temu kangen, atau acara biasa, melainkan ada ide, gagasan, dan amal dakwah wasatiyyah kami konsolidasikan.

Pagi itu, TGB M. Zainul Majdi selaku ketua Organisasi Internasional Alumni Al Azhar (OIAA) cabang Indonesia memaparkan kepada para hadirin, bahwa ada konsentrasi khusus kini dari Grand Syeikh Al-Azhar Ahmad Tayyib di Mesir dengan dibuatnya OIAA dan langsung diketuai oleh beliau, tiada lain adalah karena melihat para alumni-alumni Al-Azhar yang telah tersebar di seluruh antero negeri dan memiliki garapan dakwah masing-masing untuk mengokohkan wasathiyyaat al-Islam  (moderasi Islam). TGB juga mengingatkan beberapa nilai dasar dakwah Islamiyyah Al-Azhar Asy-Syarif dan upaya merealisasikannya dalam tatanan budaya ke Indonesiaan.

Selain TGB, hadir pula alumnus Universitas Al-Azhar Mesir jurusan Aqidah dan Filsafat  Dr. Abbas Mansur Tamam. Anggota Tim Ahli Kemenag ini, bersama-sama dengan timnya telah menyelesaikan proyek penerjemahan Al-Quran terbaru (2019) dan menyampaikan urgensi langkah kongkrit Azhari dalam ikut mendesign perkembangan ummat Islam di Indonedia disesuaikan dengan titah Ilahi yang ada dalam Teks Al Quran.

Menurut Dr. Abbas, ini kesempatan bagi Azhary untuk bersama pemerintah dalam mengawal dan menyuguhkan terjemahan Al Quran versi Kemenag tersebut. Melalui penyebaran Al-Quran ini, Azhary dapat menggelar kegiatan-kegiatan dalam rangka menjelaskan perubahan diksi terjemahan itu sekaligus mengokohkan nilai-nilai wasathiyyah.

Usulan Dr. Abbas tersebut, mendapatkan sambutan dari TGB M. Zainul Majdi. Apalagi dalam pertemuan ini hadir Bang Hensoe, Azhary yang bergelut di dunia penerbitan. Lahirlah kesepakatan untuk mencetak mushaf Azhary dan program Wakaf Quran.

Tidak ketinggalan wakil ketua OIAA Bang IKM (Ikhwanul Kirom), alumnus Al-Azhar Mesir dan sempat memimpin redaksi Harian Nasional Republika bersuara. Beliau menarasikan spirit dakwah Al-Azhar dalam langkah-langkah kongkrit, rencana pembuatan lembaga keuangan syariah (BPRS). Beliau menggambarkan perjalanan panjang kerjasama antara alumni Al-Azhar Mesir yang diprakarsai oleh TGB dengan alumni fakultas ekonomi UGM (YAHMI-HIK) dan kini berbuah prosesi akuisisi BPRS di wilayah Kabupaten Bandung Jawa Barat.

Narasi Bang IKM itu direspon oleh Saifurrahman Mahfudz, Azhary yang sebelumnya aktif di TAZKIA dan kini tengan menyelesaikan program doktoral di Australia jurusan Ekonomi Islam , sengaja hadir dari Melbore saking ingin kumpulnya sesama Azhari di Garut. Beliau mengapresiasi langkah-langkah “Menyuguhkan nilai dakwah Islam dengan program mengenyangkan perut ummat dulu” dan ini moderat (wasathy).

*  *  *

Suasana hening Kampung Sampireun itu bertambah sejuk saat TGB mempresentasikan materi syukur kepada peserta kegiatan tanggal 7-9 Januari 2020 di Sampireuen, asuhan Kang Udo Yamin Majdi dan Tim Golden Age Center, yaitu “Pesantren Wisata keluarga”. TGB menegaskan bahwa amalan syukur ini, tidak hanya terjadi dunia ini saja, melainkan juga di akhirat nanti.

Di penghujung materi TGB, dibuka sesi dialog dan berbagi pengalaman antar sesama peserta. Ortu Dr. Saifurrahan menceritakan mendidik anak-anaknya sehingga mereka menyelesaikan jenjang doktoral.

Kang Diding Nasiruddin yang mewakili sesepuh Paguyuban Alumni Al Azhar Mesir (PAAM) menambahkan bahwa diantar kesyukuran keluarga adalah mengerti dan faham bahwa anak-anak yang ada di rumah kita bukanlah pesanan keinginan kita kepada Allah, maka pantas jika realitasnya banyak tidak sesuai dengan keinginan kita misalkan, tapi lebih dari itu anak anak kita harus difahami hanya ssebatas amanah (titipan)dari-Nya.

Menyambut opini “titipan” itu, TGB menimpali dengan kalimat, “Implementasi dari pemahaman keluarga dan anak-anak kita adalah titipan, maka kita harus menjaga keutuhan titipan itu’. Anak-anak dititipan Allah pertamakali pada kita dalam kondisi Fitrah, yaitu kemurnian tauhid dan kesucianya ( HR, Bukhori dan QS. Ar-Rum [30]: 30), maka harus dikembalikan dalam keadaan fitrah pula.

Berarti kita harus pastikan ketika keluarga yang dititipkan Allah diambil kembali, harus kita pastikan mereka dalam kondisi tengah beriman Tauhid serta dalam kondisi jiwa yang suci, dan upaya-upaya maksimal menjaga kemurnian Tauhid dan kesucian jiwa adalah merupakan prasyarat pergerakan missi dakwah wasathiyyah kita.

Ijtihad politik, ekonomi, pendidikan dan semua bidang dakwah haruslah mengacu pada pertanggungjawaban “logika titipan” tadi. Semuanya titipan Allah SWT.

Semoga.

Garut, 9 Januari 2020

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

two + two =

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.