Home Sirah Nabawiyah Mindset dan Manajemen Hijrah

Mindset dan Manajemen Hijrah

359
0
SHARE
manajemen hijrah
Sumber foto: Punakawan.net

Oleh: Udo Yamin Majdi

Kamis, 26 Shafar tahun ke-14 kenabian, bertepatan 12 September 622 Masehi, 11 anggota parlemen Quraisy mengadakan rapat mendadak dan tertutup.

Dalam Gedung Dar An-Nadwah itu, terjadi perdebatan alot untuk menghentikan gerakan dakwah Nabi Muhammad SAW..

Ada yang mengusulkan untuk mendeportasi atau mengusir rasulullah SAW..
Ada pula yang menyarankan beliau dipenjara.
Dan ternyata, usulan dari “bos” musuh sekaligus paman Nabi yang mereka terima.

“Menurutku”, ujar Abu Lahab dengan lantang penuh kesombongan, “sebaiknya kita kirim para pendekar muda utusan dari setiap partai kita. Kita bekali mereka dengan pedang tajam. Suruh mereka membunuhnya. Lalu, darahnya kita bagikan kepada setiap partai dan nanti masing-masing membayar tebusannya!”

“Setujuuu!!” Sambut 10 utusan dari berbagai partai bangsa Arab itu.

Setelah keputusan itu dipukul palu, malaikat Jibril mendatangi Nabi Muhammad SAW. Dan berkata, “Malam nanti, Anda jangan bermalam di tempat tidurmu!”

Sebagai change maker, Nabi Muhammad SAW memahami sandi dari Allah itu, bahwa beliau diizinkan-Nya untuk melakukan hijrah.

Beliau menyadari bahwa apabila beliau tidak berubah atau hijrah, maka kaum muslimin akan musnah. Sebab, orang kafir di Mekah, bukan lagi sekedar menolak seruan, menghina, mencaci, mencibir, memfitnah, dan memboikot Nabi dan sahabatnya, melainkan juga ada usaha untuk membunuh mereka. Hijrah itu merupakan change management.

Apa yang beliau lakukan kemudian?

Pertama, beliau menentukan target, yaitu kota Madinah –tempat para murid beliau yang belajar sekaligus berbai’at akan mendukung perjuangan beliau (bai’at aqabah I dan II) saat dua musim haji sebelumnya–sebagai tujuan.

Kedua, beliau membuat team work untuk menyukseskan aksi hijrah, diantaranya Abu Bakar RA, Ali bin Abi Thalib RA, Abdullah bin Abu Bakar RA, Asma binti Abu Bakar RA, Amir bin Furairah, dan Abdullah bin Urayqith.

Ketiga, menjelaskan peran dan jobdes (job description) atau gambaran kerja kepada enam anggota team work tersebut sebagai berikut:

1. Abu Bakar RA sebagai patner beliau untuk membantu segala kebutuhan beliau selama perjalanan menuju Madinah;

2. Ali bin Abi Thalib RA sebagai pengganti beliau tidur di kasur untuk mengecohkan para pendekar muda sehingga mereka menunggu Ali tidur sampai dini hari sedangkan dalam waktu yang sama beliau, Abu Bakar ra, Abdullah bin Abu Bakar ra, dan Abdullah bin Urayqith berangkat menuju Gua Tsur;

3. Abdullah bin Abu Bakar RA sebagai detektif; informan (kurir)
untuk menyadap berita dari luar ke gua Tsur; siang hari beliau bergaul dengan kaum Quraisy dan malam ikut tidur ke Gua Tsur sekaligus melaporkan hasil penyelidikannya;

4. Asma binti Abu Bakar sebagai seksi konsumsi untuk mengantarkan makanan selama tiga hari ke Gua Tsur;

5. Amir bin Furairah –pembantu Abu Bakar yang biasa
mengembalakan kambing siang hari di sekitar pegunungan–sebagai tim logistik untuk memberikan susu kepada Nabi Muhammad Saw dan Abu bakar sekaligus sebagai penghilang jejak untuk menghilangkan jejak –menyamarkan bekas telapak kaki di pasir dengan kaki domba–Nabi dan Abu Bakar ketika pertama kali ke Gua Tsur, dan menghilangkan jejak setiap kali Abdullah bin Abu Bakar akan menyampaikan berita dan Asma bin Abu Bakar dalam mengantarkan makanan;

6. Abdullah bin Urayqith –musyrik Quraisy, namun ahli dalam melakukan perjalanan panjang, sebab suka melancong–sebagai guide atau navigator yang disewa Nabi Muhammad Saw. Untuk menemani dan menunjukan jalan hingga sampai ke Madinah.

Keempat, nabi melakukan aksi berikut ini:

1. Keluar siang hari, sebab waktu itu, di kota Makah jarang orang yang berkeliaran pada siang hari dan biasanya mereka pergunakan untuk tidur;

2. Keluar dari pintu belakang untuk menghindari pengamatan dari intelijen atau mata-mata Quraisy;

3. Arah hijrah bukan ke utara –tempat kota Madinah–melainkan ke arah selatan, tempat gua Tsur, ini untuk mengelabui pengejaran para pendekar muda Quraisy;

4. Bersembunyi di Gua Tsur selama tiga hari untuk menunggu perkembangan para pengejar sekaligus memikirkan langkah apa saja yang akan beliau lakukan selama di Madinah nanti;

5. Mengambil jalan yang berbeda dari rute Mekah-Madinah yang selama ini dilalui banyak orang.
Beliau mengambil jalan ke arah selatan menuju Yaman –berlawanan dengan arah jalan ke Madinah–kemudian mengarah ke sekitar pantai Laut Merah, dan ketika menemukan jalur setapak tidak dikenal, maka mereka berbalik ke arah utara.

Setelah Nabi hijrah, maka para sahabatnya pun ikut pindah. Banyak pernak-pernik dalam hijrah ini, diantaranya cerita Muhajir Ummu Qois. Ini tentang kisah cinta Hatib kepada Ummu Qois. Hatib meminang gadis pujaannya. Namun, Ummu Qois menolaknya. Hatib sedih, apalagi ketika mendengar idamannya itu akan hijrah. Ia kembali merayu Ummu Qois agar mau menikah dengannya. Ummu Qois pun setuju, asalkan Hatib mau ikut hijrah. Singkat cerita, Hatib menerima syarat itu, ia hijrah dan sesampai di Madinah mereka pun menikah.

Mengenai peristiwa ini, Rasulullah SAW bersabda: “Semua amal perbuatan tergantung niatnya, dan setiap orang akan mendapatkan sesuai apa yang ia niatkan. Maka barangsiapa yang berhijrah karena Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya itu adalah untuk Allah dan Rasul-Nya.
Dan barangsiapa yang berhijrah karena dunia yang ia cari atau karena perempuan yang ingin ia nikahi, maka hijrahnya itu untuk apa yang ia tuju.”

Tentu saja, hadis –diriwayatkan oleh Bukhari No.1, 54, 2529, 3898, 5070, 6689, 6953, Muslim No. 1907, Abu Daud No. 2201, Tirmizi No. 1646, Nasai`i No.1/59-60, VI/158, Ibn Majah No. 4227 dan Ahmad No. 1/25, 43)— ini, bukan sekedar membicarakan Hatib, melainkan sebagai pegangan bagi kita untuk menjalani kehidupan.

Secara dhohir, tak ada perbedaan antara hijrah Hatib dengan hijrah Nabi dan para sahabat Nabi lainnya. Sama-sama berjalan dari Mekah ke Madinah. Sama-sama merasakan dinginnya malam dan panasnya siang. Sama-sama meninggalkan kampung halaman. Dan sama-sama lelah.

Namun kualitas hijrah mereka berbeda. Hatib hanya mendapatkan perempuan, sedangkan para sahabat lainnya mendapatkan keutamaan hijrah: di dunia mereka mendapatkan rezeki yang banyak dan di akhirat nanti akan mendapatkan pahala besar.
(Baca QS. An-Nisa [4]: 100).

Lantas, apa yang membedakan hijrah Hatib dengan yang lainnya?

Jawabannya ada pada sabda Nabi di atas, yaitu: niat. Secara bahasa, adalah keinginan/kemauan (al-iradah), maksud/tujuan (al-qashdu), tekad (al’azm), dan ketulusan/kemurnian (al-ikhlas).

Sedangkan secara istilah atau syari’i –menurut Wahbah Az-Zuhaili dalam kitab Fiqhul Islam wa Adillatuhu—memiliki dua makna: pertama, sesuatu untuk membedakan ibadah atau bukan; dan kedua, untuk membedakan tujuan melakukan sebuah perbuatan, apakah itu karena Allah atau bukan.

Dengan kata lain adalah pola pikir, cara pandang, paradigma, persepsi, atau apapun yang terbayang dalam hati dan otak yang mendasari atau mendorong seseorang untuk berbuat sesuatu. Inilah yang kita kenal mindset.

Dalam hidup, setiap orang memiliki mindset, hanya saja ada yang salah, ada yang benar.
Jika mindset salah, maka akibatnya fatal, seperti nasib Hatib, yaitu susah payah melakukan sesuatu, namun tidak ada nilainya di sisi Allah, atau dalam istilah Sunda “capek gawe teu kapake”.

Mungkin, selama ini, secara dhohir, kita melakukan aktivitas keislaman, namun secara batin, itu tergerak bukan karena Allah, melainkan karena manusia atau urusan duniawi.

Oleh sebab itu, memperbaharui mindset atau niat (tajdid an-niyah) dan menjadi muhajir sejati –sebagaimana sabda Nabi: “Muhajir adalah orang yang meninggalkan segala larangan Allah” (HR. Bukhari)—sebuah keniscayaan.

Setelah kita memiliki mindset yang benar, maka kita harus memastikan apa yang kita lakukan adalah benar dan tepat, sebagaimana dicontoh Nabi di atas.

Di sinilah kita membutuhkan manajemen aksi, agar apa yang kita lakukan tercapai. Kita harus mengetahui “apa” yang paling kita inginkan dalam hidup ini, “mengapa” kita melakukannya, “kapan” dan “di mana”, “bagaimana” cara meraihnya, kemudian kita bertindak.

Nah, sudah benarkah mindset kita selama ini? Sudahkah kita secara terencana melakukan perubahan dalam hidup kita?

Inilah saatnya kita melakukan perubahan: dari yang “tidak baik” menjadi “baik”, dari yang “baik” menjadi “terbaik”.

Islam mengajarkan kita konsep ahsanu ‘amala, melakukan sesuatu bukan sekedar baik, melainkan terbaik, alias kita harus terus berubah kearah yang lebih baik. Wallahu a’lam.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.