Home Kehidupan Merayakan Pergantian Tahun dalam Perspektif Islam

Merayakan Pergantian Tahun dalam Perspektif Islam

660
0
SHARE
Dr. Muchlis M. Hanafi

Oleh: Dr. Muchlis M Hanafi, MA

Direktur Pusat Studi Al-Qur`an (PSQ) Jakarta dan Kepala Lajnah Pentashihan Mushaf Al-Qur`an Kementerian Agama RI

Pendahuluan

  1. Pergantian tahun adalah momentum bersejarah, sehingga kedatangan tahun baru disambut gegap gempita. Pesta kembang api adalah yang paling banyak dilakukan di berbagai penjuru dunia. Tak terkecuali di Indonesia. Hanya saja, tak seperti biasanya, seiring dengan banyak bencana yang mendera bangsa ini, muncul seruan dari berbagi kalangan agar malam pergantian tahun diisi dengan kegiatan keagamaan. Mulai dari zikir bersama, sampai mendengarkan ceramah agama.
  2. Tradisi mengisi tahun baru dengan zikir bersama khas Indonesia. Amat jarang ditemukan di negara-negara lain. Tahun ini, Harian Republika sudah menyelenggarakan yang ke-18 kalinya. Setiap tahun menyelenggarakan. Mulanya hanya di Masjid Attin Jakarta. Tahun lalu (2018) di tiga kota; Jakarta, Bandung dan Yogyakarta. Seolah memberi pilihan kepada masyarakat, agar tidak merayakannya dengan sekadar pesta pora dan hura-hura. Banyak pihak mengapresiasi. Tetapi tidak sedikit yang mengkritik. Malam pergantian tahun dianggap tepat untuk ber-muhasabah, sambil mendekatkan diri kepada Allah Swt.
  3. Dalam khutbah awal tahun di Masjid Istiqlal beberapa tahun yang lalu, Imam Besar Alm. KH. Ali Mustafa Ya`qub, dengan lantang mengatakan, merayakan pergantian tahun di masjid dengan zikir bersama ‘bid`ah-sesat’, dan merayakannya dengan hura-hura seperti di Ancol ‘maksiat-kufur’. Dianggap bid`ah karena Rasulullah tidak pernah memberikan contoh zikir bersama di malam tahun baru. Argumen inilah yang paling sering mengemuka. Ada lagi yang mengaitkannya dengan perayaan orang kafir. Perayaan Natal dan tahun baru dianggap bagian dari tradisi keagamaan umat Kristiani. Merayakannya berarti turut membenarkan keyakinan Kristiani yang telah dianggap kufur dalam Al-Qur`an. Maka, mengucapkan selamat natal, apalagi mengikuti perayaan natal bersama, dan merayakan malam tahun baru haram hukumnya. Umat Islam, seperti dinyatakan dalam salah satu hadis Nabi, dilarang untuk ber-tasyabbuh (berlaku menyerupai) dengan orang kafir.
  4. Tulisan ini berusaha memaknai malam pergantian tahun dan menyoroti persoalan hukum yang biasa muncul di penghujung tahun, yaitu seputar ucapan selamat natal dan peringatan tahun baru masehi.

Pergantian Tahun Sebagai Sunnatullah

  1. Pergantian hari, bulan dan tahun adalah sunnatullah yang berlaku di alam raya ini. Ketetapan itu berlaku dari sejak terbentuknya alam semesta sampai kiamat tiba. Pergantian siang dan malam, di beberapa ayat Al-Qur`an digambarkan sebagai salah satu tanda kebesaran Allah. Allah berfirman:

إِنَّ فِي اخْتِلَافِ اللَّيْلِ وَالنَّهَارِ وَمَا خَلَقَ اللَّهُ فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ لَآيَاتٍ لِقَوْمٍ يَتَّقُونَ (6) [يونس: 6]

Sesungguhnya pada pergantian malam dan siang dan pada apa yang diciptakan Allah di langit dan di bumi, pasti terdapat tanda-tanda (kebesaran-Nya) bagi orang-orang yang bertakwa (QS. Yunus: 6).

  1. Pada tahun 1851, seorang ilmuwan, Foucalt, menemukan secara astronomi, bumi berputar pada porosnya sekali dalam sehari. Siang akan tampak di muka bumi saat salah satu bagiannya menghadap matahari. Sementara bagian bumi lainnya dalam keadaan malam gelap gulita. Siang dan malam datang silih berganti berdasarkan rotasi bumi di hadapan matahari. Selain itu bumi juga berputar mengelilingi matahari, sehingga terjadi pergantian musim dalam setahun (panas, gugur, dingin dan semi).
  2. Di siang hari yang terang benderang manusia dapat beraktifitas. Sedangkan malam hari adalah waktu yang tepat untuk beristirahat. Tidak terbayang kehidupan di muka bumi ini sekiranya Allah ciptakan siang terus menerus, atau malam berkepanjangan.

قُلْ أَرَأَيْتُمْ إِنْ جَعَلَ اللَّهُ عَلَيْكُمُ اللَّيْلَ سَرْمَدًا إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ مَنْ إِلَهٌ غَيْرُ اللَّهِ يَأْتِيكُمْ بِضِيَاءٍ أَفَلَا تَسْمَعُونَ (71) قُلْ أَرَأَيْتُمْ إِنْ جَعَلَ اللَّهُ عَلَيْكُمُ النَّهَارَ سَرْمَدًا إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ مَنْ إِلَهٌ غَيْرُ اللَّهِ يَأْتِيكُمْ بِلَيْلٍ تَسْكُنُونَ فِيهِ أَفَلَا تُبْصِرُونَ (72) وَمِنْ رَحْمَتِهِ جَعَلَ لَكُمُ اللَّيْلَ وَالنَّهَارَ لِتَسْكُنُوا فِيهِ وَلِتَبْتَغُوا مِنْ فَضْلِهِ وَلَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ (73) [القصص: 71 – 74]

Katakanlah (Muhammad), “Bagaimana pendapatmu, jika Allah menjadikan untukmu malam itu terus-menerus sampai hari Kiamat. Siapakah tuhan selain Allah yang akan mendatangkan sinar terang kepadamu? Apakah kamu tidak mendengar?” (72)  Katakanlah (Muhammad), “Bagaimana pendapatmu, jika Allah menjadikan untukmu siang itu terus-menerus sampai hari Kiamat. Siapakah tuhan selain Allah yang akan mendatangkan malam kepadamu sebagai waktu istirahatmu? Apakah kamu tidak memperhatikan?” (73)  Dan adalah karena rahmat-Nya, Dia jadikan untukmu malam dan siang, agar kamu beristirahat pada malam hari dan agar kamu mencari sebagian karunia-Nya (pada siang hari) dan agar kamu bersyukur kepada-Nya. (74) Dan (ingatlah) pada hari ketika Dia (Allah) menyeru mereka, dan berfirman, “Di manakah sekutu-sekutu-Ku yang dahulu kamu sangka?” (QS. Al-Qashash: 71-74)

  1. Dengan bergantinya siang dan malam karena rotasi bumi dan pergerakan matahari dan bulan, kita mengenal bilangan tahun, termasuk hitungan hari, bulan dan musim dalam setahun.

وَجَعَلْنَا اللَّيْلَ وَالنَّهَارَ آيَتَيْنِ فَمَحَوْنَا آيَةَ اللَّيْلِ وَجَعَلْنَا آيَةَ النَّهَارِ مُبْصِرَةً لِتَبْتَغُوا فَضْلًا مِنْ رَبِّكُمْ وَلِتَعْلَمُوا عَدَدَ السِّنِينَ وَالْحِسَابَ وَكُلَّ شَيْءٍ فَصَّلْنَاهُ تَفْصِيلًا (12) [الإسراء: 12]

Dan Kami jadikan malam dan siang sebagai dua tanda (kebesaran Kami), kemudian Kami hapuskan tanda malam dan Kami jadikan tanda siang itu terang benderang, agar kamu (dapat) mencari karunia dari Tuhanmu, dan agar kamu mengetahui bilangan tahun dan perhitungan (waktu). Dan segala sesuatu telah Kami terangkan dengan jelas (QS. Al-Isra: 12).

  1. Dengan hitungan itu manusia membuat sistem penanggalan/ kalender. Yaitu sistem yang ditetapkan untuk menghitung bilangan tahun, bulan dan hari. Di Indonesia, kita mengenal ada beberapa jenis penanggalan yang berlaku, yaitu Kalender Masehi, Hijriyah, Jawa, Cina dan kalender Saka yang dipergunakan oleh umat Hindu. Selain itu dunia juga mengenal kalender Mesir kuno, Persia, Suryani dan lainnya. Dari sederet ragam penanggalan yang ada di muka bumi, sistem Gregorian-lah yang saat ini paling jamak dipakai, meski eksistensi penanggalan lain berdasarkan tradisi kebudayaan dan keagamaan masih ada.
  2. Sistem ini terdiri dari hari yang dimulai Senin hingga Minggu, bulan Januari hingga Desember, dengan komposisi angka ganjil genap antara 31 dan 30. Juga adanya tahun kabisat yang angka tahunnya habis dibagi 4. Model penanggalan Gregorian sejatinya adalah penyempurnaan dari kalender Julian yang telah lebih dahulu dipakai. Keduanya sama-sama menggunakan perhitungan pergerakan matahari yang menggunakan kelahiran Yesus sebagai penanda dimulainya tahun pertama. Patokan itu umumnya memakai singkatan dalam bahasa latin Anno Domini (AD), Before Christ (BC), Masehi (M). Atau penyebutan lain yang dianggap lebih netral dari sisi religius: Common Era (CE).
  3. Setelah kurang lebih selama 16 Abad menjadi sistem Kalender Masehi, pada tahun 1582 M Ugo Buogompagni alias Gregorius VIII dibantu pakar matematika bernama Christopher Clavius dan pakar astronomi Lilio Ghiraldi alias Aloysius Lilius melakukan koreksi atas sistem Julian. Mereka menemukan bahwa peredaran Materi selama setahun itu berjumlah 365,242199 hari atau 365 hari 5 jam 48 menit 46 detik. Berbeda dengan sistem Julian yang menetapkan jumlah hari sebanyak 365,25 hari atau 365 hari 6 jam dalam satu tahun. Berbeda 11 menit 14 detik. Jika ditotal, dalam rentang waktu sejak sistem Julian ditetapkan hingga tahun 1582 M terdapat keterpautan sebanyak 17.000 menit atau 10 hari. Maka untuk menyiasati hal ini, tim yang dipimpin oleh Gregorius VIII ini melakukan koreksi dengan menghapus tanggal 5 Oktober hingga 14 Oktober 1582. Sehingga setelah tanggal 4 Oktober 1582 M yang jatuh pada hari Kamis itu ditetapkanlah hari Jumat tanggal 15 Oktober 1582 M. Maka khusus pada tahun 1582 M ini, bulan Oktober hanya berjumlah 21 hari. Sejak saat itu pula ditetapkan bahwa Tahun Kabisat adalah tahun-tahun yang jumlahnya habis dibagi empat.
  4. Sistim penanggalan dan perhitungan hari yang digunakan dalam kalender Masehi didasarkan pada ilmu astrologi yaitu ilmu tentang pergerakan benda-benda langit seperti matahari, bulan dan rasi bintang. Astrologi berasal dari Mesapotamia, daratan diantara sungai Tigris dan Eufrat, daerah asal orang Babel kuno (kini Irak Tenggara). Ilmu ini berkembang sejak jaman pemerintahan Babel kuno, kira-kira tahun 2000 SM.
  5. Kira-kira 1000 SM para ahli perbintangan di Mesir mempelajari benda-benda langit hanya untuk ramalan umum mengenai masa depan. Pengetahuan astrologi ini kemudian diambil alih suku bangsa Babel. Astrologi Babel-lah yang kemudian mengembangkan suatu sistem yang menghubungkan perubahan musim dengan kelompok-kelompok bintang tertentu yang disebut rasi atau konstelasi. Tetapi antara tahun 600 SM dan 200 SM, mereka mulai mengembangkan suatu sistem untuk menghitung penanggalan hari dan menggambar horoskop perorangan.
  6. Di masa kini, kalender Gregorian berdasar perhitungan matahari yang dikenal juga sebagai kalender Masehi dipakai secara umum di dunia internasional. Sistem penanggalan lainnya adalah kalender yang didasarkan pada pergerakan bulan, yang juga sering dikenal sebagai kalender Hijriah. Di Indonesia, acara-acara ritual berdasar penanggalan Jawa juga mengikuti kalender Hijriah ini. Ada juga komunitas yang masih memakai kalender Julian, misalnya Gereja Ortodoks Timur. Akibatnya, ada perbedaan tanggal perayaan Natal. Seperti ditulis oleh Fr John Ramzi dalam Coptic Orthodox Church Network, jika umat Kristen pada umumnya yang berpatok pada penanggalan Gregorian merayakan setiap tanggal 25 Desember, mereka yang berdasar penanggalan Julian merayakan Natal pada 7 Januari.

Pergantian Tahun dan Fatwa Keagamaan

  1. Berdasarkan sejarah, pananggalan kalender Masehi telah dimulai sejak masa Babilonia, lebih dari 4000 tahun yang lalu. Mereka memulai penghitungan tahun baru dari permulaan musim semi, yaitu dari bulan Maret. Hal ini sangat erat kaitannya dengan musim dan pengaruhnya kepada tata kehidupan masyarakat. Awal musim semi disambut dengan perayaan sukacita karena dipandang sebagai mulainya kehidupan baru, setelah selama 3 bulan mengalami musim dingin.
  2. Kalender yang hanya terdiri atas 10 bulan itu kemudian berkembang menjadi 12 bulan. Adalah Raja Roma ke-dua, Numa Pompillus di tahun 717 BC yang menambahkan 2 bulan awal di kalender Romawi, yaitu bulan Januarius dan Februarius. Januarius adalah nama yang berasal dari nama dewa Janus. Dewa ini berwajah dua; menghadap kemuka dan kebelakang, hingga dapat memandang masa lalu dan masa depan. Oleh sebab itu, Januarius ditetapkan sebagai bulan pertama. Februarius diambil dari upacara Februa, yaitu upacara semacam bersih desa atau ruwatan untuk menyambut kedatangan musim semi. Maka Februari ditempatkan sebagai bulan kedua.
  3. Bilangan 12 bulan dalam setahun dikonfirmasi oleh Al-Qur`an dalam firman Allah:

إِنَّ عِدَّةَ الشُّهُورِ عِنْدَ اللَّهِ اثْنَا عَشَرَ شَهْرًا فِي كِتَابِ اللَّهِ يَوْمَ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ مِنْهَا أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ ذَلِكَ الدِّينُ الْقَيِّمُ فَلَا تَظْلِمُوا فِيهِنَّ أَنْفُسَكُمْ وَقَاتِلُوا الْمُشْرِكِينَ كَافَّةً كَمَا يُقَاتِلُونَكُمْ كَافَّةً وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ مَعَ الْمُتَّقِينَ (36) [التوبة: 36]

Sesungguhnya jumlah bulan menurut Allah ialah dua belas bulan, (sebagaimana) dalam ketetapan Allah pada waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya ada empat bulan haram. Itulah (ketetapan) agama yang lurus, maka janganlah kamu menzalimi dirimu dalam (bulan yang empat) itu, dan perangilah kaum musyrikin semuanya sebagaimana mereka pun memerangi kamu semuanya. Dan ketahuilah bahwa Allah beserta orang-orang yang takwa (QS. At-Taubah: 36).

  1. Berdasarkan uraian di atas diketahui penanggalan kalender Masehi yang berlaku sampai saat ini pada mulanya ditetapkan berdasarkan kebiasaan masayarakat pada saat itu. Penanggalan Masehi sangat dipengaruhi oleh tradisi astrologi Mesir kuno, Mesopotamia, Babilonia, Yunani, dan Romawi Kuno serta dalam perjalanannya mendapat intervensi Gereja. Atas perintah Kaisar Justinian, seorang Rahib Katolik, Dionisius Exoguus pada tahun 527 M ditugaskan pimpinan Gereja untuk membuat perhitungan tahun dengan titik tolak tahun kelahiran Yesus. Karena itulah, penanggalan ini menggunakan istilah Masehi (M) dan Sebelum Masehi (SM) yang merujuk pada kelahiran Nabi Isa a.s (Yesus), atau Mesias (Masehi). Masa sebelum kelahiran Yesus dinamakan masa sebelum Masehi. Semua peristiwa dunia sebelumnya dihitung mundur alias minus. Dengan sebuah gagasan teologis bahwa Yesus sebagai penggenapan dan pusat sejarah dunia. Tahun kelahiran Yesus dihitung sebagai tahun pertama atau awal perjanjian baru.
  2. Dari sini, pergantian tahun baru masehi dikaitkan dengan tradisi dan keyakinan umat Kristiani. Maka, keluarlah fatwa keagamaan yang mengharamkan ucapan selamat Natal, mengikuti perayaan Natal dan malam pergantian tahun. Di setiap penghujung kalender Masehi terjadi perang fatwa, antara yang membolehkan dan yang mengharamkan.
  3. Indeks Fatwa Global (al-Mu`assyir al-Âlamiy li al-Fatwâ/Global Fatwa Index) yang dikeluarkan oleh Unit Kajian Strategis Darul Fatwa Mesir pada tanggal 28 Desember 2018 menyebutkan, dari 3000 fatwa di internet yang dikeluarkan oleh lembaga resmi dan tidak resmi sebanyak 2% terkait dengan fatwa perayaan natal. Itu mendominasi fatwa terkait hubungan dengan non-Muslim hampir 70%. 35% dari fatwa tersebut dikeluarkan oleh lembaga resmi, sedangkan sisanya 65% dari lembaga tidak resmi. Fatwa keharaman ucapan selamat natal dan mengikuti perayaan natal sebagian besar bersumber dari kelompok salafi dan Ikhwanul Muslimin.
  4. Di negara-negara Barat dan non-Arab fatwa terkait itu didominasi oleh yang membolehkan ucapan selamat natal sebanyak 70%, dan yang mengharamkan sebanyak 30%. Sedangkan terkait hukum mengikuti perayaan natal, 90% mengharamkannya, dan 10% membolehkan. Terkait hokum mengikuti perayaan natal bersama, Majelis Ulama Indonesia (MUI) telah mengeluarkan fatwa haram pada tahun 1981. Sedangkan ucapan selamat natal, KH. Ma`ruf Amin dan Din Syamsuddin sebagai fungsionaris MUI membolehkannya dalam rangka membangun toleransi umat beragama.
  5. Menurut Darul Fatwa Mesir, 90% fatwa haram mengikuti perayaan natal di Barat disebabkan oleh beberapa hal, antara lain berpedoman pada fatwa lama dari Ibnu Taimiyah dan didaur ulang melalui berbagai media, termasuk media social. Kedatangan imigran gelap dari negara-negara Arab dan kelompok salafi ke beberapa negara dengan membawa pemahaman keagamaan ektrem turut berkontribusi dalam menyebarluaskan fatwa haram. Pada gilirannya fatwa tersebut mencederai hubungan Muslim dan non-Muslim di Barat, dan menyuburkan fenomena Islamophobia.

Hukum Mengucapkan Selamat Natal dan Tahun Baru

  1. Fatwa haram mengucapkan selamat natal dan peringatan tahun baru umumnya merujuk kepada fatwa Ibnu Taimiyah dan Ibn al-Qayyim yang diikuti oleh ulama salafi-wahabi seperti Muhammad bin Ibrahim, Abdul Aziz bin Baz, M. Nasiruddin al-Albani, M. Shaleh al-Usaimin dan lainnya. Dalam kitab Iqtidhâ al-Shirâth al-Mustaqîm Ibnu Taymiyah mengatakan, ber-tasyabbuh (menyerupai) orang-orang kafir dalam perayaan mereka berarti membenarkan kebatilan mereka. Secara lebih eksplisit, Ibn al-Qayyim dalam kitab Ahkâm Ahl al-Dzimmah mengatakan, mengucapkan selamat atas syiar-syiar kekufuran haram menurut kesepakatan ulama. Ucapan selamat Natal, meski pengucapnya selamat dari kekufuran tetapi termasuk haram. Itu sama saja dengan mengucapkan selamat atas sujud mereka kepada salib. Bahkan itu dosanya lebih besar di hadapan Allah dan lebih dimurkai daripada minum khamar, membunuh orang dan berzina atau sejenisnya. Yang memberkati dan mengucapakan selamat atas maksiat, atau bid`ah, atau kekufuran orang lain pantas mendapat murka Allah.
  2. Bin Baz dalam fatwanya (Majmû Fatâwâ wa Maqâlât Mutanawwi`ah 6/405) mengatakan seorang muslim tidak boleh mengikuti perayaan orang-orang kafir, termasuk Yahudi dan Nasrani, dan membantu mereka dalam bentuk apa pun. Itu bertentangan ajaran agama, dan termasuk kategori tolong menolong (ta`âwun) dalam hal perbuatan dosa dan permusuhan yang dilarang oleh Al-Qur`an (QS. Al-Maidah: 2).
  3. Menurut mereka, umat Islam tidak perlu ikut-ikutan perayaan mereka, sebab Allah telah mencukupkan mereka dengan dua hari raya; idul fitri dan idul adha. Ketika Rasulullah tiba di Madinah beliau mendapati penduduk setempat bermain dan bersenang-senang pada dua hari yang telah mereka lakukan sejak masa jahiliyah. Rasulullah menegur mereka dengan mengatakan, sesungguhnya Allah telah mengganti dua hari tersebut untuk mereka dengan yang lebih baik, yaitu hari idul adha dan idul fitri (HR. Abu Daud). Selain dua hari itu tidak ada lagi perayaan yang disyariatkan agama. Oleh karenanya, bagi mereka, jangankan perayaan natal dan tahun baru, peringatan bernuansa keagamaan seperti isra mi`raj, maulid Nabi, hijrah, fathu Makkah dan lainnya dianggap bid`ah yang terlarang karena Rasulullah tidak pernah mencontohkannya.
  4. Bagaimana bila malam baru diperingati dengan zikir dan doa bersama? Di situs islamqa.ar yang berafiliasi kepada paham salafi, pertanyaan tersebut dijawab dengan mengapresiasi niat baik mengisi tahun baru dengan zikir dan doa, sebagai ganti maksiat dan hura-hura. Tetapi niat baik itu tidak cukup menjadi alasan membolehkannya secara syariat. Dalam agama, sebuah amal diterima bila sesuai dengan ketentuan agama dari segi sebab, jenis, kuantitas, kualitas, waktu dan tempat. Dasar beragama itu mengikuti (ittibâ), bukan mengada-ada (ibtidâ`). Tradisi jahiliyah dan kebiasaan atau praktik orang-orang kafir sudah ada sejak masa nabi sampai saat ini. Meski demikian kita tidak menemukan perintah dari Nabi untuk melakukan ketaatan di saat orang lain melakukan kemaksiatan. Tidak ada pula pandangan ulama terkenal yang membenarkan itu.
  5. Berseberangan dengan fatwa haram, Darul Fatwa Mesir menyatakan tidak ada larangan dalam agama untuk memberikan ucapan selamat kepada nonmuslim dalam perayaan keagamaan mereka. Lebih-lebih bila ada hubungan silaturahim, kekerabatan, bertetangga, pertemanan, hubungan keraja dana lainnya. Bagaimana mungkin, di satu sisi Islam membolehkan seorang muslim laki-laki menikah dengan perempuan Ahlul Kitab (QS. Al-Maidah: 5) dan memiliki anak dari anaknya, tetapi di sisi lain melarang ucapan selamat pada perayaan keagamaan istri dan ibu dari anak-anaknya?
  6. Bila mencermati teks-teks keagamaan secara komprehensif dan memperhatikan konteknya perbuatan itu sama sekali tidak mencederai keimanan seseorang. Dan tidak ada bentuk pengakuan terhadap keyakinan mereka yang bertentangan dengan akidah Islam. Bahkan, ini termasuk kebajikan dan perlakuan adil yang dicintai Allah.

لَا يَنْهَاكُمُ اللَّهُ عَنِ الَّذِينَ لَمْ يُقَاتِلُوكُمْ فِي الدِّينِ وَلَمْ يُخْرِجُوكُمْ مِنْ دِيَارِكُمْ أَنْ تَبَرُّوهُمْ وَتُقْسِطُوا إِلَيْهِمْ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُقْسِطِينَ (8) [الممتحنة: 8]

Allah tidak melarang kamu berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tidak memerangimu dalam urusan agama dan tidak mengusir kamu dari kampung halamanmu. Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang berlaku adil (QS. Al-Mumtahanah: 8).

  1. Rasulullah pernah menerima hadiah dari nonmuslim, mengunjungi mereka yang sakit dan meminta bantuan mereka, baik dalam keadaan damai maupun perang, selama tidak ada niat tipu daya pada mereka. Semua itu dilakukan dalam rangka toleransi umat Islam terhadap mereka yang berbeda keyakinan. Lagi pula Allah tidak membeda-bedakan antara muslim dan non muslim dalam memberi dan menjawab pnghormatan. Mengucapkan selamat adalah bagian dari memberikan penghormatan yang diajarkan agama seperti pada firman Allah:

وَإِذَا حُيِّيتُمْ بِتَحِيَّةٍ فَحَيُّوا بِأَحْسَنَ مِنْهَا أَوْ رُدُّوهَا إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ حَسِيبًا (86) [النساء: 86]

 

Dan apabila kamu dihormati dengan suatu (salam) penghormatan, maka balaslah penghormatan itu dengan yang lebih baik, atau balaslah (penghormatan itu, yang sepadan) dengannya. Sungguh, Allah memperhitungkan segala sesuatu (QS. Al-Nisa; 86).

  1. Apalagi mereka hidup di tengah-tengah kita, bergaul dalam keseharian bersama kita. Dalam konteks ini, sangat relevan pesan Nabi, “jika nanti berhasil menguasai Mesir, perlakukanlah orang-orang Kristen Koptik dengan baik. Sesungguhnya mereka berada di bawah tanggungjawab umat Islam dan memiliki hubungan yang harus disambung”.
  2. Dalam pandangan Al-Qur`an, umat Islam mengimani nabi-nabi terdahulu, termasuk Nabi dan Nabi Isa, dengan tanpa mebeda-bedakan antara satu dengan lainnya (QS. Al-Baqarah: 285). Di saat mendapati orang-orang Yahudi di Madinah berpuasa di tanggal 10 Muharram (Asyura) dan mengetahui alasannya sebagai ungkapan rasa syukur atas diselamatkannya Nabi Musa dari kejaran Fir`aun, Nabi perintahkan umatnya untuk berpuasa seraya berkata, “kami lebih berhak memuliakan Nabi Musa daripada kalian”.

عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ: لَمَّا قَدِمَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْمَدِينَةَ وَجَدَ الْيَهُودَ يَصُومُونَ عَاشُورَاءَ ، فَسُئِلُوا عَنْ ذَلِكَ ، فَقَالُوا: هَذَا الْيَوْمُ الَّذِي أَظْهَرَ اللَّهُ فِيهِ مُوسَى وَبَنِي إِسْرَائِيلَ عَلَى فِرْعَوْنَ ، وَنَحْنُ نَصُومُهُ تَعْظِيمًا لَهُ ، فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «نَحْنُ أَوْلَى بِمُوسَى مِنْكُمْ» ، وَأَمَرَ بِصِيَامِهِ (صحيح ابن خزيمة 3/ 286)

  1. Hal yang sama berlaku pada Nabi Isa. Rasulullah juga berkata, “saya lebih berhak (memuliakan) Nabi Isa, sebab tidak ada seorang pun nabi antara aku dan dia”.

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: ” الْأَنْبِيَاءُ إِخْوَةٌ لِعَلَّاتٍ، أُمَّهَاتُهُمْ شَتَّى وَدِينُهُمْ وَاحِدٌ، وَأَنَا أَوْلَى النَّاسِ بِعِيسَى ابْنِ مَرْيَمَ، لِأَنَّهُ لَمْ يَكُنْ بَيْنِي وَبَيْنَهُ نَبِيٌّ (مسند أحمد مخرجا (15/ 153)

  1. Dua pernyataan Rasulullah terkait apresiasi terhadap Nabi Musa dan Nabi Isa ditujukkan sebagai ungkapan rasa gembira atas dua peristiwa penting dalam kehidupan para nabi. Soal kebenaran waktu Nabi Musa diselamatkan pada hari Asyura, Nabi tidak mempertanyakannya. Itu terkait keyakinan mereka. Tetapi, peristiwanya sendiri mengajak untuk mengenang dan mensyukurinya. Demikian juga berlaku untuk hari lahir Nabi Isa. Terlepas dari kapan sebenaranya ia dilahirkan, peristiwa kelahirannya patut disambut gembira. Al-Qur`an telah memulainya dengan ucapan selamat atas kelahiran Nabi Isa dalam QS. Maryam: 33-34.

وَالسَّلَامُ عَلَيَّ يَوْمَ وُلِدْتُ وَيَوْمَ أَمُوتُ وَيَوْمَ أُبْعَثُ حَيًّا (33) ذَلِكَ عِيسَى ابْنُ مَرْيَمَ قَوْلَ الْحَقِّ الَّذِي فِيهِ يَمْتَرُونَ (34) [مريم: 33، 34]

Dan kesejahteraan semoga dilimpahkan kepadaku, pada hari kelahiranku, pada hari wafatku, dan pada hari aku dibangkitkan hidup kembali.” Itulah Isa putra Maryam, (yang mengatakan) perkataan yang benar, yang mereka ragukan kebenarannya (QS. Maryam: 33-34).

  1. Peristiwa-peristiwa penting dalam kehidupan manusia patut dirayakan. Al-Qur`an memerintahkan untuk mengingat peristiwa-peristiwa penting dalam kehidupan sebagai bahan pelajaran (QS. Ibrahim: 5).

وَلَقَدْ اَرْسَلْنَا مُوْسٰى بِاٰيٰتِنَآ اَنْ اَخْرِجْ قَوْمَكَ مِنَ الظُّلُمٰتِ اِلَى النُّوْرِ وَذَكِّرْهُمْ بِاَيّٰىمِ اللّٰهِ ۗاِنَّ فِيْ ذٰلِكَ لَاٰيٰتٍ لِّكُلِّ صَبَّارٍ شَكُوْرٍ

Dan sungguh, Kami telah mengutus Musa dengan membawa tanda-tanda (kekuasaan) Kami, (dan Kami perintahkan kepadanya), “Keluarkanlah kaummu dari kegelapan kepada cahaya terang-benderang dan ingatkanlah mereka kepada hari-hari Allah.” Sungguh, pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi setiap orang penyabar dan banyak bersyukur (QS. Ibrahim: 5).

Penutup

  1. Hukum merayakan pergantian tahun yang dikaitkan dengan kelahiran al-Masih, termasuk ucapan selamat natal dan menghadiri perayaannya, adalah masalah khilafiyah yang selalu terulang setiap tahun. Tidak ada teks-teks keagamaan (Al-Qur`an dan hadis) yang secara tegas melarang atau memerintahkan untuk melakukannya. Masing-masing berargumen dengan dalil-dalil yang dipahaminya sebagai larangan atau kebolehan. Masalah ini berada dalam ranah ijtihad yang terbuka peluang benar atau salah, sehingga tidak sepatutnya menegasikan satu pandangan dengan lainnya.
  2. Fatwa ulama terkait hukum sebuah masalah lahir dari konteks tertentu. Dipengaruhi oleh situasi dan keadaan pada masanya. Fatwa haram terkait natal seperti dikemukakan Ibnu Taimiyah dan Ibn al-Qayyim atau ulama sebelumnya, boleh jadi lahir dalam situasi di tengah ketegangan hubungan antara muslim dan nonmuslim. Saat ini situasi telah berubah. Dalam konteks negara bangsa kita terikat dengan kewarganegaraan (citizenship/al-muwâthanah). Bahkan, kita juga telah menjadi warga dunia yang terikat dengan perjanjian-perjanjian internasional sebagai kesepakatan bangsa-bangsa. Dalam beberapa keadaan tertentu, seorang muslim yang hidup di tengah masyarakat majemuk agama dan budaya dituntut untuk menjalin hubungan baik dengan semua orang. Menghormati keyakinan umat lain dengan sekadar basa-basi mengucapkan selamat atau menunjukkan kegembiraan bersama adalah sebuah hal yang biasa. Tentu tanpa diikuti pembenaran terhadap keyakinan yang bertentangan dengan akidah kita.
  3. Jadi, siapa yang merasa tidak terganggu keyakinannya dan mengucapakan atau merayakannya sekadar basa-basi dalam rangka menjaga hubungan baik, silakan melakukannya. Bila dirasa akan menggoyahkan iman, atau tidak ada kepentingannya untuk berucap selamat, sebaiknya hindari. Banyak cara untuk tetap menjaga hubungan baik. Bagi yang merayakan malam pergantian tahun, hukum asal segala masalah terkait muamalah adalah boleh, selama tidak dilakukan dengan cara-cara yang haram dan maksiat. Demikian, wallahua`lam.

 

 

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

two + four =

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.