Home Al-Quran Belajar Optimis kepada Nabi Ya’qub As

Belajar Optimis kepada Nabi Ya’qub As

287
0
SHARE

Oleh: Udo Yamin Majdi

“Hai anak-anakku, pergilah kamu, maka carilah berita tentang Yusuf dan saudaranya. Jangan kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya tiada berputus asa dari rahmat Allah, melainkan kaum yang kafir”. (QS. Yusuf [12]: 87)

Nabi Ya’qub terjatuh dalam jurang kesedihan. Sebuah jurang tak bertepi, sehingga membuatnya buta. Sebagaimana mata tak bisa menangkap cahaya, pikiran cucu Nabi Ibrahim ini, juga tidak bisa membayangkan apa yang terjadi kepada putranya, Nabi Yusuf As. Gelap.

Di tengah gulita itu, ada titik cahaya dalam hatinya. Ini menjadi jembatan antara ortu dan anak, bahwa Yusuf masih hidup. Dia yakin, anak kesayangannya pasti akan kembali. Namun, secara logika, dia tidak tahu: di mana, kapan dan bagaimana hal itu terjadi.

Cahaya itu bermana optimisme. Apakah optimisme ini meluncur di jalan tol?

Tidak! Selain tidak informasi sama sekali, anak-anaknya menganggapnya “tidak sehat.”

“Udahlah Pak, enggak usah diingatin terus. Ntar bapak kena penyakit berat. Badanmu kurus. Otakmu kacau. Akhirnya mati dalam kesedihan.” Kata salah seorang anaknya.

Orang tua Bani Israil itu menjaga optimismenya dengan menjawab, “Sesungguhnya hanya kepada Allah aku mengadukan kesusahan dan kesedihanku, dan aku mengetahui dari Allah apa yang kamu tidak ketahui.”

Keturunan Abu al-Anbiya dari jalur Nabi Ishaq ini, seolah-olah ingin menegaskan bahwa mata air optimis itu adalah Allah SWT. Mata air inilah yang membuat hati penuh dengan keyakinan, bahkan berlimpah menjadi ombak kebahagiaan.

“Hai anak-anakku, pergilah kamu,” kata Nabi Ayub, “maka carilah berita tentang Yusuf dan saudaranya.”

Akan tetapi, optimisme itu telah hilang dari hati dan otak anak-anaknya. Tak ada harapan. Bahkan, dengan sengaja bara semangat mencari itu, mereka siram dengan seribu satu dalih. Di bibir mereka muncul kata: “tidak mungkin!”

Di antara “tidak mungkin” dan “mungkin”, di sinilah optimisme itu berada. Bagi Yahuda dan saudara-saudaranya, tidak mungkin menemukan Yusuf, sebab jarak antara mereka memasukannya ke dalam sumur dengan permintaan bapak mereka, sudah sangat lama. Bertahun-tahun yang lalu.

Namun, bagi Ya’qub, sangat mungkin. Satu sisi, Allah memberikan isyarat bahwa Yusuf masih hidup. Di sisi lain, panca indranya membenarkan bahwa Yusuf telah tiada. Kekuatan sekaligus kelemahan berpadu. Inilah optimisme itu.

Optimisme berada diantara sombong dan putus asa. Orang sombong, merasa dirinya tidak memiliki kelemahan. Sebaliknya, orang putus asa merasa dirinya tidak memiliki kekuatan. Sedangkan orang optimis, merasakan keduanya: kuat dan lemah.

“Jangan kamu berputus asa dari rahmat Allah”, ini adalah sebuah kekuatan. Orang yang bertawakal kepada Allah sepenuh hati, bukan merasa tidak berdaya, melainkan merasa memiliki kekuatan sebab bersandar kepada Allah Yang Maha Kuat. Ini hanya dimiliki oleh orang beriman.

Berbeda dengan orang kafir, mereka hanya mengandalkan panca indera saja. Ukuran kebenaran, hanya sebatas apa yang mereka dengar, mereka lihat, dan mereka rasakan. Ketika informasi dari pacara indera ini mereka dapatkan, mereka pun sombong. Sebaliknya saat tidak ada, maka mereka putus asa. “Sesungguhnya tiada berputus asa dari rahmat Allah, melainkan kaum yang kafir”.

Masalah yang dihadapi Nabi Ya’qub adalah besar: kehilangan anak. Namun dia mengajarkan kepada kita dua hal: pertama, mengadu kepada kepada Allah dan menyerahkan segala urusan kepada-Nya, dan kedua, terus berusaha tanpa henti mencari informasi tentang anaknya yang hilang.

Tawakal dan ikhtiar inilah yang membentuk sikap optimis sejati. Sudahkah kita optimis saat masalah menghadang kita?

Wallahu a’lam bish shawab.

===

Tulisan ini adalah “cuplikan” dari Kajian Tafsir Tahlily dalam acara Gerbang Surga (GERakan BANgun SUbuh beRsama keluarGA) di masjid Al-Hammad Pondok Pesantren Quran Terpadu (PPQT) Darul Fikri Garut, Ahad, 6 Januari 2019.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.