Home Al-Quran Mencintai Al-Quran

Mencintai Al-Quran

204
0
SHARE
back to quran

Oleh: Udo Yamin Majdi

Sepucuk surat, ada di tangan kanan Abu Dzar Al-Ghifari. Dua bola matanya meneliti deretan kalimat di atas kertas yang terbuat dari pelepah kurma kering. Sahabat Nabi itu, tidak kenal siapa pengirimnya. Tapi, dari ungkapan dalam surat, terkesan penulis sangat kenal dengan Abu Dzar. Isi surat tersebut, meminta nasihat dari beliau.

Abu Dzar mengambil kertas dan pena. Lalu, dengan cekatan beliau menggerakkan jemarinya, dan menuliskan kalimat ini, “Jangan sakiti, orang yang paling Anda cintai!” Singkat, tapi penuh makna. Beliau berikan surat itu kepada orang yang membawa surat untuknya.

Pengirim surat, menerima surat balasan dari Abu Dzar. Ia mengerutkan dahi. Sambil menatap surat itu, ia bergumam, “Lho, apa maksudnya nasihat ini? Aneh, tidak masuk akal ada orang yang memusuhi dan membenci orang yang ia cintai. Siapa pun tidak akan menyakiti orang yang paling ia cintai. Justru sebaliknya, ia membela dengan jiwa-raga, dan seluruh harta yang ia miliki. Masa sih, Abu Dzar sebagai Lukman Hakim zaman ini, salah tulis?”

Laki-laki itu terus berpikir, namun ia tetap bingung. Akhirnya, ia memutuskan untuk mengirim surat lagi, menanyakan maksud nasihat tersebut. Abu Dzar pun kembali memberikan jawaban. Dalam surat kedua, tertera penjelasan seperti ini, “Sesungguhnya, maksud dari orang yang paling Anda cintai adalah dirimu sendiri. Bukankah Anda mencintai dirimu melebihi cintamu terhadap orang lain? Jadi, maksud nasihatku adalah ‘Jangan pernah menyakiti diri Anda sendiri. Tidakkah Anda memerhatikan, betapa banyaknya manusia menyakiti diri sendiri? Mereka sering berbuat dosa dan kejahatan dengan maksud membahagiakan diri mereka, padahal hakikatnya, mereka sedang menyakiti diri mereka sendiri’.”

Kisah itu, entah mengapa, tiba-tiba muncul saat membuat tulisan ini. Mungkin karena saya memahami Al-Quran sebagai “Surat Cinta dari Langit”, mengingatkanku akan surat Abu Dzar. Sama-sama ada kata “surat” dan tema “cinta”. Wallahu a’lam. Yang jelas, nasihat Abu Dzar menjadi inspirasi bagi saya untuk menyampaikan sepatah dua patah kata sebagai “kata pamitan” antara kita.

Memang, terkadang tanpa kita sadari, kita tidak mencintai diri kita. Kita sakiti diri dengan berbagai-macam perbuatan dosa. Kita merasa, tanpa Al-Qur`an, bisa meraih kesuksesan dan kebahagiaan. Lebih parah lagi, manakala kita berkeyakinan, bahwa mengikuti prinsip Al-Qur`an akan membuat hidup kita susah. Karena Al-Qur`an, melarang ini dan itu. Padahal, kalau kita sungguh-sungguh memahami Al-Qur`an, larangan itu hanya sekian persen saja dan itu untuk kebaikan diri kita. Selebihnya adalah untuk membantu kita mengembangkan diri.

“Kami tidak menurunkan Al-Qur’an ini kepadamu agar kamu menjadi susah.” (QS Thahâ [20]: 2).

Sekali lagi, Al-Qur`an itu, tidak pernah akan membuat kita susah. Sebab, ia justru memudahkan kita meraih kesuksesan dan kebahagiaan. Bukan hanya sukses dan bahagia di dunia, melainkan sampai akhirat. Ia datang dari Allah Swt untuk membimbing kita agar hidup kita bermakna dan penuh dengan cinta.

Semoga kita termasuk orang-orang yang mencintai Al-Quran. Amin.

Mahabenar Allah Yang Mahaagung atas Al-Qur`an yang telah diturunkan-Nya

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.