Home Al-Quran Back to Al-Qur`an

Back to Al-Qur`an

1054
0
SHARE
mencintai al-quran

Udo Yamin Majdi

 

Renungkan! Dan Tulislah Sastra Sejati!

Kembalilah engkau kepada Al-Qur`an

Agar kemilau pagi Hijaz berputik malam di Kurdistan

(Sir. Muhammad Iqbal, Asrar-I-Khudi)

 

Dia duduk bersimpuh, sambil menatap celana seragam biru yang menutupi kakinya. Sedangkan saya, duduk bersandar di dinding masjid tempatnya sekolah. Saya hanya memasang telinga baik-baik ketika dia bercerita. Dia merasa sedih, karena perbuatannya selama ini berlumuran dengan dosa.

“Lebih sedih lagi,” ujarnya dengan lirih, “Aku tidak bisa baca Al-Qur`an.”

“Ah, masa iya?!”

“Iya…, meskipun aku sekarang kelas dua es em a (SMA), tapi dalam mengenal huruf hijaiyah, aku tidak lebih baik dari anak-anak taman pendidikan Al-Qur`an!”

Saya diam. Dia pun membisu. Akhirnya, kami hanyut dalam aliran pikiran masing-masing.

Dialog itu terjadi, beberapa tahun yang lalu, setelah saya mengisi acara Rohis di sebuah SMA di kota Garut, Jawa Barat. Bagi saya, itu sangat aneh. Sebab, selain pesantren tempat saya belajar, ada puluhan, bahkan ratusan pesantren lainnya memadati kota Dodol itu.

“Mengapa di kota Santri”, tanya saya dalam bantin, “masih ada yang tidak bisa baca Al-Qur`an?”

Tentu saja akan lain ceritanya, jika itu terjadi di kota non-muslim. Misalnya, di Bern ibu kota Swiss. Seorang mahasiswa Indonesia yang kuliah di Universitas Al-Azhar Mesir, pernah diundang oleh PTRI (Perutusan Tetap Republik Indonesia) Jenewa, Swiss. Selama satu bulan, ia mengisi berbagai acara keislaman di sana.

Dalam sebuah pengajian, ada seorang ibu setengah baya, bertanya,“Ustadz, membaca buku huruf Arab itu harus diketahui oleh orang Islam ya?” Ternyata yang dimaksud dengan buku huruf Arab itu adalah Al-Qur`an. Jadi, jangankan ingin mempelajari Al-Qur`an, keberadaan Al-Qur`an saja, ia tidak tahu?

Itulah sampel realitas umat Islam sekarang. Dari miliaran kaum muslimin, hanya sekian persen yang bisa baca Al-Qur`an. Dari yang bisa baca Al-Qur`an, hanya sedikit yang paham. Dari yang paham Al-Qur`an, hanya segelintir orang yang menghafalnya. Dari yang hafal Al-Qur`an, hanya beberapa orang yang mengamalkannya. Dan, dari yang mengamalkannya, hanya sekian orang yang benar-benar ikhlas.

Sungguh, itu berbanding terbalik ketika Al-Qur`an diturunkan. Waktu itu, semua umat Islam membaca, memahami, dan mengamalkannya. Bahkan hampir 100% menghafalnya. Menurut sebuah riwayat, yang tidak hafal Al-Qur`an, hanya sekitar empat sampai enam orang saja. Berapa jumlah kaum muslimin ketika itu?

Berdasarkan cerita Imam Bukhari dalam kitab “Fathu al-Bâry Syarh Shahîh al-Bukhâry” (Riyadh, Dâr as-Salâm. 2000) —jilid VI, volume 56. Bab 181 (Kitâbah al-Imâm an-Nâs), hal. 214— karya Ibnu Hajar al-‘Asqalany bahwa Rasulullah Saw meminta Huzaifah Ra untuk mencatat —melakukan cacah jiwa (sensus)— terhadap penduduk Madinah yang memeluk agama Islam. Tercatatlah 1.500 muslimin. Dan menurut Ali Bulac; intelektual muslim Turki, seluruh penduduk Madinah ketika itu berjumlah 10.000 orang, terdiri dari 4.000 orang Yahudi, 4.500 orang musyrik Arab, dan 1.500 Muslim.  Dengan kata lain, umat Islam yang hafal Al-Qur`an saat itu berjumlah 1.496 atau 1.494 orang.

Kaum muslim yang 15% tersebut, sangat dihormati, disegani, dan ditakuti oleh 85% non-muslim. Ini dapat kita lihat, ketika terjadi “Piagam Madinah”, non-muslim rela dipimpin oleh Nabi Muhammad Saw sebagai wakil dari kelompok minoritas. Kaum muslimin unggul dalam berbagai bidang kehidupan, baik itu dalam kehidupan politik, ekonomi, sosial-budaya, militer, maupun yang lainnya. Mengapa hal ini bisa terjadi?

Sebab, umat Islam waktu itu, sangat berpegang teguh dengan Al-Qur`an dan penjelasan Nabi Saw terhadap Al-Qur`an, yang lebih kita kenal dengan Al-Hadits. Keteguhan terhadap ajaran Al-Qur`an, telah membawa mereka pada peradaban baru. Dan meruntuhkan dua peradaban besar, yaitu imperium Romawi dan Persia.

Namun kini, piala peradaban yang dipegang oleh kaum muslimin selama tujuh abad itu, berpindah ke tangan orang Barat. Dulu, di mata orang Barat, peradaban yang muncul dari ajaran Al-Qur`an begitu sangat modern. Sekarang menjadi terbalik, justru —sebagian— kaum muslimin, menganggap peradaban Baratlah yang sangat modern.

Kemodernan kaum muslimin itu, diakui oleh seorang orientalis Kristen alumni Universitas Harvard, Robert N. Bellah. “Tidak diragukan lagi,” tulis Bellah, dalam bukunya, “Beyond Belief” (Paramadina. 2000), “Di bawah kepemimpinan Muhammad, masyarakat Arab telah membuat sebuah langkah maju yang mencolok dalam hal kompleksitas sosial dan kapasitas politiknya. Ketika struktur yang terbentuk pada masa Nabi itu diperluas para khalifah yang awal untuk memberikan organisasional bagi imperium dunia, maka yang diperoleh adalah suatu hal yang benar-benar modern untuk tempat dan masa itu. Masyarakat Islam awal dapat disebut modern dalam hal tingginya tingkat komitmen, keterlibatan, dan partisipasi yang diharapkan dari segenap lapisan masyarakat. Masyarakat Islam awal juga modern dalam hal keterbukaan posisi pimpinannya untuk dapat dinilai kemampuannya berdasarkan landasan-landasan yang universalistik, dan hal itu disimbolkan oleh upaya untuk melembagakan jabatan pucuk pimpinan yang tidak berdasarkan garis keturunan”.

Non-muslim saja mengakui bahwa ajaran Islam yang bersumber dari Al-Qur`an adalah modern, lalu mengapa kita tidak? Bagi kita sebagai muslim, persoalannya bukan pada apakah kita meniru Barat atau tidak, melainkan apa yang disebutkan dalam puisi Muhammad Iqbal di atas, yaitu: “Kembalilah engkau kepada Al-Qur`an”. Sebab, Barat sekarang modern berangkat dari kemajuan yang pernah dicapai oleh kaum muslimin dulu. Dan waktu itu, kaum muslimin bisa maju karena ada Al-Qur`an. Lalu mengapa kita tidak kembali ke Al-Qur`an agar kemajuan itu kita raih kembali?

Wallahu a’lam bish shawab.

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.