Home Akhlaq Adab Menuntut Ilmu

Adab Menuntut Ilmu

509
0
SHARE

Oleh : Riyan Muhamad Ridwan

Menuntut ilmu merupakan perkara yang wajib bagi setiap muslim, sebagaimana disebutkan dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Ibnu Majah;

(طلب العلم فريضة على كل مسلم (رواه ابن ماجه و صححه الألباني

“Menuntut ilmu merupakan kewajiban bagi setiap muslim” (diriwayatkan oleh Ibnu Majah dan dishohihkan oleh al-Albani). Dalam ilmu ushul fikih kata فريضة merupakan shigot amr (kata yang menunjukkan kepada perintah), dan amr pada asalnya menunjukkan kepada wajib kecuali ada dalil yang memalingkan dari kewajiban tersebut. Dengan hanya mengambil satu hadits di atas, sudah dapat kita fahami bahwa menuntut ilmu hukumnya wajib.

Sebagaimana kita ketahui bahwa tidak semua manusia sukses dalam menuntut ilmu. Sukses memang relatif di mata setiap manusia namun pada umumnya dunia dan akhirat merupakan patokan kesuksesan manusia. Pun demikian dengan ilmu, dunia dan akhirat merupakan patokan kesuksesan seseorang dalam menuntutnya, artinya seberapa jauh ilmu itu bermanfaat bagi manusia dalam kehidupan dunia dan akhiratnya kelak. Namun tentu perlu ada keseimbangan diantara keduanya, tidak condong terhadap dunia karena tugas utama kita adalah ibadah seperti dalam QS. Az-Zariyat [51] : 56 dan juga tidak melupakan dunia seperti dikatakan dalam QS. Al-Qasas [28] : 77. Tentu dalam menuntut ilmu, adab diperlukan agar manusia dapat mencapai dunia dan akhirat.

Yusuf bin Husain pernah berkata “dengan adab kamu akan mengetahui ilmu”, artinya dengan adab kita akan mengetahui hakikat ilmu, bagaimana agar dengan ilmu tersebut kita dapat selamat di dunia juga di akhirat. Maka ada 2 hal dari sekian banyak adab dalam menuntut ilmu yang akan disampaikan oleh penulis dan perlu untuk diketahui dan diamalkan oleh kita para penuntut ilmu.

  1. Selalu Merasa Ikhlas

Sebagaimana Allah berfirman dalam QS. Al-Bayyinah [98] : 5

(وَمَا أُمِرُوا إِلَّا لِيَعْبُدُوا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ حُنَفَاءَ وَيُقِيمُوا الصَّلَاةَ وَيُؤْتُوا الزَّكَاةَ وَذَلِكَ دِينُ الْقَيِّمَةِ (5

“pedahal mereka hanya diperintah menyembah Allah, dengan ikhlas mentaati-Nya semata-mata karena (menjalankan) agama, dan juga agar melaksanakan shalat dan menunaikan zakat; dan yang demikian itulah agama yang lurus (benar).”

Sebagaimana kita diciptakan untuk beribadah maka bersamaan dengan itu kita diperintahkan untuk ikhlas dalam beribadah. Juga disebutkan dalam hadits bukhari no.1, sebagai berikut:

عَلْقَمَةَ بْنَ وَقَّاصٍ اللَّيْثِيَّ، يَقُولُ: سَمِعْتُ عُمَرَ بْنَ الخَطَّابِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ عَلَى المِنْبَرِ قَالَ: سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ: «إِنَّمَا الأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ، وَإِنَّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى، فَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ إِلَى دُنْيَا يُصِيبُهَا، أَوْ إِلَى امْرَأَةٍ يَنْكِحُهَا، فَهِجْرَتُهُ إِلَى مَا هَاجَرَ إِلَيْهِ»

Alqomah bin Waqqas al-Laitsi berkata : saya mendengar Umar bin Khattab –semoga Allah meridhoinya- khutbah diatas minbar, aku mendengar Rosulullah sholallahu alaihi wa sallam bersabda “sesungguhnya segala amal tergantung pada niat, dan sesungguhnya bagi setiap manusia itu sesuai dengan apa yang dia niatkan, maka barangsiapa yang berhijrah menuju dunia maka dia akan mendapatkannya atau berhijrah karena perempuan yang ingin dinikahinya, maka hijrahnya tergantung apa yang dia hijrahi”.

Hadits tersebut memberikan pemahaman kepada kita bahwa setiap apa yang kita niatkan akan menentukan hasilnya, seperti seseorang yang menuntut ilmu untuk dunia maka dia akan dapatkan dunia saja tidak dengan akhirat. Maka dalam hal ini ikhlas diperlukan agar ilmu yang kita dapatkan bernilai ibadah, yang kemudian akan bernilai bagi dunia dan akhirat kita dan hal ini sejalan dengan QS. Asy-Syura [42] : 20.

  1. Memiliki Hati yang Bertakwa

Penuntut ilmu haruslah bersih hatinya dari segala bentuk kekotoran hati, seperti hasud, riya, dan juga akidah yang buruk. Dan memang hati merupakan pintu utama seseorang untuk bisa menjadi seseorang yang benar seperti dikatakan dalam sebuah hadits sebagai berikut;

عن نعمان بن بشير قال : قال رسول الله ﷺ (إن في الجسد مضغة, إذا صلحت صلح الجسد كله و إذا فسدت فسد الجسد كله ألا و هي القلب

Dari Nu’man bin Basyir berkata : Rosulullah ﷺ bersabda (sesungguhnya dalam jasad itu ada segumpalan daging, apabila gumpalan daging itu benar maka akan benar seluruh jasadya, dan apabila gumpalan daging itu rusak maka akan rusak seluruh jasadnya; ketahuilah bahwa gumpalan daging itu adalah hati) HR. Bukhori.

Solusi yang paling tepat untuk menjaga hati adalah takwa, karena dengan takwa hati akan merasa takut. Allah berfirman dalam QS. Al-Anfal [8] : 29

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنْ تَتَّقُوا اللَّهَ يَجْعَلْ لَكُمْ فُرْقَانًا…(29

Kata فرقانا dalam ayat tersebut memiliki beberapa tafsiran ada yang mengatakan jalan keluar (dunia dan akhirat), ada juga yang mengatakan kesuksesan dan ada yang mengatakan kemampuan untuk membedakan yang hak dan batil. Namun Ibnu Ishak menafsirkan dengan lebih umum, beliau mengatakan “maka siapa saja yang bertakwa kepada Allah dengan mengerjakan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya diberkahi dengan kemampuan membedakan yang hak dan batil maka hal itu merupakan sebab munculnya pertolongan Allah, jalan keluar-Nya, kesuksesan dari-Nya dari urusan dunia dan kebahagiaan pada hari kiamat”.

Sudah sepatutnya bagi penuntut ilmu agar bertakwa kepada Allah agar diberi kemampuan membedakan yang hak dan batil dan kemudian akan menjadi sebab kesuksesan dunia dan akhirat. Dan juga karena takwa ini telah menjadi perintah Allah untuk menjadi bekal di dunia dan akhirat sebagaimana dalam QS. Al-Baqarah [2] : 197

…وَتَزَوَّدُوا فَإِنَّ خَيْرَ الزَّادِ التَّقْوَى وَاتَّقُونِ يَا أُولِي الْأَلْبَابِ (197)

“…dan berbekalah karena sebaik-baik bekal adalah takwa dan bertakwalah kepada-Ku wahai orang-orang yang memiliki akal sehat!”

و الله أعلم بالصواب

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.